Dominasi Film Horor: Strategi Aman Mengikuti Selera Pasar?

Penulis: Jeni Rindi Afriska

Film kerap kali dibahas dalam perbincangan ringan antarteman, keluarga, maupun dijadikan sebagai topik pembicaraan ketika ingin mengenal orang baru. Apa saja film favoritnya, genre apa yang selalu dijadikan opsi pertama, atau film mana yang pernah ditonton lebih dari satu kali. Tanpa sadar, film telah menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari. Terlebih ketika terdapat film yang sedang booming dan semua orang berbondong-bondong segera menontonnya. Tak jarang para penikmatnya akan mengulas kembali mengapa akhir ceritanya harus sedemikian rupa dan mengapa alur yang ditampilkan harus begitu kompleks hingga membuat si pemeran utama mendapat akhir tak bahagia, dan sebagainya.

Secara sederhananya, film merupakan gambar bergerak yang diiringi suara dan bertujuan untuk menyampaikan emosi, pesan, serta isi cerita. Adapun beberapa genre yang sering disuguhkan yaitu berupa genre komedi, aksi, romansa, horor, drama, fantasi, misteri, biografi, dan masih banyak lagi. Dari banyaknya genre, terdapat salah satu genre yang berhasil menarik perhatian banyak orang dari seluruh penjuru negeri. Genre horor jawabannya. Genre horor mulai merajalela sejak dirilisnya film berjudul Jelangkung yang ditayangkan pada tahun 2000-an. Film ini sempat booming lantaran mengangkat unsur permainan tradisional tentang mitos pemanggilan arwah. Sebelumnya, lembaga perfilman sempat semu, tetapi film Jelangkung ini mampu membawa angin segar hingga kemudian dijadikan sebagai blueprint sebab eksekusi produksinya yang cukup baru di masa itu. Sembari mengangkat gambaran ritual yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat, produksi film ini mengandalkan atmosfer mencekam dengan memengaruhi psikologis penontonnya. Adegan teriakan, jeritan, hingga kematian misterius menjadi bagian penting di dalamnya.

Penyebaran informasi dari mulut ke mulut mempermudah akses film ini dijangkau ke banyak orang. Di masa itu, alat elektronik seperti smartphone masih jarang digunakan sehingga promosi film masih dilakukan secara sederhana. Namun seiring berjalannya waktu, banyak bioskop-bioskop mulai didirikan. Film-film baru mulai diproduksi dan ditayangkan secara luas, mempermudah tayangan-tayangan semacam ini berkembang menjadi lebih beragam. Perkembangan jumlah penonton mulai terlihat sejak tahun 2007. Sembilan tahun berlalu, genre ini berhasil meraup jumlah penonton di kisaran 21,3 juta. Peningkatan tajam hingga mencapai 110 juta penonton sempat terjadi dalam waktu tujuh tahun setelahnya atau lebih tepatnya 2017-2024. Persentase ini mencapai titik tertinggi yaitu 416,7% lebih banyak dari genre lain, menjadikan film horor sebagai genre paling mendominasi pada saat itu (Kompas.com, 2025).

Oleh karena itu, banyak produser-produser film yang ingin menerbitkan karya serupa. Permintaan pasar yang terus membludak memaksa produksi genre ini terus dilakukan tanpa henti. Dominasi yang terjadi pun tak bisa terhindarkan. Lalu, bagaimana nasib lembaga perfilman Indonesia jika hanya mengandalkan genre yang diinginkan pasar saja? Keragaman alur dan eksplorasi genre menjadi terpinggirkan dan genre horor semakin gencar diproduksi, melupakan fungsi utamanya sebagai media ekspresi dari berbagai perspektif lembar kehidupan masyarakat yang ada.

Pengaplikasian ini membuat produser hanya berputar-putar di posisi yang sama demi mencari aman dengan rangkaian yang selalu menguntungkan namun itu-itu saja. Maka dari itu, secara perlahan produksi film Indonesia akan monoton. Kreativitas yang disuguhkan pun tak lagi menggiurkan. Lambat laun, lembaga perfilman mengalami kemunduran. Di titik ini, semua orang akan mempertanyakan kembali, apakah produksi film hanya akan memfokuskan diri kepada suara penonton saja atau mengembangkan kembali kreativitas mereka di genre lain dan menciptakan keberagaman alur yang lebih terbarukan. Dominasi yang terlalu kental hingga menjadikan genre lain sebagai opsi terakhir menciptakan persoalan baru yang perlu digarisbawahi. Sebab, keserasian antara genre satu dengan yang lain merupakan kombinasi terbaik dalam suatu keberagaman kreativitas dalam dunia perfilman.

Maka, demi menghidupkan kembali dunia perfilman yang telah terlanjur seragam, perlu dilakukan penelitian lanjutan berupa survei menyeluruh kepada seluruh lapisan penonton. Namun, perlu diperhatikan bahwa tontonan yang disaksikan tidak hanya dalam ranah genre horor saja tetapi secara menyeluruh. Menurut data hasil survei oleh Lembaga Sensor Film pada tahun 2020 tentang distribusi genre, genre horor menempati posisi ke-2 lebih rendah 2,5% dari genre tertinggi yaitu drama (Lembaga Sensor Film, 2020).

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Penulis: Dwi Santika Sukmaningrum Di era globalisasi yang semakin mendunia, perkembangan teknologi bergerak secara masif. Pengaksesan…

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Penulis: Ryu Athallah Raihan A. Museum Wayang Banyumas Berdiri tenang di tengah kompleks pemerintahan, Museum Wayang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Hari Perlawanan di Banyumas: Buruh dan Mahasiswa Bersatu Tuntut Kesejahteraan Rakyat

Hari Perlawanan di Banyumas: Buruh dan Mahasiswa Bersatu Tuntut Kesejahteraan Rakyat

Modus Penipuan Berdalih Nazar Rugikan 7 Korban di Purwokerto, Penanganan Kasus Dipertanyakan

Modus Penipuan Berdalih Nazar Rugikan 7 Korban di Purwokerto, Penanganan Kasus Dipertanyakan

Proses Panjang Berujung Vonis Ringan, Keadilan Kasus Tahanan Politik Diperdebatkan

Proses Panjang Berujung Vonis Ringan, Keadilan Kasus Tahanan Politik Diperdebatkan

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Ketika Ilusi Menjadi Kebenaran: Resensi Film Now You See Me

Ketika Ilusi Menjadi Kebenaran: Resensi Film Now You See Me

Suara Bumi Martabat Jiwa: Spiritualitas dan Kreativitas dalam Banyumas Gamelan Festival

Suara Bumi Martabat Jiwa: Spiritualitas dan Kreativitas dalam Banyumas Gamelan Festival