Oleh: Vivi Aleyda Anwar

Foto: Vivi Aleyda Anwar

Perbandingan antara fasilitas kampus yang ada dengan kebutuhan mahasiswa saat ini masih menjadi sorotan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Tiga fasilitas utama yang menjadi jantung bagi kegiatan mahasiswa adalah Gedung Integrated Academic Building (IAB), Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Unsoed. Tiap fasilitas memiliki problem tersendiri, mulai dari permasalahan klise yang belum teratasi seperti jaringan WiFi, hingga yang membutuhkan perbaikan segera seperti paving yang rusak. Kondisi tersebut mengakibatkan terhambatnya aktivitas akademik dan berpotensi mengganggu keselamatan mahasiswa. Tidak berhenti pada kondisi fisik fasilitasnya saja, tetapi pelayanan administrasi dari pihak kampus di dalamnya juga cukup mendapat perhatian di tahun 2024 ini.

Fasilitas BIG 3 di Mata Mahasiswa

Perpustakaan dibanjiri mahasiswa saat jam sibuk, terutama di area belajar. “Kerja kelompok, ngerjain tugas sambil nunggu kelas,” cerita Nurini dan Fia, mahasiswi Akuntansi 2023 ketika diwawancarai awak Sketsa pada Senin (27/05). Lantai dua menjadi spot favorit mahasiswa untuk belajar karena minim gangguan suara, sedangkan lantai tiga lebih sering digunakan untuk kegiatan diskusi yang tak jarang menimbulkan kegaduhan. “Kalau buku-bukunya, selama ini nyari-nyari lengkap, sih. Maksudnya yang kita cari tu selalu ada,” tambahnya. Pelayanan yang mereka terima di UPT juga dinilai baik.

Sayangnya, masih ada beberapa hal yang mahasiswa harapkan perlu diperbaiki dari UPT Perpustakaan Unsoed. Pertama, persebaran stop kontak yang dinilai kurang efisien dan sebaiknya diperbaiki supaya memudahkan mahasiswa untuk mengisi daya. Kedua, kekuatan jaringan WiFi. Masalah ini bisa dibilang langganan di Unsoed bagian mana pun, mahasiswa berharap segera diatasi.

Area padat mahasiswa selanjutnya, yaitu PKM. Katleva, anggota UKM UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) yang diwawancarai pada Jum’at (17/05), mengaku sering melakukan keperluan organisasi di PKM. Pengunjung lain, Nurussyifa, anggota UKM Marching Band dalam wawancara pada Kamis (16/05), mengaku sering berkunjung untuk latihan dan sekadar berkumpul dengan anggota lainnya.

Mereka turut mengomentari kenyamanan PKM. “Untuk UKM Marching Band ini sebenarnya masih butuh memperluas ruangan ya, karena dari kami ruangannya juga masih terlalu sempit. Jadi untuk kenyamanan sendiri masih cukup aja gitu,” keluh Nurussyifa. Lalu keadaan paving di depan aula PKM yang renggang dan berantakan, membahayakan mahasiswa yang melaluinya. Nurussyifa mengaku dirinya beberapa kali tersandung oleh paving yang lepas tersebut.  Katleva juga mengeluhkan keadaan tembok ruangan UKM yang retak, plafon yang berlubang, pintu dan gorden yang sudah terlihat usang. Selain itu, jumlah pendopo dengan UKM yang membutuhkannya belum seimbang. Mereka masih kerap berebut dengan UKM lain. Perbaikan engsel pintu, penggantian gorden lama, pengecatan ulang, dan pengecekan lampu di area belakang PKM secara berkala menjadi hal utama yang mahasiswa harap bisa segera dilaksanakan oleh pengelola PKM. UKM Marching Band sendiri berharap bisa diadakan perluasan halaman PKM, mengingat mereka lebih sering berlatih di halaman.

Di samping itu, mahasiswa merasa tingkat keamanan di PKM tergolong kurang. “Teman saya kebetulan belum lama ini, kehilangan helm dan nggak ketemu lagi,” cerita Nurussyifa. Ketidakjelasan satpam PKM juga dikeluhkan mahasiswa. Mahasiswa berharap ruang sekretariat UKM bisa diperluas karena tiap tahunnya terjadi penambahan anggota baru.

Selanjutnya Gedung Integrated Academic Building (IAB), gedung yang usianya tergolong muda, tetapi kenyamanannya sudah diacungi jempol oleh mahasiswa. Fasilitas seperti proyektor, loker, toilet di setiap lantai, AC, lift, gazebo, ruang komputer, aula, dan musala menunjang mahasiswa menjalankan KBM dan praktikum. Dalam wawancaranya pada Jum’at (17/5), Mega, salah satu pengunjung IAB, mengharapkan upgrade pada gazebo di lantai lima. “Harusnya sih disediain stop kontak buat charger laptop, tapi itu nggak ada dua-duanya juga di gazebo kanan kiri.” Ia juga mengkritik ketidaksediaan mikrofon di tiap ruang kelas, serta beberapa bilik toilet yang tidak bisa dikunci. Di sisi lain, gersangnya area parkir IAB masih dimaklumi karena tanaman di area tersebut juga masih baru.

Pengunjung lain juga mengaku bahwa keseluruhan fasilitas dan pelayanan di IAB sudah memadai. “Kalau misalnya untuk orang-orangnya juga di sini tuh sistemnya tuh enak,” cerita Vera, pada Senin (20/5).

Tanggapan Pihak Kampus dan Pengelola

Yuli Siswanto, resepsionis UPT Perpustakaan, dalam wawancara pada Jum’at (7/6) mengklaim bahwa ketersediaan fasilitas di UPT sudah sangat memadai. Pihak UPT telah berusaha merawat fasilitas yang ada. Mulai dari fumigasi, cleaning service, bahkan tim IT. Pihak UPT mengaku sedang mengusahakan peremajaan UPT untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Salah satu upaya penyesuaian zaman tersebut yaitu telah dibangunnya The Gade Creative Lounge (TGCL) di dalam perpustakaan, yang dalam prosesnya bekerja sama dengan PT Pegadaian. Spot ini bertujuan untuk menampung kegiatan kreatif mahasiswa, pegawai, dan dosen Unsoed.

Mereka rajin menginformasikan perihal peminjaman buku lewat Instagram. “Untuk peminjaman buku, mahasiswa bisa melihat koleksi perpustakaan dengan cara mengakses lib.unsoed.ac.id,” tambah Yuli. Di samping itu, pihak perpustakaan masih merencanakan pelayanan buku elektronik. Kemudian banyak sudut perpustakaan yang telah terawasi CCTV dan sistem security gate untuk buku di lantai satu. Yuli juga mengatakan bahwa kecil kemungkinan terdapat buku ilegal sebab tiap buku telah melalui proses pengolahan. Meski ditemukan buku bajakan, itu merupakan buku yang dibawa mahasiswa, bukan disediakan oleh perpustakaan. Selain itu, pihak perpustakaan beberapa kali menerima aduan mengenai pengunjung lain yang tidak bisa menjaga ketenangan. Mereka berusaha menegur pengunjung secara baik-baik demi kenyamanan bersama.

Awak Sketsa menemui Dian Novita Sari, selaku sekretaris dari pengelola gedung IAB pada Jum’at (19/7). Dirinya mengklaim gedung IAB secara keseluruhan sudah cukup baik “Jika dibandingkan dengan IAB awal berdiri, sekarang tentunya jauh lebih baik lagi, ya. Baik dari segi prasarana maupun dari segi kenyamanan, ya,” tutur Dian. Pengelola IAB rutin melakukan pengecekan agar dapat memperpanjang umur fasilitasnya. “Ketika ada acara di ballroom, itu teknisinya sering ngontrol, ngecek, apa misalkan ada kerusakan apa ada sesuatu yang gitu,” tambahnya.

Mahasiswa sering mengeluhkan sumbangan kebersihan dan perawatan untuk pemakaian ruang di IAB karena mereka masih diharuskan untuk meninggalkan ruangan dalam keadaan bersih. Pihak IAB terus menekankan fakta bahwa mayoritas mahasiswa memakai ruangan untuk kegiatan pada akhir pekan yang merupakan di luar jadwal kerja staf IAB yaitu senin sampai Jumat. Dari keterangan tambahan yang diberikan pada (19/12), sumbangan lebih ditekankan untuk peminjaman ruangan IAB, terutama ballroom. Lebih rincinya yaitu untuk menangani sampah dan memindahkan barang untuk mengubah tata letak ruangan. “Terus kayak sampah-sampah kan misal sudah membersihkan biasanya hanya membuangnya di lantai sini kan, perlu membuang ke tempat pembuangan akhir,” jelas Dian. Pihak IAB berharap ada peningkatan grafik pengembangan dari tahun ke tahun. Mereka selalu memetakan kebutuhan yang belum tersedia, sehingga mereka belum memiliki rencana untuk tahun 2025 karena menunggu evaluasi tahunan.

Pihak IAB merasa tingkat keamanan di gedung tersebut sudah baik. Terdapat security, CCTV di tiap lantai, dan sejauh ini belum pernah ada laporan kehilangan. Hanya saja, tahun depan akan direncanakan pengadaan CCTV di area parkir agar kejadian yang sering terjadi di fakultas lain bisa dihindari. Mereka berharap bisa terus memberikan pelayanan yang baik dan sesuai dengan permintaan pengguna. Serta terciptanya rasa kepedulian dan tanggung jawab bersama, baik dari pengelola maupun pengguna, dalam memelihara sarana dan prasarana di IAB, agar bisa terus memberi kebermanfaatan untuk jangka waktu yang lama.

Waluyo Handoko selaku Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, menanggapi fasilitas pada PKM, seperti keadaan kamar mandi, musala, dan ketiadaan WiFi. Menurut Waluyo, segala sesuatu yang ia rencanakan di PKM merupakan usulan dari universitas atau fakultas masing-masing. Ia menambahkan bahwa dari delapan staf perusahaan, tidak semuanya memahami keadaan tiap fakultas. Terlebih ia menilai hal ini merupakan fokus kerja dari Bidang Kemahasiswaan “Kami mestinya ada usulan. Kami akan cek ke sana kalau seandainya emang usulan, tapi kan tidak pernah ada usulan,” ungkap Waluyo pada Kamis (20/6). Alasan lain, tahun ini sedang diprioritaskan pemberian Rp200.000.000 kepada setiap fakultas untuk perbaikan sekre UKM. Waluyo menyampaikan harapan pada mahasiswa mengenai fasilitas yang telah ada, agar digunakan dengan baik untuk menunjang pencapaian prestasi, dan mampu memberikan masukan yang konstruktif pada universitas.

Pembaruan Perbaikan PKM Unsoed 

Menurut Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Maulana Ihsan, mahasiswa sudah beberapa kali menyampaikan keluhan mereka, salah satunya lewat kegiatan “Public Hearing” di tahun lalu. Mahasiswa menyampaikan keluhan-keluhannya, termasuk salah satunya fasilitas di PKM yang tidak memadai. “Ada proposalnya, dikasih juga. Terus pas periode aku, itu beberapa kali kita follow up terkait hal itu. Terkait keresahan-keresahan itu lah,” ungkap Maulana saat wawancara pada Senin (2/12). Puncak dari menumpuknya keluhan itu adalah dengan diadakannya agenda “Ngopi Bareng Rektor” pada 23 September di selasar gedung rektorat. “Makanya akhirnya langsung tuh, dua hari setelahnya, apa tiga hari setelahnya tuh, memang ada dari rektorat, dari pusatlah intinya. Ada yang datang ke sini (PKM-red) buat ngecek-ngecek segala macem,” cerita Maulana.

Beberapa perbaikan fasilitas di PKM mulai terealisasi pada Rabu, 9 Oktober 2024.  Perbaikan tersebut antara lain lantai pendopo depan, jalan depan aula PKM, beberapa selasar sekretariat UKM, paving block depan musala, dan saluran drainase. Kemudian, terdapat pemasangan kamera CCTV pada delapan titik yang tersebar di PKM pada tanggal 5 November, dengan ruang kontrolnya terletak di samping sekretariat UKKI. Dari obrolan terakhir Maulana dengan wakil rektor, perbaikan beberapa area PKM lainnya masih berupa rencana. Misalnya untuk pintu sekretariat dan kamar mandi yang rusak, serta tembok triplek yang berlubang di beberapa sekretariat.

Wujud nyata dari tanggung jawab pihak kampus ini, sayangnya tidak dibarengi dengan komunikasi yang jelas kepada pihak mahasiswa, khususnya BEM. Maulana mengaku ia sendiri pertama kali mendapat informasi adanya pembangunan di PKM dari teman-teman UKM yang hendak latihan. Perbaikan yang mendadak dan tanpa pemberitahuan ini merugikan bagi mahasiswa sebab mahasiswa sudah mengisi jadwal giliran pemakaian pendopo. Karena perbaikan tersebut, mereka harus mencari tempat lain untuk mengadakan latihan maupun kegiatan organisasi lain. “Misal kalo udah dikasih tau nih ke aku dari jauh-jauh hari sama pihak rektorat, kalo tanggal segini mau mulai perbaikan, aku pun bisa ngasih tau ke temen-temen UKM,” jelas Maulana.

Meskipun kurang komunikasi, Maulana menyatakan kepuasannya dengan perbaikan yang telah selesai. Lantai pendopo, yang telah lama diresahkan kerusakannya, kini menjadi lebih nyaman, terutama untuk kegiatan mahasiswa di bidang bela diri. Jalan di depan aula PKM pun sudah lebih baik karena sebelumnya kondisi yang rusak banyak membahayakan mahasiswa. Tak ketinggalan pula, pemasangan CCTV akhirnya memberi angin segar bagi penghuni PKM, mengingat sudah banyak laporan kehilangan barang dan kendaraan milik mahasiswa. “Alhamdulillah sejauh dipasang CCTV ini, belum ada aduan lagi terkait kehilangan motor, dan harapannya kan ada CCTV ini ya ningkatin keamanan lah, karena waktu itu sempet ada solusi. Solusinya yaitu adanya satpam di PKM. Tapi, ternyata adanya satpam pun masih hilang juga,” pungkas Maulana.

Fasilitas memang menjadi hal yang gigih dikeluhkan mahasiswa. Namun, di samping itu Maulana juga berharap keluhan lain seperti tantangan pendanaan delegasi perlombaan maupun kegiatan mahasiswa segera dipenuhi oleh Unsoed. Kepada pihak rektorat, Maulana berharap fasilitas lain yang belum diperbaiki bisa segera disusul. Kemudian, perlu untuk tetap dilakukannya pengontrolan agar jika terdapat kerusakan kembali bisa segera diatasi. Mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas PKM yang disediakan universitas dengan baik, karena pada dasarnya fasilitas-fasilitas tersebut milik bersama, digunakan secara bersama-sama, sehingga rasa untuk saling menjaga itu harus ada.