Penulis: Widyana Rahayu
Mahasiswa kini menghadapi perasaan dilema setelah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) terutama dalam aspek karya visual dan sejauh mana kampus mengapresiasi mahasiswanya. Kegiatan Pengembangan Karakter dan Kepribadian Mahasiswa (PKKM) terlihat mengenakan AI dalam pengajaranya. Sheren, tutor PKKM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menjelaskan bahwa dirinya dan rekan fasilitator sebenarnya sama-sama tidak setuju dengan penggunaan AI pada desain tampilan presentasi PKKM. “Akhirnya kami malah ikut-ikutan, sama-sama sebal, tapi mereka (mahasiswa baru-red) juga mengerti kalau kami cuma perantara,” tuturnya Kamis (3/9/2026).
Sejumlah mahasiswa baru pun turut menilai tampilan materi PKKM, mulai dari tampilan halaman presentasi, lembar kerja, hingga bingkai foto digital mendapat sentuhan AI. Kerancuan informasi yang tercantum dalam tampilan halaman presentasi menimbulkan ambiguitas dalam menarik sebuah keterangan, sehingga muncul kesalahpahaman bagi mahasiswa baru. Hal ini dipertegas dalam wawancaranya dengan Awak Skëtsa (3/9/2026), X, menekankan bahwa tampilan halaman presentasi PKKM yang dipaparkan kepada mahasiswa baru, sama dengan yang diterima oleh tutor ketika mendapat pembekalan maupun Training of Trainer (ToT). Tutor dan fasilitator tidak ikut mendesain karena materi disiapkan langsung oleh tim pusat PKKM Unsoed.
Menanggapi hal tersebut, Ketua PKKM Unsoed, Poppy Dian Indira Kusuma, memaparkan bahwa penggunaan AI hanya sebatas teknologi yang dapat dimanfaatkan, terutama untuk tampilan halaman presentasi dengan tujuan agar menjadi lebih menarik. Dalam hal pembuatan materi, tim PPKM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) secara penuh melibatkan ahli di bidangnya.
Bagi sebagian mahasiswa baru, keganjilan itu tidak langsung terasa. Fransiska Ayunda Putri Wibowo, mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES), mengaku baru menyadarinya pada tampilan halaman presentasi di pertengahan, “Kemarin PKKM pas awal-awal kita masih enggak nyadar karena mungkin masih satu-dua PPT (Power Point-red), tapi pas materi-materi selanjutnya kita ngeliat kayak desainnya mirip, desain yang biasanya manual, kan beda pasti, ya, sama AI,” ujarnya (4/9/2026). Baginya, persoalannya bukan hanya terkait tampilan saja, tetapi terdapat jarak antara imbauan dan praktik. Kampus menyosialisasikan larangan pengerjaan tugas menggunakan AI secara penuh. Berbanding terbalik dengan pembuatan PPT PKKM yang memanfaatkan AI, kampus tidak menerapkannya di lingkungan tenaga pendidik dan staf. Ia menambahkan, lembar kuesioner yang dibagikan sebagai tugas pun didesain dengan AI, padahal hal tersebut dapat dikerjakan secara organik.
M, mahasiswa FIB, memiliki pengalaman serupa. Ia baru menyadari pada pertengahan kegiatan setelah melihat model huruf dan elemen yang berulang, menurutnya jarang tampak pada desain di software desain Canva. Tampilan halaman materi tanpa karakter ilustrasi sekilas tampak biasa saja. Hal ini memicu kekhawatiran terbentuknya pola pikir mahasiswa baru yang lebih memilih langsung mengandalkan prompt AI. Sebagai mahasiswa yang pernah menekuni seni digital, kekecewaan langsung timbul saat mengetahui terdapat campur tangan AI. Ia menyebut beberapa temannya yang berkiprah di bidang seni digital di FIB kerap menyindir hasil AI lewat status WhatsApp.
M menyebut dirinya tidak mendukung penggunaan AI karena ia tahu betapa sulitnya membuat karya digital. “Sebagus-bagusnya hasil karya AI, tapi itu tetap ngambil karya dari orang lain, dan itu kayak enggak etis banget gitu. Iya mungkin hasilnya bagus, tapi ada nilai kemanusiaan yang hilang gitu,” ujarnya (3/9/2026). Ia lebih cenderung menerima untuk tampilan halaman minimalis tanpa karakter, tetapi menolak plagiasi gaya seniman lain.
Andhika Rizky Fadhilah, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), menyebut keresahan utama pegiat seni adalah minimnya penghargaan terhadap proses kreatif. Baginya, banyak orang hanya melihat hasil akhir, padahal sebuah ilustrasi lahir dari filosofi dan pengalaman senimannya. Pembuatan prompt memang butuh kemampuan berpikir dan bisa membantu pengembangan ide, tetapi tidak menggantikan pengalaman dan perspektif seniman. “Kalau cuma ketik prompt, jadi, lalu diklaim sebagai hak milik sendiri, itu tidak etis,” katanya saat diwawancarai Awak Skëtsa (15/9/2026).
Syafira Dewi Juwita, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), tidak menolak AI sebagai alat bantu. Namun, ia menyampaikan pandangannya dengan tegas, bahwa karya visual yang diciptakan oleh manusia masih jauh lebih baik daripada AI. “Sejelek-jeleknya karya manusia dibandingkan karya AI, aku masih akan memilih karya manusia karena masih ada sentuhan alami,” ujarnya (4/9/2026). Menurutnya, membuat prompt yang baik pun tidak mudah dan melibatkan selera, sehingga kontribusi manusia tetap ada. Ia menilai karya yang murni dihasilkan AI sulit disebut karya sendiri.
Sementara itu, merespons mengenai masifnya penggunaan AI, Galang, Ketua Tim Promosi dan Humas Fakultas Biologi, menjelaskan bahwa timnya mendesain sebagian besar konten secara organik dengan software Canva. AI dipakai pada unsur tertentu, terutama karakter mahasiswa pada konten karena stok foto model belum tersedia.
Koordinator Tim Mahasiswa Promosi dan Humas, Bunga Putri, menyebut sudah ada rencana produksi video model agar tidak lagi memakai karakter buatan AI, tetapi jadwal dengan talent mahasiswa belum menemukan waktu yang sesuai. Galang menyampaikan tidak ada kebijakan tertulis terkait batas penggunaan AI di timnya, hal ini hanya didasari oleh kesadaran bersama. Dirinya beranggapan bahwa penggunaan AI tetap etis selama membantu penggunanya. “Menurut saya itu juga satu bentuk kemunduran dari manusia itu sendiri gitu kan. Tapi, kalau selama itu digunakan dengan bijak, itu menurut saya masih boleh,” sebutnya. Dalam konteks ini, Aris, mahasiswa Fakultas Hukum menyatakan bahwasannya batasan etika dalam penggunaan AI tidak dikonstruksikan dengan jelas karena belum diatur secara rigid. Ia juga menambahkan pemahamannya bahwa karya yang dihasilkan sepenuhnya oleh AI tidak bisa diklaim sebagai hak milik orang yang menulis prompt. Hal ini sejalan dengan Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang mendefinisikan pencipta sebagai seorang atau beberapa orang. “Suatu ciptaan yang diwujudkan dalam bentuk nyata oleh pemiliknya, itu akan terikat kepada pemiliknya,” katanya pada Jumat (4/9/2026).
Kampus memiliki tanggung jawab untuk membuat ruang yang ramah bagi mahasiswa. Venna Firena, mahasiswa Fakultas Biologi, menuturkan terkait pemanfaatan AI secara ideal sebagai media untuk asisten, bukan untuk menggantikan keseluruhan pekerjaan. “Kalau yang bagian kreatif ini mungkin sedikit bermata dua, sih. Karena di situ selain membunuh yang ilustrator itu, itu juga berpotensi memunculkan konflik,” ucapnya pada Jumat (11/9/2026). Dalam pandangannya, kampus telah mampu memberdayakan sumber daya manusia, sebagai bentuk kesempatan dan apresiasi bagi mahasiswa. Selain itu, kampus dapat melibatkan seniman dan desainer lewat kompetisi atau kolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni.
Editor: Annisa Nur Hidayah
Reporter: Abiyyu Regiano, Annisa Nur Hidayah, Artika Putri Kinanti, Fara Dewi Hanani, Lovely Mozza Permata Moty Nurhamidin, Manda Damayanti, Widyana Rahayu






