Istri Bupati

Oleh: Nday

Ilustrasi: Ari Mai Masturoh

Ilustrasi: Ari Mai Masturoh

Sudah larut malam dan istri bupati ini masih hilir mudik di depan Balai Dharma Wanita dengan riasannya. Energinya tampak tidak berkurang sejak ia memastikan bahwa ruang pertemuan telah sesuai dengan yang dikehendakinya dari tadi siang hingga menjelang sore ini.

Sehabis magrib, ia menyempatkan untuk pulang sebelum suaminya tiba di rumah. Setelah itu, tidak ada yang aku ketahui lagi sampai pukul sembilan dan ia keluar untuk meminta kembali diantarkan ke Balai Pertemuan.

“Pak Bupati tidur lebih awal,” ujarnya setelah mengehela nafas dengan cukup dramatis lalu memasuki mobil. “Meskipun pria itu banyak macamnya. Di tempat tidur mereka semua sama. Anak-anak manja. Penuhi apa yang mereka mau maka mereka akan mudah dipengaruhi.”

Aku melajukan mobil dinas tanpa memberi tanggapan. Pada dasarnya aku dilarang untuk menananggapi apapun pernyataan yang dilontarkan olehnya. Kecuali, jika ia meminta, atau mengajukan pertanyaan.

Perempuan ini baru dua bulan menikmati posisinya sebagai istri bupati. Selama itu pula aku bertugas sebagai asisten pribadinya. Tugas yang tidak pernah aku duga akan diberikan padaku yang dulu pernah bertugas sebagai asisten Pak Bupati saat ia masih menjabat sebagai camat.

“Suami saya sangat mempercayai kamu,” ujar istri bupati pada hari pertama pengangkatanku sebagai asisten pribadinya. “Memang saya sendiri yang meminta seorang asisten pria. Saya tidak mempercayai perempuan. Mereka terlalu sulit dipercaya. Kamu tahu? Perempuan tidak senang melihat perempuan lain berkuasa. Dan mereka akan melakukan berbagai cara untuk menggulingkan kekuasan perempuan yang tidak disukainya.”

Selama ini aku berusaha untuk selalu mencoba menjaga kepercayaan yang telah diberikan atau setidaknya selalu mencoba untuk terlihat bisa dipercaya. Termasuk menjaga rahasia umum bahwa ia berasal dari keluarga miskin dan hanya seorang tamatan SMP.

Semua istri para pejabat di kabupaten ini tahu siapa istri bupati dan dari mana ia berasal. Beberapa di antara mereka bahkan berani mengatakan bahwa alasan ia dinikahi Pak Bupati–yang saat itu seorang duda–tiga bulan yang lalu adalah karena ia memberinya guna-guna.

“Perempuan ini memiliki kekuatan magis dari leluhurnya di Kampung Uripan,” gunjing salah satu istri pejabat. “Tahu kan? Kampung di bawah kaki Gunung Terjan itu? Kampung para pemuja setan.”

Istri pejabat itu tidak menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal dengan menggunjingkan asal usul istri bupati di lingkungan para istri pejabat. Ia baru menyadari kesalahannya ketika beberapa hari setelah pergunjingan itu, suaminya dipecat dan digantikan oleh pejabat lain dengan alasan yang seolah bersifat profesional. Akan tetapi, istri pejabat yang lain tahu siapa yang mempengaruhi Pak Bupati untuk mengambil keputusan itu.

Masa lalu istri bupati menjadi topik terlarang di lingkungan para istri pejabat. Mereka takut untuk membicarakannya. Karena sekali saja dibicarakan, maka gemanya akan dikirimkan dengan segera dan tak ada satu pun yang akan tahu siapa pengirimnya.

Pertemuan mingguan dengan istri pejabat yang kali ini dipersiapkan dengan penuh perhatian juga bukan tanpa tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Istri bupati ini sibuk mengamati proses penyediaan bingkisan berupa makanan kecil yang ditata dalam sebuah box kertas untuk diberikan secara tidak cuma-cuma kepada para istri pejabat yang akan hadir besok. Mereka sudah tahu mengenai hal ini dan terpaksa harus selalu membawa sejumlah uang demi terhindar dari risiko berada dalam daftar istri pejabat yang tidak disukai istri bupati.

Esok harinya, semua hadir pada pertemuan tersebut. Mereka akan membaur dan jika mereka berpapasan dengan istri bupati, mereka akan memperkenalkan diri, meskipun mereka pernah melakukannya pada pertemuan sebelumnya. Mereka melakukan itu demi agar tampak memikat dan diketahui keberadaannya oleh istri bupati.

Para istri pejabat–yang ditemani oleh anggota keluarga atau asisten pribadi mereka–akan berbicara dengan istri bupati dalam pembicaraan yang penuh dengan basa-basi. Mereka tidak mau mengambil risiko untuk mengemukakan pendapat kritis dan berlagak sok pintar di depan perempuan yang mereka tahu sesungguhnya tidak memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan mereka sendiri.

Mereka biasanya akan mengemukakan sedikit apa yang mereka rasakan dan mencoba mengetahui apa yang dipikirkan oleh istri bupati mengenai hal tersebut, lalu menanggapi dengan tanggapan yang mereka pikir akan senang didengarnya. Kuncinya, katakan apa yang ingin ia dengar, bukan apa yang harus ia dengar. Meski dengan begitu mereka terpaksa harus melibatkan diri dalam sebuah kelompok masyarakat dengan budaya menutup-nutupi.

“Saya dengar akan ada kunjungan gubernur minggu depan,” salah satu istri pejabat mengumumkan dengan keriangan yang dibuat-buat. “Wah, ini akan menjadi kunjungan pertama gubernur ke tempat ini dan beliau akan datang bersama istrinya.”

Istri pejabat lain yang mendengar hal itu langsung berkerumun. Istri bupati hanya tersenyum tipis. Ia tidak menanggapi, lalu pergi. Melalui aroma rasa tidak sukanya yang langsung tercium di udara sekitar balai pertemuan, istri pejabat tadi langsung mengetahui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

Dalam perjalanan pulang, istri bupati terus menerus menggerutu mengenai kenyataan bahwa seseorang telah mendahuluinya untuk memberi kabar mengenai rencana kedatangan gubernur beserta istrinya.

“Pasti ada yang membocorkan,” gerutunya. “Sungguh sulit menyembunyikan berita dari perempuan. Mereka selalu saja tahu.”

Satu minggu kemudian, gubernur beserta istrinya hadir dan menetap sementara di Wisma Pendopo. Pada hari pertama kehadirannya, istri bupati memperoleh kabar bahwa istri gubernur ingin bertemu dan jika ia sempat mengunjungi pasar, istri gubernur itu ingin dibawakan sejumlah makanan kecil khas kabupaten ini. Dan tentu saja istri bupati mau menyempatkan diri, ia melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri dengan seorang perempuan yang memiliki status yang dianggap lebih tinggi darinya.

Dengan riasan dan pakaian yang jelas tampak berlebihan untuk pertemuan informal, istri bupati itu terlihat gugup dalam perjalanan menuju Wisma Pendopo. Makanan kecil dengan jumlah yang telah ditentukan pun dibawanya dengan riang.

“Mohon maaf, Nyonya,” seorang asisten menyambut kami di depan pintu gerbang wisma. “Bu Gubernur sedang tidak enak badan. Beliau ingin beristirahat dan belum bersedia menerima tamu.”

Wajah istri bupati langsung berubah mendung.

“Tapi, beliau meminta saya untuk menerima makanan kecil yang telah dipesankan.”

Bukan main gusarnya istri bupati dalam perjalanan pulang kembali ke kediamannya. Belum pernah ia merasa ditolak seperti ini selama ia menyandang statusnya sebagai istri bupati.

“Saya tahu dia tidak sedang sakit,” ujarnya penuh kemarahan. “Ia hanya berpura-pura agar tidak harus mengganti uang yang sudah saya belanjakan untuk membeli pesanannya!”

“Mengapa Anda tidak memintanya, Nyonya?” tanyaku memberanikan diri.

“Meminta?” ia balik bertanya dengan nada seolah aku baru saja bertanya bersediakah ia mencium tanah. “Di mana kehormatan saya sebagai istri bupati?”

Aku tidak menjawab.

“Perempuan memang licik,” ujarnya seakan selama ini ia tidak pernah bertindak licik. “Mungkin saya harus melakukan hal yang sama pada salah salah satu istri pejabat untuk mengganti kerugian.”

Aku diam, tidak mengiyakan.

Ilustrasi: Ari Mai Masturoh

Ilustrasi: Ari Mai Masturoh

Pada esok harinya, ia kembali gusar. Usahanya gagal.

“Istri pejabat itu tidak datang dengan alasan sakit!” hardiknya. “Ia malah mengirim pedagang molennya ke rumah dinas sehingga mau tidak mau saya harus membayar!”

Aku mulai merasa iba pada istri bupati ini yang tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menggerutu, mengeluh, dan menghardik para istri pejabat dari jauh. Aku terus mengemudikan mobil sebagaimana mestinya.

“Sepertinya mereka tahu rencana yang ada dalam pikiran saya!”

Setibanya di lampu merah, aku melihat wajah istri bupati yang malang itu melalui kaca spion mobil lalu mendorong lebih dalam uang kertas di saku celanaku agar tak terlihat dan menampakkan diri, lalu membocorkan rahasia. Sebuah rahasia bahwa meskipun selama ini aku tampak bersikap sebagai seorang pendengar yang baik untuk semua gerutu istri bupati ini, akan tetapi aku juga memainkan peranan sebagai pemberi berita yang ditunggu-tunggu oleh para istri pejabat.

“Mungkin memang ada yang membocorkan informasi,” ujarnya pelan.

“Mungkin memang sebaiknya Anda tidak mempercayai siapapun.”

 

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Antologi Cerpen LPM Sketsa tahun 2015: Kejujuran dan Mitos Idealisme.