Penulis: Reny Diah Merriola
Yayasan Lengger Bicara kembali sukses menggelar festival kebudayaan tahunan “Lengger Bicara 2026” yang memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Festival ini berlangsung di kawasan Menara Teratai, Purwokerto, pada Jumat (26/6/2026). Perhelatan akbar yang mengusung tema tradisi ini berhasil menggerakkan ribuan penari dari generasi muda serta menarik perhatian para pejabat negara, pelaku seni, dan masyarakat umum sebagai bentuk nyata pelestarian identitas budaya lokal Banyumas.
Pelaksanaan Lengger Bicara tahun ini mengusung tema filosofis Jawa, yaitu Gemah Ripah Loh Jinawi. Ketua Panitia Lengger Bicara 2026, Bagus Satria, menjelaskan filosofi mendalam di balik tema tersebut.
“Filosofi dari Gemah Ripah Loh Jinawi adalah kita ingin mengingat ke masyarakat Indonesia bahwasanya walaupun Indonesia hari ini sedang dilanda berbagai macam krisis atau perdebatan isu, dengan kondisi apapun, ayo mengingat bahwa kita itu subur, rukun, makmur, dan bahagia,” ujarnya.
Melalui tema ini, panitia ingin mengingatkan masyarakat Indonesia agar tetap optimis dan rukun di tengah berbagai krisis atau isu negatif yang sedang terjadi. Penyelenggaraan tahun ini dipindahkan dari GOR Satria ke Menara Teratai. Hal itu menjadi langkah strategis dalam memenuhi indikator penilaian agar acara ini dapat didaftarkan ke Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata pada tahun depan. Target jangka panjang dari roadmap kegiatan ini adalah membawa kesenian Lengger Banyumas menuju panggung internasional pada tahun 2028.
Menteri Kebudayaan RI yang turut hadir memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya ini. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menekankan Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 sebagai amanat konstitusi bagi negara untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Kementerian Kebudayaan berkomitmen penuh mendampingi penguatan komunitas adat, festival, digitalisasi, serta promosi kebudayaan lokal ke kancah nasional hingga internasional. Selain itu, ia mendorong agar kekayaan tradisi Banyumas dapat dikembangkan menuju arah ekonomi budaya dan industri budaya yang berkelanjutan.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyatakan bahwa tema Gemah Ripah Loh Jinawi menegaskan bahwa kemakmuran daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari kemampuan menjaga identitas dan jiwa masyarakat Banyumas. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bergerak bersama.
“Saya mengajak seluruh masyarakat Banyumas untuk selalu dan terus mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya daerah sebagai bagian jati diri kita bersama,” pungkasnya.
Keberlanjutan kesenian ini dibuktikan dengan keterlibatan sekitar 5.000 penari, di mana lebih dari 90 persen di antaranya merupakan generasi Z dan generasi Alpha. Bagus Satria mengungkapkan bahwa tingginya partisipasi anak muda ini menjadi motivasi utama penyelenggaraan acara, sekaligus mematahkan stigma bahwa generasi muda tidak peduli terhadap budaya tradisi. Demi menarik minat mereka, panitia memadukan unsur tradisi dengan pendekatan progresif, seperti membebaskan kostum unik serta mengkolaborasikan musik gamelan dengan full orchestra dan efek pencahayaan modern. Selain penari, panitia juga menggaet 70 hingga 80 sukarelawan dari berbagai universitas di Banyumas.
Keterlibatan nyata ini dirasakan langsung oleh perwakilan penari dari UKM Sanggar Kreasi Tari (Sakta), Cyntia dan Sahnia. Cyntia membagikan pandangannya mengenai esensi tari Lengger yang kini telah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. “Lengger itu kan kebudayaan asli dari Banyumas ya, di mana ini perlu kita lestarikan. Lengger ini kan sudah evolusi ya, sekarang lebih bebas dan menyesuaikan dengan zaman,” tutur Cyntia.
Sahnia turut menekankan pentingnya festival ini dalam melestarikan ikon Banyumas yang mulai langka, khususnya penari laki-laki. “Ikon Banyumas itu Lengger Lanang ya, yang benar-benar sekarang sudah jarang anak laki-laki yang mau lenggeran. Jadi dengan adanya acara Lengger ini, bisa membantu melestarikan ikon dari Banyumasnya sendiri,” tambah Sahnia.
Seni Lengger telah melekat erat di hati masyarakat sebagai identitas kultural yang kuat. Ibu Sari, seorang warga yang saat ini berdomisili di Purwokerto, menyatakan kebanggaannya terhadap kedudukan Lengger bagi daerahnya. “Ya, itu identitas kalau menurut saya. Lengger itu identitasnya Banyumas. Kalau Batak, kan punya Tor-tor, kalau Aceh kan punya Saman, kalau Banyumas ya punya Lengger,” ujarnya.
Selain itu, antusiasme nyata juga datang dari penonton generasi muda yang diwakili oleh Aurelia atau yang akrab disapa Aurel. Sebagai pecinta seni gerak dan suara, Aurel mengaku sangat terpukau dengan keindahan pertunjukan massal ini, khususnya pada sesi tari Senandung Tanah Makmur.
Menurutnya, berkat kontribusi maestro seperti Mas Rianto dan adanya festival budaya internasional, kesenian Lengger kini semakin dikenal luas oleh dunia luar yang sebelumnya kurang familier dengan kebudayaan Banyumas. Menutup tanggapannya, ia menaruh harapan besar agar komitmen pelestarian ini terus dijaga melalui konsistensi penyelenggaraan acara. “Harapannya ini selalu dilestarikan setiap setahun sekali,” pungkas Aurel.
Editor: Azmi Layaliya Nauro
Reporter: Annisa Dwi Rahman, Annisa Nur Hidayah, Dina Fitria Salsabila, Jeni Rindi Afriska, Lintang Fitriana, Muhamad Ade Ravi, Reny Diah Merriola, Widyana Rahayu, Yunita Salsabilla Fitriani








