Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Oleh: Novela Virginia C.

Ilustrasi: Muhammad Nur Siddiq
Ilustrasi: Muhammad Nur Siddiq

Di tengah kehidupan yang serba cepat, membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang “sunyi” atau bahkan cenderung ditinggalkan. Namun, belakangan ini, saya justru melihat hal yang berbeda. Membaca mulai berkembang dalam bentuk baru: lebih ramai, lebih sosial, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Fenomena ini terlihat dari munculnya gerakan seperti Indonesia Book Party yang mengajak orang untuk membaca bersama di ruang publik. Di berbagai kota, konsep ini berkembang, termasuk di Purwokerto melalui Purwokerto Book Party. Dari sini, saya mulai bertanya: apakah ini benar-benar tanda meningkatnya literasi atau justru perubahan cara kita memaknai membaca?

Selama ini, kita sering mendengar bahwa tingkat literasi di Indonesia masih rendah. Data dari Badan Pusat Statistik melalui Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), memang menunjukkan bahwa kebiasaan membaca belum merata. Namun di sisi lain, data terbaru justru menunjukkan adanya peningkatan di beberapa daerah. Artinya, literasi di Indonesia tidak sepenuhnya stagnan. Ia sedang berubah perlahan.

Perubahan ini bisa dilihat dari cara membaca itu mulai bergeser. Gerakan Indonesia Book Party menjadi salah satu contohnya. Komunitas ini lahir pada 22 Oktober 2023, berangkat dari keresahan sederhana: membaca sering terasa membosankan, bahkan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan sejak kecil. Dari situ, para pendirinya mencoba mengubah cara pandang tersebut, yakni membawa kebiasaan membaca kembali menjadi aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Konsep yang mereka bangun juga cukup berbeda. Tidak ada kewajiban menjadi anggota, tidak ada aturan yang kaku. Siapa pun boleh datang, selama mau membaca dan dengan sukarela berbagi cerita tentang buku yang dibaca.

Kata party yang disematkan bukan tanpa alasan—ia menjadi simbol bahwa membaca tidak harus serius dan kaku. Membaca juga bisa santai, rileks, bahkan menyenangkan. Menariknya, pendekatan ini justru dekat dengan anak muda. Dalam beberapa kasus, ada semacam dorongan “ikut-ikutan” atau FOMO (fear of missing out) yang dimanfaatkan secara positif—bukan untuk hal konsumtif, tapi untuk membaca. Dari sesuatu yang awalnya dianggap sunyi, membaca berubah menjadi aktivitas sosial yang terasa lebih hidup.

Perluasan gerakan literasi bersama di berbagai daerah oleh komunitas Indonesia Book Party
Sumber: @indobookparty on Instagram
Perluasan gerakan literasi bersama di berbagai daerah oleh komunitas Indonesia Book Party
Sumber: @indobookparty on Instagram

Saat ini, Indonesia Book Party bahkan telah berkembang di lebih dari 30 wilayah di Indonesia, termasuk Purwokerto melalui Purwokerto Book Party. Berdasarkan liputan IndieBanyumas, suasana di Purwokerto Book Party memang jauh dari kesan kaku. Orang-orang datang, duduk bersama, membaca buku masing-masing, lalu sesekali berbagi cerita. Yang menarik, pendekatan seperti ini justru dekat dengan anak muda. 

Di titik ini, saya mulai melihatnya dari sisi lain. Bisa jadi, tidak semua orang harus langsung mencintai membaca sejak awal. Ada yang mulai dari kebiasaan, dari lingkungan, bahkan dari ikut-ikutan. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Dalam kajian sosiologi, Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa komunitas memiliki peran dalam mendorong perubahan sosial. Komunitas baca yang berdampak berperan aktif dalam mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sadar akan literasi dan meningkatkan kemampuan membaca melalui diskusi dan kegiatan sosial. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Herman Wahadaniah, bahwa minat baca tumbuh dari perhatian dan kesenangan, serta dapat dipupuk melalui lingkungan komunitas yang mendukung.

Jika melihat teori di atas, komunitas membaca seperti ini sebenarnya bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga ruang yang memungkinkan minat itu tumbuh secara perlahan. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal. Membaca, yang awalnya terasa sangat personal, perlahan menjadi aktivitas yang juga hadir di ruang sosial. Buku tidak hanya dibaca, tapi juga “dibawa” ke dalam kebersamaan. Ada kemungkinan bahwa membaca tidak lagi sepenuhnya tentang memahami, tetapi juga tentang merasa terhubung.

Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang kurang tepat. Tetapi, mungkin memang ada suatu hal yang masih perlu dijaga. Karena bagaimanapun, membaca tetap membutuhkan ruang sunyi. Ruang di mana seseorang bisa benar-benar menikmati, merenung, dan memahami tanpa disertai oleh hal lain. Ruang yang tidak selalu bisa digantikan oleh kebersamaan.

Suasana kegiatan membaca bersama di Purwokerto Book Party
Sumber: @pwtbookparty on Instagram
Suasana kegiatan membaca bersama di Purwokerto Book Party
Sumber: @pwtbookparty on Instagram

Fenomena seperti Indonesia Book Party dan Purwokerto Book Party menunjukkan bahwa minat membaca belum sepenuhnya hilang, akan tetapi cara hadirnya yang berubah. Jika dulu membaca identik dengan kesunyian, sekarang ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih terbuka dan kolektif. Jelas itu bukan menjadi masalah. Jika melihat kenyataan, bisa jadi banyak orang mulai membaca justru dari hal-hal yang sederhana—ingin ikut, ingin mencoba, atau sekadar tidak ingin tertinggal. Dalam batas tertentu, FOMO tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi pintu masuk.

Namun, membaca tidak bisa berhenti di sana. Karena pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang hadir di sebuah ruang atau komunitas. Membaca adalah tentang bagaimana seseorang benar-benar memahami apa yang ia baca, dan bagaimana ia memaknai itu dalam dirinya sendiri. Komunitas bisa menjadi awal. Akan tetapi, kedalaman tetap harus ditemukan secara personal.

Maka yang perlu dijaga bukanlah bentuknya. Apakah membaca dilakukan sendiri atau bersama? Akan tetapi, esensinya. Agar membaca tidak hanya menjadi sesuatu yang terlihat, tetapi juga sesuatu yang benar-benar terasa. Karena pada akhirnya, dari situlah makna ditemukan. Mungkin yang sering luput dari kita adalah prosesnya. Kita terlalu cepat ingin sampai pada anggapan “terlihat membaca”, tanpa benar-benar memberi waktu untuk “mengalami membaca”. Padahal, di bagian yang pelan itu, yakni ketika kita berhenti sejenak, mengulang halaman, atau bahkan tidak langsung paham, di situlah membaca bekerja.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa membaca bersama dapat mengurangi makna. Tidak juga ingin menempatkan kesunyian sebagai satu-satunya cara yang benar. Tetapi, ada jarak yang tetap perlu dijaga, yakni antara membaca sebagai pengalaman, dan membaca sebagai kebiasaan yang hanya dilakukan demi keinginan sementara. Karena bisa saja kita duduk berjam-jam dengan buku di tangan, tetapi tidak benar-benar masuk ke dalamnya. Di titik ini, mungkin yang lebih penting bukan lagi bagaimana kita membaca, tetapi seberapa jauh kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar memahami. Apakah kita membaca hanya untuk mengikuti standar tertentu, atau benar-benar ingin tinggal lebih lama di dalam apa yang kita baca?

Komunitas seperti Indonesia Book Party dan Purwokerto Book Party sudah membuka jalan. Mereka membuat aktivitas membaca terasa lebih dekat, lebih ringan, dan lebih mungkin untuk dimulai. Akan tetapi setelah itu, perjalanan tetap kembali ke masing-masing. Karena pada akhirnya, membaca bukan tentang seberapa sering kita hadir, tetapi seberapa dalam kita tinggal.

Editor: Velen Candra Nadia

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Oleh: Farah Fauziah Identitas Film Judul : The Witch  Sutradara & Penulis Skrip : Robert Eggers…

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Penulis: Dina Fitria Salsabila Momen libur semester selalu menjadi waktu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran

Lestarikan Budaya Banyumas, Festival Lengger Bicara 2026 Gaet Ribuan Penari Muda

Lestarikan Budaya Banyumas, Festival Lengger Bicara 2026 Gaet Ribuan Penari Muda

Aliansi Banyumas Raya Gelar Aksi Mimbar Bebas, Desak Mundur Prabowo-Gibran

Aliansi Banyumas Raya Gelar Aksi Mimbar Bebas, Desak Mundur Prabowo-Gibran