Oleh: Muhamad Ade Ravi
aku hidup pada sebuah pentas yang entah bila usai, rupanya yang duduk di sanalah
Si Pembuat Panggungnya; ia membual, tertawa, kemudian tampil layaknya pahlawan
i. (bermula)
seorang ayah mendera keluarganya,
sorang ibu membunuh dirinya,
orang anak menukarkan mimpinya,
sang pemimpin membumihanguskan negaranya
di mana bebercak darahnya?
mengapa hanya perjalanan yang bersua neraka?
aku berperan,
yang ia bernapas dengan air mata orang lain,
lengannya dijadikan makan siang
kakinya disantap nanti malam
oh … empuknya ranjang mereka
politik enggan lengah berzina ria
melahirkan anak-anak yang besar; mulut serta nafsunya
ii. (sejenak)
Si Pembuat Panggung kini berada di sebelahku,
ia tak henti merepet—
di atas manisnya taki yang sebulan lagi terkilah
di tempat pengorbanan telah menjadi Hotel Prodeo
di ladang perjuangan yang menyilam dari asalnya
kematian tak lagi berwujud manusia
terkadang nurani; yang terjual lewat segenggam rupiah
menanggalkan busuk tak teraba kehidupan
makan diberi mengabaikan kesehatan yang telah terbagi
pendidikan dibeli, mengapa pegawai negeri merugi?
jabatan pun penuh diduduki tapi rakyat basah diludahi
iii. (menanti)
doa seakan kehilangan kompasnya
meja makan tak lagi penuh suka cita
malam datang dengan wujud yang lain;
gelap, ini lebih gelap dari cerita ibuku dulu
“gelap sebelah mananya? wong cerah begini,”
tidak tuan, bukan itu maksudku
tapi panggung ini, mengapa tubuhku terhuyung sana sini
tatapan mereka kosong melihatku
tepuk tangan mereka tidak lagi semarak
keputusan apa yang telah kauubah?
engkau … membual lagi!
aku bertahan dan dipaksa berkembang di ambang kemusnahan
dihantui penantian tentang,
“akankah panggung ini segera selesai atau justru makin megah?”






