Kirana Candra II – Si Ibu Jingga

Ilustrasi: Hasbi Zharfan & Ari Mai Masturoh

Ilustrasi: Hasbi Zharfan & Ari Mai Masturoh

Oleh: Ari Mai Masturoh*

Sambut kalbu lembut angin petang menghadang

Menghantam peluh penat sepanjang terang

Mengais indah panorama selayang pandang

Seruput secangkir serbuk hitam berkawin toya hangat.

Menepis dingin berlari mengejar,

mendekat.

Beradu, mengadu, memandu candraMu.

“Kirana?” sambutmu lugu penuh ragu,

Malu.

Sayang, kirana tetap semu

Sendu asa di balik keruh kirana candra

Terpendar panorama si ibu jingga

Beradu, mengadu, memandu candraMu

Di balik tipis awan putih di atas hitam

Sembunyi

Malu

Kunang berkedip, kau tertawa pelit

Kunang menggoda, kau menggundah

Masih, menunggu kirana candra

Berhenti peduli pada si ibu jingga

Si ibu jingga pulang ke pelataran

Diiring mega mengudara, lenyap selanjutnya

Habis secangkir serbuk hitam berkawin toya hangat

Berganti selongsong kain penuh hangat

Menepis dingin berlari mengejar,

mendekat

Tutup kelopak mata,

membuka indah panorama

selayang pandang dalam petang.

Berhenti peduli pada kirana candra

Si ibu jingga kembali dari pelataran

Menghantar peluh penat sepanjang terang

Mengais indah panorama selayang pandang

Dalam terang

*Penulis masih menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman dan menjadi Redaktur Pelaksana Online LPM Sketsa.