Oleh: Velen Candra Nadia
Identitas Buku
Judul Buku : Laut Bercerita
Pengarang : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2017
Cetakan : ke-88
Tebal Buku : 379 halaman; 13.5 x 20 cmISBN : 978-602-424-694-5
Resensi
Leila S. Chudori, seorang penulis terkenal berkebangsaan Indonesia dikenal atas karya-karyanya yang seringkali menyoroti isu-isu sosial dan politik dengan emosi yang mendalam. Perempuan kelahiran 1962 ini mulai memublikasikan karyanya saat berusia 12 tahun. Salah satu mahakarya yang sudah berhasil dicetak sebanyak 100 kali pada Juli 2025 adalah Laut Bercerita, sebuah buku yang berhasil menyentuh nurani banyak pembaca. Novel tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 2017 oleh Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta.
Laut Bercerita adalah sebuah novel yang berani membuka luka lama dalam sejarah bangsa Indonesia. Mengisahkan tentang perjuangan, harapan, dan keadilan yang tak pernah berdiri tegak di masa Orde Baru. Laut Bercerita juga mengangkat tema persahabatan, keluarga, cinta, perjuangan, dan kehilangan. Selain menyajikan fakta sejarah, buku ini berisi narasi yang menggugah dan memungkinkan pembaca untuk ikut merasakan ketegangan yang dialami aktivis muda pada masa Orde Baru, serta kepedihan keluarga yang ditinggalkan. Melalui sudut pandang yang berbeda, Leila S. Chudori berhasil menciptakan emosi yang kompleks, antara keberanian, kengerian, dan kerinduan yang tak terhingga.
Cerita dalam novel ini berpusat pada Biru Laut, seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang penuh idealisme dan semangat untuk mengubah bangsa menjadi tanpa ada batasan dalam memperjuangan keadilan. Ia aktif dalam gerakan-gerakan yang mendukung demokrasi, berdiskusi tentang masa depan bangsa, dan menghadapi ancaman penangkapan bersama teman-teman seperjuangannya, seperti Kinan, Alex, Daniel, dan Sunu. Mereka adalah pemuda-pemudi yang berani menyuarakan kebenaran di tengah gejolak pemerintahan dengan harapan dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun, tujuan mulia mereka harus diruntuhkan oleh kenyataan pahit ketika Laut dan beberapa rekannya tiba-tiba menghilang tanpa jejak, diculik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, dan ditendang agar menjawab pertanyaan yang dilayangkan.
Setelah peristiwa penculikan yang tragis, novel Laut Bercerita juga menceritakan perjuangan Asmara Jati, adik Biru Laut. Asmara adalah orang yang tak pernah menyerah mencari keberadaan kakak dan para aktivis lainnya yang dihilangkan secara paksa. Asmara bersama Tim Komisi Orang Hilang bekerja sama mencari jejak para aktivis yang hilang. Beberapa aktivis ada yang dipulangkan, sedangkan yang lainnya belum ada kejelasan hingga sekarang. Keluarga aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Melalui Asmara, pembaca dapat melihat sisi lain tragedi penghilangan paksa, yaitu kesedihan keluarga yang tak pernah tahu bagaimana nasib orang yang mereka cintai, trauma yang menghantui selama bertahun-tahun, dan harapan yang tak pernah padam. Bagian ini menyoroti dampak dari penghilangan paksa yang tidak hanya terjadi bagi korban, tetapi juga bagi orang-orang terdekat mereka.
Novel Laut Bercerita meninggalkan pesan yang mendalam dan tak mudah dilupakan. Salah satunya adalah pesan untuk tidak melupakan sejarah. Leila S. Chudori mengingatkan kita bahwa ada begitu banyak kisah yang harus dikenang, terutama kisah-kisah mereka yang berjuang demi keadilan. Laut Bercerita menjadi pengingat bahwa kebebasan yang kita nikmati saat ini adalah hasil pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Ketabahan dan sikap pantang menyerah juga menjadi sikap yang harus selalu dimiliki semua orang. Novel ini berhasil membangkitkan empati, memicu pertanyaan, dan mendorong refleksi tentang keadilan, hak asasi manusia, serta arti sebuah kebebasan.
Riset yang mendalam menghasilkan cerita yang detail dan kuat. Dalam novel Laut Bercerita, Leila mengatakan bahwa ide menulis novel ini lahir pada tahun 2008, ketika Leila meminta Nezar Patria—seorang wartawan, aktivis, dan juga penyair—untuk menuliskan pengalamannya saat diculik pada Maret 1998. Penulis berkeinginan menuliskan cerita tentang para aktivis yang diculik, yang kembali dan tak kembali, serta tentang keluarga yang sampai sekarang mencari jawaban. Setelah itu, pada 2013 Leila mulai menulis Laut Bercerita dengan mewawancarai banyak narasumber lainnya.
Leila S. Chudori tidak sekadar menulis ulang sejarah, tetapi juga memberikan emosi pada setiap karakter dalam novel Laut Bercerita. Pembaca dapat merasakan pandangan hidup Laut, ketakutan yang menghantui, dan kesedihan yang dirasakan keluarganya. Gaya cerita yang bergantian antara sudut pandang Laut dan adiknya, Asmara Jati, menjadikan novel ini terasa utuh. Meskipun menceritakan peristiwa-peristiwa yang brutal, tetapi bahasa yang digunakan tetap indah dan puitis.
Laut Bercerita memiliki alur cerita maju mundur, sehingga dapat membingungkan jika pembaca tidak fokus. Di tengah cerita perjuangan para aktivis, secara tiba-tiba terselip adegan intim. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang urgensinya dalam novel Laut Bercerita yang sebagian besar mengenai perjuangan politik. Adegan tersebut kurang sejalan dengan tema yang diangkat dan berpotensi mengurangi pesan yang ingin disampaikan.
Pada akhirnya, Laut Bercerita adalah sebuah novel yang didedikasikan untuk mereka yang telah berkorban. Sebuah panggilan untuk tidak pernah membungkam kebenaran. Laut Bercerita tidak hanya mengedukasi pembaca tentang sejarah kelam, tetapi juga menginspirasi untuk terus berjuang demi keadilan dan kemanusiaan. Hadirnya buku ini tidak hanya sebagai pengingat masa lalu kelam, tetapi juga sebagai panduan untuk masa depan yang lebih terang.






