Oleh: Adinda Taufika Rachma
Kata Campaign atau kampanye menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah gerakan serentak untuk melawan, mengadakan aksi, dan sebagainya. Gerakan ini biasanya dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu. Kampanye digunakan untuk menarik simpati dan dukungan dari masyarakat agar sepaham dengan pelaku kampanye.
Seiring berkembangya teknologi, media kampanye juga ikut mengalami transformasi. Kampanye bermula dari media langsung atau face to face hingga media elektronik dan digital seperti sekarang ini.
Berbicara tentang kampanye digital, pelaksanaan kampanye ini diwujudkan melalui berbagai platform seperti website, log, dan media sosial. Di era masifnya pengguna media sosial, platform ini menjadi sarana mudah dalam menyampaikan informasi. Green Campaign menjadi salah satu contoh dari kampanye di media sosial.
Menurut Yohannes Cahyadi dalam jurnalnya yang berjudul “Kajian Komparatif Penerapan Green Campaign di Asia Tenggara”, Green Campaign merupakan suatu konsep yang menjadi jembatan antara perbaikan kondisi lingkungan dengan pihak-pihak yang mampu menanganinya. Adanya pengenalan Green Campaign ini diharapkan masyarakat dapat ikut serta berkontribusi dan berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan.
Masyarakat Abai, Ilmuwan Protes
Baru-baru ini, dunia sedang digegerkan oleh aksi para ilmuwan iklim yang menyerukan protes kepada publik karena sikap abai mereka terhadap pemanasan global.
Dikutip dari CNN dalam tulisannya yang berjudul “Aksi Borgol Ilmuwan di AS Tuntut Hentikan Pendanaan Energi Fosil”, Peter Kalmus, ilmuwan iklim Jet Propulsion Laboratory NASA di California, bergandengan tangan bersama rekan-rekannya di pintu gedung JP Morgan Chase untuk menyuarakan protes tersebut. JP Morgan Chase disebut sebagai bank terbesar di Amerika Serikat sekaligus pemberi dana terbesar bahan bakar fosil dari bank di seluruh dunia dari 2016 hingga 2021. Hal tersebutlah yang melandasi para ilmuwan untuk menuntut JP Morgan Chase memberhentikan aliran dana bahan bakar fosil sebagai upaya untuk mengurangi dampak pemanasan global.
Aksi serupa juga dilakukan oleh para ilmuwan dan masyarakat lain di Kementerian Lingkungan di Quito, Ekuador dan di Kementerian Iklim di Copenhagen, Denmark.
Peter Kalmus dalam aksi yang diselenggarakan oleh kelompok ilmuwan peduli lingkungan, Scientist Rebellion, meminta masyarakat untuk lebih waspada terhadap peringatan-peringatan dari para ilmuwan iklim. Bukan hanya waspada, masyarakat juga diminta untuk berpartisipasi dalam menjaga kelestarian bumi. Para ilmuwan tersebut menegaskan apabila emisi karbon sebagai penyebab utama pemanasan global ini semakin tinggi, maka pada tahun 2025 bumi diprediksi tidak layak huni. Berbagai pertanda seperti mencairnya lapisan es di kawasan Arktik menjadi salah satu bukti akan gentingnya kondisi saat ini.
Aksi yang berujung penangkapan oleh polisi tersebut kembali diunggah oleh Peter Kalmus dalam Twitter pribadinya pada 12 April 2022. Unggahan yang mendapat lebih dari enam puluh ribu suka dan tweet ulang ini mendapat tanggapan positif dari warganet hingga menjadi topik hangat dalam seminggu setelah aksi tersebut dilakukan.
Tagar Let The Earth Breath juga semakin mencuat seiring ramainya berita ini di berbagai media sosial. Tagar tersebut menjadi salah satu upaya pengingat untuk menyelamatkan kondisi bumi yang semakin kritis.
Gembar-Gembor Warganet untuk Hapus Email
Tak hanya bermain dengan tagar, warganet seolah bersatu untuk lebih peduli dengan kondisi bumi melalui aksi Green Campaign di media sosial. Upaya yang paling disoroti adalah menghapus email untuk mengurangi jejak karbon.
Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar, jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya per periode tertentu. Pengaruh inilah yang mendorong aksi kampanye ini sebagai langkah kecil dalam upaya menyelamatkan bumi. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Di zaman modern dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, email mempermudah aktivitas manusia dalam mengirim pesan dan dokumen. Namun, sebagaimana diungkapkan dalam Kompas.com dalam tulisannya yang berjudul “Email Hasilkan Emisi Karbon, Bagaimana Perusahaan Teknologi Mengatasinya?”, email juga diklaim sebagai salah satu penyumbang emisi karbon bumi yang memperburuk pemanasan global. Email di seluruh dunia yang dikirimkan melalui internet tersimpan dalam basis data yang menyedot listrik dalam jumlah besar.
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar listrik masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan baku utama, Tulisan CNBC yang berjudul “Rajin Hapus Email Bisa Bantu Selamatkan Bumi, Kok Bisa?” Mengungkapkan setiap email rata-rata berukuran 75 kilobyte (KB) yang setara dengan 0,3 gram karbon dioksida (CO2) per email. Pengguna email di dunia ada sebanyak 2,4 miliar orang Jadi, bayangkan saja apabila kita menghapus sepuluh email, maka kita dapat mencegah penyimpanan sebesar 1.725.000 gigabyte (GB) di server di seluruh dunia. Semakin kecil data yang ada di penyimpanan email mengakibatkan semakin kecil konsumsi listrik yang digunakan sehingga semakin kecil pula emisi karbon yang dihasilkan. Teori inilah yang digunakan oleh para warganet untuk menyebarkan aksi kampanye “hapus email” sebagai wujud peduli terhadap bumi.
Hati-Hati Greenwashing!
Faktanya, menghapus email hanya menjadi usaha yang sia sia.
Kembali ke topik penimbunan spam email mampu memicu pemanasan global. Jika hal itu terjadi, maka akan banyak email yang dibutuhkan untuk turut menyumbang emisi karbon. Kita misalkan apabila semua orang berhenti menggunakan layanan email, lantas apa yang akan terjadi? Dampak apa yang terjadi ke lingkungan? Tentu saja tidak ada sama sekali.
Besarnya data yang disimpan (baik email yang disimpan ataupun telah dihapus) tidak menampik fakta bahwa server akan tetap aktif. Server–server tersebut hanya dialihfungsikan untuk industri sehingga server yang memakan banyak energi tersebut tidak akan padam. Dengan arti lain, baik penyimpanan email penuh maupun kosong akan tetap sama-sama mengonsumsi listrik dalam jumlah yang relatif sama. Lantas, kenapa server ini tidak dipadamkan saja? Pada kenyataannya, server tersebut tidak dapat dipadamkan. Apabila dipadamkan maka akan terjadi pemadaman server di seluruh dunia.
Menurut Kominfo Provinsi Jawa Timur, Muhammad Nur Fakhruzzaman, menyatakan bahwa menghapus email yang sudah terkirim tidak akan berpengaruh apa-apa selagi kita masih terus aktif bermain internet. Yang ‘merusak’ itu bukan tindakan menyimpan dan membiarkan email menumpuk, melainkan tindakan menggunakan internet yang berlebihan. Selain itu, menghapus email secara bersamaan akan ada kinerja yang dikirim ke server untuk mengakses dan memproses tindakan tersebut. Hal ini sama saja ‘gali lubang tutup lubang’.
Jadi, jejak karbon mana yang hilang? Tindakan unsubscribe dan blokir spam email akan lebih disarankan untuk mencegah email masuk. Hal ini akan menghindari pembelian ruang tambahan yang nantinya berdampak pada pembangunan server secara terus menerus.
Green Campaign “menghapus email” seperti ini bisa dikategorikan sebagai aksi greenwashing atau kampanye ramah lingkungan yang sebenarnya tidak lebih dari gimmick marketing.
Siapa yang membuat greenwashing? Yang membuat greenwashing adalah perusahaan-perusahaan energi terbesar di dunia dengan kampanye mereka tentang “jejak karbon” yang akhirnya menekankan bahwa konsumenlah yang bersalah. Padahal, justru perusahaan energi tersebutlah yang lebih berkontribusi dengan kerusakan lingkungan. Banyak dampak yang lebih nyata dari pada mencari atensi menghapus email sama dengan turut berkontribusi pada lingkungan. Jika memang ingin bersatu untuk mengurangi dampak pemanasan global, sebaiknya aksi dilakukan dari pemerintah terlebih dahulu, baru masyarakat dapat turut berkontribusi ke lingkungan. Bukan dengan masyarakat melakukan berbagai macam hal untuk lingkungan, tetapi pemerintah tidak melakukan apa-apa, itu hanya akan menjadi suatu hal yang sia-sia.







