Oleh: Lintang Fitriana

Ilustrasi: Tsabita Ishmahnanda P.
Ilustrasi: Tsabita Ishmahnanda P.

Seonggok jasad tak bertuan,
Sang pemerjuang kebebasan,
Ia bercita-cita akan kesetaraan.
Malam ini, ia meratap dari balik kuburan,
Dulu, tekadnya menyala akan perubahan.

Namun malam ini ia menyaksikan,
Betapa pilu tanah yang dulu ia perjuangkan.
Bendera masih berkibar gagah,
Suara rakyat tenggelam dalam gaduh kuasa,
Mimpi kemerdekaan seakan tinggal cerita.

Ia menyaksikan,
Seorang ayah menghabiskan siang dan malam
Di bawah cahaya lampu redup.
Jarum dijalankan bukan untuk hidup,
Melainkan hanya menunda kematian.

Ia menyaksikan,
Seorang ibu mengiris lapar,
Menyembunyikan nyeri di balik sabar,
Demi anak agar bisa makan,
Lalu merajut kembali harapan yang tersisa semalam.

Ia menyaksikan,
Seorang ibu mengiris lapar,
Menyembunyikan nyeri di balik sabar,
Demi anak agar bisa makan,
Lalu merajut kembali harapan yang tersisa semalam.

Ia menyaksikan,
Biaya sekolah menjelma palu,
Menghantam tengkorak keluarga tiap bulan,
Sementara mimpi mereka dilahap kerakusan,
Menyisakan harap tak berhilir.

Ia menyaksikan,
Seorang perempuan masih terhina,
Oleh mata birahi yang menjeling liar,
Tubuhnya dianggap sebuah panggung,
Suaranya lenyap dalam paradigma semu.

Di lain tempat, ia menyaksikan,
Para pembesar duduk di kursi dewan,
Menenggak hak rakyat seperti anggur murahan,
Tuturan mereka penuh dusta,
Kesejahteraan hanyalah fiksi belaka.

Ia menyaksikan,
Ini bukan tekad yang dulu ia perjuangkan.
Bagaimana bisa mereka menyebut kemerdekaan,
Jika rakyat dikutuk lapar,
Sementara para pembesar menikmati jamuan?

Ia menangis di akhir malam,
Meratap pilu atas semua kebobrokan,
Dan ia bertanya dalam sunyi:
Kapankah indah pelangi akan sampai di bumi?
Kapankah hangat mentari menghempas keji?