Penulis: Ryu Athallah Raihan
Identitas Film
Judul : (500) Days of Summer
Genre : Drama komedi
Rating Umur : Rated PG-13 / 13+
Tahun tayang : 2009
Bahasa : Inggris
Durasi : 95 Menit
Sutradara : Marc Webb
Produser : Mason Novick, Jessica Tuchinsky, Mark Waters dan Steven J. Wolfe
Pemeran inti : Joseph Gordon-Levitt (Tom) dan Zooey Deschanel (Summer)
Sebuah Pengantar
“I love the Smiths.” Kalimat ini mungkin terdengar familiar di telinga Anda. Sebuah potongan dialog dari salah satu adegan ikonik dalam film (500) Days of Summer ini seringkali berseliweran dan dijadikan cuplikan di media sosial.
Mungkin, pada awalnya film keluaran tahun 2009 ini terlihat seperti drama cinta atau romcom (romantic comedy) dengan alur yang klise. Akan tetapi, (500) Days of Summer justru menghadirkan sesuatu yang jarang disajikan, kisah yang tidak berjalan seperti yang banyak orang pikirkan.
Meskipun bergenre drama komedi, film ini bisa dibilang sebagai salah satu film “horor” terbaik. Bukan karena hantu atau sosok yang mengerikan, melainkan karena kisah cinta yang terasa begitu menyakitkan alias hopeless romantic. Tak heran, jika film ini mendapatkan rating 86% di situs rottentomatoes.com.
Marc Webb, selaku sutradara, bisa dikatakan berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang tak biasa. Bagaimana tidak, melihat dari sudut pandang Tom sebagai karakter utama, hubungannya dengan Summer terasa penuh harapan dan keinginan untuk memiliki—seperti lagu Anything You Want milik Reality Club. Namun sayang, ternyata Summer memiliki versinya sendiri tentang hubungan mereka.
(500) Days of Summer tidak menggambarkan bagaimana seharusnya cinta dipahami atau dijalani. Namun, lewat kisah Tom dan Summer, film ini justru berhasil menyentuh hati sekaligus mengusik pikiran penontonnya. Perlahan, penonton diajak menyadari bahwa apa yang terasa sebagai cinta, belum tentu dimaknai sama oleh kedua pihak. Hingga pada akhirnya, yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan di akhir cerita.
“Selama ini, apakah kita benar-benar memahami arti cinta? atau, kita hanya percaya pada versi yang kita ciptakan sendiri?”
Resensi
Catatan: Pembaca yang budiman, resensi ini mengandung spoiler. Penulis juga akan menghadirkan sedikit sentuhan akademis untuk memberikan sudut pandang yang menarik. Tabik!
Sesuai dengan judulnya, (500) Days of Summer merepresentasikan 500 hari yang dihabiskan oleh Tom bersama Summer. Ia merenungkan 500 hari yang mereka lalui bersama dan mencoba mencari tahu di mana hubungan asmara mereka mulai memburuk, dan dalam prosesnya, Tom menemukan kembali passion atau gairah hidupnya.
Kisah ini bermula dari Tom Hansen, seorang penulis kartu ucapan di sebuah perusahaan. Tom sendiri memiliki passion layaknya seorang arsitek. Ia mahir dalam membuat sketch, terutama lanskap sebuah bangunan. Namun, realitas menyeretnya masuk ke dalam kehidupan perkantoran yang monoton dan membosankan.
Hingga pada sebuah momen, atasan Tom memperkenalkan asisten barunya, yakni Summer Finn, gadis muda asal Michigan yang membuat Tom seketika terpesona. Kehadiran Tom disambut hangat oleh Summer, apalagi setelah mengetahui bahwa mereka memiliki selera musik yang sama. “I love the Smiths!”
Tom yang semakin terpesona oleh Summer mulai merasakan perubahan dalam hidupnya. Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja, kini seolah memiliki makna baru. Bahkan, dengan jujur Ia mengakui, “I love how she makes me feel … like, life’s worth it.” Perasaan itu tumbuh pelan tapi pasti—bukan sekadar ketertarikan sesaat, melainkan sesuatu yang mulai Ia yakini sebagai cinta.
Sejak saat itu, cara Tom memandang hari-harinya pun berubah. Ia menjadi lebih bersemangat dan ceria, seakan setiap momen memiliki kemungkinan untuk bertemu atau sekadar berbagi cerita dengan Summer. Di kepalanya, Summer bukan lagi hanya sosok yang menyenangkan, tetapi telah menjelma menjadi pusat dari hampir seluruh harapan dan kebahagiaannya.
Secara alur film, Tom sebenarnya sedang mengungkapkan seluk beluk perasaannya terhadap Summer. Ia bahkan bercerita kepada teman dan adiknya, Rachel Hansen. Tom dan Summer sempat berbincang mengenai cinta, tetapi keduanya memiliki pandangan berbeda—Tom mempercayainya, sementara Summer tidak. Bagi Summer, hubungan mereka tak lebih dari sekadar “teman”. Summer juga tak percaya dengan adanya “cinta”, Ia mengatakan bahwa cinta hanyalah fantasi. Namun, Tom merasa bahwa Summer hanya belum pernah benar-benar merasakannya. Baginya, perasaan itu tidak perlu dijelaskan secara rumit, “I think, you know when you feel it.”
Keyakinan itu membuat Tom semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri. Ia percaya, suatu saat Summer akan memahami apa yang Ia rasakan. Namun, keyakinan tersebut justru berhadapan dengan kenyataan yang tak selalu berjalan searah. Ketika Summer menanyakan apakah Ia menyukainya hanya sebagai teman, Tom yang belum sepenuhnya mampu mencerna perasaannya sendiri hanya bisa mengiyakan.
Sejak saat itu, perasaan Tom terhadap Summer kian menguat dan hubungan mereka terus berkembang. Hubungannya yang semakin hari menjadi semakin dekat, membuat Tom merasa bahwa Ia bisa meyakinkan Summer bahwa cinta adalah sesuatu yang ada dan tumbuh seiring waktu. Mengingatkan kita pada sebuah lirik lagu.
“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepada ku, meski kau tak cinta kepadaku.”
Bicara soal “cinta”, jika merujuk pada teori Robert Sternberg dalam A Triangular Theory of Love (1986), cinta terdiri dari tiga komponen utama, yakni intimacy (kedekatan emosional), passion (ketertarikan dan gairah), serta commitment (keputusan untuk mempertahankan hubungan). Tingkat dan jenis cinta yang dialami seseorang bergantung pada kekuatan serta keseimbangan dari ketiga komponen tersebut.
Baca juga: https://www.simplypsychology.org/types-of-love-we-experience.html
Dalam (500) Days of Summer, teori ini bisa kita kaitkan pada hubungan antara Tom dan Summer. Tom cenderung memiliki ketiga komponen tersebut, terutama commitment. Ia tidak hanya merasa dekat dan tertarik, tetapi juga berusaha mencari kepastian serta arah yang jelas dalam hubungan mereka. Sebaliknya, Summer lebih menunjukkan intimacy dan passion, namun cenderung menghindari commitment. Ia menikmati kedekatan yang ada, tanpa keinginan untuk terikat dalam hubungan yang serius.
Jika dilihat lebih jauh, dinamika hubungan Tom dan Summer dalam (500) Days of Summer juga bisa dipahami melalui perbedaan cara pandang budaya. Hubungan mereka mencerminkan pola relasi modern (Barat) yang cenderung lebih bebas dan tidak selalu terikat oleh aturan atau ekspektasi formal. Dalam konteks ini, kedekatan yang mereka bangun, meski tanpa kejelasan status, bisa saja dianggap wajar.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang lebih konservatif, relasi seperti ini bisa terasa “melewati batas”. Kedekatan bahkan keintiman yang terjalin tanpa komitmen yang jelas seringkali dipandang berisiko, karena membuka ruang bagi ketimpangan perasaan. Di sinilah letak persoalannya, Tom seolah terjebak dalam persepsinya sendiri. Ia merasa hubungan itu sudah cukup kuat dan bermakna, padahal bagi Summer, semua itu tidak serta-merta berarti komitmen.
Gejolak hubungan yang tak kunjung berlabuh pada kepastian membuat kondisi emosional Tom menjadi tidak stabil. Ia membenci Summer, tetapi tak pernah benar-benar mampu melakukannya. Realita kembali menghantamnya ketika Ia mengetahui bahwa Summer telah bertunangan. Sebuah ironi yang sulit diterima, mengingat Summer sebelumnya menolak gagasan tentang hubungan yang serius.
Sampai pada akhirnya, Tom benar-benar mampu bangkit dan melanjutkan hidupnya. Ia kembali mengejar passion lamanya di bidang arsitektur, sesuatu yang sempat ia tinggalkan. Perlahan, Ia mulai menemukan kembali ritme hidupnya, menata ulang harapan, dan mengejar apa yang selama ini Ia impikan.
Hingga pada suatu momen, Ia kembali bertemu dengan Summer—kali ini sebagai seseorang yang telah menikah. Pertemuan itu menyisakan satu pertanyaan besar dalam benak Tom: mengapa Summer, yang dulu menolak komitmen, justru memilih untuk menikah? Jawaban itu akhirnya datang dari Summer sendiri. Ia mengungkapkan bahwa selama ini Ia tidak pernah benar-benar yakin bisa bersama Tom.
“I just woke up one day and I knew, … when I was never sure of with you.”
Di titik inilah, Tom dihadapkan pada kenyataan yang paling sederhana sekaligus paling menyakitkan, bahwa cinta tidak selalu tentang seberapa besar perasaan yang dimiliki, tetapi tentang keyakinan yang hadir dari kedua belah pihak. Apa yang selama ini Ia perjuangkan, ternyata tidak pernah berdiri di atas kepastian yang sama.
Ulasan
Dari segi karakter, Tom dan Summer dalam (500) Days of Summer ditampilkan secara manusiawi tanpa dikotak-kotakkan sebagai benar atau salah. Menariknya, film ini secara halus menunjukkan bahwa apa yang dilihat penonton bukanlah kebenaran objektif, melainkan perspektif Tom. Hal ini menjadikannya sebagai semacam unreliable narrator, di mana persepsi pribadi mampu membentuk realitas yang tampak meyakinkan.
Dapat dikatakan bahwa film ini memang cerdas dalam memainkan perspektif. Karena cerita berpusat pada Tom, penonton secara tidak sadar ikut larut dalam cara pandangnya, sehingga Summer kerap diposisikan sebagai pihak yang “bersalah”. Padahal, sejak awal Summer telah menunjukkan bahwa Ia tidak menginginkan hubungan yang serius.
Dari segi visual, (500) Days of Summer menghadirkan sinematografi yang sederhana namun efektif dalam membangun suasana. Penggunaan warna, pencahayaan, hingga komposisi gambar mampu memperkuat emosi yang dialami tokohnya. Selain itu, film ini juga cerdas dalam memvisualisasikan perasaan melalui teknik penceritaan. Adegan expectation vs reality, misalnya, menjadi salah satu kekuatan utama yang tidak hanya kreatif, tetapi juga cukup relevan dengan pengalaman banyak orang.
Tak hanya itu, pemilihan musik dan soundtrack juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Penggunaan lagu Bitter Sweet Symphony dari The Verve seolah menjadi refleksi perjalanan Tom. Ia terjebak dalam realitas yang tidak sepenuhnya Ia pahami—di antara keinginan untuk berubah dan harapan yang terus ia pertahankan. “No, change. i can change, but i’m here in my mould.”
Di sisi lain, pendekatan dengan alur yang tidak linear terkadang bisa membuat film terasa membingungkan dan membuat emosi cerita tidak selalu tersampaikan secara utuh, terutama bagi mereka yang mengharapkan alur yang lebih runtut. Selain itu, sudut pandang yang terlalu berpusat pada Tom juga berpotensi membuat sebagian penonton mungkin gagal menangkap pesan utama film, dan justru terjebak dalam penilaian yang sepihak.
Film ini mengingatkan bahwa cinta tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan kesepahaman, bukan hanya perasaan sepihak. Mungkin, pada akhirnya, yang menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa apa yang kita yakini sebagai “cinta” ternyata tidak pernah dimaknai sama oleh orang lain.
Editor: Andika Brilyan









