Oleh: Ade Ika Cahyani
Begini nasib punya kembaran superior; jadi bayangan. Teman-teman sekelasnya dulu bahkan sepakat bahwa Hera diciptakan hanya untuk menjadi satu-satunya kekurangan Zeus. Begitulah cara orang lain menilai. Hera harus cukup puas berdiri selangkah di belakang sang kembaran, memegang senter yang jelas membuat Zeus makin bersinar, sementara dia di tempatnya hanya berdiri dalam gelap, menjadi tabir hitam.
“Mama! Kaos kakiku dimana, ya?”
“Cari dulu di rak lemari paling bawah. Mama simpan di situ, kok!”
“Enggak ada!”
“Hera! Tolong bantuin Zeus cari kaos kakinya dulu, dong! Mama sibuk, nih!”
“Mah,” rengek Hera. Pagi ini, dalang keributan masih dalam kuasa Zeus. Sang ibu sudah lebih dari sepuluh kali berteriak dari dapur hanya untuk menyahuti putranya. Masalah kaos kaki adalah salah satu dari keributan yang tercipta sejak subuh. Lain daripada itu, desahan kesal terdengar dari eksistensi gadis yang duduk di ruang tamu, tengah menekuni layar laptop yang menyala. Suara Hera mengudara dengan penekanan tak terima. “Please, deh! Aku juga sibuk, lagi TM yang beasiswa. Apa Zeus enggak bisa cari sendiri?”
“Sesibuk apa sih, Hera?! Apa Mama harus turun tangan buat hal kayak gini? Bantuin tanpa harus protes dulu bisa, kan?” teriak sang ibu dari balik tembok dapur yang menyimpan mata-mata.
Selain tatapan sang ibu sendiri, ada sepasang manik kembar ayah yang duduk sambil ditemani secangkir kopi hitam. Asap dari kopi mengepul sampai ke indra penciuman Hera, secara tak langsung memberi aura mengintimidasi yang membuatnya tercekik hingga tak mampu bersuara. Isyarat agar Hera mau tidak mau harus bangkit dan menuruti perintah sang ibu.
“Lagian kamu ikut program beasiswa luar negeri kayak gitu buat apa? Mama kan pernah bilang program yang belum tentu bener semacam itu enggak usah dipeduliin. Kamu itu anak perempuan, rawan banget dibodohi!”
Hera termangu, kaku tak dapat berkutik. “Ya udah,” balas Hera pada akhirnya.
“Telat! Udah ketemu!”
Bersamaan dengan suara Zeus, tatapan setajam silet kepunyaan ibu menghujam ke arah Hera yang baru saja berdiri. Helaan napas panjang terdengar dari sang ayah—yang tentu dilakukannya dengan sengaja—seakan pasangan paruh baya itu menghakimi Hera sedemikian rupa. Bau kopi masih merebak, tetapi terasa menyesakkan. Aroma menenangkan yang biasanya dia sukai, kali ini menjadi simbolik kejadian tidak mengenakan.
Delapan belas tahun yang lalu, sepasang kembar Adam-Hawa dilahirkan. Si sulung, seorang laki-laki yang tangisannya mampu menggetarkan hati semua orang yang melihatnya, diberi nama Zeus Galileo. Sedangkan adiknya, dengan rupa yang sebenarnya hampir sama namun dengan versi feminim yang lembut, menegaskan gendernya sebagai perempuan, diberilah nama Hera Galatea. Awalnya dua bersaudara itu diperlakukan sama. Akan tetapi belakangan ini Hera mulai mengerti satu hal; bahwa ada batas untuknya tumbuh, tidak boleh sampai melangkahi Zeus. Alasan Ayah menamai si kembar itu juga didasari oleh kepercayaannya pada kisah Yunani kuno. Tentang percakapan Dewa Zeus dengan para dewa lain yang mengatakan bahwa tidak akan ada satupun anak dari Hera yang akan melampauinya dalam hal kekuatan. Maka dari itu, Hera seharusnya takluk.
Hera cukup periang jika dibandingkan dengan Zeus yang kesulitan mengekspresikan diri. Akan tetapi, kepribadian Zeus sebenarnya definisi I have two side banget kalau di realita dan dunia maya. Untuk ukuran cowok delapan belas tahun dengan kesan ambisius dan bahkan punya highlight di media sosial dengan nama ilmuwan atau tokoh keramat—Gay Lussac, Darwin, Isaac Newton, Galileo Galilei yang menjadi inspirasi namanya, bahkan sampai sastrawan Amerika pertama, penulis abad 19 seterkenal Washington Irving, Zeus sebenarnya cukup urakan. Oh, berdoa saja Zeus tidak mendapat inspirasi memakai nama Kim Jong Un, presiden negara sebelah untuk highlight kesekian miliknya yang dihiasi foto buku dan dokumen.
Ketimbang mempercayai bahwa Zeus adalah anak baik-baik, Hera lebih percaya pada ucapan bahwa Lee Min Ho dari Bekasi. Hera berani bertaruh, bahwa Zeus hanya akan menjadi dirinya sendiri jika di belakang orang tua mereka.
Di usia dua belas tahun, Zeus pernah merokok dengan kakak kelasnya di gudang belakang sekolah. Setahun setelahnya, Zeus masuk rumah sakit. Dia mengaku mendapat kecelakaan kecil saat pulang les. Padahal sudah jelas Zeus turun ke sirkuit—jalanan yang sudah tidak terpakai di dekat pabrik gula—mengikuti balap liar untuk pertama kalinya. Di usia empat belas tahun saat kelulusan SMP, Zeus kedapatan pergi ke puncak. Dia berdalih akan melakukan perayaan kecil dengan teman-temannya selama dua hari penuh. Satu-satunya saksi hanya Hera. Sayangnya gadis kecil itu terlalu pengecut untuk bersuara. Ditambah Zeus akan marah besar tiap kali Hera ikut mencampuri urusannya.
Usia lima belas tahun, Zeus hampir melakukan kesalahan fatal: mabuk. Salah pergaulan. Kalau Hera tidak salah mengingat, mereka orang yang sama dengan yang saat itu mengajak Zeus merokok dan pergi ke puncak.
Setahun kemudian, terbukti seberapa brengsek Zeus Galileo. Dia menyimpan beberapa butir pil merah yang jelas bukan tablet penambah darah di laci belajarnya. Reaksi Zeus saat itu hanya diam, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Tidak butuh orang pintar sekalipun untuk menangkap isyarat tutup mulut itu. Begitulah Hera mendapat ancaman sekaligus jawaban tanpa suara.
Anehnya, orang-orang memandang Zeus hanya dari satu sisinya yang sempurna. Sebagai sosok yang kemudian berhasil masuk ke perguruan tinggi terbaik di negara ini. Berbeda dengan Hera yang gagal. Gadis yang memilih gap year lantaran sang ayah enggan memberinya finansial lebih lanjut untuk masuk universitas. Dunia sudah semakin maju, tetapi kenapa pemikiran kedua orang tuanya masih saja dininabobokan hal-hal kolot? Bahwa katanya Hera adalah seorang perempuan, memiliki kodrat sebagai ibu rumah tangga berarti tidak wajib berpendidikan. “Seperti Mama,” kata ibunya saat Hera bertanya alasannya.
Mungkin bagi mereka, perempuan bergelar sarjana adalah momok menakutkan.
Rentetan kata tercipta di layar. Hera masih berkutat dengan laptopnya. Kali ini bukan karena technical meeting dari program beasiswa, melainkan laman blognya. Dia menuliskan apa saja di sana, tentang apa yang terjadi hari ini; sebuah kejadian yang menguatkan mindset mengenai dibutuhkannya Kartini era modern.
No voice no talk. Lawakan hari ini, bahkan orang tua gue sendiri, alih-alih jadi support system, justru jadi orang pertama yang bikin motivasi gue hancur. Padahal apa yang salah dari ‘memperjuangkan impian’?
Dan seperti malam-malam sebelumnya, ada satu akun yang selalu menanggapi.
Alpha said…
Impian itu 11-12 sama kanvas kosong. Kalo lo cuman speak up butuh motivasi atau dukungan segala macem, ujung-ujungnya bakal tetep putih. Omong kosong nggak bakalan bikin kanvas lo tetiba ada gambarnya. Ambil kuas, palet, siapin cat warna,
Hera menghela napas panjang di atas kasurnya. Tidak ada yang salah dengan balasan dari oknum yang berlindung dari balik nama Alpha itu. Hanya saja untuk malam ini, Hera sedang di titik sensitifnya. Dia butuh didengar, bukan kalimat yang tetap saja terkesan seperti penghakiman.
Masih dengan helaan napas panjangnya, Hera berniat mengambil air minum di dapur kala diinterupsi oleh suara percakapan antara ayah dan ibunya di ruang keluarga.
“Papa tetap enggak setuju sama Hera yang katanya bakal wawancara atau apalah itu biar bisa dapat beasiswa ke Jepang.”
“Mama juga enggak sreg sama niatnya itu. Maksudnya, apa untungnya? Dia mau jadi wanita karir, begitu?”
“Doktrin dari teman-temannya, tuh! Katanya independent woman segala macam. Enggak bagus anak perempuan mau menyamai laki-laki. Takutnya jadi enggak menghargai. Kalau sudah mandiri kan pasti jadi mikirnya bisa apa-apa sendiri, enggak butuh laki-laki.”
“Mama setuju! Perempuan mau sekolah setinggi apapun toh kodratnya tetap jadi ibu rumah tangga, ngurus anak sama suami. Ngapain sampai ke perguruan tinggi segala?”
Hera tersenyum kecut mendengarnya. Dengan mata yang berembun, dia berbalik dan kembali ke kamarnya. Mengunci dirinya di sana lalu terisak tanpa suara.
Cukup lama Hera menangisi diri sendiri, meluapkan segala perasaan yang membuncah hingga kesesakan di dada mulai berangsur membaik. Udara terasa gelisah. Mengembuskan napas dingin yang begitu hidup. Seakan kesendirian mampu memeluk Hera begitu erat. Malam semakin larut, tetapi kantuk tak kunjung datang bahkan sampai jarum pendek jam dindingnya merangkak di angka dua belas. Detak yang dihasilkan hampir sama dengan ritme jantung Hera, bersahutan. Setidaknya hanya itu yang bisa dia dengarkan, bukannya terngiang-ngiang percakapan yang terjadi antara kedua orang tuanya. Setelah lebih tenang, Hera bangkit. Kali ini, kedua tangannya menggantung di atas keyboard, bersiap mengetikkan rangkaian kata di blog miliknya.
Quiet interesting! Woman, neither I, were created to be a fighter. Kalo hidup itu terkekang tradisi dan paham purba yang tertutup: lo itu cewek masa muda ditanggung ayah, terus pas nikah ditanggung suami. Kurang gampang apa hidup lo? Reaksi apa yang harus gue kasih selain ketawa karir?
Secara mengejutkan, balasan datang, seakan-akan sudah menjadi kewajiban bagi pemilik akun Alpha untuk menanggapinya.
Aplha said…
Well, gue yakin nggak semua orang bakal ngasih pendapat kayak yang lo dengar. Ada yang ngasih pandangan negatif, tapi ada juga yang setuju sama lo. Sayangnya sejauh ini lo belum pernah dengar kesan yang positif aja. Coba lo cari kemungkinan lain dari problematika lo. Sisi positif, semisal lo jadi tertantang atau apa, atau lo jadi nyari kasus dari perspektif laki-laki itu sendiri. Nggak ada salahnya kan lo mulai memahami posisi ‘kami’?
Oh? Apa semacam sesi penghakiman yang lain? Bahwa Hera tidak cukup memahami ‘posisi’ para manusia berjakun?
Dari dua kembar bersaudara, gue lahir cuman buat dijadiin sampan. Kembaran gue punya masa depan cerah, didukung orang tua, gue dijadiin perantara.
Dia punya semua hal yang gue mau hanya gegara dia terlahir jadi laki-laki.
read more comments
Alpha said…
The greatest compromise. Lo butuh keberanian besar buat ngubah persepsi tentang perempuan yang lanjut kuliah, tapi lo juga harus bikin pertanggungjawaban soal gimana konsep kesetaraan yang lo gembor-gemborin. Orang-orang yang denger sekilas pasti ngerasa kalo lo mengancam sisi maskulinitas laki-laki, kembaran lo sendiri mungkin; lo dateng dari entah-berantah, punya pembaharuan dari tradisi lama, terus apa hasilnya selain salah paham? Gue setuju kalo sisi irasional dari tradisi harus diperbarui, tapi jalan keluarnya tetep lo usahain dong? Sekarang apa?
Alpha said…
Jujur aja, gue juga merasa terancam. Lo punya keniatan besar, lebih dari gue yang selama ini dikekang orang tua. Gue kuliah, tapi bukan atas kemauan gue. Ketimbang lo, kayaknya malah gue yang harusnya ketawa karir. Impian gue raib demi nurutin ekspektasi orang tua. Nggak ada hak buat gue nolak rencana masa depan yang udah ditentuin sama orang tua. Gue tertekan, sedangkan adek gue masih bisa optimis buat jadi apa yang dia mau.
Jadi selalu ada pelampiasan biar gue ngerasa adil. Emang nggak etis. Tapi seenggaknya gue bisa bikin validasi soal kenapa sikap gue kayak sampah.
Udah gini, lo masih ngerasa nggak adil mau berjuang buat impian?
Sisa malam ini, tangisan Hera kembali mengudara ke sepenjuru kamar, menggema di dinding, langit-langit, dan udara yang penuh sesak. Dan dari balik pintu kamar gadis itu, seorang laki-laki muda duduk bersandar pada kusen yang terbuat dari kayu jati. Lantai yang dingin memberi nuansa tersendiri baginya yang sudah sejak beberapa saat yang lalu berjaga di depan kamar sang kembaran, ditemani laptop di pangkuannya, juga ditemani isakan tertahan yang samar terdengar dari dalam kamar.
Alpha said…
Lo mau jadi independent woman, kan? Coba kasih bukti!
Basically, mengubah pola pikir orang itu list kesekian dari usaha ‘memperjuangkan impian’. Paling pentingnya ya lo sukses dulu, jangan kemakan omongan orang! Kalo lo udah berhasil, ada saat dimana orang lain bakal malu sendiri sama apa yang mereka bilang ke lo dulu.
Seminggu berlalu tanpa kejadian yang berarti selain fakta bahwa ayah hendak mengirim Hera ke rumah nenek di daerah terpencil, pinggiran kota. Tempat terbaik untuk mengisolasi gadis yang punya impian muluk-muluk.
“Kayaknya Hera jangan dulu pergi ke rumah nenek, deh, Pah.”
Suara Zeus yang rendah kembali terngiang di telinga Hera. Kala ucapan yang secara tidak langsung kembali membuatnya goyah, tidak semudah itu dilupakan.
“Zeus kan mau pindah kos, ribet kalo ngurus perabotan sendirian. Jadi boleh ajak Hera, kan?” Nada yang seolah merendahkan.
Intonasi tanpa perasaan.
Hera sudah kebal, lebih dari apapun. Tetapi rasanya tetap menyedihkan. Bahkan kembarannya sendiri turut menganggapnya sepele.
Butuh seminggu lagi bagi Hera bertahan, tibalah pengumuman penerimaan beasiswa. Waktu yang Hera nantikan setelah berbagai upaya dilakukan. Tangannya gemetar kala membuka hasilnya. Itu bentuk reaksi yang wajar. Kalau dalam psikologis otak akan memutar kenangan 30 detik sebelum mati, maka bagi Hera, segala cibiran yang dia dengar justru menjadi melodi yang tak kalah fenomenal dari kenangan 30 detik ketika tangannya mulai mengetik namanya sendiri.
Ada.
Ada namanya di layar, sebaris dengan tulisan Fully Funded yang membuat dadanya dipenuhi dengan kebahagiaan. Beasiswa internasional penuh untuknya di negeri sakura. Bibirnya bergumam lirih.
“Gue berhasil…”
Butuh dua detik bagi Hera untuk refleks menutup mulutnya, menahan isakan yang lain daripada sebelum-sebelumnya; isakan bahagia.
Hera tidak bisa untuk tidak berjingkrak sambil berkali-kali mengucap syukur. Seolah tengah berbahagia sendirian, tak sadar bahwa dari celah pintu kamar yang terbuka, Zeus ada di sana menenteng tasnya, memperhatikan tingkahnya. Gurat lelah dan tertekan tampak jelas di wajah Zeus, membuatnya tampak kuyu. Tapi dibandingkan rasa lelahnya, melihat sang adik begitu bahagia, Zeus juga turut mengulas senyum tipis.
Alpha said…
Selamat!
Lo berhasil buktiin kalo lo bisa.
Kayaknya yang sampah cuman gue doang, ya?
“Jadi kamu pemilik akun Alpha yang selalu dukung Hera dari belakang?”
“Justru seharusnya Zeus bantu Hera dari depan sejak awal, Pah.”
“Memalukan! Bisa-bisanya kamu kalah dari Hera! Ini! Ini yang bikin Papa nggak sreg sama segala tingkah Hera. Ujung-ujungnya kamu dilangkahi. Harusnya kamu malu, Zeus! Malu! Mau ditaruh di mana muka kamu yang kalah dari perempuan itu, hah?!”
Tatapan Zeus lurus ke depan, tanpa emosi yang berarti. Dia sepenuhnya mengabaikan komentar dan segala bentuk protes dari ayahnya. Dalam benaknya, yang dia pikirkan hanya satu hal; setelah gue pindah kos, Hera juga pergi sesuai kemauan dia selama ini. Sejauh ini, gue udah cukup buat mengulur waktu.






