Tiny but Mighty: The Matilda Story

Oleh: Fadila Nuraini

Matilda (Sumber: Pinterest)
Matilda (Sumber: Pinterest)

Identitas Film

Judul : Matilda

Genre : Fantasi, komedi, keluarga

Rating Umur   : Rated PG / Semua umur dengan pendampingan

Tahun Tayang : 1996

Sutradara : Danny DeVito

Produser : Danny DeVito, Michael Shamberg, Stacey Sher

Pemeran Inti : Mara Wilson (Matilda), Danny DeVito (Mr. Wormwood), Rhea Perlman (Mrs. Wormwood), Embeth Davidtz (Miss Honey), Pam Ferris (Miss Trunchbull)

Bahasa : Bahasa Inggris

Durasi : 98 menit

Orientasi

Di tengah banyaknya film anak-anak yang hanya berfokus pada hiburan semata, Matilda (1996) justru menawarkan sesuatu yang lebih dari itu. Film ini mungkin terlihat seperti tontonan ringan dengan sentuhan fantasi, tetapi sebenarnya menyimpan kritik sosial yang cukup tajam. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Matilda adalah salah satu film keluarga yang “cerdas” karena mampu menggabungkan humor, imajinasi, dan pesan moral dalam satu cerita yang utuh.

Menariknya, dibandingkan dengan versi musikal terbarunya, film Matilda tahun 1996 justru memiliki nuansa yang lebih gelap dan satir. Hal ini membuatnya terasa lebih “sederhana” sekaligus relevan, bahkan untuk ditonton kembali di masa sekarang. Film ini seolah mengajak penonton untuk melihat dunia dari sudut pandang anak—sebuah perspektif yang sering kali diabaikan.

Resensi

Catatan: Resensi ini mengandung spoiler.

Kisah ini berpusat pada Matilda Wormwood, seorang anak perempuan dengan kecerdasan luar biasa yang lahir dalam keluarga yang sama sekali tidak menghargai pendidikan. Orang tuanya, terutama ayahnya, lebih sibuk dengan penipuan bisnis dan obsesi terhadap televisi daripada memperhatikan anaknya sendiri.

Sejak kecil, Matilda telah menunjukkan ketertarikannya yang begitu besar pada buku. Ia belajar membaca secara mandiri dan menghabiskan waktunya di perpustakaan, menjadikan literasi sebagai bentuk pelarian sekaligus perlawanannya terhadap lingkungan yang mengekangnya. Di sinilah film mulai memperlihatkan bahwa pengetahuan bisa menjadi alat “pemberontakan”, bahkan bagi seorang anak.

Konflik mulai berkembang ketika Matilda masuk ke sekolah Crunchem Hall, yang dipimpin oleh Miss Trunchbull. Miss Trunchbull digambarkan sebagai tokoh otoritas yang represif dan penuh kekerasan. Ia menghukum murid dengan cara yang tidak manusiawi, menjadikan sekolah bukan sebagai ruang belajar, tetapi sebagai ruang disiplin yang mengerikan.

Jika dilihat melalui kacamata teori, film ini dapat dikaitkan dengan konsep relasi kuasa Michel Foucault, di mana institusi seperti sekolah berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Miss Trunchbull menjadi representasi kekuasaan yang menindas, sementara murid-murid diposisikan sebagai subjek yang harus patuh tanpa suara. Dalam konteks ini, Matilda hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem tersebut.

Menariknya, kemampuan telekinesis Matilda bukan sekadar kekuatan magis, tetapi dapat dibaca sebagai simbol kekuatan internal. Ia merepresentasikan bagaimana kecerdasan, keberanian, dan kesadaran diri dapat menjadi alat untuk melawan ketidakadilan. Perlawanan yang Matilda lakukan sangat strategis dan penuh perhitungan.

Di sisi lain, kehadiran Miss Honey menjadi titik kontras yang signifikan. Ia adalah tokoh dewasa yang penuh empati, yang melihat Matilda bukan sebagai “anak kecil”, tetapi sebagai individu dengan potensi. Relasi mereka menghadirkan harapan di tengah dunia yang keras.

Klimaks cerita terjadi ketika Matilda menggunakan kekuatannya untuk mengusir Miss Trunchbull dan mengembalikan keadilan, termasuk membantu Miss Honey mendapatkan kembali haknya. Momen ini terasa seperti kemenangan simbolik—bukan hanya bagi Matilda, tetapi bagi semua anak yang selama ini dibungkam.

Matilda (Sumber: Pinterest)
Matilda (Sumber: Pinterest)

Ulasan

Dari segi karakter, Matilda menghadirkan tokoh-tokoh yang cenderung berlebihan, terutama keluarga Wormwood dan Miss Trunchbull. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Karakter yang berlebihan ini berfungsi sebagai bentuk satir terhadap realitas, di mana tokoh tersebut menggambarkan bagaimana orang dewasa bisa menjadi tidak rasional ketika memegang kuasa.

Matilda sendiri tampil sebagai karakter yang relatif “tenang”, tetapi kuat secara intelektual dan emosional. Ia bukan tipikal protagonis yang heroik secara fisik, melainkan melalui kecerdasannya. Ini menjadi nilai tambah karena jarang film anak-anak menempatkan intelektualitas sebagai kekuatan utama.

Secara visual, film ini memiliki gaya yang khas yaitu karikatural—sedikit surealis dengan tone warna yang kontras. Penggunaan angle kamera dan komposisi gambar sering kali dibuat tidak proporsional untuk menekankan perspektif anak terhadap dunia orang dewasa yang terasa “besar” dan menekan.

Namun, pendekatan yang karikatural ini juga bisa menjadi kelemahan. Bagi sebagian penonton, karakter yang terlalu dilebihkan mungkin terasa kurang realistis dan mengurangi kedalaman emosi cerita. Selain itu, konflik yang diselesaikan dengan cara yang relatif cepat di bagian akhir bisa terasa kurang eksploratif.

Meski begitu, Matilda tetap relevan hingga saat ini. Film ini mengingatkan bahwa anak-anak bukan sekadar individu yang harus diatur, tetapi juga didengar. Bahwa kecerdasan dan keberanian, sekecil apa pun bentuknya, dapat menjadi alat untuk melawan ketidakadilan.

Pada akhirnya, Matilda menyampaikan satu hal sederhana namun penting:
Bahwa terkadang, perubahan besar justru dimulai dari mereka yang selama ini dianggap tidak memiliki kuasa.

Analisis Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kelebihan utama film Matilda terletak pada karakter utamanya. Matilda bukanlah tokoh anak-anak yang bergantung pada orang lain, melainkan sosok yang mandiri, cerdas, dan berani. Ia membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu berasal dari fisik, tetapi juga dari pikiran. Hal ini menjadi nilai lebih, terutama di tengah banyaknya film anak yang cenderung menampilkan protagonis secara klise.

Selain itu, film ini juga kuat dalam menyampaikan kritik sosial. Jika dilihat lebih dalam, Matilda bercerita tentang relasi kuasa antara anak dan orang dewasa. Dalam konteks ini, pendekatan teori Michel Foucault tentang kekuasaan bisa digunakan untuk membaca film ini. Sekolah dan keluarga dalam Matilda digambarkan sebagai institusi yang memiliki kontrol besar terhadap anak. Di sinilah Matilda hadir sebagai simbol perlawanan.

Dari segi visual, gaya penyutradaraan Danny DeVito cukup unik. Ia menggunakan sudut kamera yang tidak biasa dan tone warna yang kontras untuk memperkuat suasana. Dunia orang dewasa terlihat berlebihan dan menekan, sementara dunia anak terasa lebih hidup dan penuh imajinasi. Pendekatan ini membuat penonton lebih mudah memahami perspektif Matilda.

Namun, film ini bukan tanpa kekurangan. Karakter antagonis seperti Miss Trunchbull dan orang tua Matilda digambarkan terlalu berlebihan, bahkan cenderung tidak realistis. Meskipun hal ini dapat dipahami sebagai bentuk satir, bagi sebagian penonton, penggambaran karakter ini mungkin terasa kurang lembut.

Selain itu, penyelesaian konflik di bagian akhir terasa cukup cepat. Beberapa peristiwa penting seolah diselesaikan tanpa eksplorasi yang mendalam, sehingga mengurangi potensi emosional yang sebenarnya bisa lebih kuat.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Secara keseluruhan, Matilda (1996) adalah film yang layak ditonton oleh anak-anak dan orang dewasa. Film ini berhasil menggabungkan hiburan dengan pesan yang bermakna, terutama tentang pentingnya pendidikan, empati, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan.

Lebih dari sekadar film keluarga, Matilda mengingatkan bahwa anak-anak juga memiliki suara yang perlu didengar. Bahkan, dalam kondisi yang tidak ideal sekalipun, mereka tetap mampu berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan.

Jika kamu mencari film yang ringan tetapi tetap memiliki makna, Matilda adalah pilihan yang tepat. Film ini mengajak penonton untuk berpikir ulang tentang bagaimana kita memandang anak-anak. Pada akhirnya, Matilda menunjukkan satu hal sederhana: Bahwa terkadang, perubahan besar justru dimulai dari mereka yang selama ini dianggap kecil.

Editor: Azmi Layaliya Nauro

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Oleh: Novela Virginia C. Di tengah kehidupan yang serba cepat, membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang…

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Oleh: Farah Fauziah Identitas Film Judul : The Witch  Sutradara & Penulis Skrip : Robert Eggers…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Tiny but Mighty: The Matilda Story

Tiny but Mighty: The Matilda Story

Lidah Sembap di Kampung Halaman

Lidah Sembap di Kampung Halaman

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran