Oleh: Muhammad Fatkhun Nafiq
“Anjir!”—sebuah kata yang mungkin sering kita dengar terucap dalam percakapan Generasi Z, baik di media sosial maupun obrolan sehari-hari. Kata yang secara historis berasal dari plesetan kata “anjing”—yang sejak lama dianggap kasar dan tabu—kini justru mengalami pergeseran makna yang menarik. Bagi Gen Z, “anjir” bukan lagi sekadar umpatan, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah ekspresi serba bisa: mulai dari kekaguman, keterkejutan, hingga bentuk keakraban. Namun, di balik normalisasi penggunaannya, muncul pertanyaan mendasar: apakah ini bentuk kebebasan berekspresi yang kreatif, atau justru cerminan lunturnya batas kesantunan berbahasa?
Berdasarkan wawancara dengan beberapa responden Gen Z, terungkap bahwa penggunaan kata “anjir” sangat bergantung pada konteks sosial dan relasi antara penutur dengan lawan bicaranya. Seperti yang diungkapkan Vigia, “Nek menurutku tergantung sapa sing diajak ngomong, nek karo batir sing sepermainan dan wis perek mungkin biasa bae.” (menurutku tergantung siapa yang diajak bicara, kalau ke teman yang sepermainan dan sudah akrab mungkin biasa saja). Pernyataan ini menunjukkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menyesuaikan bahasa dengan situasi dan hubungan interpersonal.
Sementara itu, Fahri menambahkan perspektif generasional dengan menyatakan, “Ya nek go Gen Z mah b aja, bukan toxic untuk Gen Z, toxic untuk milenial dan boomers.” (ya kalau untuk Gen Z mah biasa saja, bukan toxic untuk Gen Z, toxic untuk milenial dan boomers). Pernyataan ini mempertegas adanya kesenjangan pemaknaan antargenerasi terkait kata “anjir”. Bagi generasi yang lebih tua, istilah ini masih dianggap sebagai kata yang kasar atau tidak pantas, sementara Gen Z memandangnya sebagai bagian normal dari percakapan sehari-hari.
Kedua pernyataan ini menunjukkan bahwa Gen Z memiliki kecerdasan kontekstual dalam berbahasa. Mereka dapat dengan mudah membedakan penggunaan kata “anjir” untuk percakapan informal dengan teman sebaya yang sudah akrab, dan menghindari penggunaannya dalam situasi formal atau dengan orang dari generasi yang berbeda. Fenomena ini menunjukkan bahwa adaptasi bahasa yang dilakukan Gen Z bukanlah bentuk pelecehan terhadap norma bahasa, melainkan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan lingkungan sosial mereka.
Kesadaran kontekstual yang terungkap dalam wawancara ini ternyata juga tercermin nyata dalam dunia digital. Jika kita menelusuri dinamika percakapan di media sosial seperti X (Twitter), TikTok, maupun grup pertemanan, pola penggunaan kata “anjir” menunjukkan konsistensi yang menarik. Kata ini muncul dalam berbagai konteks yang sangat beragam, misalnya “anjir keren banget”, “anjir ngakak sumpah”, atau “anjir serius lo?”. Dalam contoh-contoh tersebut, makna kata tersebut menjadi fleksibel dan sangat bergantung pada konteks serta intonasi pengucapannya. Kata ini tidak lagi hanya menandakan kemarahan atau kejengkelan, tetapi juga bisa menyatakan kekaguman, keterkejutan, sindiran lucu, atau bahkan sekadar menambah bumbu emosi dalam obrolan santai.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kata “anjir” berasal dari bahasa yang kasar dan tabu. Akan tetapi, di tangan Gen Z kata ini mengalami ameliorasi makna yang dalam kajian linguistik disebut sebagai pergeseran nilai suatu kata dari yang awalnya berkonotasi negatif menjadi netral bahkan menjadi positif. Perubahan ini dapat terjadi karena Gen Z tumbuh di tengah arus komunikasi digital yang serba cepat, dengan percakapan berlangsung secara ringkas, ekspresif, dan spontan. Dalam konteks tersebut, kata “anjir” menjelma menjadi bentuk adaptasi bahasa untuk memenuhi kebutuhan ekspresi yang jujur dan spontan. Kata ini berfungsi sebagai penanda emosi yang kuat dan instan, mengemas perasaan kagum, kaget, atau tidak percaya hanya dalam dua suku kata.
Perubahan makna kata “anjir” ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh media sosial Tiktok, Instagram atau Twitter (X). Melalui konten pendek, kolom komentar, dan tren yang menyebar dengan cepat, kata “anjir” mengalami normalisasi massal. Kata ini terus-menerus digunakan dan diulang dalam konteks yang positif, lucu, dan relatable, sehingga semakin menjauhkannya dari makna aslinya sebagai kata umpatan yang dulu tabu untuk diucapkan. Kata “anjir” menjadi ekspresi emosional universal yang mudah dipahami lintas komunitas. Bahkan, penggunaannya kini melampaui batas daerah dan dialek, menunjukkan betapa cepatnya bahasa beradaptasi di era digital.
Fenomena ini sejalan dengan teori sosiolinguistik yang menyebut bahwa bahasa adalah cerminan identitas kelompok. Generasi Z, dengan karakter digital, ekspresif, dan egaliter, menggunakan bahasa untuk menegaskan keberadaannya. Dengan “anjir”, mereka menunjukkan bahwa ekspresi emosional bisa dilakukan tanpa formalitas, tetapi tetap terasa autentik. Dalam hal ini, kata “anjir” telah menjadi simbol gaya hidup digital yang serba cepat dan spontan.
Perubahan makna yang terjadi pada kata “anjir” ini menunjukkan bagaimana bahasa dapat mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman. Kata yang dulunya dianggap kasar kini bisa menjadi bentuk keakraban dan ekspresi diri. Generasi Z membuktikan bahwa bahasa dapat menjadi lentur tanpa kehilangan fungsinya sebagai komunikasi, ekspresi, dan refleksi sosial. Jadi, apakah “anjir” masih umpatan kasar? Atau sudah menjadi gaya ekspresi Gen Z? Jawabannya kembali pada siapa yang memakai dan dalam situasi apa. Satu hal yang pasti adalah bahasa akan terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat—dan kita sebagai pengguna, ikut menentukannya.
Editor: Nurul Irmah Agustina









