Catatan Para Malaikat

Oleh: Syifa Fauziah

Ilustrasi: Rachma Amalia

Ilustrasi: Rachma Amalia.

Hanya ada dua hal yang bisa kau percayai di dunia saat ini: kebenaran dan kebohongan.

Orang-orang tampaknya lebih percaya dan tertarik dengan apa yang dinamakan kebenaran, sehingga mereka selalu sibuk membolak-balik lembar-lembar tulisan kebenaran. Lembar-lembar itu banyak tersebar, kau bisa dapatkan hampir di mana pun. Terkadang ada pula yang akan membacakannya untuk khalayak pada jam-jam tertentu, sebuah berita, wacana yang dianggap penting.

Lalu dari mana lembar-lembar itu berasal? Tentu saja ada petugas khusus yang menyiapkannya, petugas pencatat. Petugas ini akan mencatat apapun yang mereka rasa harus dicatat, yang dapat berguna untuk orang-orang ketahui. Baik petugas pencatat kebenaran maupun pencatat kebohongan sama-sama mengemban tugas mulia. Dengan catatannya, mereka seperti malaikat, penyelamat orang-orang dari kebutaan. Tetapi, pencatat kebenaran memang selalu tampak lebih sibuk daripada pencatat kebohongan.

Siang itu, pencatat kebenaran membawa langkahnya lebar-lebar, dengan alat tulis di tangannya. Lalu seseorang menyapanya di dekat pintu.

“Sibuk seperti biasa, Bung?”

“Biasa lah…banyak hal yang mesti dicatat,” jawabnya semringah. “Bagaimana denganmu? Kau tak kehabisan bahan kan?”

“Tentu saja. Kebohongan tak akan pernah habis, Raqib,” ujar orang itu datar.

“Oh, ayolah…jangan tersinggung! Kita sama-sama bekerja demi kebaikan, meskipun yang kau catat adalah kebohongan. Kau tahu maksudku.”

“Benar. Akan selalu ada kebohongan dari setiap kebenaran. Yang kucatat sebenarnya adalah cerminan kebenaran, hanya saja, ia tampak kidal.”

“Nah, nah…mulai lagi kau bermetafora. Mungkin itu yang membuat orang-orang tak paham dengan tulisanmu,” Raqib terkekeh.

“Sialan, kau mahluk jujur!” ujarnya sambil menyikut Raqib.

“Baiklah, aku harus cepat-cepat pergi. Ada pertemuan dengan para petinggi. Sampai jumpa, Atid.”

“Sampai jumpa, Raqib.”

Seperti itulah Raqib sang pencatat kebenaran melesat memburu apapun yang bisa dituliskannya. Orang-orang begitu haus akan fakta, seolah hidup mereka bergantung padanya. Tapi, kau tak bisa mengelak bahwa kebohongan adalah hal yang nyata, ia ada di mana-mana. Kebohongan juga merupakan sesuatu yang krusial jika mereka sedikit saja mau menoleh pada catatan Atid. Yang ada di dalamnya bisa mengungkap topeng seseorang atau membuka tirai yang menutupi sesuatu, jelas pekerjaan Atid pun bukan hal yang sepele. Namun, tak jarang yang membaca catatannya hanya menjadikannya sekadar hiburan, pelepas penat, pengalih perhatian atas maraknya catatan Raqib yang selalu menjadi bahan pembicaraan.

Tapi, jangan kira hampir tak ada kebohongan di sini. Atid bahkan selalu bertanya-tanya jika apa yang diburu Raqib ternyata menyembunyikan suatu celah untuk kebohongan. Bukan hal yang tak mungkin ada pendusta di antara orang-orang jujur. Kejanggalan itu selalu menarik perhatiannya, kadang ia menyusun teka-teki itu jadi satu. Biar orang-orang menjadi detektif, mengungkap kebenaran dari kebohongan.

***

Orang-orang mungkin takkan menyangka jika Raqib dan Atid berteman baik. Mereka adalah mitra, sama-sama bekerja untuk tujuan yang sama pentingnya. Sering kali Atid melihat Raqib yang bergegas ke sana-ke mari sangat penuh dengan gairah. Ada banyak yang harus dicatatnya, ada banyak tuntutannya. Tanggung jawab itu memang sudah sewajarnya membuatnya berhak menerima apresiasi dari khalayak. Untuk itu, beruntung pula Atid berteman baik dengan Raqib, bertukar informasi. Di sana selalu ada celah untuk catatannya.

Sayangnya, kini kejanggalan justru dilihat Atid dari catatan Raqib sendiri. Sejak pertemuan dengan para petinggi, entah kenapa catatan Raqib penuh dengan tendensi dan membuat alis yang membacanya bertaut. Ini rasanya tidak benar. Bukankah tugas Raqib mencatat suatu kebenaran, suatu kejelasan? Kini di lembar-lembarnya berulang kali tertulis hal yang sama, terpotong-potong, padahal isinya tentang itu-itu saja. Sepenting itukah fakta ini hingga ia ingin orang-orang betul-betul percaya dan terpaku akan apa yang tercatat itu? Ataukah Raqib ingin menjajal cara kepenulisan baru agar orang-orang tak bosan, sehingga menjadikannya seperti naskah drama berseri agar mereka makin penasaran? Tapi, itu tidak mungkin. Catatan kebenaran adalah tulisan tentang fakta yang harus tertulis dengan lugas agar orang-orang cepat mengerti dengan keadaan, ia bukan hiburan atau kebohongan yang biasa dicatat Atid.

Maka Atid segera mencari celahnya, memantau Raqib yang sibuk mengisi catatannya bersama seseorang. Orang itu terus berbicara, sementara Atid mendengarkan dengan saksama, sesekali menggoreskan pena. Lalu mereka berjabat tangan, orang itu merangkul Raqib, menepuk-nepuk pundaknya. Kemudian datang pelayan membawakan makanan dan minuman, mereka masih tertawa entah karena apa. Dan suara gelas pun beradu.

“Baiklah, sudah cukup,” pikir Atid. Ia langsung berbalik, merasa tak perlu lebih lama lagi berada di situ mematai mereka. Segera dikeluarkannya catatannya, mulai menuliskan sesuatu.

Ilustrasi: Mustiyani Dewi Kurniasih.

Ilustrasi: Mustiyani Dewi Kurniasih.

***

Beberapa hari sejak pertemuan Raqib dengan para petinggi, berita-berita baru bertebaran di seluruh penjuru kota. Orang-orang berkemeja menunduk menekuri kertas di tangannya sembari menyeruput kopi pagi hari, berjalan di trotoar, menunggu kereta di stasiun, bergelantungan di bus atau membiarkan makanan mereka mendingin karena terpaku oleh wacana yang dibacakan petugas di sela jam makan siang. Hal itu terjadi berulang-ulang, berita yang muncul tak jua tuntas. Orang-orang yang tadinya memasang wajah serius, kini menghela napas panjang tiap kali berita dibacakan. Mereka bosan. Apa tak ada topik atau kasus lain? Apa tak ada tokoh lain?

Baru kemudian orang-orang kembali berkasak-kusuk setelah tulisan Atid beredar, bersanding dengan wacana-wacana Raqib yang hampir memenuhi seluruh halaman kertas. Hal ini pun membuat Raqib sendiri penasaran. Namun, ia meninggalkan raut beku di wajahnya saat ia mencapai baris terakhir tulisan rekannya itu.

“Apa maksudmu?” tanyanya segera setelah menghampiri sang pencatatnya langsung, menunjuk pada tulisannya.

“Oh, kau membaca tulisanku? Tumben!” jawab Atid santai.

“Kau mengejekku?”

“Apa kau merasa terejek?” Raqib mendengus kesal, tangannya mengepal, “kau tahu ini bisa berbahaya untukmu, Atid.”

“Aku hanya melakukan pekerjaanku seperti biasa,” ujar Atid masih dengan santainya.

“Apa kau tak melihat orang-orang di luar sana mulai menarik kesimpulan dari tulisanmu itu? Mereka menghubung-hubungkannya dengan tulisanku, kau tahu? Apa kau kehabisan bahan tulisan? Kenapa harus memakai data-dataku?”

“Raqib, aku ini pencatat kebohongan. Kau tahu tulisan-tulisanku itu bohong kan? Orang-orang juga tahu itu.”

“Tapi kau membuat mereka bingung! Kenapa dalam selembar kertas itu ada dua tulisan dengan pernyataan yang berbeda, sementara hal yang dibicarakan adalah sama? Sekarang mereka jadi bertanya-tanya mana yang benar dan yang tidak!” suara Raqib meninggi.

“Bukankah untuk itu kita bekerja, Raqib?”

“Apa maksudmu?”

“Bahwa kau dan aku menulis hal yang benar-benar berbeda adalah semata untuk membuat mereka berpikir, agar mereka mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak? Tujuan kita tetap sama, Raqib.”

“Sama? Hah? Bagaimana jika orang-orang tak bisa membedakan?”

“Itu urusan mereka, tugas kita hanya mencatat. Apa kau juga tak sadar bahwa sebenarnya aku ini sedang membantumu? Kau menuliskan berita berulang-ulang, sedikit demi sedikit, seolah kau sedang mengulur waktu. Apa kau mulai ragu dengan tulisanmu sendiri? Atau jangan-jangan…kau kehabisan ide? Setahuku kebenaran tak butuh ide.”

Perkataan Atid membuat Raqib geram. Tangannya yang sedari tadi mengepal, kini mencengkeram kerah baju lawan bicaranya.

“Dengar, pembual! Aku menuliskan kebenaran dan orang-orang harus percaya padaku. Aku yang menyelamatkan mereka dari kegelapan, dari kebodohan, dari penipuan! Aku ini malaikat! Mereka harusnya berterima kasih padaku! Kau cemburu dan ingin menghancurkan semuanya, iya kan?”

“Tidak, kita ini hanya petugas pencatat, Raqib. Kau bahkan tak bisa menyelamatkan diri dari keegoisanmu sendiri. Jika yang kau tuliskan adalah kebenaran. Harusnya kau tak perlu takut oleh sebuah tulisan kebohongan.”

Perlahan Atid melepaskan cengkeraman Raqib di kerahnya dan berbalik meninggalkan Raqib yang mematung, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan rekannya.

***

Hitam dan putih adalah warna yang monoton, seperti kota ini. Orang-orang berpergian, bekerja dengan kemeja putih dan jas hitam, menyeberangi jalan beraspal hitam dengan garis putih, membersihkan noda hitam pada barang berwarna putih, serta membersihkan noda putih pada barang berwarna hitam. Dua warna yang tampak bermusuhan. Keduanya bersatu menjadi abu-abu.

Begitu pun dengan kebenaran dan kebohongan. Orang-orang meraba-raba di kota yang kelabu. Mereka kembali menekuri kertas, berbisik-bisik, berkernyit, berusaha mencari warna lain di sana. Tulisan yang putih menghitam, tulisan yang hitam memutih. Warna kedua tulisan itu lama-lama menjadi begitu membosankan, hingga orang-orang mulai membubuhkan garis merah yang menghubungkan kata-kata dari keduanya.

Seperti detektif yang berusaha memecah kasus, benang-benang merah membentang saling silang, memberi petunjuk. Atid kian sibuk. Orang-orang kini membutuhkan kebohongan sama halnya dengan kebenaran. Baik itu kebenaran terungkap dari kebohongan ataupun kebohongan ditemukan dalam sebuah kebenaran, orang-orang mulai membaca semuanya dengan kedua matanya. Dan mereka tersadar, bahwa ada dua hal yang harus kau waspadai di dunia saat ini: kebenaran dan kebohongan.

 

Bandung, 11 Juli 2015

“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.”
~Seno Gumira Ajidarma~

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Antologi Cerpen LPM Sketsa tahun 2015: Kejujuran dan Mitos Idealisme.