Oleh: Violin Salsabila

Gambar: Instagram @dimsad77
Gambar: Instagram @dimsad77

Judul : Yuni

Sutradara : Kamila Andini

Produksi : Fourcolours Films

Tahun Rilis: 2021

Pemain Utama: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Asmara Abigail

Rating : 7,3/10 (IMDb)

Genre : Drama, Coming of Age

Yuni adalah seorang remaja yang tinggal di sebuah desa kecil di Indonesia. Ia dikenal sebagai siswi SMA yang pintar, berani, dan mandiri. Yuni hanya tinggal berdua dengan neneknya karena kedua orang tuanya merantau bekerja di ibu kota. Sebagai gadis berprestasi, Yuni tentunya memiliki cita-cita yang tinggi setelah lulus SMA. Namun, impiannya mulai terganggu ketika lamaran pernikahan datang dari dua pria secara berturut-turut. Penolakan menjadi langkah yang dipilih Yuni, meskipun tekanan dari masyarakat terus menghantuinya.

Masyarakat di sekitar Yuni percaya akan ada nasib buruk apabila kerap menolak lamaran yang datang. Konflik batin dari Yuni yang gusar untuk memilih antara mengikuti keinginan diri sendiri atau mengikuti ekspektasi sosial menjadi konflik utama dari film ini. Selain itu, film ini mengangkat isu-isu sosial yang relevan dan tampak di masyarakat kita seperti halnya pernikahan dini, keterbatasan untuk memilih, lingkungan hidup yang konservatif, hingga hak perempuan terkait pendidikan. Film ini juga mengeksplorasi realitas sosial dan budaya yang kerap mengikat perempuan dalam masyarakat yang sarat akan nilai tradisional yang ada. Yuni digambarkan sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki yang sering menjadi tantangan dalam penentuan jalan hidup seorang perempuan.

Penyakit Ungu Yuni

Dalam film ini, Yuni digambarkan sangat terobsesi pada warna ungu. Tas sekolah, motor, isi kamar, hingga pakaian sehari-harinya hampir semuanya berwarna ungu. Apa sebenarnya maksud dari warna ungu yang kerap hadir ini?

Warna ungu bukan semata untuk estetika, melainkan sebagai metafora yang mewakilkan sebuah kebebasan, keberanian, hingga impian Yuni sebagai pemeran utama. Warna ungu juga sering diasosiasikan dengan gerakan feminisme dan perjuangan kesetaraan gender di dunia. Melalui elemen warna ini, sang sutradara, Kamila Andini, seakan menyampaikan pesan tentang pentingnya memperjuangkan hak dan kebebasan, khususnya bagi generasi muda perempuan.

Salah satu kekuatan dari film ini terletak pada sisi estetika visualnya. Sinematografi film ini menyampaikan suasana desa yang kental dengan kebersamaan dan kesederhanaan khas perdesaan Indonesia. Penonton dapat menikmati keadaan sosial yang familier dan terasa akrab. Kehadiran backsound juga melengkapi emosi di setiap adegan, serta mendukung narasi yang membawa penonton pada perjalanan emosi sang karakter utama.

Dengan semua lapisan konflik yang ada, film ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan pentingnya menciptakan ruang yang inklusif bagi perempuan. Film ini tidak hanya menyampaikan kritik terhadap norma-norma sosial yang membatasi perempuan dalam decision making, tetapi juga membuka dialog tentang hak-hak perempuan. Selain itu, film ini juga memberikan suara kepada perempuan muda di seluruh dunia yang mengalami tantangan layaknya Yuni. Melalui narasi yang personal namun universal ini, Yuni menjadi film yang relevan di berbagai konteks sosial dan budaya.

Penyajian cerita yang kompleks tak luput dari ekspresi dan dialog yang disampaikan karakter-karakternya. Pihak produksi memilih bahasa daerah seperti Jawa Serang dan Sunda Banten untuk karya mereka, hal ini dapat memberikan dampak positif sekaligus negatif. Di satu sisi, pilihan ini dapat memperkuat koneksi dan rasa familier penonton dengan film yang ada, tetapi di sisi lain bisa membatasi akses penonton yang tidak memahami bahasa daerah tersebut. Subtitle menjadi hal krusial bagi para penonton tanpa akses ke dua bahasa daerah yang digunakan. Selanjutnya, walau mengangkat topik yang relevan dan sangat menarik untuk beberapa kalangan, isu yang diangkat dapat dikatakan cukup berat untuk dikonsumsi secara mentah oleh kalangan umum tanpa pemahaman kuat akan dunia gender. Selain itu, terdapat beberapa adegan dewasa yang muncul di awal serta pertengahan film sehingga kurang cocok untuk dikonsumsi oleh penonton di bawah umur.

Penyajian adegan tersebut tentu dilakukan bukan tanpa alasan. Jika ditelisik lebih dalam, adegan yang kerap dianggap tabu itu muncul sebagai penggambaran akan realitas sosial yang ada. Pihak produksi film ini berusaha menyampaikan bahwa โ€˜kenakalanโ€™ yang dilakukan Yuni merupakan hal wajar bagi kalangan remaja. Selain itu, adegan tersebut juga menjadi kritik terhadap masyarakat yang memandang hal berbau seksual terhadap perempuan merupakan hal tidak biasa, lain halnya terhadap laki-laki. Dengan kesempatan ini, dialog terhadap pembahasan berbau seksual akan terbuka dan menjadi โ€˜less tabooโ€™ atau tidak terlalu tabu.