Pojok Usang Ruang Istimewa

Oleh: Susilo Fathurrokhman

Belantah, buta, dan menyal mereka melangkah

Cegak? Mungkin secuil

Langkah menunggik seolah tidak mereka

Persil lapang nan subur minta di tanduri pohon emas

Pasir, liat, kapur, lumpur, gambut, ah semua sama

Benamkan benih pada persil lapang!

Ambil hara lalu siramkan!

Percikkan air biar pucuk akar bersemi-semi

Rimbunkan akar, kekarkan batang, jalarkan daun

Loyokan gandar buah biar lasuh dipetik

Buah anom tak sekala tak memincut

Adakala si anom bak lingkaran kafi

Ranum buah pun jadi cita

Akhirnya Si ranum terkudung dari gandarnya

Semua teriak makbul, padahal semu!

Lucut karena lotak bahkan mumuk

Lalu apa? Jumput si ranum yang merdesa!

Imbu para anom hingga purna

Pemanen mulai temperas, terseok, bahkan keok

Satu persatu runtuh, amblas, dan menguap

Ceceran hasrat dan gairah mencuat lagi

Tak perlu lah cakap cakap

Penting mampu singset dengan aspraknya

Buat memintas momok esok-esok hari

Ah lagi lagi Si anom dipaksa ranum kilat

Buat menyadur persil lapang tadi

Tak hanya pojok, jiran juga iya

Acuh saja biar tak seperti bena

Geming, degap bukan deging

Menimba dengan cucur tak mustahak tak hirau

Sempurna hanya milik akmal

Ah mungkin ini hanya angin sepoi

Hanya kicau fana dibalik khayal untuk tanggap

Berambau biar tak hanyut oleh lembak

Acuh saja! Acuh! Toh sudah ada dalang