Oleh: Anisa Septianingsih
Judul : Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat
Sutradara : Ismail Basbeth
Pemeran Utama : Aura Kasih dan Morgan Oey
Penulis Naskah : Ismail Basbeth dan Titien Wattimena
Rumah Produksi : Max Pictures Matta Cinema
Tahun Rilis : 5 April 2018
Durasi : 79 menit
Genre : Romance
Bahasa : Indonesia dan Inggris
Film Arini merupakan film yang mengisahkan tentang Arini, seorang perempuan berusia 38 tahun yang hidup dengan trauma mendalam terhadap cinta dan laki-laki akibat pengalaman pahit di masa lalunya. Film ini dimulai ketika Arini sedang berada di Jerman untuk melanjutkan studinya. Dalam sebuah perjalanan kereta, ia bertemu dengan Nick, mahasiswa asal Indonesia berusia 23 tahun yang ramah, ceria, dan tertarik pada Arini sejak pertemuan pertama. Namun, Arini bersikap dingin dan cuek terhadap Nick. Sikap itu bukan tanpa alasan. Pertemuan dengan Nick justru membawa Arini kembali mengingat masa lalunya yang penuh luka.
Cerita kemudian bergerak mundur ke masa lalu Arini beberapa tahun silam saat Arini pulang ke Jakarta menggunakan kereta. Arini bertemu dengan sahabatnya, Ira, yang kemudian mengenalkan Arini kepada Helmi. Tanpa diketahui Arini, Helmi sebenarnya adalah selingkuhan Ira. Saat itu Ira sudah memiliki suami dan takut perselingkuhannya terbongkar sehingga Ira meminta Helmi untuk menikahi Arini agar tidak menimbulkan kecurigaan. Helmi menuruti permintaan Ira dan menikahi Arini, tetapi pernikahan itu tidak dilandasi cinta yang tulus. Arini yang benar-benar mencintai Helmi tidak mengetahui kenyataan tersebut. Setelah menikah, Arini hidup sebagai istri dan akhirnya hamil.
Suatu hari, ketika Arini menelepon Ira, telepon tersebut diangkat oleh anaknya. Kemudian ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara Ira dan Helmi. Dari percakapan itu, Arini mengetahui bahwa selama ini Helmi menikahinya hanya karena permintaan Ira dan hubungan mereka ternyata masih berlanjut diam-diam. Kenyataan itu membuat Arini sakit hati dan merasa hidupnya selama ini hanyalah kebohongan. Akhirnya Arini memilih bercerai dengan Helmi.
Setelah perceraiannya, hidup Arini berubah. Ia menjadi pribadi yang tertutup, sulit percaya pada laki-laki, dan menganggap cinta hanya akan membawa rasa sakit. Untuk memulai hidup baru, Arini melanjutkan studinya ke Jerman. Di Jerman itulah Nick terus berusaha mendekati Arini meskipun sudah tahu bahwa Arini adalah seorang janda berusia 38 tahun, sedangkan dirinya baru 23 tahun. Namun, Nick tidak peduli dengan perbedaan usia mereka. Ia tetap tulus mencintai Arini dan berusaha membuat Arini percaya bahwa tidak semua laki-laki akan menyakitinya, tetapi Arini tetap menjaga jarak karena takut kembali terluka.
Beberapa waktu kemudian, Arini kembali ke Jakarta dengan status Chief Executive Officer (CEO) di sebuah perusahaan. Di sana ia kembali bertemu dengan Helmi yang hidupnya mulai hancur karena kasus korupsi hingga akhirnya dipecat dari pekerjaannya. Kemudian Helmi mengungkap sebuah kenyataan besar bahwa anak Arini ternyata masih hidup. Selama bertahun-tahun, Arini percaya bahwa anaknya telah meninggal dunia. Namun kenyataannya, anak itu diam-diam diasuh oleh Helmi dan Ira tanpa sepengetahuan Arini. Arini semakin terpukul setelah mendengar bahwa anaknya mengalami sakit parah dan membutuhkan donor ginjal dari ibu kandungnya. Kenyataan tersebut membuat Arini sangat hancur karena selama bertahun-tahun ia kehilangan anaknya tanpa mengetahui kebenaran.
Di tengah kondisi emosional Arini yang kacau, Nick tetap berada di sisi Arini dan terus mendampinginya. Bahkan setelah Arini kembali ke Indonesia, Nick masih berusaha mendekatinya dengan datang ke rumah dan tempat kerja Arini. Namun, Arini tetap merasa hubungan mereka sulit untuk dijalani karena usia dan masa lalunya. Karena ingin Nick memiliki masa depan yang baik, Arini akhirnya meminta Nick untuk melanjutkan studinya ke London dan Nick pun mengikuti keinginan Arini. Setelah menyelesaikan studinya, Nick kembali menemui Arini di stasiun kereta. Di tempat itu, Nick menyatakan cintanya dan melamar Arini. Momen tersebut menjadi simbol bahwa hidup selalu memberi kesempatan baru meskipun Arini pernah kehilangan kepercayaan terhadap cinta, akhirnya ia berani membuka hati kembali karena perjuangan dan ketulusan Nick.
Film Arini menghadirkan cerita yang menarik, yaitu percintaan antara perempuan berusia 38 tahun dengan laki-laki berusia 23 tahun dan masih jarang ada film yang mengangkat tema ini. Alur cerita dalam film ini menggunakan alur campuran antara masa kini dan kilas balik yang ditampilkan dengan sangat rapi sehingga mudah dipahami oleh penonton. Selain itu, latar dalam film ini adalah Heidelberg, sebuah kota indah di Baden-Wurttemberg, Jerman, yang berada di tepi Sungai Neckar. Keindahan kota tersebut menjadi latar pertemuan dan kisah-kisah awal Arini dan Nick. Adegan demi adegan romantis yang diambil dengan komposisi sempurna juga menjadikan film Arini hadir dengan sinematografi yang bagus.
Meski begitu, film Arini memiliki beberapa kelemahan, seperti karakter Nick yang terasa kurang digali secara mendalam karena dalam film tidak menjelaskan alasan Nick mengapa ia bisa jatuh cinta begitu besar kepada Arini. Selain itu, karakter Ira pun terasa kurang memiliki motivasi yang kuat karena film tidak menjelaskan alasan mengapa ia tega menjadikan Arini sebagai alat untuk menutupi perselingkuhannya dengan Helmi. Perjalanan Arini hingga berhasil menjadi Chief Executive Officer (CEO) dan kelanjutan studinya di Jerman juga tidak diperlihatkan secara jelas. Akibatnya, beberapa bagian cerita terasa menggantung dan kurang memberikan penjelasan yang memuaskan kepada penonton.
Film Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat secara keseluruhan menggambarkan bagaimana luka, pengkhianatan, dan kehilangan dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap cinta, tetapi juga menunjukkan bahwa hidup selalu memberi kesempatan baru untuk bahagia. Melalui perjalanan Arini, film ini menyampaikan pesan tentang keberanian untuk membuka hati kembali dan berdamai dengan masa lalu. Selain itu, film ini juga menyampaikan makna cinta yang tulus tanpa memandang usia. Film ini cocok bagi penonton yang menyukai drama romantis dengan cerita realistis, alur yang tenang, serta pesan kehidupan tentang harapan, penerimaan diri, dan kesempatan kedua dalam hidup.
Editor: Andika Brilyan








