Sastra Penyingkap Tabu ‘65

Oleh: Muhammad Fauzi*

“Kecondongan buku-buku pada masa Orde Baru, dimana dalang utama dari gerakan 30 September adalah PKI, dan pemenangnya adalah pihak Angkatan Darat yang menumpas PKI hingga ke akar-akarnya. Adapun para korban pembantaiannya adalah ekses-ekses dari PKI,” tutur Hariyadi Ph.D, dosen Sosiologi Unsoed, dalam diskusi “Rekonsiliasi Kultural Melalui Fiksi 1965” Rabu, (30/9).

Ia menambahkan, buku kumpulan Cerpen berjudul “Penjagal Itu Telah Mati” karya Gunawan Budi Susanto ini melengkapi penulis-penulis sebelumnya untuk mengungkap peristiwa 1965. Ketika rezim orde baru, membicarakan apalagi mengungkap peristiwa tersebut merupakan hal yang tabu dan penuh dengan rekayasa. Barulah pada masa reformasi, orang-orang berani menciptakan fiksi  tentang peristiwa 1965 yang isinya berbeda dengan rekayasa rezim Orde Baru.

Cerpen berjudul “Penjagal Itu Telah Mati” ini mengisahkan pembantaian 1965 yang dimotori oleh Tegar Alam Bahrul Ahmadi Husaini (tokoh dalam Cerpen). Dengan status Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Kostrad) yang disandangnya, tidak ada yang berani melawannya. Hampir setiap malam ada saja yang meregang nyawa olehnya, itulah sebabnya dia dikenal sebagai penjagal yang sangat kejam.

Menurut sang penulis, Gunawan Budi Susanto alias kang Putu, buku kumpulan Cerpen ini merupakan bentuk ekspresinya untuk mengurangi, bahkan menghilangkan rasa dendam yang dulu sempat tertambat di hatinya. Dia sempat memberontak dan memendam dendam terhadap orang tuanya di masa muda selama belasan tahun. Hal itu dikarenakan ia merasa terlahir dari keluarga komunis.

“Dulu saya disuruh yang baik-baik seperti disuruh sholat, disuruh ngaji oleh orang tua saya, saya menolak. Penolakan saya sebagai bentuk pemberontakan terhadap beliau,” ungkapnya saat diskusi buku kumcer dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-1 Fakultas Ilmu Budaya Unsoed itu.

Di akhir diskusi yang dipimpin oleh Sucipto, mantan Pemimpin Umum LPM Sketsa, Gunawan Budi Susanto berpesan agar tidak sepenuhnya percaya dengan perkataannya. Penulis yang mengaku lulus 27 semester tersebut juga berpesan  kepada peserta diskusi untuk selalu mencari informasi yang sedalam-dalamnya mengenai peristiwa 1965 yang sesungguhnya.

*Penulis adalah anggota muda LPM Sketsa, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unsoed 2014.

Editor: Ari Mai Masturoh

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

Penulis: Hasna Nailah Ramadhani Pada Senin (22/6/2026), aksi di depan gedung rektorat kembali diselenggarakan oleh Keluarga…

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Oleh: Maharani Yumna Identitas Film Judul : You Will Die in 6 Hours Sutradara : Lee…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Demi Gelar

Demi Gelar

Simfoni di Ambang Batas

Simfoni di Ambang Batas