TikTok Shop Menghancurkan Penjualan Lokal

Oleh: Mar’atul Mu’ayadah

Ilustrasi: April Melani

TikTok merupakan aplikasi asal Tiongkok yang berisi cuplikan video pendek dari para konten kreator. Di Indonesia sendiri, TikTok telah menjadi salah satu media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat. Laporan firma riset Statista menunjukkan bahwa jumlah pengguna aplikasi satu ini di Indonesia mencapai 113 juta per April 2023. Hal ini membuktikan bahwa aplikasi TikTok sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Terkenalnya TikTok di masyarakat membuat banyak konten kreator mulai mempromosikan produk milik mereka sendiri. Konten kreator juga bisa melakukan endorse sebuah produk. Tampilan yang menarik serta durasi yang pendek membuat banyak orang mulai tertarik dengan produk yang dipromosikan. Promosi dengan menggunakan TikTok kini telah menjadi tren di perusahaan-perusahaan besar. Mulai dari kosmetik, pakaian, makanan, bahkan hal remeh seperti jepitan rambut atau jamu tradisional mulai dipromosikan di sana. Tak lama ini, tepatnya pada tanggal 17 April 2021, TikTok di Indonesia secara resmi mulai meluncurkan fitur terbaru yang dinamakan dengan TikTok Shop. 

Fitur TikTok Shop merupakan fitur baru yang memudahkan para pengguna untuk mendapatkan produk yang mereka butuhkan. TikTok Shop juga memungkinkan para penjual untuk menampilkan produk mereka dengan cara yang lebih mudah. Kebiasaan saat pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat malas keluar rumah membuat fitur ini sangat membantu. Kelebihan lain adalah adanya diskon yang membuat harga barang kebutuhan sehari-hari jauh lebih miring dibandingkan dengan harga di pasar. Hal ini tentu membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan barang yang mereka inginkan. Para pengusaha hanya perlu mencari konten yang sedang hangat untuk dijadikan bahan promosi produk mereka. Selain itu, media promosi berupa video atau streaming dapat membuat para pembeli mengetahui kualitas barang serta membelinya tanpa ragu. Beberapa produk juga bisa mendapat testimoni langsung dari para influencer sehingga makin meyakinkan pembeli terutama kaum hawa untuk menghabiskan uang mereka di aplikasi berbasis China tersebut. Peningkatan unduhan serta pembelian di aplikasi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar utama yang diandalkan oleh perusahaan Tiktok di bawah naungan ByteDance. Data yang dirangkum Firma Riset Cube Asia menunjukkan bahwa TikTok Shop di Indonesia dapat mencapai lebih dari US$2,5 miliar atau Rp37,2 triliun pada tahun 2022. 

Apabila ada kelebihan pasti ada kekurangan. Ungkapan itu tentu berlaku untuk semua kejadian di dunia termasuk hadirnya fitur TikTok Shop di Indonesia. Banyaknya transaksi jual beli di platform tersebut ternyata berimbas terhadap rantai ekonomi di pasar. Para pedagang mulai mengeluhkan sepinya pengunjung dan dagangan mereka yang tidak laku. Pedagang yang sedari awal menggantungkan mata pencaharian dari pasar mulai resah begitu pasar mulai sepi pembeli karena mereka beralih ke TikTok Shop. Tidak hanya TikTok Shop, aplikasi lain seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada juga memiliki banyak penggemar karena harga barangnya yang murah. Hal ini membuat pedangan mulai membuat protes dengan memaksa pemerintah menutup TikTok Shop yang dianggap merugikan pedagang. Protes para pedagang ini tentu mengundang perhatian netizen Indonesia. Mereka memberikan beberapa saran dan bahkan mendukung kegiatan protes tersebut. 

Protes pedagang itu tidak hanya didasari oleh sepinya pasar. Pedagang sudah mencoba untuk mengikuti perkembangan zaman dengan melakukan live streaming di TikTok Shop atau platform lain. Namun, hasilnya masih sepi dan hanya menambah pengeluaran karena harus membayar kuota. Alasan dibalik sepinya penonton live streaming adalah banyak influencer atau artis yang juga mengadakan live streaming sehingga masyarakat lebih tertarik kepada mereka. Protes yang dilakukan ini membuahkan hasil dengan ditutupnya fitur TikTok Shop. Penutupan fitur TikTok ini berdasarkan pada wawancara dengan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pada Senin, 25 September 2023. “Sudah disepakati. Pulang ini revisi Permendag No.50/2020 akan kita tandatangani.” 

Sebenarnya, penutupan fitur TikTok Shop belum menjamin bahwa pasar akan menjadi ramai seperti semula. Beberapa orang kehilangan pekerjaannya karena ditutupnya fitur ini. Selain itu, ada banyak e-commerce yang membuat sistem live streaming tetapi gulung tikar karena murahnya harga di TikTok Shop dan banyaknya produk impor yang tidak tercatat melalui penjualan di aplikasi tersebut. Belum lagi banyak yang menyatakan bahwa algoritma TikTok telah dibuat sedemikian rupa sehingga penonton dengan mudah menemukan benda atau barang yang sedang mereka telusuri. Harga yang ditawarkan juga lebih murah dibandingkan di pasar yang membuat dagangan di TikTok Shop lebih banyak dipilih. Hal ini membuat pemerintah resmi menutup fitur TikTok Shop.

Media sosial memang menjadi sesuatu yang melekat dalam kehidupan masa kini. Semua harus beradaptasi dan mengikuti arus atau akan tertinggal dan terseret ke dalam besarnya gelombang globalisasi. Pedagang pasar memang sudah mencoba beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Namun, mereka dihentikan dengan hukum dalam media sosial yang mana orang terkenal akan selalu mendapat perhatian. Model yang cantik atau tampan, mempunyai nama yang telah dikenal, dan harga produk yang murah merupakan faktor yang cukup untuk mematikan pasar dan para pedagang di dalamnya.

Editor: Zahra Nurfitri Laila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *