Luka yang Tak Bernama

Oleh: Haykal Kurnia W.P

Ilustrasi: Widyana Rahayu
Ilustrasi: Widyana Rahayu

Di balik senyum yang kusemat tiap pagi,
terbenam nyeri yang tak bersuara,
menyusup di sela napas yang dipaksa tenang,
meski jiwa retak perlahan dalam senyap.

Langkahku melaju seolah tanpa beban,
padahal dada nyaris karam di ujung senja.
Tak semua luka perlu bernama,
sebagian cukup menetap,
menyelinap di antara desah dan doa.

Daku berbicara pada sunyi,
menyulam kata dari sisa-sisa harap,
sebab dunia terlalu bising
untuk memahami lelah yang tak menjerit.

Segelas kopi dingin menjadi saksi,
mata yang sembap enggan ditanya,
sementara malam menatapku
dengan pandangan iba yang rahasia.

Setiap pagi kuucapkan “tak apa”
meski dalam hati ada yang roboh perlahan.
Aku tetap berjalan, bukan karena kuat,
melainkan karena diam, tak pernah menuntut.

Editor: Manda Damayanti

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Luruh pada Garis

Oleh: Yunita Salsabilla Fitriani Ilustrasi: Abida Fitratussawa Arang di dalam tungku itu nyaris padam Asapnya menyelimuti…

Tuhan, Mengapa Aku?

Oleh: Rizkiana Fadillah Ningtias Dalam gelap yang paling sunyi, aku terbaring di atas kasur kecil yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

S3 2026 Jadi Pintu Awal Mahasiswa Baru Mengenal Kehidupan Kampus Unsoed

S3 2026 Jadi Pintu Awal Mahasiswa Baru Mengenal Kehidupan Kampus Unsoed

Tiga Rekomendasi Curug Banyumas, Cocok untuk mengobati Homesick dan kebutuhan Healing kamu!

Tiga Rekomendasi Curug Banyumas, Cocok untuk mengobati Homesick dan kebutuhan Healing kamu!

Luruh pada Garis

Luruh pada Garis

Tuhan, Mengapa Aku?

Tuhan, Mengapa Aku?

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia