Pria yang selalu Menatap Jalan

Ilustrasi : Yenny Fitri K

Ilustrasi : Yenny Fitri K

Oleh : Supriono

ENTAH sejak kapan pria itu duduk di pos ronda. Aku memandanginya dari sudut jendela kamar rumahku, Ia sama sekali tak aneh. Wajahnya tak kumal tak pucat pula, Ia nampak  selalu memandangi jalan. Sesekali Ia hanya mengedipkan matanya yang tak memancarkan beban maupun harapan.

Rumahku tak terlalu jauh dari pos ronda itu, hanya berapa belas langkah belaka. Sepanjang waktu luangku sesaat ku rebahkan diatas dipan kamarku. kupandang jendela kamarku yang selalu kubuka saat surya tak temaram. Tetapi lagi, Aku dapati pria itu terduduk di situ dan Ia masih selalu menatap ke arah jalan. Sesekali nampak Ia mengganti posisi duduknya, meluruskan kedua kakinya yang jenjang, sesekali mengayun-ayunkan kedua kakinya pula. Orang tuaku tak pernah memberi tahu siapa pria itu, tetapi aku enggan untuk beranjak. Nuraniku terkoyak lampau bergejolak siapa sesunggguhnya pria yang selalu menatap ke arah jalan itu.

Sampai pada suatu petang sehabis ba’da magrib saat bulan purnama di pertengahan bulan Saban, tanpa sadar, mataku masih terpaku pada pria yang selalu menatap jalan itu dengan secarik kertas yang digenggamnya erat di tangan kidalnya. Berkali-kali Ia memandangi secarik kertas yang Ia pegangi. Raut mukanya nampak serius, entah apa yang Ia pegang entah surat atau wasiat yang sampai sekarang tak bisa aku menjabarkannya dari kejauhan mata menerawang.

Malamnya aku punya pelbagai pertanyaan memenuhi benak ini, kubuka kembali jendela seraya mencari pria yang duduk digardu itu. Siapa sebenarnya Ia dan apa sebenarnya yang Ia tengah lamuni, sampai selarut itu Ia masih tetap memandangi jalan….

***

Sudah berhari-hari ku menunggumu, ku bersimpuh berteduh lusuh di sini. Sebenarnya kau itu ciptaan Tuhan yang seperti apa, kau itu bagaikan gunung es. Aku terpesona, aku terperanga samar-samar coba kuperdayakan daya ingat ini. Aku ingin berteriak, benak yang menyeruak, tetapi mulutku bisu, lidah ini kelu. Susah payah kujabarkan kau rupanya tak kunjung beranjak, jangan kau biarkan aku muak.

Larik-larik epik di secarik ini fardhu ain untuk kau tahu. Ku ayunkan suku kata. Dasar gunung es kau aku terkekeh-kekeh sendirian seraya menggelengkan jidad. Susah sekali ku menafsirkan kau ini gunung es macam apa. Nampaknya mulai larut, aku harus bergegas pulang sebelum simbok membuncahkan kasih sayang dalam amarahnya.

Selongsong kelopak inderaku terarah pada lampu bohlam dengan daya 2,5 watt  diseberang jalan perdikan itu, berpijar perlahan memudar samar sebelum putus di dalam senyap gulita, dan kuanalogikan dirimu di dalam bohlam sejempol kaki manusia itu, antara menyala dan tidak menyala. Sama persis fikirku, tak menggelinjang sedikitpun.

Sial, nampaknya kabut mulai turun membuat kaos spandekku mulai basah dan kulitku mengkerut kedinginan. Sebenarnya aku masih betah disini, aku harus cepat pulang, gunung es itu tak kunjung datang menghampiri, sudahlah aku bergegas pulang sembari menepuk jidad, nampaknya bandar rugi besar lagi.

***

Aku terbangun dari lelap, udara serasa dingin sekali nampaknya kabut mulai turun, aku lupa menutup jendela tadi sore, arah jarum jam sudah menuju angka setengah satu malam. Kusingkapkan selimut, lanjut menguap sesaat. Aku berdiri terpogoh-pogoh hendak menutup jendela yang keduanya masih terbuka satu sama lain.

Aku tertegun dan melamun sesaat begitu indah candra dari pelbagai keagungan Tuhan, terkagum dalam bias senyum. Siraman sinar rembulan nifsu Saban membuatkan tak kuasa menitikan air mata, sungguh ini bukan air mata buaya, ini air mata dari sepasang kelopak mata anak manusia belaka, tak kurang dan tak lebih.

Sungguh mungkin karena candra ini, pria yang selalu menatap jalan itu untuk tetap kerasan menempati pos ronda yang usang itu. Aku tak memungkiri aku pun mencintai candra itu, tak hanya pria yang selalu menatap jalan itu…

Siraman sinar rembulan dan taburan bintang bima sakti membuatku larut, tak terasa aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk  sekadar berkontemplasi tanpa isi, “ah sial lama-lama aku laiknya pria yang selalu menatap jalan itu, sungguh,” gerutuku dalam hati. Udara tengah malam ini tak sehat dan membahayakan nafasku kelak yang telah lama paruku derita asma akut ini.

***

Ada yang aneh di petang ini kemana riwayat pria itu, sungguh hal yang ganjil aku tak memergoki lagi wujud raganya. Kini pos ronda itu sepi bak tak terjadi apa-apa. Gaung seribu tanya bergema, ah tak santun sekali aku penasaran akan kemana perginya pria yang selalu menatap jalan itu, tapi sungguh aku tak naif,  aku bertanya-tanya padanya walaupun entah Ia datang dari antahbrantah.

Pagi ini aku berlanjut menelusuri dapur untuk membuat coklat panas yang aku menaruh kasih untuk selalu ku tenggak. Ada yang ganjil, kudengar adanya pergunjingan antara ayah dan ibu, mereka sedang membicarakan pria muda yang selalu menatap jalan itu, disparitas memintaku untuk beranjak mendekat. Ku dengar baik sahut timpal klausa ayah dan ibu yang selalu menceracau pronomina Ia (baca: pria yang selalu menatap jalan).

Aku tahu siapa pronomina yang dimaksud itu (baca: pria yang selalu menatap jalan). Ia tak lain adalah putra semata wayang anak si pengepul biji kemiri dari Dukuh Panjang Wetan itu, Ia anak si Sukendro. Mashur ku camkan perkataan si Wida sore itu, sehabis ngaji Nahwu-Sorof bersama Gus Mamun di TPQ Al Sukron.

Kini aku tahu pronomina itu (baca: pria yang selalu menatap jalan). Ia selalu duduk di pos ronda itu untuk apa dan tujuannya, kini bias. Bias tak ada sekat yang membelit sudah, mengaliri yang lain tanpa cela.

***

“Bapak, emak, kasih aku kelonggaran masa untuk beberapa saat, jangan kau turuti hawa prasangka, menghukum putramu ini,” tutur ku memelas.

“Tidak ada lagi alasan ulasan yang bertele-tele, harimu sudah datang nak, kau sudah menjemput takdirmu, berbesar hatilah jangan kau mengutuk semua ini, kau harus terima seluruh ganjaran ini semua. jangan sekali-kali kau berpaling, apa lagi kau menoleh kebelakang,” papar ayahku mengajari dengan mendidik.

“Tapi…..,”   sambungku cepat.

“Jangan  kau muntahkan seribu bahasa itu nak, kalau nak kau muntahkan, muntahkan air matamu saja,  bergegaslah hari besarmu sudah datang, lekaslah kau bawa ikat bekal itu. Bapak Sukendro dan Ibu Sukendro selalu mencintaimu,” pungkas Ibu.

******

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses oleh pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com