Oleh: Hasna Zulfa Qanitah
Identitas Film:
Judul : Na Willa
Sutradara : Ryan Adriandhy
Penulis Skrip : Ryan Adriandhy
Berdasarkan : Na Willa: Serial Catatan Kemarin oleh Reda Gaudiamo
Perusahaan Produksi : Visinema Studios
Tanggal Rilis : 18 Maret 2026
Durasi : 118 menit
Genre : Drama, Keluarga, Musikal
Bahasa : Indonesia
Pemeran : Luisa Adreena, Irma Rihi, Junior Liem, Mbok Tun, Ira Wibowo, Melissa Karim, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy
“Coba kau dengarkan
Langkah kaki berbunyi
Sikilku iso muni”
Potongan lirik lagu yang menggema viral di linimasa media sosial belakangan ini, tahukah Anda asal-usul sesungguhnya?
Film layar lebar Na Willa (2026), dirilis bertepatan dengan euforia Lebaran tahun ini, telah memikat lebih dari 1 juta penonton dengan pesonanya. Melanjutkan keberhasilan animasi ajaib Jumbo (2025) musim silam, sutradara Ryan Adriandhy kembali menabur mantra magisnya. Karya ini bukan sekadar kisah bocah 6 tahun di Surabaya era 60-an, melainkan potret kota pahlawan itu melalui lensa polos dan khayalannya yang mendalam. Tak heran jika sepanjang 118 menit perjalanan, penonton terhanyut dalam dunia keajaiban dan kenangan abadi yang memukau.
Berlatar di Gang Krembangan, yang kaya toleransi dan kebersamaan. Melalui sudut pandang Na Willa yang diperankan oleh Luisa Adreena, bocah berusia 6 tahun dengan rasa ingin tahunya yang tak terbendung, melihat isi dunia terasa bersinar ajaib dan mekar berwarna-warni. Keberagaman meresap lembut dalam ikatan keluarga dan pertemanan. Willa tumbuh besar dalam pelukan itu, berbagi atap dengan Mak (Irma Rihi) berasal dari tanah NTT, sementara Pak (Junior Liem) keturunan Tionghoa asli. Lingkaran sahabat karibnya dirangkai Farida (Freya Mikhayla) yang berkeyakinan berbeda, Dul (Azamy Syauqi) mendahului setahun di bangku sekolah, serta Bud (Arsenio Rafisqy) si teman setia.
Meski alurnya ringan dan mengalir santai, film ini menyisipkan moral-moral kehidupan mendalam yang mengundang diskusi terbuka, siap diresapi dan diterapkan dalam realitas sehari-hari. Seperti disebutkan sebelumnya, Willa hidup dalam budaya toleransi yang kokoh. Salah satu adegan paling ikonik terjadi ketika Farida mengajak Willa ikut mengaji bersamanya. Meski Mak awalnya menolak karena perbedaan keyakinan, rutinitas Willa adalah membaca Alkitab di gereja setiap minggu. Namun, rasa penasaran bocah itu tak pudar. Akhirnya Mak mengizinkan, dengan pesan bijak untuk sekadar mengamatinya saja sebagai bentuk menghargai keberagaman. Balutan sifat polos dan lucu Willa membuat pesan toleransi meresap halus, menghibur sekaligus menggugah hati penonton dari segala usia.
Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak terbelenggu pada masa lalu. Bagi dunia film ini, kehidupan adalah seni menikmati setiap detiknya. Hal itu terpancar dari keseharian Willa yang dirangkai detail memukau oleh tim animasi dan efek visual yang bekerja keras mewujudkan cara Willa memandang dunia sarat magis. Serbuk ajaib bertebaran saat Mak memukuli kasur, meskipun sebenarnya itu sekadar debu biasa. Visualisasi unik akan kegemaran Willa pada mata ikan bandeng yang berkilau seperti permata. Insiden tak diinginkan menimpa Dul yang merenggut satu kakinya. Namun, Dul bersinar bahagia saat kedatangan Willa untuk menjenguknya. Dengan semangat membara, Dul memamerkan kakinya yang dibalut gips kayu membuatnya dapat berbunyi ketika diketuk. Adegan ini bahkan menjelma puncak emosional yang dirangkai dalam sekuen musikal tersendiri. Diiringi lantunan nada mengasyikkan dari OST “Sikilku Iso Muni” ciptaan trio Laleilmanino, suasana rumah sakit pun kehilangan kesan menyeramkannya, berganti menjadi ruang penuh kehangatan dan harapan yang menggugah jiwa.
Di sisi lain, Na Willa (2026) tak sepenuhnya menyuguhkan sudut pandang bocah 6 tahun, Ryan juga menyelipkan lapisan parenting yang menyentuh hati. Di era ketika komunikasi jarak jauh masih diliputi keterbatasan, Pak yang bekerja dengan kesempatan pulang yang nyaris tak menentu, bukan menjadi sebuah alasan untuk absen dari peran seorang ayah. Ia menjaga ikatan melalui surat-menyurat sebagai jembatan rindu, sekedar menanyakan kabar atau bercerita tentang kehidupannya di seberang sana. Tak pernah lupa, ia selalu membawakan buku untuk Willa, mengingat itu adalah kegemaran anak semata wayangnya. Pernah suatu kali, jadwal kepulangannya tertunda, padahal Pak sudah berjanji akan membawakan buku dalam waktu dekat. Tanpa ingin mengingkari janji, Pak memutar akal. Ia mengirimkan paket yang berisikan buku-buku cerita terlebih dahulu, menjaga kepercayaan Willa tetap utuh bagai kristal bening.
Peran Mak terlihat lebih tegas dibandingkan Pak justru menjadi tempat belajar berharga bagi penonton dewasa. Mak menggambarkan bahwa menjadi orang tua tak harus selalu reaktif, ia tegar dalam berprinsip, namun kehadirannya selalu menyertai setiap langkah kehidupan Willa. Ia tanggap menghadapi beribu pertanyaan Willa yang didukung rasa penasaran menggebu di usianya, sigap menemani di kala sedih, serta memberi bekal untuk membentuk pola pikir Willa menjadi lebih baik. Yang paling menyentuh, Mak menerapkan kejujuran sebagai fondasi di rumah mereka. Ketika sempat melanggarnya, ia tak ragu untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Willa. Teladan mulia ini menjadi contoh pertama yang diserap Willa, untuk kelak diterapkan dalam kehidupannya sendiri.
Na Willa (2026) bukan sekadar animasi anak-anak, melainkan cermin kehidupan yang penuh hikmah dan keindahan. Lewat sentuhan magis Ryan Adriandhy, kolaborasi memukau dengan Laleilmanino, serta alur cerita yang hangat menjadikannya tontonan wajib untuk segala usia. Film ini sukses mengingatkan kita bahwa dibalik kesederhanaan, tersimpan pesan universal tentang toleransi, ketahanan, dan kehangatan keluarga.
Editor: Lovely Mozza Permata M. N.






