Oleh: Nurul Irmah Agustina
Kutabung serpih-serpih delusi dalam sekotak rindu
satu serpih menggelebar—terpelanting, lembar masa kecil
netraku mengerjap terpana kepada marcapada
; alangkah cendayam tanpa remah-remah kejam
lantas kuraup berjebah nafas kebebasan
berlagak tuli dari bising kiri kanan
Sukmaku karam bersama pusaran kaset silam
fragmen 1 terbang di atas kertas lipat burung
fragmen 2 tawaku lepas seolah takkan amblas
fragmen 3 berceloteh ingin lekas panjat usia
—aku bermimpi menjadi dewasa
Beroncet-roncet memoar itu menjamah syarafku
begitu piawai pergi dan pulang, hadir dan lekang
hingga aku kudu menyesap lautan sesal berujung luka
kenangan menindih dengan tampang tak berdosa
seratnya menjerat, bahkan membenamkanku
dalam lubang elegi tak beruncing
Rindu merepetisi pusaran kaset usang
terpandang potret gerak si kecil dahulu
di mana Ibu menyuapiku di gubuk reyot
saat kaki mungil bersahabat dengan lumpur sawah
ketika pikirku hanya terlingkup aksi berkelakar
tawa renyah begitu mudah menjalar
berbeda dengan dua puluh tahun ini
satu tawa amat sulit terbit
suaraku habis tuk menjerit






