Representasi Budaya Patriarki dalam Balutan Drama Komedi: Resensi Film Ngeri-Ngeri Sedap

Oleh: Ariel Hendri Setiawan

Poster Film Ngeri-Ngeri Sedap (Sumber: Netflix)
Poster Film Ngeri-Ngeri Sedap (Sumber: Netflix)

Identitas Film

Judul : Ngeri-Ngeri Sedap

Sutradara : Bene Dion Rajagukguk

Genre : Komedi, Drama

Tahun Rilis : 2022

Rumah Produksi : Imajinari, Kathanika Studio

Bahasa : Indonesia

Durasi : 114 Menit

Film Ngeri-Ngeri Sedap (2022) merupakan film drama komedi Indonesia yang disutradarai dan ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk. Berlatar kehidupan keluarga Batak Toba, film ini dibintangi oleh Arswendy Beningswara Nasution, Tika Panggabean, Boris Bokir, Gita Bhebhita, Lolox, dan Indra Jegel. Melalui perpaduan drama keluarga dan humor khas Batak, Ngeri-Ngeri Sedap berhasil menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya menyuguhkan cerita tentang kerinduan orang tua terhadap anak-anaknya, film ini juga memperlihatkan berbagai persoalan dalam keluarga, seperti perbedaan pandangan antargenerasi, tuntutan orang tua terhadap anak, hingga dominasi figur ayah dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, Ngeri-Ngeri Sedap menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk melihat kembali bagaimana budaya patriarki dapat memengaruhi relasi dalam keluarga.

Sinopsis

Film Ngeri-Ngeri Sedap mengisahkan kehidupan keluarga Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) dan Marlina atau Mak Domu (Tika Panggabean), pasangan suami istri Batak Toba yang tinggal di kampung halaman bersama putri mereka, Sarma (Gita Bhebhita). Sementara itu, ketiga anak laki-laki mereka, Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel), memilih merantau ke Pulau Jawa untuk mengejar kehidupan yang mereka inginkan. Seiring berjalannya waktu, anak-anak mereka semakin jarang pulang karena kesibukan masing-masing. Akan tetapi, kesibukan bukan satu-satunya alasan mereka enggan kembali ke kampung halaman, melainkan juga karena adanya konflik yang belum terselesaikan dengan Pak Domu.

Pak Domu dikenal sebagai sosok ayah yang tegas dan memiliki harapan besar terhadap anak-anaknya. Ia menginginkan Domu menikah dengan perempuan Batak sesuai pilihannya, berharap Gabe mengikuti jalan hidup yang dianggap lebih menjanjikan, serta menuntut Sahat untuk memenuhi ekspektasi keluarga. Namun, anak-anaknya memiliki pandangan dan pilihan hidup yang berbeda. Perbedaan inilah yang perlahan menimbulkan konflik dan membuat mereka enggan kembali ke kampung halaman. Kondisi tersebut membuat Pak Domu kecewa karena ketiga anaknya yang merantau semakin jarang hadir dalam berbagai kegiatan keluarga, termasuk acara adat yang memiliki makna penting dalam tradisi Batak.

Merasa rindu sekaligus khawatir keluarganya semakin renggang, Pak Domu dan Mak Domu menyusun sebuah rencana agar seluruh anak mereka pulang. Keinginan untuk berkumpul semakin besar karena keluarga mereka akan mengadakan upacara adat Sulang-Sulang Pahompu, sehingga kehadiran seluruh anggota keluarga sangat diharapkan. Bagi Pak Domu, keterlibatan anak-anak dalam acara adat merupakan bentuk penghormatan terhadap keluarga serta budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Keduanya kemudian berpura-pura bertengkar hebat hingga berniat untuk bercerai. Kabar tersebut berhasil membuat Domu, Gabe, dan Sahat segera pulang ke kampung halaman.

Kelebihan dan Kekurangan 

Salah satu kelebihan film Ngeri-Ngeri Sedap terletak pada keberhasilannya mengangkat persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan masyarakat melalui balutan drama komedi yang ringan. Film ini tidak hanya menyuguhkan konflik antara orang tua dan anak, tetapi juga memperlihatkan bagaimana budaya patriarki dapat memengaruhi relasi dalam keluarga. Sosok Pak Domu digambarkan sebagai figur ayah yang memiliki otoritas besar dalam menentukan berbagai keputusan, mulai dari pilihan pasangan hidup anak hingga arah masa depan mereka. Di sisi lain, Mak Domu dan Sarma turut memperlihatkan bagaimana perempuan sering kali dituntut untuk mengalah demi menjaga keharmonisan keluarga dan memenuhi harapan yang dibentuk oleh tradisi. Menariknya, kritik terhadap pola tersebut disampaikan melalui dialog yang sederhana dan humor khas Batak sehingga pesan yang ingin disampaikan terasa lebih dekat dengan penonton tanpa terkesan menggurui.

Selain alur cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, akting para pemeran juga menjadi salah satu kelebihan film ini. Arswendy Beningswara Nasution berhasil menampilkan sosok Pak Domu sebagai ayah yang tegas dan memiliki harapan besar terhadap anak-anaknya. Tika Panggabean sebagai Mak Domu mampu memperlihatkan kerinduan seorang ibu yang ingin keluarganya kembali utuh, sedangkan Gita Bhebhita sebagai Sarma tampil sebagai sosok yang sering berusaha meredakan ketegangan dalam keluarganya. Berbagai adegan pertengkaran dan percakapan antartokoh terasa tidak dibuat-buat sehingga penonton dapat ikut merasakan emosi yang dialami masing-masing karakter.

Meskipun demikian, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Sebagai film yang sarat dengan unsur budaya Batak Toba, beberapa tradisi dan istilah adat tidak dijelaskan secara lebih mendalam. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan bagi penonton yang tidak berasal dari latar belakang budaya Batak. Salah satunya terlihat pada penggambaran upacara adat Sulang-Sulang Pahompu yang hadir sebagai bagian penting dalam alur cerita, tetapi tidak disertai penjelasan yang cukup mengenai makna dan tujuan pelaksanaannya. Selain itu, sejumlah humor dan istilah kekerabatan khas Batak mungkin kurang dapat dipahami oleh sebagian penonton sehingga mengurangi pengalaman menikmati film secara utuh.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Ngeri-Ngeri Sedap tetap berhasil menghadirkan representasi keluarga Indonesia yang dekat dengan realitas kehidupan. Film ini menunjukkan bahwa kasih sayang dalam keluarga tidak selalu diwujudkan melalui cara yang tepat, terutama ketika komunikasi dan ekspektasi yang berlebihan justru menciptakan jarak antaranggota keluarga. Oleh karena itu, Ngeri-Ngeri Sedap menjadi film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk merefleksikan kembali relasi dalam keluarga dan nilai-nilai budaya yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Secara keseluruhan, Ngeri-Ngeri Sedap merupakan film yang mampu memadukan unsur drama dan komedi dengan baik. Melalui konflik yang dialami Pak Domu, Mak Domu, serta anak-anak mereka, film ini memperlihatkan bagaimana perbedaan cara pandang antargenerasi, tuntutan keluarga, dan budaya patriarki dapat memengaruhi hubungan antaranggota keluarga. Meskipun beberapa unsur budaya Batak belum dijelaskan secara mendalam bagi penonton awam, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan film ini dalam menyampaikan pesan yang ingin dihadirkan. Oleh karena itu, Ngeri-Ngeri Sedap layak direkomendasikan sebagai tontonan karena selain menghibur, film ini juga dapat menjadi sarana refleksi mengenai pentingnya komunikasi, sikap saling memahami, serta menghargai pilihan hidup setiap anggota keluarga.

Editor: Azmi Layaliya Nauro

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Oleh: Alika Zahwa Irma Litania Identitas Film Judul : Swapped  Sutradara : Nathan Greno Penulis Skrip…

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

Oleh: Salwa Aulia Balqis Dalam perkembangan peradaban modern, ilmu pengetahuan adalah kompas yang menuntun suatu bangsa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Representasi Budaya Patriarki dalam Balutan Drama Komedi: Resensi Film Ngeri-Ngeri Sedap

Representasi Budaya Patriarki dalam Balutan Drama Komedi: Resensi Film Ngeri-Ngeri Sedap

Ratap Rakyat di Bawah Tirani

Ratap Rakyat di Bawah Tirani

Mempersoalkan Masifnya Penggunaan Kecerdasan Buatan di Lingkungan Kampus dalam Karya Visual

Mempersoalkan Masifnya Penggunaan Kecerdasan Buatan di Lingkungan Kampus dalam Karya Visual

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital