Oleh: Balqist Maghfira Xielfa

Ilustrasi: Linggar Putri Pambajeng
Ilustrasi: Linggar Putri Pambajeng

Isu kesetaraan gender selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan, baik di tingkat komunitas lokal maupun skala global. Di Indonesia, budaya patriarki masih tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari akses pendidikan, rumah tangga, hingga partisipasi di dunia kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menemukan pola-pola interaksi yang mencerminkan budaya patriarki atau bahkan matriarki. Apakah ini sekadar warisan budaya, atau ada hal yang lebih besar yang perlu dipahami dan diperbaiki?

Laporan utama kali ini mencoba menggali lebih dalam tentang budaya patriarki dan matriarki yang masih hidup di masyarakat kita, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Kita dapat belajar dari pengalaman beberapa orang untuk mengulik kembali tentang fakta lapangan mengenai kesetaraan gender ini. Seperti Melanesia yang menceritakan terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan di daerahnya karena menikah dianggap lebih baik untuk perempuan. Di tempat lain ada Aida, sosok dosen yang impiannya terbentur budaya patriarki di keluarganya dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pilihan kariernya.

Bukan hanya patriarki yang memiliki pengaruh besar dalam struktur sosial kita. Matriarki pun hadir ke dalam lingkungan kita meski tidak selalu dengan wajah yang sama. Hal tersebut dikuatkan oleh pengalaman Nazmi, salah satu mahasiswa Fakultas Hukum (FH). Melalui Pengalamannya, Nazmi menunjukkan konsep matriarki dapat mengarah pada diskriminasi terhadap laki-laki berdasarkan pengalamannya, khususnya da- lam konteks pekerjaan. Di sinilah terlihat bahwa dominasi satu gender atas yang lain baik itu patriarki maupun matriarki dapat menyebabkan ketidaksetaraan.

Dampak Nyata Ketidaksetaraan Gender

Ketidaksetaraan gender memiliki dampak yang luas dan mendalam. Salah satunya adalah potensi produktivitas perempuan berkurang. Salah satu hal yang sering terjadi adalah tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja atau dipromosikan dalam karier mereka.­-

Dari pengalaman-pengalaman yang dialami beberapa narasumber pada laporan utama itu mencerminkan sisi lain dari ketidaksetaraan gender. Hal tersebut membuktikan bahwa ketidaksetaraan gender tidak hanya menahan perempuan untuk berproses di bidang yang di- anggap pekerjaan laki-laki, tetapi juga memperkuat persepsi patriarki yang membatasi pilihan karier perempuan. Ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya tentang peluang kerja, tetapi juga tentang mengubah pola pikir yang membatasi kebebasan individu untuk mengejar impian mereka tanpa terhambat oleh stereotipe gender.

Selain tidak adil bagi perempuan, ketidakadilan gender juga turut menggerus hak laki­­-­­laki yang ingin menempuh karier di bidang yang dianggap lebih ”feminin”. Diskriminasi ini bisa jadi hasil dari pemahaman yang menyimpang tentang matriarki yang menunjukkan peran gender tradisional diterapkan secara kaku. Sehingga hal tersebut menghambat kesempatan yang seharusnya terbuka bagi semua, tanpa memandang gender.

Gerakan Feminisme: Harapan di Tengah Ketimpangan

Gerakan feminisme di Indonesia telah memperjuangkan kesetaraan gender dengan mengedepankan hak-hak perempuan dalam berbagai bidang, seperti hak ekonomi, sosial, politik, dan pribadi. Gelombang feminisme di dunia mulai dari memperjuangkan hak memilih, bekerja, dan mendapatkan pendidikan tinggi juga memengaruhi kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya kesetaraan gender. Tidak hanya tentang hak-hak perempuan, feminisme juga menekankan perlunya keadilan bagi semua gender, termasuk menormalisasi peran domestik bagi laki-laki dan menghilangkan ekspektasi toxic masculinity.

Namun, feminisme bukan tanpa tantangan. Banyak kesalahpahaman yang beredar, seperti anggapan bahwa feminisme hanya memperjuangkan perempuan dan menyingkirkan laki-laki. Padahal, tujuannya adalah membangun struktur yang lebih adil. Tantangan ini semakin rumit dihadapkan pada budaya yang masih mengagungkan peran-peran yang tidak adil bagi salah satu gender. Akibatnya, norma-norma tersebut kerap memengaruhi cara pandang masyarakat dalam menilai peran dan kapasitas individu berdasarkan gender. Hal tersebut seringkali menjadi alasan di balik keputusan­- keputusan diskriminatif.

Menyongsong Masa Depan yang Setara

Demi mencapai kesetaraan gender yang lebih baik, penting bagi kita untuk mendorong pendidikan kritis sejak dini. Pendidikan yang lebih baik akan menciptakan pemahaman bahwa kesetaraan gender bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan produktif.

Harapannya adalah tercipta generasi yang tidak hanya paham, tetapi juga berani mengambil sikap dan tindakan untuk memperjuangkan kesetaraan. Tantangan dalam menghadapi patriarki dan matriarki bukanlah tentang siapa yang lebih dominan, melainkan kita bisa menciptakan keseimbangan di mana setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Terus berjuang, berdiskusi, dan bekerja sama dapat menciptakan dunia yang menjadikan kesetaraan menjadi nilai utama. Patriarki, matriarki, atau feminisme, semuanya harus menuju tujuan yang sama: keadilan untuk semua.