Rumah Tanpa Suara

Oleh: Gita Amalia Suherlan

Ilustrasi: Hasna Nazriah K.
Ilustrasi: Hasna Nazriah K.

Meja makan di rumah kami tak pernah menghidangkan cerita bapak tentang motor tuanya, ibu dan sepaket omelannya, tak pernah pula menjadi arena silat lidah untuk si sulung dan si bungsu, atau keluh kesah manja dari anak tengah sepertiku.

Di meja makan kami ada lima kursi, tetapi hanya kursi bapak yang masih awet eksistensi, sedangkan yang lainnya tak pernah dapat atensi, menua seiring usia anak-anak bapak semakin jauh dari ingatannya.

Telur dadar yang ku masak setiap pagi sering kali menghilang sendiri tanpa terlihat pelakunya di meja makan. Entah Mas Catra yang memakannya di atas kasur kamar, atau si bungsu Mala yang memakannya di depan televisi. Tidak ada prosesi makan bersama di rumah kami setelah ibu tiada. Sambel orek buatan ibu yang dulu menyatukan kami sudah pergi bersama koki tercinta keluarga ini. Sekadar telur dadar ternyata tak cukup untuk menyatukan empat kepala di meja yang sama.

“Nduk, kalau nanti ibu ndak di rumah, ibu paling percaya sama kamu buat gantikan ibu. Ndak usah yang repot repot, cukup goreng telur dadar pakai daun bawang sama cabe buat sarapan, itu bapakmu, Mas Catra, sama Mala pasti suka. Cabenya ndak usah banyak-banyak, satu saja. Masak nasi juga sedikit saja, dua mangkuk beras sudah cukup sampai malam.”

Ternyata, nasi hangat dan telur dadar belum cukup. Kami butuh sambel orek ibu untuk memeriahkan meja makan yang sejak empat tahun lalu hanya terisi nasi, olahan telur, dan kadang-kadang tempe, tahu, serta sayur kangkung. Bukan masalah menunya, tapi menu restoran bintang lima sekalipun hanya akan terasa hambar bila aku, bapak, Mas Catra, dan Mala tidak menikmatinya bersama.

Terkadang, aku lebih setuju meja makan itu dipindahkan saja ke gudang daripada hanya menjadi pajangan yang membuat rumah semakin sempit.

“Mba! Aku berangkat ngaji, ya!” Itu teriakan Mala yang memecah narasi-narasi di kepalaku, arahnya dari teras. Adikku yang baru berumur sepuluh tahun itu selalu datang ke mushola di dekat rumah kami setiap sore untuk mengaji, tetapi aku tau ia rajin bukan karena kemauannya, melainkan karena takut dimarahi bapak.

“Kalau udah selesai langsung pulang! Jangan mampir ke rumah Ida!” Seruanku tak mendapat balasan, kutebak bocah itu sudah berlarian bersama teman-temannya.

Suara air yang mengalir membasahi piring berbusa menjadi satu-satunya hal berisik saat ini. Selain meja makan yang tak menghidangkan kebersamaan, rumah kami juga hening, nyaris seperti bisu. Baik pagi, siang, sore, atau malam, tidak ada dialog-dialog santai atau yang ribut di rumah kami, kalau pun ada, tak akan lebih dari dua menit, bahkan Mala yang seharusnya banyak bicara seperti anak-anak seusianya berubah menjadi pendiam ketika di rumah.

Kami terlalu canggung untuk disebut keluarga. Dulu, rasanya tak terlalu buruk saat ibu masih hadir di antara kami, aku bahkan tak menyadari ada ketegangan di antara bapak dan Mas Catra ketika mereka bertukar pikiran, Mala juga masih berisik karena ibu selalu menanggapi ocehannya, aku pun tak pernah merasa terlalu lelah untuk bermain dengan Mala. Namun, setelah ibu pergi, semuanya tampak lebih jelas sekarang, suasana dingin di antara kami lebih menyentuh kulit daripada saat ibu masih menyelimuti. Bapak dan Mas Catra hampir tidak pernah berdialog lagi kecuali memang ada hal yang mendesak, ocehan Mala semakin memelan, dan aku yang mengambil tanggung jawab untuk menggantikan ibu selalu memilih tutup mulut karena terlalu lelah bertarung dengan pekerjaan rumah dan sekolah.

Sedari dulu, bapak tak pernah mengadakan sesi khotbah untuk menceramahi anak-anaknya tentang nilai hidup, jangankan khotbah yang durasinya bisa sampai sepuluh menit, sekadar sebaris nasihat saja tak pernah. Bapak lebih mengarahkan kami dalam larangan dan perintah, tapi tak pernah menjelaskan apa guna dari hukum keluarga yang ia buat, sehingga aku tak heran jika Mas Catra memilih hidup di luar arahan bapak. Kakakku yang berumur sembilan belas tahun itu kini berkuliah di jurusan seni murni, membangkang pada bapak yang memintanya masuk sekolah kedinasan. Ujung-ujungnya, dua orang yang keras kepala itu semakin lupa bahwa darah mereka sama.

Suara air itu kini menghilang seiring pekerjaan terakhirku selesai. Piring-piring kotor sudah kembali dalam wujud yang bersih, makan malam juga sudah tersedia di meja, menunya hanya nasi goreng dan nugget ayam, tapi aku tau Mala pasti suka. Mas Catra dan bapak belum pulang meskipun satu setengah jam lagi Adzan Magrib berkumandang. Bapak mungkin lembur hari ini, sedangkan aku tidak tahu apa yang sedang Mas Catra lakukan di luar sana.

Baru saja lewat di pikiran, suara motor Mas Catra terdengar memasuki halaman. Aku mengintip sedikit lewat jendela, memang benar Mas Catra.

Walaupun selalu bersitegang dengan bapak, Mas Catra adalah salinan bapak yang paling mirip. Sifat dan karakternya hampir sama seperti bapak, apalagi perkara kepalanya yang sekeras batu dan mulutnya yang pelit suara. Tingkahnya yang kerap aku sebut apatis itu membuat hubungan kami tak sedekat kakak adik pada umumnya. Mas Catra sibuk dengan dunianya, dan aku juga sibuk dengan duniaku, kami seolah berbeda dunia walaupun dinaungi atap yang sama. Namun, hubungan Mas Catra dan Mala lebih buruk daripada itu. Mas Catra tidak dapat mengakrabkan diri dengan Mala, mungkin karena terpaut jarak usia yang cukup jauh, dan Mala pun juga kerap merasa takut dengan Mas Catra, sama seperti bagaimana ia takut kepada bapak.

“Mas, tolong pasangin gas,” ujarku pada Mas Catra yang baru saja memasuki rumah.

“Nanti,” balasnya ketus lalu menghilang ditelan pintu kamar. Tidak tahu akan dipasangkan atau tidak, aku memilih untuk mandi saja, gerah.

Hening lagi setelah itu, aku yang telah selesai mandi memilih bersantai di kamar, Mas Catra juga tak nampak lagi batang hidungnya. Sampai akhirnya suara Adzan Magrib memenuhi setiap sudut rumah, dahiku mulai berkerut saat belum mendengar ucapan salam dari Mala. Biasanya ia selalu pulang sebelum ba’da Magrib, tetapi setelah kucari, anak itu rupanya belum pulang. Hatiku sedikit gundah, akan gawat jika Mala belum pulang saat bapak tiba di rumah, bisa jadi ia akan kena marah.

Kututup jendela-jendela dan pintu sebelum meninggalkan rumah, akan kususul anak itu dan kutarik telinganya karena tak pulang setelah mendengar Adzan Magrib. Namun, motor bapak sampai lebih dulu. Detak jantungku meningkat, perkiraanku bapak akan pulang setelah ba’da Isya ternyata salah. Mala, aku benar-benar tak akan bisa menolongmu setelah ini.

“Magrib-magrib mau ke mana?” tanya bapak sembari melepas helmnya.

“Jemput Mala, pak.”

Bapak terdiam sejenak, beliau menatapku dengan air muka yang tenang, tetapi justru semakin meningkatkan tensi ketakutanku. “Masuk.”

Sekadar satu kata dari bapak, tetapi aku tak pernah berani membantah. Aku memutar tubuhku dan memilih menuruti perintah bapak. Entah adik bungsuku itu sedang menerbangkan layangan ke mana atau menyentil kelereng temannya sejauh apa, tetapi sebaiknya ia bersiap karena telinganya memilih tuli pada adzan yang berkumandang.

Setelah masuk ke dalam rumah dan bapak menutup pintu, tak kusangka Mala akan pulang jam tujuh malam, terlewat cukup jauh dari jam biasanya. Tentu saja, bapak sudah duduk di depan televisi bersama kopi panas yang mengepulkan uap. Aku tak berani mendekat dan memilih mengintip dari sela pintu kamar yang terbuka, sedangkan pintu kamar Mas Catra tertutup rapat seolah tidak mau tau apa yang akan dialami oleh adik bungsunya.

Mala terlihat ketakutan di depan bapak, ia terlihat menahan tangisnya. Sementara itu, bapak masih menyeruput kopinya dengan tenang, hingga kemudian mataku lantas membulat tatkala bapak meraih tebah kasur rotan di atas lemari. Sontak, kututup pintu kamarku rapat-rapat seiring tangisan Mala yang mulai menggema saat tebah kasur itu mendarat keras di pantatnya.

Tanganku ikut bergetar, dingin, dan basah karena keringat. Ibu, maaf, aku sangat ingin menolong Mala, tetapi jika aku mendekat, mungkin bapak juga akan mengarahkan tebah kasur itu ke kedua tanganku. Tangisan Mala semakin keras, itu membuatku semakin tak sanggup mendengarnya.

Maaf, maaf, maaf. Maafkan aku. Maafkan mba, Mala.

Mas Catra benar ketika ia pernah mengadu dalam lukisannya, lukisan tentang bapak dan anak yang ia beri judul, “Ritual Bapak Saat Kami Mati”. Lukisan yang sempat kucari tau apa maknanya itu menggambarkan bagaimana bapak biologis yang hidup serumah justru menjadi sosok menakutkan yang otoriter, tuli, dan tak segan untuk membungkam anak-anaknya. Bapak yang merupakan bapak kandung kami justru menghadirkan suasana hubungan bapakisme yang mengubah kekeluargaan menjadi doktrin atas kekuasaan diiringi patriarki. Bapak tak pernah mengajarkan bagaimana komunikasi keluarga yang baik, kami belajar tentang keluarga yang harmonis dari ibu, ibu selalu memberikan ilusi bahwa keluarga kami adalah keluarga yang sempurna.

Tangisan Mala berangsur hilang setelah beberapa waktu. Aku membuka pintu kamar dan mengintip, sudah tidak ada bapak dan Mala. Kuambil langkah pelan ke luar, lalu berdiri di depan pintu kamar Mala yang tertutup. Perlahan, aku membuka pintu itu, hanya untuk menemukan Mala yang ternyata sedang mengoleskan salep ke tubuhnya. Dadaku sesak dan ngilu, mataku turut memanas, dan kakiku lemas. Adikku tidak pernah mengadu setelah dimarahi bapak, bahkan setelah tubuhnya memar atau telinganya merah. Mala jauh lebih kuat daripada anak seusianya, dan aku membenci itu.

“Bu, kangen. Mba sama Mas nggak nolongin Mala dari bapak, bu.”

Ibu, aku ingin, bu. Aku ingin, tetapi aku terlalu pengecut, terlalu lemah, terlalu penakut untuk menolong Mala. Rasa bersalahku kian besar hingga aku perlahan menutup pintu itu lagi, menelan sebaris pertanyaan untuk memastikan keadaannya. Malu, aku malu telah menjadi kakak yang tidak berguna untuknya.

Esoknya, Mala benar-benar tak membuka mulutnya, bahkan untuk sekadar menyetor sapa di pagi hari seperti biasanya. Ia terus diam, tetapi yang memperhatikan diamnya itu hanya aku, bapak acuh saja, apalagi Mas Catra. Beberapa kali kuajak Mala berbicara, tetapi anak itu hanya mengangguk, menggeleng, atau tidak menjawab sama sekali. Dari berangkat sekolah hingga pulang sekolah, wajah Mala lesu, aku takut kalau ternyata ia sedang tidak enak badan.

“Kamu sakit?” tanyaku pada Mala sembari menempelkan punggung tangan ke dahinya, suhunya normal. Mala membalas dengan gelengan, ia lantas bangkit dari kursi di depan televisi dan hendak masuk ke kamarnya, tetapi sebelum ia benar-benar menghilang, aku menginterupsi.

“Kalau nggak sakit, ya mandi, terus berangkat ngaji.”

Ucapanku tidak dihiraukan Mala, anak itu menolak pergi mengaji dan berdiam diri di kamar. Sialnya, bapak pulang lebih awal, sehingga ia tau kalau anak bungsunya bolos mengaji. Bocah  itu berujung disidang bapak lagi dan sekarang aku mencoba lebih dekat dengan berdiri beberapa meter dari Mala.

“Kamu mau ibu sama bapak masuk neraka karena anaknya malas mengaji?” Hanya satu pertanyaan saja dan aku sukses dibuat merinding, Mala pun menggeleng keras di sana.

Bapak tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengelola emosi dengan baik, tapi ia selalu mengontrol emosi kami. Hari itu, Mala mengurung diri lagi setelah pertanyaan bapak berhasil mendorong dirinya untuk berangkat mengaji lagi.

Aku tidak tau kenapa Mala sampai ingin membolos, padahal kulihat ia senang-senang saja kalau mengaji walaupun agak malas. Keesokan harinya, Mala mengaji lagi, tetapi aku juga lagi-lagi dibuat risau dan panik karena ia belum juga pulang menjelang Magrib. Tanpa menunggu lebih lama, kututup pintu dan seluruh jendela. Sendal japit hijau milik ibu kubawa ke rumah Ida, tetapi entitas yang kucari tak ada di sana. Aku bergerak lagi menuju lapangan, tapi tanah yang luas itu kosong melompong tanpa ada anak-anak yang bermain. Kubawa lagi sendal ibu menuju mushola tempat Mala mengaji, tetapi yang kulihat hanya beberapa pria dewasa yang sedang bersiap salat berjamaah. Kakiku bergerak semakin cepat karena dilanda panik, aku sudah mengunjungi berbagai tempat yang mungkin Mala datangi, tetapi sosoknya tak kunjung tertangkap retina mataku. Langkahku yang berangsur menjadi gerakan frustasi membawa tubuhku pulang lagi ke rumah, dan aku menemukan Mas Catra sedang memasukkan motornya.

“Mas!” Aku mencekal tangan Mas Catra, ia melihatku penuh tanda tanya. “Tolong aku cari Mala.”

Mas Catra melepaskan tanganku, lantas kembali sibuk dengan motornya. “Nanti juga pulang.”

“Biar bapak bisa mukulin Mala lagi, ya? Mas Catra seneng kalau Mala kena pukul, kan?”

“Jaga omonganmu, ya.”

“Buat apa?” Mataku mulai memanas, sedangkan Mas Catra menatapku nyalang. “Mas itu sama aja kaya bapak, nggak ada bedanya. Sama-sama apatis, sama-sama nggak punya empati, sama-sama nggak ngerti gimana caranya memperlakukan keluarga sendiri. Mas sadar nggak, sih? Yang bikin rumah kita selalu canggung dan selalu hening itu bapak sama Mas Catra! Bapak nggak pernah ngajarin kita untuk saling bercerita atau saling terbuka, dan Mas Catra juga nggak pernah mau membuka diri buat aku dan Mala! Mana peran anak sulungnya? Mana? Selama ini aku capek sendirian ngurus rumah, sekolah, jagain Mala, tapi Mas sibuk sendiri, nongkrong sana-sini, ngerjain tugas kuliah dengan tenang, sampai bisa rapat organisasi. Adil nggak, mas?”

Mas Catra terdiam sejenak, air mataku sudah mengalir. Aku marah dan kemarahan itu terkonversi menjadi air mata. “Bocah kaya kamu tau apa? Sebelum ada kamu sama Mala, aku udah sering ngerasain dipukul, digantung, ditampar bapak.”

“TERUS MALA DAN AKU HARUS NGERASAIN HAL YANG SAMA? Kalau Mas Catra tau itu salah, kenapa nggak coba dihentikan, mas? Kenapa malah membiarkan bapak terus jadi monster yang akan selalu memelihara ketakutan kita? Apa keadilan menurut Mas Catra itu berarti aku sama Mala ancur babak belur di tangan bapak atau gimana, sih?”

Mas Catra sukses kubungkam sekarang. Kedua tangannya akhirnya melepas motor itu, ia juga melepas helmnya. “Ayo, aku bantu cari,” ujarnya sembari berjalan lebih dulu di depanku.

Namun, aku merasa bapak itu punya ilmu sakti, karena lagi-lagi aku gagal mencari Mala sebab motornya sudah tiba di halaman. Mas Catra pun menghentikan langkahnya, suasana tegang mencuat tatkala mata bapak dan mata tajam Mas Catra bersiborok.

“Mau kemana?”

“Cari Mala,” jawab Mas Catra singkat.

“Masuk, Magrib.”

Mas Catra dan aku diam. Aku tahu itu perintah final bapak, tapi kami juga mengkhawatirkan Mala yang entah sedang apa di luar sana. “Pak, sebentar saja,” tuturku mencoba meluluhkan bapak, tetapi bapak justru menutup pagar rumah kami.

“Masuk.”

“Kalau Mala kenapa-napa gimana?” Mas Catra membuka suaranya lagi, aku bersyukur kali ini dia berusaha berjuang untuk adiknya.

“Paling cuma main ke rumah temennya. Kemarin juga pulang, toh?”

Keputusan final bapak membuat aku dan Mas Catra terpaksa masuk ke dalam rumah. Kami menunggu Mala di depan televisi setelah salat Magrib, sedangkan bapak istirahat di kamarnya. Namun, hingga Adzan Isya berkumandang, Mala tak kunjung pulang. Kuremas tanganku berulang kali sembari menatap Mas Catra menuntut pertolongan. “Mas, gimana?”

Mas Catra menatapku sejenak, aku bisa merasakan bahwa tatapan itu antara ketakutan dan keyakinan. “Aku cari Mala, kamu di sini.”

“Nggak apa-apa?”

“Iya, biar kamu bisa tolong Mala juga kalau dia pulang nanti. Kamu punya nomerku kan?”

“Enggak.”

“Oh…” Mas Catra mengerjap, kurasa ia baru menyadari kalau kami memang tak sedekat itu. “Tulis nomerku, telfon aku kalau Mala udah pulang.” Selepas mencatat nomor Mas Catra, lelaki tinggi itu nekat pergi, suara pagar yang terbuka mengundang bapak keluar dari kamar, membuat detak jantungku tiba-tiba meningkat.

“Ke mana Catra?”

“Cari Mala, pak.”

Bapak hanya menatap pagar yang terbuka itu selama beberapa detik tanpa bersuara. “Tutup pintunya, bikinkan bapak kopi.” Aku mengerti dan bisa merasakan emosi bapak sedang meningkat saat ini, tanpa membantah lagi, aku melakukan perintahnya.

Bapak bersama kopi yang kubuat menunggu kedatangan Mas Catra dan Mala di teras. Selain ada kopi di meja, ada juga gesper yang biasa bapak kenakan. Aku berdiri di dekat pintu rumah dengan gemetar. Sakit, pasti sakit sekali terkena gesper itu.

Jarum jam terus bergulir ke angka-angka lain, sampai jarum panjangnya tiba di angka lima, dan jarum pendeknya menyentuh angka sembilan, Mas Catra dan Mala belum juga pulang. Kopi bapak sudah habis, dan aku semakin ketakutan tatkala bapak menyuruhku mengambil air panas. Aku tidak tahu itu untuk apa, dan aku juga tidak mau menebak itu untuk apa. Aku hanya berharap, Mas Catra dan Mala cukup kuat untuk menanggung semuanya, dan aku juga akan menyiapkan pertolongan pertama untuk mereka.

Namun, bayanganku dan bapak ternyata sama-sama keliru. Bapak tak jadi melayangkan gespernya dan aku diselamatkan dari pemandangan itu, akan tetapi ada pemandangan lain yang sama-sama membuat dadaku luar biasa sesak. Mas Catra menggendong tubuh kotor Mala, kaku, dan penuh luka ditemani para warga. Wajah Mas Catra bermandikan air mata, tubuhku merosot jatuh, dan bapak berdiri seperti orang yang tak berdaya. Tubuh Mala diletakkan Mas Catra di teras sembari ia terus terisak. Emosi Mas Catra meluap-luap seperti sungai yang banjir ketika melihat bapak, tangisku pecah dan menjadi histeris seiring dengan raungan Mas Catra kepada bapak.

“MATI DIA, PAK! MATI GARA-GARA USTADZ YANG BAPAK SURUH BUAT NGAJARIN DIA NGAJI! BUKAN NGAJI YANG DIA AJARIN, ANAKMU DILECEHIN SAMPE MATI, PAK!”

Editor: Helmalia Putri

  • Redaksi

    beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

    Postingan Terkait

    Kuucapkan Serta Mulia

    Oleh: Alda Dwi Safitri Kepada dunia aku sampaikan Padanan kata yang kudambakan Kala hari perlahan berjalan,…

    Sejengkal Lagi

    Oleh: Farah Fauziah Tersengal-sengal Matanya membeku lurus Langkahnya tenggelam dalam lumpur Tali mana yang harus diraih?…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Jangan Lewatkan

    Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

    Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

    Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

    Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

    Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

    Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

    Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

    Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

    Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

    Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

    Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

    Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat