Oleh: Dina Fitria Salsabila
Dulu aku hanya setitik tinta di sudut kertas yang sepi,
melukis garis-garis kecil di balik dinding yang kukunci.
Tak pernah kubayangkan, jemari ini harus menggenggam bara,
di sebuah panggung raksasa yang riuhnya tak terkira.
Lalu hadir sebuah titah yang tak kuasa kutolak mentah,
membawaku ke gerbang yang tadinya kuharap tetap tertutup rapi.
Kupikir takdir akan berpihak pada keenggananku yang membuncah,
namun kuncinya justru berputar, memaksaku melangkah ke dalam mimpi.
Kini aku terjebak di antara empat penjuru mata angin,
yang masing-masing menuntut raga untuk terus terjaga.
Satu jam berlari, satu jam dipaksa berpaling,
merajut waktu yang kian tipis, di atas pundak yang mulai goyah.
Ada peran yang kupakai meski sesak terasa di dada,
hadiah dari harapan orang lain yang harus kujaga marwahnya.
Meski hatiku ingin menepi ke sudut paling senyap,
amanah ini telah terlanjur mengikat, membuatku sulit beristirahat sekejap.
Aku adalah pengelana yang baru belajar menapak bumi,
namun langsung dihantam badai yang datang silih berganti.
Belum genap aku memahami arah, beban sudah menagih janji,
membuat lelah ini terasa seperti prasasti yang abadi.
Mungkin begini cara semesta memaksaku untuk mekar,
di antara duri-duri tanggung jawab yang kian menjalar.
Biarlah sisa napas ini menjadi saksi perjuangan,
bahwa di titik paling riuh, aku tak pernah memilih keraguan.
Editor: Artika Putri Kinanti








