Penulis: Annisa Dwi Rahman
Ratusan seniman dari berbagai daerah berkumpul di Banyumas Ngibing 24 Jam Menari yang digelar pada 2–3 Mei 2026, di kawasan Kota Lama Banyumas. Selama 24 jam penuh, ruang kota berubah menjadi panggung bagi para seniman untuk menampilkan kreativitasnya. Diselenggarakan sebagai bentuk dari perayaan Hari Tari Dunia dan Hari Pendidikan Nasional, acara ini menjadi ruang ekspresi seni bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus berinteraksi dengan masyarakat secara langsung.
Penampilan “Penari 24 Jam” menjadi sorotan karena penari harus menari tanpa henti sepanjang hari. Salah satu penari, Baltazar Okka, menyebutkan bahwa latihan fisik adalah persiapan yang menjadi rutinitas sebelum tampil, disertai dengan dukungan dan doa dari orang tuanya. Dalam penampilan tarinya, Okka membawakan karya yang terinspirasi dari daerah asalnya, Tangerang dan Banten.
Tak hanya penari, pelukis juga berkarya tanpa henti dengan melukis di kain sepanjang 116 meter. Sebanyak 50 pelukis menciptakan karya secara bergantian selama 24 jam. Kain tersebut menjelma menjadi kanvas raksasa yang berisi lukisan dengan beragam ekspresi dan imajinasi setiap pelukis.
Tak hanya pelukis dan penari 24 jam, ratusan seniman dari berbagai daerah juga turut meramaikan Banyumas Ngibing 24 Jam. Proses penyelenggaraan acara ini melibatkan banyak kolaborasi dari berbagai komunitas seni yang terhubung melalui sistem terbuka yang disebarkan melalui media sosial. Melalui mekanisme tersebut, para peserta dari berbagai bidang seni, mulai dari seni tari hingga seni rupa mendaftar secara mandiri melalui Google Form yang telah disediakan. Dari proses pendaftaran tersebut, terkumpul 90 komunitas yang kemudian menampilkan 150 pertunjukan.
Salah satu penampil dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026, Nia, dari Sanggar Diwangkara Pemalang, menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka dalam acara ini merupakan hasil undangan langsung dari penyelenggara. Dalam kesempatan tersebut, Nia mengungkapkan bahwa salah satu tarian yang ditampilkan adalah Pararaten, yang merupakan singkatan dari Prajurit Jalanan Sintren. Tarian ini terinspirasi dari budaya sintren yang masih kuat di wilayah Pemalang.
Sementara itu, untuk keikutsertaan kategori penari 24 Jam, dilakukan dengan melakukan kurasi dari hampir lebih dari 30 peserta, hanya tiga yang terpilih. Di antaranya adalah Ari Rudenko dari Amerika Serikat, Baltazar Okka dari Tangerang, serta Cici dari Sumenep. Namun, Ari Rudenko batal berpartisipasi karena kelelahan setelah menjalani penampilan serupa di Solo.
Antusiasme masyarakat pun terlihat dari pagi sampai malam, pengunjung tetap silih berdatangan untuk menyaksikan Banyumas Ngibing 24 Jam. Salah satu pengunjung, Ibu Ismulyati, mengaku kehadirannya dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari didorong oleh keinginan sederhana untuk ikut berpartisipasi dalam menyukseskan acara tersebut. Meskipun datang sebagai penonton, ia merasa kehadirannya tetap menjadi bagian dari dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan seni ini.
Seorang pedagang di lokasi acara, Saiful, mengungkapkan bahwa Banyumas Ngibing 24 Jam Menari membawa dampak positif bagi pendapatannya dibandingkan hari biasa karena meningkatnya jumlah pengunjung saat acara berlangsung. Ia menilai kegiatan ini turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha kecil di sekitar area acara. Meski demikian, ia memberikan beberapa catatan untuk penyelenggaraan ke depan, seperti perlunya penambahan penerangan dan penyediaan tempat sampah yang memadai, mengingat hingga saat ini ia masih kesulitan menemukan fasilitas pembuangan sampah di lokasi.
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga wadah kolaborasi lintas seni yang melibatkan ratusan komunitas dan melahirkan lebih dari 150 pertunjukan. Antusiasme masyarakat yang terus mengalir sepanjang acara menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik sekaligus potensi besar sebagai identitas budaya Banyumas. Meski demikian, beberapa catatan seperti fasilitas penerangan dan kebersihan masih perlu menjadi perhatian untuk penyelenggaraan ke depan. Dengan semangat kolaboratif dan keberlanjutan yang dijaga, Banyumas Ngibing diharapkan dapat terus hidup sebagai ruang ekspresi seni yang terbuka dan berkelanjutan.
Editor: Artika Putri Kinanti
Reporter: Anindya Putri Palupi, Annisa Nur Hidayah, Annisa Dwi Rahman, Dwi Melani Novitasari, Hasna Nailah Ramadhani, Lovely Mozza Permata M. N, Ryu Athallah Raihan, Widyana Rahayu, Manda Damayanti, Resty Assyfa, Yunita Salsabilla Fitriani






