Tamasya Tempat Kakek

Oleh: Muhammad Robin Mubarok N

Ilustrasi: Aulya Desya
Ilustrasi: Aulya Desya

Aduh! Gelap sekali. Tempat ini rasanya bergoyang-goyang. Aku baru sadar, ternyata aku masih pejam. Aku tercelik. Ada apa ini? Apa jangan-jangan gempa bumi? Aku mengucek kedua mataku sampai kering, biar jelas aku melihat. Lamat-lamat, aku sedang di atas kursi empuk, kursi yang banyak sekali. Aku dimana? Aku menengok ke kanan dan kiri. Di sebelah kanan, Mat sedang tidur. Lalu, kulihat Papa dan Mama duduk di depan. Mama terkantuk menggendong Dik Maria. Oh iya, aku ingat! Kita semua ada di dalam mobil Papa. Kita kan, mau ke rumah Mbah.

“Wibowo anak Mama sudah bangun?” Mama melihat aku dari cermin mobil, sudah tidak kantuk lagi. Aku mengangguk-angguk sambil senyum sedikit. “Jalan di sini rusak, Bo. Banyak batu dan kerikilnya. Kamu pasti kaget kan mobilnya goyang?” Aku tertawa kecil, takut nanti diledek “gigi gupis” oleh Mama. Kalau Papa, cuma berbalik sedikit, melirik sebentar, lalu lanjut menyetir lagi. Memang begitu, Papa lebih suka diam.

Mendadak mobil berhenti. Aku hampir saja jatuh ke depan terantuk punggung kursi. Papa cepat-cepat keluar, berkeliling di sekitar mobil. Aku jadi bingung, coba untuk tanya Mama. Tapi Mama tidak mendengar, malah melongok Papa di luar. Kemudian Papa berhenti sebentar, menepuk kepala, lalu menjerit. “Kampret! Bocor ban-ne.” Mama mendelik kaget. Aku juga. Papa tadi bilang apa? kampret? “Mama, kampret itu apa?” Mulutku dipukul Mama. “Mama tidak suka kamu berkata begitu. Tidak sopan! Bowo kan anak baik.” Aku menunduk.

Papa masuk, menepuk Mat agar lekas bangun. Kita semua lalu keluar dari mobil. “Ma, depan ada tambal ban. Bowo, Mat, duduklah kalian di warung bersama Mama. Papa mau betulkan mobil dulu. Nanti kita lanjut lagi.” Mama sudah duduk di warung dekat mobil, meniup Dik Maria yang sedang nangis. Ada ibu-ibu datang ke kami. “Den ayu, jangan nangis. Kasihan Ibu.” Ibu itu lalu menengok ke aku dan Mat. Mungkin itu Ibu Warung. “Mas-mas bagus mau pesan apa?” Mat merengek ke Mama. “Mama, Mat mau es susu coklat!” Kemudian, Ibu Warung melihat Mat. “Namamu Mat, ya? Anak ganteng?” Mama cekikikan malu. “Mahmad, Bu, namanya. Maaf ya Bu merepotkan.” Ibu Warung lalu melihat aku. “Kalau Mas ini siapa, le?”

Tiba-tiba, aku ingat jerit Papa tadi. Lucu sekali. Aku senyum, buat semuanya jadi diam. Mama, Ibu Warung, dan Mat melihat aku penasaran. Aku mulai cekikikan seperti Mama tadi. Mulutku aku tutup dengan dua tangan. Ibu warung jadi tambah penasaran. Semua menunggu. Aku berhitung dalam hati. Satu, dua, …

Kampret!”

Mama melotot. Ibu Warung langsung pergi ke dalam, membuat susu coklat untuk Mat. Mama menjewer aku. “Bowo! Mama sudah bilang untuk jangan bicara seperti itu! Itu kata kasar!” Harusnya itu lucu. Aku cemberut. Papa juga sama saja tadi. Kenapa cuma aku yang dimarahi? “Kenapa aku tidak boleh kata kasar, Ma?”

“Mama sudah bilang kan kalau Bowo anak baik. Anak baik, bicaranya lembut. Kata kasar itu membuat bibir busuk, tidak enak baunya. Kalau Bowo berkata lembut, baunya hilang semua, jadi harum. Orang santun, bersih hati.” Aku dan Mat mengangguk. Pantas mulut Papa bau. “Bisa begitu, Ma? Aku tidak mau bibir yang busuk! Pasti jijik. Bowo janji tidak akan kasar lagi!” Mama senyum. Ibu Warung datang membawa susu coklat Mat. Mat senang sekali, sampai melompat-lompat. Mama lanjut mengobrol dengan Ibu Warung.

Lama kami menunggu Papa, ada dua anak datang membawa banyak bungkus tisu, banyak sekali sampai dibawa dengan kresek besar. Bajunya kotor, rambutnya kusam. Satu anak melihat Mat, melihat es susu coklat Mat. “Bang, aku mau es seperti adik itu.” pintanya. Mama bertanya pada mereka. “Kalian berdua berjualan tisu? Kasihan sekali kecil-kecil sudah harus panas-panasan begini. Dimana Ayah dan Ibu kalian?” Tunggu, anak-anak jualan? Aku kira yang bisa jualan cuma bapak-bapak dan ibu-ibu, seperti ibu warung ini. “Ayah sudah meninggal. Ibu sedang sakit. Kami harus berjualan untuk bantu Ibu.” Anak yang kecil memeluk tangan kakaknya sambil nangis. “Kak, aku mau es susu itu!”

Mama mengambil susu coklat depan Mat, esnya meleleh belum diminum. Mama kasih anak yang nangis itu susu coklat. Mat marah. “Susu coklat Mat, kenapa dikasih?” Mama juga beli dua bungkus tisu. “Le, ini tisu kamu saya beli dua. Ini juga susu coklat untuk kalian. Mama sudah minta susu coklat lagi. Kamu tunggu lagi ya, Mat.” Mat merajuk. Aku malah bingung lagi. Di mobil kan sudah banyak tisu. Kenapa beli lagi? “Mama, kenapa beli lagi? Di mobil sudah banyak. Terus, susu Mat malahan diambil.” aku tanya. Mat menangis keras.

“Bowo, Mat, mereka itu anak kurang mampu. Beli es susu saja mereka susah. Kita harus gemar membantu orang lain, apalagi yang membutuhkan. Orang pelit tangannya berat, seperti batu besar. Kalau Mat dan Bowo pelit, nanti tangannya berat, tak bisa minta tolong, jadi tak ada yang tau kalian kesusahan.” Wah, ternyata kalau pelit, tangan aku nanti berat, seperti batu. Mat melongo, tidak nangis lagi. “Mat takut tangan jadi batu! Pasti susah jalan. Mat mau suka membantu!” Mat betul juga. Kalau jalan saja tidak bisa, apalagi main bola sepak. 

Mobil Papa sudah bagus lagi. Papa memanggil kami semua. Mama pamit dengan ibu warung, aku dan Mat disuruh salim. Mat dan aku lalu lari ke mobil. Dik Maria sudah tidur lagi. Kami semua lanjut jalan-jalan.

Di perjalanan, aku mengobrol terus dengan Mama. Kita ketawa sambil tunjuk-tunjuk nama warung atau tulisan di truk yang lucu. Mat juga ketawa, tapi sedikit. Susu coklatnya dia taruh di tatakan gelas pintu mobil. Sisa setengah, Mat bilang sudah kenyang. Semua ketawa kecuali Papa. Papa itu jarang senyum. Papa lebih suka senyum kalau sedang menelepon. Tapi kalau Papa yang senyum, malah Mama yang nangis. Aku berpikir sambil lihat kabel-kabel di pinggir jalan yang asyik, bisa naik turun. Papa dan Mama aku aneh sekali.

Aku dan Mat menunggu lama. Mobilnya belum sampai juga. Rumah Mbah itu dimana? Biar tidak bosan, aku tunjuk-tunjuk lagi yang ada di pinggir jalan. Ada pohon, warung, juga gunung. Mama suka sekali, sampai terkikik-kikik. Papa cuma lihat sebentar, lalu lihat ke jalan lagi. Mat diam terus. Lidahnya keluar-keluar. Aku menepuk Mama. Mama buru-buru mencari kresek. Aku tidak tahu kenapa Mama begitu. Pipi Mat mendadak banyak airnya, seperti sedang kumur. Papa juga cemas. Sebenarnya Mat kenapa? Aku menggoyang Mat. “Mat, kamu kenapa?” Jangan-jangan…

Byurr…! Mat muntah kena bajuku.

Papa langsung berhenti. Mama ambil tisu dan baju ganti. Mama membersihkan muntah Mat, sambil aku ganti baju. Setelah semua bersih, kita lanjut lagi.

Aku kesal sekali. Aku ejek Mat. “Tukang Muntah! Tukang Muntah!” Mat nangis. Papa marah, kami disuruh diam. Kami berdua sama-sama menjauh. Mama bilang sesuatu.

“Mat, Bowo. Kalian jangan suka marah-marah. Marah itu temannya setan. Kalian tahu setan? Setan itu jahat dan kotor. Setiap hari makannya sampah dan kotoran. Kalian mau seperti itu?” Aku kaget. Mat menggenggam tanganku, mungkin juga sama kaget. Kami berdua lihat-lihatan. Aku tidak mau jadi teman setan! “Ayo baikan.” Kata Mama. Mat mengajak aku bersalaman. Kami berbaikan. 

Tidak boleh kasar, tidak boleh pelit, tidak boleh marah-marah. Mama bilang begitu. Kalau kasar, busuk bibirnya. Kalau pelit, berat tangannya. Kalau marah, setan temannya. Mulai sekarang, aku mau jadi anak yang baik biar tidak jadi seperti itu.

Sampai juga akhirnya di rumah Mbah. Aku gembira sekali. Lama sekali tak ke rumah Mbah, jadi kangen. Aku dan Mat salim dengan Mbah. “Cah bagus… Sudah besar ya, cucu Mbah.” Katanya. Mbah suruh aku panggil Papa. Aku menurut. Aku lari mencari Papa. Setelah ketemu, aku tarik-tarik celananya. Papa sedang senyum-senyum sendiri melihat ponsel. Begitu aku bilang Papa dicari Mbah, Papa cemberut. Matanya tajam, seramnya minta ampun. Aku ikuti Papa yang sedang menuju Mbah.

Le, saudaramu sedang butuh. Kamu bisa bantu tidak?” Aku menguping Papa dan Mbah. Mereka serius sekali. Sedikit-sedikit Mbah bentak-bentak. Papa cuma menunduk, tangannya digenggam di samping panggul. Papa seperti mau memukul orang. Tapi aku yakin itu cuma perasaan aku saja. Papa kan, pendiam, tidak suka berantem. Saat asyik menguping, tiba-tiba aku ketahuan Papa!

“Bu, kita bicara di kamar saja. Di sini ada anak-anak. Bowo, kamu dan Mat main di ruang tengah ya.” Aku ke ruang tengah, melihat-lihat Papa dan Mbah pergi.

Aku lihat Mat di atas tikar, main mobil-mobilan. Mobil-mobilannya bagus, bentuknya mirip mobil Papa. Aku ambil punyaku, mobil balap warna merah. “Mat! Ayo balapan sama aku!” Baru saja aku mau duduk, Papa langsung datang. Jalan Papa seperti sedang buru-buru. “Ayo pulang!” 

Aku bingung. Cepat sekali pulangnya. Aku lihat pohon dan warung pinggir jalan sudah tidak sama lagi, lebih gelap saja. Padahal masih sore. Sangat pelik. 

Begitu ada restoran, Papa hentikan mobil. Kita berhenti untuk makan malam. Papa, Mama, dan Mat sudah duluan masuk ke dalam restoran. Aku melihat ada pengemis. Aku mendekat. “Nak, bapak sudah tidak makan seminggu.” Kasihan sekali. Aku ingat kata Mama, kita harus membantu orang lain. Aku masuk mobil, pintunya tidak dikunci. Aku ambil uang, merah semua, bertumpuk-tumpuk di dasbor mobil. Aku kasih pengemis itu. “Nak, ini banyak sekali. Bapak Ibu kamu dimana? Nanti kamu dimarahi.” Aku bilang “Tidak, ini untuk kakek saja! Kata Mama suruh berbagi.” Pengemis itu salim-salim, sambil doa-doa. Tangisnya tidak karuan. Aku garuk-garuk kepala. Dikasih kok nangis? Pengemis itu lalu bilang terima kasih dan pergi.

Sampai di rumah, aku dan Mat langsung tiduran di depan TV. Aku senang sekali, setelah jalan-jalan bisa istirahat. Papa dan Mama masih di luar. Aku tidak tahu kenapa. Kemudian, Papa masuk, bertanya padaku. “Kamu lihat uang di dasbor mobil!?” Aku jawab. “Aku kasih ke pengemis. Kata Mama, aku harus rajin membantu.” Aku pasti akan dipuji Papa. Aku sudah jadi anak baik. Papa dan Mama harusnya senang.

Papa menggeret Mama ke kamar. Aku semakin bingung, lebih bingung dari yang tadi-tadi. Keluar-keluar, Mama banyak darahnya. Aku kaget bukan main! Aku takut, takut sekali! Papa lanjut banting-banting barang. Ada apa ini!?

“Mama kenapa?” Aku dekati Mama penasaran. Mama marah. “Kamu kasih semua uang di dasbor ya? Dasar anak bodoh! Uang kita sudah habis untuk bantu saudara Papa. Itu sisa uang sehari-hari. Buat kamu makan, sekolah, mainan, listrik, segala macamnya. Kamu paham, Dik Kecil!?” Aku diam. Aku nangis, tidak paham Mama bilang apa. Tapi kata Mama marah itu teman setan. Kenapa Mama marah padaku? “Harusnya jangan dikasih!” Tapi kata Mama pelit itu tangannya batu. Kenapa Mama jadi begini? Mat datang, tapi tidak berani dekat-dekat. Mat takut Mama banyak darah.

“Jawab Mama! Kenapa Bowo? Oh, kamu tidak paham ya? Kamu kan anak tolol. O-on. Gara-gara kamu Papa tidak sayang Mama lagi!” Mama berkata kasar? Tapi kata kasar itu kan busuk mulutnya. Aku dan Mat nangis. Tiba-tiba Mama diam, masuk kamar, duduk sandaran tembok, lalu ikutan nangis. Nangis Mama keras sekali, pukul-pukul lantai. Lihat Mama, aku jadi kasihan.

Aku elus-elus Mama. Karena Mama tadi marah-marah, mungkin Mama nangis karena takut jadi temannya setan. Mama juga tadi marah aku berbagi, makanya tangannya lemas sandaran tembok. Mama tidak kuat berdiri karena tangannya berat seperti batu, susah diangkat. Kasihan juga Dik Maria, meronta-ronta di kasur ingin digendong. Sekarang, Mama sudah tidak bisa gendong Dik Maria lagi. Oh iya! Mama juga tadi bicara kasar. Aku cium-cium mulut Mama, betulan jadi bau. Bau darah di gusi Mama yang sobek.

Kalau aku jadi Mama, aku pasti juga menangis. Aku peluk Mama. Mat ikutan peluk, sambil kedip-kedip karena takut darah Mama. Kalaupun Mama mulutnya bau, aku tetap sayang Mama. Kalau Mama tangannya jadi batu, aku juga tetap sayang Mama. Kalau Mama temannya setan, aku baca iqro’ biar setannya pergi. Lalu aku suap Mama makanan yang enak-enak, biar Mama jangan makan kotoran. 

Tangis Mama berhenti. Mama tidur, pasti capek.

Aku lihat di luar kamar, semua berantakan dibanting Papa. Meja dan kursi makan dari kayu berjatuhan dimana-mana, banyak sekali. Papa pecahkan semua lampu sambil jerit-jerit. Rumahnya jadi tidak terang lagi. Lantainya bergetar-getar karena Papa jatuhkan lemari, sampai kacanya pecah berhamburan kemana-mana. Aku peluk Mama tambah erat. Tapi Mama tidak bergerak. Aku takut. Gelap sekali. Aduh!

Editor: Andika Brilyan

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Makhluk Halus bernama Kucing

Oleh: Hasna Nailah Ramadhani Ilustrasi: Dwi Melani Novitasari Sendirian membawaku pada ruang-ruang sunyi  Sepi senyap berdenyut…

Lidah Sembap di Kampung Halaman

Oleh: Muhammad Robin Mubarok N. Jiwa-jiwa naif menanti hari itu. Kening dan tetes-tetes air mata menyadur…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Menggapai Mimpi di Tengah Kerasnya Kehidupan

Menggapai Mimpi di Tengah Kerasnya Kehidupan

Makhluk Halus bernama Kucing

Makhluk Halus bernama Kucing

Tiny but Mighty: The Matilda Story

Tiny but Mighty: The Matilda Story