Pancing Mata Canting

Oleh: Nurhidayat

keruh sedikit kumuh, kecantikanmu
air mata mengalir ke arah kota
padi disana menertawai keburukbahagiaanmu
ngengat gila bersahabat dengan masa lama

waktu bukan satu-satunya yang membuatmu renta, Tua!
manusia-manusia tanpa dada yang mengorbankan

entah esok entah lusa kau laka
gores air mata tinggal halaman

engkau rela bersedih, kenapa?
engkau suka menangis, elok kah?
berbahagia itu tak selalu indah
tertawa pun makin terluka

dedaunan hijau enggan menyebar ke tiga penjuru
angin menerbangkan mereka ke hingar belantara
rumpon hilang di lautan berhantu
mata canting tak sanggup lagi memancing

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.