Oleh: Zahwa Sabila Rusydah

Isu gender terus menjadi topik hangat yang tak pernah lekang oleh waktu. Topik tersebut meliputi pembahasan mengenai budaya patriarki, kekuasaan perempuan, gerakan kesetaraan gender, serta pembagian peran gender lainnya. Tak bisa dipungkiri bahwa pembahasan tentang gender tidak bisa dipisahkan dari pandangan masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat perlu membuka mata dan memandang lebih jauh terkait isu ini, sehingga mereka mampu menciptakan lingkungan yang inklusif.
Peran Patriarki dalam Dinamika Sosial
Melanesia, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), mengungkapkan fakta bahwa banyak anak perempuan di daerahnya yang masih belum memiliki kesempatan untuk bersekolah. “Aku pernah ketemu satu temanku. Dia itu dilarang untuk sekolah karena dia perempuan, malah dia diwajibkan untuk menikah,” ujarnya. Melanesia juga bercerita, anak-anak perempuan di daerahnya yang telah berusia tujuh belas tahun kerap dituntut untuk segera menikah.
Dari kasus yang diceritakan Melanesia, ternyata pemikiran tradisional yang tertinggal masih melekat di kalangan masyarakat, sekalipun hal tersebut kini sudah jarang dibicarakan secara gamblang. Mayoritas masyarakat di sana percaya, bersekolah adalah kegiatan yang membuang waktu, mengingat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan. Stereotipe perempuan yang identik dengan pekerjaan domestik juga menjadi salah satu faktor penghambatnya. Pemikiran-pemikiran ini pada akhirnya melekat dan tak jarang menjadi sebuah budaya di lingkungan masyarakat daerah tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata patriarki dapat diartikan sebagai sistem pengelompokan sosial yang sangat mementingkan garis keturunan bapak. Max Weber, seorang filsuf sosiologi, mendefinisikan patriarki sebagai struktur sosial dan politik yang mengagungkan peran dominan ayah dalam keluarga dan bidang publik lainnya, seperti halnya ekonomi. Dapat disimpulkan, patriarki adalah suatu sistem sosial yang menempatkan laki-laki, terutama figur ayah atau bapak, sebagai pihak yang dominan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keluarga, ekonomi, dan struktur sosial lainnya.
Jejak Patriarki yang Membelenggu
Singkatnya, budaya patriarki ini berasal dari Eropa yang sudah ada sejak masa milenium kedua sebelum Masehi di Babel. Dilansir dari kompas.com dalam buku The Creation of Patriarchy yang ditulis oleh Gerda Lerner pada tahun 1986, dijelaskan bahwa pada periode tersebut terdapat pembagian kerja. Ketika itu laki-laki berperan dalam mengendalikan seksualitas perempuan. Hal itu memengaruhi terbentuknya konstruksi sosial gender yang menyebabkan stereotipe bahwa laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan. Budaya patriarki ini tidak hanya dapat terjadi di lingkungan keluarga saja, tetapi dapat ditemukan di beberapa lingkungan, salah satunya lingkungan kampus.
Pada Minggu (05/05), awak Skëtsa mewawancarai Rio Juharno Putra yang merupakan seorang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) angkatan 23. Rio berbagi pengalamannya ketika akan diadakan pemilihan ketua angkatan. Ia menceritakan bahwa terdapat tiga kandidat ketua angkatan pada saat itu, yang terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan. Namun, beberapa orang tidak setuju dengan kandidat perempuan karena mereka percaya kandidat laki-laki akan mengambil alih kepemimpinan kandidat perempuan. Hal ini menjadi bukti bahwa budaya patriarki masih ada di kalangan mahasiswa. “Sebenarnya dari kasus ini pasti pihak perempuan yang merasa dirugikan karena sebelumnya sudah mencalonkan diri, sudah siap berjuang, berusaha untuk menjadi ketua angkatan,” ujar Rio.
Dampak dari budaya patriarki ini juga dialami oleh Aida, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Ia menceritakan pengalamannya saat menentukan studi lanjut ke perguruan tinggi. Ia berencana mengambil jurusan arsitektur yang sesuai dengan passion-nya, tetapi rencananya terhalang oleh budaya patriarki di keluarganya. Mereka mengatakan dunia arsitektur pada umumnya difokuskan untuk laki-laki.
“Saya pernah tuh waktu daftar dosen, itu tuh selalu yang dicari laki-laki, karena apa? Karena perempuan pasti dianggapnya ini pasti nanti keluar (resign-red), nanti pasti mengikuti laki-laki. Itu dianggapnya selalu seperti itu,” cerita Aida. Banyak orang menolaknya karena secara biologis laki-laki lebih dibutuhkan daripada perempuan. Mereka menganggap bahwa perempuan akan mengambil cuti untuk keperluan menikah, melahirkan, dan mengurus anak, sehingga pihak kampus merasa keberatan akan hal tersebut.
Laki-laki yang memegang kekuasaan menjadi lalai karena budaya patriarki yang masih ada di masyarakat. Ini termasuk ketika seorang laki-laki seharusnya menjaga kehormatan seorang perempuan, tetapi justru memperlakukannya dengan cara yang sebaliknya. Terkadang budaya ini juga menggiring laki-laki menjadi lebih berkuasa dan semena-mena atas kekuasaan penuh yang dimilikinya. Banyak kasus kekerasan yang dialami perempuan ketika penyalahgunaan kekuasaan terjadi, salah satunya kekerasan seksual. Kasus ini memang banyak sekali terjadi di lingkungan sekitar, baik itu keluarga, pertemanan, maupun masyarakat. Hal ini menimbulkan berbagai kesalahpahaman dan munculnya pemikiran-pemikiran menyimpang terhadap kaum perempuan.
Kasus Pelecehan Seksual
Pada Sabtu (10/08), awak Skëtsa mewawancarai salah satu korban pelecehan seksual, mahasiswi FIB angkatan 23, yang enggan disebutkan namanya. Mahasiswi tersebut mengaku bahwa pada bulan Maret 2023, ia mengalami pelecehan seksual.
Awalnya ia berencana melakukan wawancara kerja seorang diri. Sesampainya di tempat kerja, ia bertemu dengan pria yang akan mewawancarainya dan merasakan kecurigaan beberapa menit setelah wawancara selesai. Mahasiswi tersebut mulai didekati dan mendapatkan tindakan tidak senonoh dari pria tersebut, “Lebih ke sexual assault. Kalo harassment lebih ke kayak dipegang di area yang gak semestinya, dipegang sama orang lain. Kenapa aku bilang sexual assault juga karena aku tuh dapet tindakan yang kayak menyerang, dijambak, dipukul, bahkan sebagian pakaian yang aku gunakan dilucuti,” jelas korban.
Korban merasa ketakutan dan berusaha memberontak. Setelah berusaha, korban berhasil keluar dari ruangan dan bertemu dengan dua orang yang kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian. Korban memanggil mereka untuk meminta perlindungan. Setelah melihat mahasiswi tersebut, dua orang itu memahami apa yang telah terjadi dan langsung membantu korban memakai kembali pakaiannya yang sebagian terlucuti. “Aku sebenarnya (awalnya) curiga, tapi aku percaya-percaya aja,” ujar korban. Ia juga menceritakan dampak berkelanjutan yang masih dirasakan hingga saat ini. “Walaupun kejadiannya sudah setahun yang lalu, tapi dampaknya masih ada sampai sekarang; dari aku yang mulai takut buat keluar sendirian, takut sama lawan jenis, takut buat ketemu orang yang nggak dikenal, bahkan sampai mengubah sexuality aku,” jelasnya.
Di samping kasus tersebut, banyak harapan-harapan masyarakat terhadap budaya patriarki. “Semoga laki-laki mulai aware terhadap pemikiran-pemikiran patriarki karena sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang harus diagungkan, dan budaya patriarki jangan sampai menjadi ajang untuk merendahkan wanita,” ujar Chandika, mahasiswi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) pada Rabu (22/05). Banyak orang kini semakin sadar akan keadilan gender dan mulai melek terhadap budaya patriarki yang mengobjektifikasi perempuan. Dalam era emansipasi wanita saat ini, terdapat dorongan yang kuat untuk mendobrak budaya tersebut dan mendorong kesetaraan.
Sejarah Matriarki: Jejak Perempuan dalam Peradaban
Lain halnya dengan budaya matriarki yang memiliki peran bertentangan saat perempuan lebih mendominasi daripada laki-laki. Budaya ini berperan ketika segala keputusan mutlak berada di tangan perempuan. Dalam budaya ini, peran perempuan justru lebih kuat dibandingkan peran laki-laki dalam kelompok tersebut. Menurut KBBI, matriarki merujuk pada sistem pengelompokan sosial yang menempatkan seorang ibu sebagai kepala dan memiliki kekuasaan penuh atas seluruh anggota keluarga.
Pada Sabtu (17/08) awak Skëtsa mewawancarai Susilorini, seorang dosen Universitas Harapan Bangsa (UHB). Susilorini sedang mengenyam Pendidikan Doktor Program Studi Penyuluhan Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat dan salah satu konsentrasinya pada kesetaraan gender. Susilorini menjelaskan bahwa matriarki mengacu pada sebuah konsep dalam sistem sosial yang mengarah pada kekuasaan yang didominasi oleh perempuan.
Sejak lama, khususnya di kalangan suku pedalaman seperti suku Minangkabau di Sumatera dan suku Minahasa di Sulawesi Utara, budaya matriarki ini telah ada dengan perempuan memegang peran penting dalam struktur sosial dan ekonomi. Perempuan juga menjadi pengambil keputusan utama dalam berbagai aspek kehidupan, seperti mendidik anak-anak. Pada saat itu, seorang perempuan bertanggung jawab atas komunitasnya. Ia memegang kebijakan mutlak, bahkan menjadi pusat kehidupan yang sangat memengaruhi kehidupan orang banyak. “Tujuan matriarki sendiri sebenarnya bukan untuk mengendalikan laki-laki, tetapi tujuan dari adanya budaya matriarki ini adalah mengenalkan masyarakat tentang nilai-nilai keibuan. Nilai-nilai keibuan identik dengan perasaan-perasaan dari seorang ibu seperti rasa saling menyayangi, rasa saling menghormati, saling melindungi yang ada pada jiwa seorang ibu,” jelas Susilorini.
Matriarki sebenarnya sebuah konsep yang adil sebab setiap gender, baik itu laki-laki maupun perempuan, memegang tugasnya masing-masing. Hal ini dapat menyetarakan kekuasaan antara keduanya. “Matriarki memegang prinsip kekuasaan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. Itulah seorang ibu yang tidak pernah membedakan anaknya laki-laki ataupun perempuan sehingga sama-sama adil,” tutur Susilorini. Namun, seiring berkembangnya zaman, terdapat banyak kesalahpahaman dari arti budaya matriarki sendiri. Susilorini menyebutkan bahwa terjadi pergeseran makna dalam mengartikan konsep matriarki yang menyatakan kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh perempuan. “Konsep matriarki kalo dianut itu untuk memperkuat peran perempuan di masyarakat. Tetapi, efek sampingnya itu dapat menghasilkan ketergantungan pada pihak perempuan termasuk terjadinya kurangnya partisipasi laki-laki dalam pengambilan keputusan. Itu yang harus diwaspadai,” ucap Susilorini.
Matriarki: Akar Kekuasaan Perempuan
Susilorini menjelaskan sistem matriarki memiliki beberapa hierarki. Pertama, maternal centrality, yaitu sistem yang mengutamakan sentralitas keibuan, sehingga peran perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dan perempuan lebih berhak dalam memiliki kekuasaan. Kedua, complementarity of genders, yaitu ketika setiap gender saling melengkapi atau komplementer. Ketiga, trivialization of gender, fenomena tidak adanya perbedaan gender. Sistem ini memandang kesetaraan perempuan dan laki-laki misalnya perempuan diperbolehkan untuk bekerja dan berprofesi. Selain itu, laki-laki biasanya melakukan pekerjaan rumah tangga di antara pekerjaan mereka. “Masyarakat harus lebih paham mengenai pengertian matriarki; bahwa tujuan matriarki sendiri yaitu bukan untuk menguasai laki-laki, tetapi untuk mengenalkan nilai-nilai keibuan. Masyarakat dapat lebih terbuka. Baik patriarki ataupun matriarki, jika salah satunya lebih dominan itu bukan hal yang baik, tetapi perempuan boleh menjadi seorang pemimpin (perempuan memiliki kapabilitas tidak terbatas),” ujar Susilorini.
Ketika Perempuan Memimpin Struktur Sosial
Nazmy Musyaffa, seorang mahasiswa dari Fakultas Hukum (FH), menceritakan pengalaman budaya matriarkinya ketika melamar kerja. Ia mengajukan lamaran sebagai staf administrasi dengan tugas surat-menyurat yang ia pikir itu merupakan passion-nya. “Tapi, di situ tuh aku rasa aku apply untuk posisi itu bukan karena aku merasa bahwa aku laki-laki, tapi karena profesi, aku punya pengalaman di surat menyurat dan hal administrasi,” ujarnya pada Jumat (19/07), ketika diwawancarai oleh awak Skëtsa. Meskipun demikian, lamarannya ditolak hanya karena ia seorang laki-laki. Sementara itu, perempuan umumnya menjadi bagian dari staf administrasi. Kala itu, Nazmy disarankan untuk melamar pekerjaan yang berkaitan dengan lapangan. “Padahal aku kira, aku sangat cocok di posisi tersebut karena berdasarkan pengalamanku. Kalau aku diberikan posisi itu justru aku akan mendorong perusahaan atau penginvasi perusahaan tersebut,” ucap Nazmy. Dari pengalaman yang Nazmy lalui, terlihat bahwa budaya matriarki dapat memicu ketidaksetaraan gender yang hanya menilai seseorang secara subjektif, sehingga nantinya akan menyudutkan laki-laki itu sendiri. Banyak orang yang sangat mahir dalam bidang tertentu, tetapi tidak dapat bekerja sesuai passion dan pengalaman mereka.
Dilansir dari detik.com, dikabarkan ada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai Make Up Artis (MUA). Ketika ia memutuskan untuk menjadi MUA, orang-orang di sekitarnya mulai menjauh. Ia mengungkapkan bahwa teman-teman dekatnya melakukan perundungan karena ia bekerja sebagai juru rias pengantin. “Alasannya malu punya teman MUA apalagi cowok. Katanya kalau MUA laki-laki pantasnya berteman sama bencong dan waria. Ternyata jadi MUA itu nggak mudah ya, apalagi aku cowok,” begitu ujarnya.
Pada saat pria tersebut mengunggah video yang menunjukkan transformasi pengantin sebelum dan sesudah dirias olehnya. Tak disangka, video tersebut justru mendapat sambutan hangat dari warganet, dengan banyak komentar positif yang menghargai keahliannya dalam profesi yang ia tekuni. “Tenang aja kalau kamu sukses mereka bakal balik lagi dan mengaku-ngaku teman,” kesal akun @rusie. “Aku malah salut, berarti dia kerja nggak pilih-pilih,” kagum akun @DiTta Dittuel. “Jangan dengarkan apa kata orang kak, selagi pekerjaan yang kita kerjakan halal bukan masalah, turutin aja apa kata hatinya kakak, tetap semangat!,” dukung akun @Suryaaa_54.
Feminisme: Suara Perempuan untuk Keadilan
Budaya patriarki dan matriarki sudah melekat di masyarakat sejak zaman dahulu hingga saat ini. “Patriarki itu, standarnya itu muncul dari laki-laki. Nah, itu sebetulnya kenapa, sih? Kok bisa? Nah, jadi ketika kita berbicara tentang feminisme, itu kita selalu berbicara tentang–bahwa ada sebuah kelompok yang hadir untuk gender equality atau kesetaraan gender. Nah, sehingga background atau latar belakang dari feminisme itu adalah tentang perlawanan terhadap opresi dan ketidakadilan yang muncul dari patriarki,” ucap Nazmy. Feminisme adalah kumpulan gerakan sosial politik yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak wanita dalam berbagai bidang, seperti hak pribadi, ekonomi, sosial, dan politik. Menurut KBBI, feminisme merupakan gerakan untuk memperjuangkan hak yang setara antara perempuan dan laki-laki. Aida mengartikan feminisme sebagai sebuah ideologi, pemikiran, dan gerakan untuk memperjuangkan perempuan dalam mendapatkan persamaan hak. Gerakan ini dibentuk oleh sekelompok orang yang menentang keras adanya budaya patriarki yang menginginkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.
Nazmy Musyaffa menjelaskan, terdapat empat gelombang feminisme atau dikenal dengan Four Waves of Feminism. Salah satunya yaitu mengacu pada perkembangan manusia yang menyatakan bahwa zaman dahulu perempuan tidak memiliki hak politik dan hak properti. “Ada sebuah pasal di mana menyebutkan bahwa orang yang tidak wenang adalah perempuan. Maksudnya dalam hal mempunyai hak politik, dalam hal memilih, dalam hal memiliki rumah, dan dalam hal memiliki properti. Jadi, contoh parahnya adalah kayak di perdataan hukum yang tadi, perempuan itu tidak bisa mempunyai barang-barang tanpa adanya laki-laki. Syarat untuk mempunyai rumah itu harus punya suami dulu,” jelas Nazmy. Hal ini mendorong munculnya gerakan feminisme pada tahun 1800-an sebagai upaya untuk memperjuangkan hak politik dan hak properti mereka.
Selanjutnya, Aidatul Chusna mengatakan para feminis mulai bergerak untuk memperjuangkan hak perempuan dalam berkarir dan mendapatkan status sosial yang setara di masyarakat. Gerakan ini juga berupaya melawan stereotipe yang menganggap perempuan lemah dan hanya sebagai pengikut laki-laki, serta berjuang untuk lepas dari otoritas yang terkait dengan laki-laki, yang dikenal sebagai tipe gerakan value centric. Namun, prinsip-prinsip itu sebenarnya cukup kontroversial secara internal. Misalnya gini, terlalu banyak standar ganda; jika seorang perempuan hanya memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, ia akan kehilangan nilai di mata pria, dan sebaliknya. Jika seorang perempuan bekerja dan memiliki profesi, ia akan dipandang lebih berharga,” lanjut Aida. Standarisasi inilah yang menyebabkan munculnya sentimen gender war atau peperangan gender antara golongan perempuan dan laki-laki yang menganggap bahwa dirinyalah yang paling unggul dan berkuasa.
Adapun gerakan ini juga diharapkan dapat menghapus diskriminasi budaya dan memperjuangkan keterbukaan. Contohnya ada kelompok perempuan yang merasa superior meskipun mereka sesama perempuan. Namun, karena perbedaan budaya atau merasa berasal dari latar belakang yang lebih baik, seperti dari kota Jabodetabek, mereka kurang memperlakukan perempuan lain dengan baik. Mereka cenderung memperlakukan perempuan-perempuan dari latar belakang yang kurang terbuka dengan cara yang tidak adil, akhirnya terjadilah diskriminasi. Contohnya, terdapat pandangan merendahkan terhadap perempuan dari desa, yang sering disebut sebagai “perempuan kampung”. Para feminis hadir untuk menghapus diskriminasi antara perempuan yang tercipta karena perbedaan budaya.
Gerakan feminisme khususnya dalam kesetaraan hak, berhasil mengubah pandangan masyarakat terhadap perbedaan tugas di dalam suatu kelompok, salah satunya keluarga. Pandangan-pandangan tersebut dapat mengubah persepsi seseorang terhadap sesuatu yang dianggap tabu. Pandangan pertama yaitu menormalisasikan toxic masculinity. Toxic masculinity mengacu pada ekspektasi masyarakat yang mengharuskan laki-laki untuk menahan emosinya dan tidak terlihat lemah, sehingga tak jarang menghasilkan gangguan mental pada laki-laki. Banyak orang menyebutkan laki-laki mengharuskan dirinya untuk lebih kuat, tahan banting, dan tidak diperbolehkan untuk menangis. Salah satu dampak dari labeling ini, laki-laki cenderung kesulitan mengekspresikan emosi dan sering merasa khawatir akan penilaian orang lain, tak jarang laki-laki lebih sering memendam emosinya.
Banyak pandangan orang di sekitar yang mulai menormalisasikan hal tersebut. Faktanya, menangis dan berkeluh kesah berlaku bagi setiap gender untuk meluapkan emosi dan tekanan dalam diri. Semua orang mengalami kesedihan dan menangis adalah cara yang lebih baik untuk mengungkapkannya daripada menggunakan kekerasan. “Kalau menurut saya nggak apa-apa laki-laki menangis. Artinya apa? Fisiknya kuat tapi hatinya lembut. Nangisnya laki-laki itu hanya meneteskan air mata, sudah cukup. Itu artinya hatinya lembut. Pada saat dia menghadapi peliknya kehidupan, pada saat dia berdoa, pada saat dia membaca cerita-cerita keagamaan yang bikin terenyuh menangis, meneteskan air mata, itu nggak apa-apa,” tutur Sugi. Tak hanya itu, pada Sabtu (15/06), awak Skëtsa juga menemui driver ojek online perempuan, Ari Susanti, untuk dimintai pendapat. “Laki-laki juga kan manusia. Dia juga hatinya nggak sekeras yang kita lihat. Temanku juga ada ketika curhat, dia menangis untuk meluapkan. Gak papa kalo misalkan menangis daripada stres gak bisa dilepaskan,” jelasnya.
Selain toxic masculinity, pandangan yang kedua yaitu menormalisasikan perempuan menempuh pendidikan tinggi. Budaya patriarki yang telah dijelaskan sebelumnya menempatkan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga, sehingga menciptakan anggapan bahwa perempuan tidak memerlukan pendidikan yang tinggi. Pemikiran ini ditentang oleh gerakan feminisme yang menyatakan perempuan berhak menempuh pendidikan tinggi. “Seorang perempuan harus memiliki banyak kemampuan, seperti menjadi ibu rumah tangga yang mampu menjaga martabat keluarga atau golongan, menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, serta menjadi motivator hebat bagi dirinya dan orang lain,” ujar Ari. Perempuan juga dapat menjadi pemimpin yang baik, seperti presiden ke-5 Indonesia, Megawati Soekarno Putri. Tidak lupa dengan Menteri Kelautan Indonesia sebelumnya, Susi Pudjiastuti, yang berhasil membawa nama perempuan ke kancah dunia politik pemerintahan Indonesia.
Pada era sekarang, beruntung sudah banyak orang yang mulai menyadari pentingnya konsep feminisme terhadap kasus kesetaraan gender. Konsep ini menyatakan bahwa setiap gender memiliki peran masing-masing yang harus dikerjakan tanpa adanya diskriminasi. Pemahaman ini sangat berpotensi untuk menuju keadilan setiap gender. Awak Skëtsa juga menemui Tri Wuryaningsih, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) pada Selasa (21/05). “Sekarang sudah banyak orang yang sadar dalam pembagian peran masing-masing kayak misalnya dalam konteks rumah tangga,” ujar Tri. Ia juga mengatakan seorang suami yang mengizinkan istrinya bekerja dalam mengejar karirnya, dan suami yang sudah mulai sadar untuk menjalankan peran domestik dalam rumah tangga, saling bekerja sama, mengurus anak, dan lain sebagainya menjadi bukti kesadaran masyarakat.
“Pendidikan-pendidikan kritis harus mulai dimasukkan dalam berbagai kurikulum sejak dini mulai dari pendidikan keluarga sampai dengan perguruan tinggi. Hal itu kemudian masuk pendidikan kesetaraan gender. Saya kira ke depannya kehidupan yang harmonis itu saya yakin ada karena memang dengan pendidikan kritis itu yang kemudian akan menghasilkan sebuah awareness bagi masyarakat,” ujar Tri. Mite Setiansah, salah satu dosen FISIP, juga berpendapat mengenai hal ini. “Sudah banyak kok laki-laki yang justru lebih feminis daripada perempuan gitu, banyak juga perempuan yang kemudian dia mengambil alih peran gender laki-laki. Suami dan istri itu masing-masing sudah menyadari wong (orang-red) namanya peran gender gitu ya, identitas gender itu memang bisa dipertukarkan,” jelas Mite ketika diwawancarai oleh awak Skëtsa pada Senin (01/04).
“Aku berharapnya untuk orang-orang tua, bisa terbuka dan mau berkembang dan gak menutup diri, sehingga nantinya pola pikirnya akan maju. Bukan laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang. Dengan menggaungkan emansipasi wanita atau kesetaraan gender ini, bukan kita memerangi atau mencap laki-laki sebagai musuh kita gitu, tapi ya pemikiran-pemikiran yang salah itu yang kita perangi,” tutur salah satu mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK), Amaliya Solihatul, ketika ditemui oleh awak Skëtsa pada Rabu (17/07). Melanesia juga turut menyampaikan harapannya, “Aku harap banyak kalangan organisasi khususnya di lingkungan kampus yang mau ikut ambil andil gitu loh. Mau kritis tentang isu ini, karena isu ini tuh sangat berdampak dalam segala bidang bukan cuman dalam kehidupan perempuan atau laki-laki aja, tapi ini dalam lingkup internasional pun diperhatikan peran perempuan, peran laki-laki.”
Dinamika yang melibatkan peran gender, baik dalam budaya patriarki maupun matriarki, memang menjadi tantangan besar bagi masyarakat. Gerakan feminisme yang terus berkembang seiring berjalannya waktu mulai menggerus budaya lama. Suara-suara perlawanan terus digaungkan demi terciptanya kehidupan adil dan setara. Meskipun budaya patriarki dan matriarki masih ada di beberapa segmen masyarakat, penting bagi masyarakat untuk terus peduli dan membuka mata dan meruntuhkan stigma serta diskriminasi yang muncul akibat pandangan sempit tentang peran laki-laki dan perempuan. “Harapannya ke depan semakin banyak orang yang sadar, kekerasan pun akan berkurang, saling menghargai, saling peduli gitu dan berbagai kelompok orang yang peduli,” ucap Mite.
*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Angkatan 2023






