Dikata Janah Si Kadaluwarsa

Oleh: Indah Ciptaning Widi

Ilustrasi: Bernadeta Valentina

Aku pernah kadaluwarsa ketika adik perempuanku lahir. Tercuri seluruh kasih sayang ibu yang terasa segar baginya, sedang aku sibuk mencari-cari perhatian lainnya. Dan aku pernah merasa sangat kadaluwarsa saat kekasihku memutus tali pertunangan kita karena dikata aku perempuan yang tak sabar. Lantas ia menemui perempuan lain yang jauh lebih sabar.

Kapan gejala hilir sungai ini benar akan sampai pada hulunya? Atau mampat begitu saja karena ada hilir lainnya. Gejalanya mungkin saja semua sama, selalu seperti itu.

Tipikal kadaluwarsa bukan hanya pada makanan yang kumakan saja. Macam sarden kalengan yang berlabel tinta tipis dan blur . Namun, ternyata batinku juga menemui masa kadaluwarsanya.

“Sudah berapa lama kau jadi perawan tua?”

“Alah! Perawan tua! Biar begini, sebenarnya aku tinggal pilih.” jawabku enteng sambil mengibaskan rambutku ke udara.

“Predikat kau tambah sudah. Perawan tua tukang pilih…” mulut tetangga sebelah rumahku ini terus saja mengoceh.

“Bagus kan?” sahutku tak sabaran.

Aku berjalan melengos saja. Dilempar cibiran para tetangga dirasa telah jadi sarapan tiap pagiku.

“Aku hanya ingin pergi ke tempatku bekerja dengan tenang,” bisikku dalam hati.

“Hai Janah!”

Kuhentikan langkahku. Kutengok siapa lagi gerangan yang meneriakiku pagi-pagi begini.

“Sebentar, tunggu dulu.”

Kulihat wanita berumur setengah abad itu berlari tergopoh mengejarku, sambil tangannya melambai-lambai memintaku untuk berhenti.

“Ada apa Bu Saroh?” tanyaku.

“Ini lho ,” tunjuk Bu Saroh pada botol yang ia sodorkan di depan wajahku.

“Apa ini, Bu?” tanyaku keheranan.

“Kunyit asem. Biar rahim kau enggak kering?”

Kaget mendengar apa yang baru saja diucap Bu Saroh, aku mengernyitkan dahi.

“Buatku?”

“Ya siapa lagi, Janah! Hati-hati loh, lama tak kunjung kawin, rahim kau bisa kering.

Tapi kata ibu mertuaku, ini bisa jaga rahim kau biar tak kering-kering kali,” ucap Bu Saroh gamblang sambil memicing matanya ke arahku.

Sungguh rasanya ingin pura-pura tuli, atau pura-pura mati saja. Nyaris saja pagi itu menjadikanku perempuan yang bisa hilang akal warasnya, terutama untuk bisa membedakan perhatian, kebaikan atau trik culas macam Bu Saroh ini. Kutahan-tahan hatiku, takut lepas kendali. Menahan kemarahan pada apa yang orang desa bilang aib ini sangatlah menguras tenaga. Semoga tak berubah menjadi kemakluman saja. Kuelus dadaku.

“Makasih Bu. Makasih sudah ikut susah payah memelihara rahimku.”

Aku pergi berlalu, sedang bisa kulirik wajah Bu Saroh puas. Seakan ia telah menjadi pahlawan desa, pagi itu.

Belum sampai aku pada jalan besar, jalanan biasa aku menunggu bis dan menumpanginya menuju kantor camat, tempatku bekerja. Tampak dua orang ibu-ibu se usia Bu Saroh menghampiriku. Tak bisa kukenali mereka, namun langkahnya semakin mendekatiku.

“Janah!” teriak salah satu dari mereka.

“Iya ada apa yah Bu?” kutegur kembali mereka berdua.

“Janah ternyata kau tak secantik dulu yah?” ujar salah satu ibu berbadan gemuk dengan menggunakan daster motif bunga lili.

“Mungkin karena tak kunjung kawin, cantik kau luntur,” sahut ibu berkerudung di sebelahnya. Wajahnya tampak mengolokku.

“Hati-hati, Janah, sungguh semesta akan mencabut pesona cantik perempuan yang tak juga mau kawin macam kau,”

Lalu, mereka berdua saling menimpali tawa dan menepuk-nepuk kepala mereka. Kuperhatikan dengan saksama tawa renyah mereka yang kini mulai menyakiti hatiku. Aku telah kebal memang, bahkan bebal. Tapi pagiku tak seharusnya dizalimi semacam ini. Kali ini aku merunduk. Hanya memberi senyum tanda aku merespon nasihat pedas mereka.

Kini kukoreksi diriku sendiri. Bertanya-tanya soal dosa besar apa aku pada mereka sehingga olokan-olokannya terdengar amatlah tak pantas. Sungguh pagi yang berat, kuputuskan untuk tak menaiki satu bis pun. Malah kubelokkan kakiku menuju jembatan layang. Bukan niatku untuk bunuh diri, bukan! Hanya saja aku merasa tempat itulah yang paling sepi, sedang banyak orang tak sudi membuat dirinya letih menaiki jembatan sekadar untuk menyeberangi jalan besar. Aku aman dan tenang di sini.

Melihat kendaraan-kendaraan lalu-lalang seakan membawaku berpikir pada kesadaranku yang paling intim. Membayangkan wajah-wajah mereka yang riang disuguhi buah bibir murahan yang dibesar-besarkan sendiri. Memikirkan semua ucap gamblang dari orang-orang desa. Bahwa mereka sempat bilang soal keberhati-hatian. Berhati-hati tentang kesialan yang mungkin saja menimpa perawan tua, kata mereka. Sungguh aku masih berumur dua puluh lima, dan baru ditinggal kekasihku tahun lalu. Iya, katanya aku kadaluwarsa.

Coba aku tinggal di kota besar, tak akan ada kegiatan menggunjing. Orang kota akan lebih sibuk mengolok pejabat korupsi lewat televisi atau benda kecil yang selalu mereka genggam ke mana pun. Tak akan ada waktu untuk menggunjing bahkan sengaja meluangkan paginya untuk berdiri di depan pagar rumah lalu menunggu si perawan tua lewat untuk dihujat. Tempat ini hanyalah tempat penuh mitos! Bahkan sebotol kunyit asam ini pun diteguk para pria kota yang tak miliki rahim. Ah sial! Mungkin masih ada jalan satu-satunya. Minta dinikahkan oleh ibuku.

Benar, setelah wacana itu kubeberkan, ibuku mengambil langkah seribu berlari ke desa sebelah. Bak menjual ikan keranjang, bedanya ia tak menjual apa yang biasa didagangkan di pasar, melainkan anak kandungnya sendiri yang ia tawarkan. Menawarkanku pada siapa pun perjaka desa yang ingin membantuku meloloskan diri dari aib.

Kudengar nama Arifin sempat beberapa kali unggul dari nama-nama perjaka lainnya. Arifin lelaki yang baik dan taat agama. Kataku, ia jauh lebih baik daripada kekasihku dulu yang memutus tali pertunangan serta meminta cincin yang terlanjur melingkar di jariku untuk dikembalikan. Benar, dia keterlaluan. Keterlaluan kikirnya!

Namun, Arifin baiknya bukan kepalang. Terutama niatnya yang mau segera menikahiku, menyelamatkanku dari idealisme busuk.

“Bukan karena keadaan kau seperti ini Janah. Tapi aku memang telah lama melirikmu, sedang saat itu kau masih bersama kekasih kau juragan kopi itu,” celetuk Arifin di ruang tamu rumahku.

“Juragan kikir! Naudzubillah! ” ku elus perutku.

“Biar Janah, setidaknya besok aku akan benar-benar menikahi kau,” ucap Arifin dengan antusias, namun tenang.

“Maaf Arifin, membuat kau risih. Aku hanya ingin meminta maaf saja sebelumnya,” ucapku pelan.

Entah, seakan niatku menikahinya tak setulus perempuan pada umumnya. Seakan ada sesak mendalam. Padahal kubayangkan awalnya, perjaka yang akan menikahiku adalah lelaki yang biasa saja. Sehingga rasa berdosa ini tak terasa sebegitunya. Namun, ia adalah Arifin, perjaka kebanggaan desa sebelah yang ternyata mencintaiku sejak lama.

“Tak apa Janah, aku paham,” ia berkata dengan sangat tenang sambil meneguk teh hangat yang ku suguhkan.

Ilustrasi: Bernadeta Valentina

Terhitung seminggu setelah ucap ijab di surau dekat rumahku. Cibiran itu tak lagi terdengar, tak lagi ada yang berani mengusik pagiku. Aku berjalan begitu saja, lancar tak ada hadangan. Sekarang aku sudah jadi istri Arifin bukan lagi perawan tua. Bukan lagi Janah, tapi bisalah mereka panggil aku Bu Arifin. Aku senang tak terbayang.

Hingga suatu siang yang tenang di kantor camat, aku dihampiri oleh seorang pemuda, teman Arifin. Ia bagai kesulitan atur nafas, keringatnya juga bercucuran.

“Arifin meninggal, tertimpa atap surau yang roboh.”

Barulah kusadar, ternyata masih ada yang lebih buruk dari cibiran soal perawan tua. Bahwa yang terburuk adalah tahu hatiku hancur sejadi-jadinya. Lelaki baik dan saleh ini hanya diizinkan seminggu menjadi jodohku. Aku mengusap air mata pertamaku.

Kuratapi mayit Arifin yang ditutup kain jarit. Benar pikirku selama ini, tak ada yang mampu menolongku mentas dari idealisme warga desa. Soal aturan-aturan dan batasan nya. Hingga tiap manusia bisa dikatakan waras atas kepatuhannya atau tak waras pada ketidakpatuhannya.

Seakan detik itu juga, keadaan sulit ini berhasil menamparku. Sekeras apa pun aku berlari dari idealisme busuk itu, tetap saja takdir menungguku di persimpangan. Tak sempat memberiku tawaran. Hanya tertinggal keteguhan yang mampu menjadi pilihan.

Namun sayang, kematian hanyalah membungkam mulut yang mati saja. Tak menghentikan mulut mereka yang belum terpanggil juga ruh dan jiwanya. Kudengar selentingan dari mulut ibu-ibu yang datang bertakziah dan duduk manis menontonku meratapi mayat Arifin.

“Kasihan ya, sekarang Janah jadi janda. Janah si Janda Muda.”

***

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Antologi Cerpen LPM Sketsa tahun 2015: Kejujuran dan Mitos Idealisme.