Pro Kontra Pemberlakuan Lima Hari Kerja

PURWOKERTO-“ Waktu itu saya mau ada kepentingan kampus pas hari Sabtu tapi ternyata libur jadi ditunda hari Senin lagi”, ungkap Hana Mahasiswi Fakultas Ekonomi 2009. Kejadian seperti yang dialami Hana mungkin dirasakan juga oleh mahasiswa lain, ketika muncul kebijakan baru Unsoed mengenai lima hari kerja.

Awal Januari sejak dikeluarkannya SK Rektor No.Kept.608/H23/ KP.02.08/2010, diberlakukanlah kebijakan lima hari jam kerja. Aktivitas pegawai dalam pelayanan kepada mahasiswanya praktis dilaksanakan pada hari Senin-Jumat. Konsekuensi Unsoed ketika kebijakan tersebut diberlakukan, yaitu adanya penambahan jam kerja pegawai. Semula dari jam 08.00-14.00 WIB, kini diharuskan meninggalkan pekerjaan hingga pukul 16.30 WIB. Tentu, kebijakan baru akan memunculkan pro dan kontra.

Menurut Agus Nugroho,SH, MM selaku Kabag Biro AUK, bahwa efisiensi dan efektifitas menjadi tujuan dari penerapan kebijakan ini. “Bagi pegawai kendalanya adalah culture shock, yang tadinya jam dua sekarang setengah lima,” ujarnya. Ilham Romadhon sebagai Mahasiswa Hukum mengatakan, sisi positifnya bisa mengefektifkan lima hari untuk kegiatan kampus dan lain sebagainya.

“Sisa dua hari itu misalnya untuk kegiatan-kegiatan yang mendukung, seperti kegiatan UKM atau kegiatan akhir pecan,” kata Ilham. Namun demikian, kadang masih ada saja pegawai yang mangkir dari jam kerja yang telah ditentukan. Mengenai banyak pegawai yang anggur-angguran dalam unit pelayanan setelah jam siang. Agus berpendapat hal ini karena banyak mahasiswa yang belum tahu. “Pelayanan dengan lima hari kerja adalah sampai dengan setengah lima,” katanya.

Disisi lain, Esty Rahayu salah satu staf UPT Perpustakaan, berpendapat sebagai ibu rumah tangga yang juga biasa melaksanakan kegiatan sosial masyarakat pada sore hari, merasa terhambat karena penambahan jam kerja hingga pukul setengah lima sore. “Lima hari kerja ya mau, enam hari kerja ya mau wong udah peraturannya, tapi memang yang lebih efektif menurut saya enam hari kerja saja lah,” ujarnya. (Ucup)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

Penulis: Hasna Nailah Ramadhani Pada Senin (22/6/2026), aksi di depan gedung rektorat kembali diselenggarakan oleh Keluarga…

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Oleh: Maharani Yumna Identitas Film Judul : You Will Die in 6 Hours Sutradara : Lee…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Demi Gelar

Demi Gelar

Simfoni di Ambang Batas

Simfoni di Ambang Batas