Budaya Menyatukan Kita

Warga Masih Mencari Sisa Gunungan Grebeg Suro Baturraden 2014. Foto: Tefur Nurrohman
Warga Masih Mencari Sisa Gunungan Grebeg Suro Baturraden 2014. Foto: Tefur Nurrohman

Oleh: Wisnu  F . Setyadi

Jarum jam semakin mendekati angka dua belas. Terik mentari sangat menyengat kulit, cukup untuk memanggang awak penuh tulang ini. Takhenti-hentinya keringat meluncur menuju pusat gravitasi bumi. Lautan manusia semakin menambah sensasi udara yang bercampur aduk, antara panas dan dingin. Hari ini, 2 November 2014 wajah baturraden yang sejuk nan dingin berubah seketika. Ribuan manusia beramai-ramai memenuhi nafsunya bertandang ke kota wisata itu, namun kali ini lain dari biasanya, yang mereka kejar bukanlah keindahan alamnya.

Ujung utara kota Purwokerto ini menjadi saksi ribuan raut penuh suka cita. Semakin bergelora ketika 12 kontingen desa menampilkan buah kreativitasnya. Perkakas dapur disulapnya menjadi alat bunyi yang cukup merdu. Tak kalah menarik dengan sekumpulan orang yang melumasi dirinya dengan oli dan terlihat seperti mahlukastral. Tak berbeda pula ketika sebuah tumpeng raksasa ikut diarak menuju garis akhir.

Orang nomor wahid di Banyumas, Ir. Achmad Husein turut hadir dalam menyambut acara tahunan ini yang menandakan ujung tombak acara telah dimulai. Seluruh warga berebut berbagai macam hasil bumi –seperti padi, jagung, sayur-mayur dan buah-buahan, dalam satu gunungan. Mereka yakin jika mereka mendapatkan salah satu, khususnya yang berada di puncak, maka mereka akan mendapatkan keberkahan.

Grebeg Suro, salah satu kebudayaan rutin dalam menyambut awal tahun baru islam. Kebudayaan yang harus dilestarikan, kebudayaan yang mampu menyatukan situs dengan si muda hingga si kaya dengan si miskin, menjadi sama rata dan sama rasa tanpa ada beda, semua menikmati, semua senang, semua bahagia. Sungguh pemandangan yang indah.

Tanggapan positif pun terlontarkan dari perempuan cantik dan cerdas pilihan Banyumas, Dena. Sebagai Pelaksana Tugas Mbekayu Banyumas 2014 untuk Grebeg Suro kali ini, dia menilai bahwa acara ini sangat menarik, sebab tidak semua daerah memiliki kebudayaan seperti ini. Selain itu, acara ini juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Baturraden memiliki budaya yang unik dan agar masyarakat tetap dapat melestarikannya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

September Hitam: Kilas Balik Aksi Kamisan “Menolak Lupa Munir hingga Affan Kurniawan”

Penulis: Raiza Firdani Kurnia Suci Sepekan yang lalu, Aliansi Soedirman Melawan menggelar Aksi Kamisan bertajuk “Menolak…

Aliansi Soedirman Melawan Gelar Aksi Kamisan, Soroti Kasus HAM yang Belum Tuntas

Penulis: Reny Diah Merriola Aliansi Soedirman Melawan menggelar Aksi Kamisan pada Kamis (3/9/2026) di Tugu Pembangunan,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Jamuan Sunyi

Jamuan Sunyi

September Hitam: Kilas Balik Aksi Kamisan “Menolak Lupa Munir hingga Affan Kurniawan”

September Hitam: Kilas Balik Aksi Kamisan “Menolak Lupa Munir hingga Affan Kurniawan”

Aliansi Soedirman Melawan Gelar Aksi Kamisan, Soroti Kasus HAM yang Belum Tuntas

Aliansi Soedirman Melawan Gelar Aksi Kamisan, Soroti Kasus HAM yang Belum Tuntas

Bongkar Polemik di Balik Riuh PKKMB FIB Unsoed 2026

Bongkar Polemik di Balik Riuh PKKMB FIB Unsoed 2026

Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Potret Ruang Diskusi Publik: Civitas Academica Mengawal Reformasi Tata Kelola Kampus

Potret Ruang Diskusi Publik: Civitas Academica Mengawal Reformasi Tata Kelola Kampus