Oleh: Resty Assyfa
Ilustrasi : Abida Fitratussawa
Aku berenang menyusuri hamparan laut yang gelap,
mengarungi rute panjang saat dunia terlelap.
Menyuarakan nyanyian, berharap ada yang memahami
namun hanya senyap yang kembali memeluk diri.
Katanya setiap makhluk memiliki kawanan untuk pulang,
tempat bersandar saat badai datang menerjang.
Namun tidak untukku, hanya ada beban sepi yang membatu,
sebab tak satu pun sirip pernah menyentuh kulitku yang layu.
Kadang kubayangkan ada suara lain di kejauhan,
suara samar yang hampir serupa.
Namun yang datang hanya pantulan suaraku sendiri,
gema dingin yang kembali tanpa makna.
Mungkin resonansiku terlalu rumit untuk mereka pahami,
sebuah frekuensi asing yang tak punya kawan untuk menari.
Tahun-tahun berganti dalam dingin yang mencekam,
aku menua bersama rahasia laut terkelam.
Kini suaraku tak lagi terdengar di sana,
terkubur di dasar palung yang paling hampa.
Para pencari gema di atas hanya meraba,
sinyal yang kini sudah tiada.
Tanpa pernah tahu siapa aku.
Hingga akhir hayat, tak ada mata yang pernah melihatku.
Hanya gelombang di kertas yang menjadi sisa jejakku.
Aku pergi sebagai misteri yang tak pernah terpecahkan,
Mati di titik nadir, tanpa pernah ditemukan.
Editor : Artika Putri Kinanti








