The Banshees of Inisherin: Renungan Kehilangan serta Rasa Kesepian

Oleh: Nur Laela

Identitas Film
Judul​​: The Banshees of Inisherin
Sutradara​: Martin McDonagh
Produser​: Graham Broadbent, Peter Czernin, Martin McDonagh
Skenario​: Martin McDonagh
Pemain​​: Brendan Gleeson, Colin Farrell, Kerry Condon
Genre​​: Drama, Komedi
Produksi​: Metropolitan Films, Blueprint Pictures, Fox Searchlight Pictures (US)
Tahun​​: 2022

“The Banshees of Inisherin” merupakan film drama komedi tahun 2022 garapan Martin McDonagh, sutradara yang dikenal dengan karya-karya uniknya karena sering kali menggabungkan elemen komedi hitam dengan tema-tema yang cukup kompleks. McDonagh telah mendapat banyak penghargaan dan pujian atas karyanya di dunia teater dan film. Begitu pula dengan karyanya yang satu ini. “The Banshees of Inisherin” berhasil mendapatkan sembilan nominasi dalam Oscars 2023, salah satu acara penghargaan tertinggi dalam industri film di seluruh dunia.

​Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, McDonagh mengangkat tema yang dapat dibilang cukup sederhana. “The Banshees of Inisherin” dimulai ketika Pádraic (Colin Farrell) pergi mengunjungi sahabatnya, Colm (Brendan Gleeson), untuk mengajaknya ke pub seperti biasa. Namun, hari itu Colm tak kunjung membukakan pintu, ia hanya duduk sambil merokok tanpa memedulikan sahabatnya yang tengah memanggilnya dari luar rumah. Pádraic pun heran akan sikap sahabatnya yang bertindak seolah-olah keduanya tengah bertengkar. Pasalnya, keduanya masih berbincang seperti biasa di malam sebelumnya, menghabiskan waktu di pub hingga larut malam. Ketika Pádraic bertanya kepada kakaknya mengenai sikap sahabatnya itu, dijawablah oleh kakaknya dengan lelucon, “Mungkin dia tidak lagi menyukaimu.” Ternyata lelucon tersebut berubah menjadi hal yang mengerikan. Tak lama setelah itu, Colm menegaskan kepada Pádraic agar tak lagi berbicara maupun mengusik hidupnya. Untuk membuktikan tekadnya yang sungguh-sungguh, ia mengancam bahwa setiap kali Pádraic berbicara dengannya, ia akan memotong salah satu jarinya yang mana merupakan aset berharga mengingat Colm seorang violinis. Pádraic yang menganggap bahwa ancaman tersebut hanya lelucon belaka tetap mengganggu hidup Colm. Colm yang kesal pun membuktikan bahwa ancaman tersebut bukan hanya gertakan semata.

​“The Banshees of Inisherin” memang memiliki premis yang sederhana, tetapi tetap berhasil dikemas dengan apik dan unik. Atmosfer filmnya, yang saat itu, merupakan tahun 1923 di mana sesekali terdengar suara peperangan dari kejauhan menambah kesan intens. Penggambaran latar di sebuah pulau fiktif bernama Inisherin yang sesekali terlihat betapa indah dan damai membuat penonton terpukau. 

​McDonagh berhasil membuat penonton merasakan simpati kepada Pádraic yang saat itu ditinggal oleh sahabatnya secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Penggambaran tokoh Pádraic yang tengah dilanda kesepian dan tetap berusaha memperbaiki hubungannya dengan sahabatnya, cukup menguras emosi. Penonton dapat merasakan seberapa sepinya hidup manusia tanpa orang-orang terdekat.

​Film ini bukan hanya sekedar mengisahkan perpisahan kedua sahabat, melainkan juga menggambarkan bagaimana kehilangan seseorang dapat memberikan dampak serta konsekuensi yang cukup besar bagi hidup seseorang. Selain itu, film ini juga menceritakan bagaimana rasa kesepian dan kehilangan membuat orang tersebut melakukan hal-hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

​Sayangnya, film ini memiliki alur yang cukup lambat meski hal ini dimaksudkan untuk pengembangan karakter dan suasana film. Namun, bagi sebagian penonton, cerita yang lambat dapat membuat mereka merasa bosan atau kehilangan minat pada film. Premis yang cukup sederhana juga akan terasa klise bagi beberapa penonton. Selain itu, penggambaran suasana kesepian serta kesedihan oleh karakter seperti Pádraic, mungkin juga kurang cocok bagi beberapa penonton.

​Meskipun demikian, “The Banshees of Inisherin” tetap menjadi sebuah karya seni yang layak dinikmati. Film ini tidak hanya mengisahkan perpisahan kedua sahabat, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang nilai persahabatan, kehilangan, dan pengaruhnya dalam hidup seseorang. Dengan emosional dan pesan yang mendalam, film ini meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi para penontonnya.

​​​​​​​​Editor: Gauri Indah Sukmawati

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Oleh: Alika Zahwa Irma Litania Identitas Film Judul : Swapped  Sutradara : Nathan Greno Penulis Skrip…

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

Oleh: Salwa Aulia Balqis Dalam perkembangan peradaban modern, ilmu pengetahuan adalah kompas yang menuntun suatu bangsa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital

Kilas Balik Aksi Tuntutan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Kilas Balik Aksi Tuntutan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Ngopi Bareng Rektor, Mahasiswa Unsoed Tagih Kejelasan Janji Rektorat

Ngopi Bareng Rektor, Mahasiswa Unsoed Tagih Kejelasan Janji Rektorat

Kisah Para Raja

Kisah Para Raja