Tiba Pati

Tiba Pati [1]

Oleh: Nurhidayat[2]

Irama musik marawis bersilih ganti dengan orkes koplo dari tetangga samping kiri rumah membuatku uring-uringan. Musik akherati dan musik duniawi yang saling bersubtitusi itu sungguh menidaklelapkan tidur malam-malam ini. Bukan karena musiknya sebenarnya, namun karena umurku yang sudah nyaris kepala tiga dan tak juga bisa menemukan jodoh yang kelak kujadikan pengelola gaji bulananku. Ya! Tetanggaku si Bahrun yang umurnya baru delapan belas tahun itu menikah, bisa ditebak lah, karena Zizah si calon istri pasti sudah ‘isi’. Ah! Peduli amat akan catatan gelap kehidupan mereka! Hanya saja, aku sebenarnya ingin komplain pada panitia pernikahan untuk tidak membunyikan lagu-lagu penyiksa kebujanganku itu. Bayangkan saja, sudah empat hari lima malam ini tak henti-hentinya mereka bermusik, berpesta, nyembeleh[3] tiga ekor kerbau untuk hura-hura. Aku rasa, ini pesta bukan hanya sekedar untuk merayakan pernikahan Bahrun, tetanggaku yang−saat ini−sialan bagiku. Akan tetapi, aku rasa pesta ini justru bertujuan sampingan sebagai pesta merayakan kebelummenikahanku.

Semua tahu aku sudah pegawai negeri. Perjuanganku sepuluh tahun ini sudah menimbulkan hasil riil. Berkat pakdhe[4], yang memang punya banyak akses ke DPR-re[5], bisa memasukkan namaku ke deretan atas nama CPNS yang beruntung menikmati bulanan yang lumayan, jika hanya untuk makan ayam sehari tiga kali pun masih jauh dari kurang. Dulu, aku berfikir jika aku menjadi pegawai negeri, mengikuti jejak rama[6], pasti aku akan dimudahkan dalam pencarian jodoh. “Apa sih yang wanita-wanita lugu desa inginkan selain suami yang mapan?” pikirku saat itu.

Namun, aku hidup di keluarga yang begitu konservatif, atau kolot dalam bahasa lugasnya, membuatku merasa kecil. Mungkin, karena didikan lingkungan, aku menjadi pribadi yang seperti itu juga. Sempat berpikir untuk berontak, namun aku juga sudah kadung nyaman dengan kehidupanku sebagai priayi di kampung. Begitu bangga­­­-bahagianya rama ketika aku disapa ‘Pak Guru’ oleh warga sekitar, sampai ke seberang bulak[7]. Dianggapnya aku ini orang pintar yang terhormat, padahal ya hanya begini. Memang, aku kuliah dulu nyambi[8] jadi honorer guru SD dekat rumah, ketika aku seumuran Bahrun. Namun, skripsi pun aku tak bisa mengerjakan sendiri, aku minta uang ke rama, dua juta waktu itu, untuk mengongkosi kawan sekelasku yang memang kerjaannya tukang bikin skripsi.

Kini aku guru, petani desa harus selalu sedikit menekuk ruas-ruas tulang leher−kadang juga punggung−jika berpapasan denganku. Pikirku, memang pundak mereka terlalu lenting. Suatu hal yang aku pikir penuh kontras, aku dihormati dengan berlebihan di saat aku jenuh dengan pergaulanku yang terbatas lingkungan tua. Aku menyebutnya demikian bukan hanya karena aku memiliki lingkup yang memang terbatas, namun juga akses mendapatkan candaan rakyat jelata yang sama sekali aku tak dapatkan di kehidupan harian. Aku merasa lebih tua dari umurku. Lingkupku penjaraku, bukan surgaku.

Karena kesematawayanganku, aku tak bisa keluar malam sampai waktu Tahajud, tak ada yang mengajakku bermain gaple[9]. Tentu saja karena aku dilarang sekeras-kerasnya untuk itu. Ah iya! Gaple! Suatu permainan yang sepertinya asyik. Diawali dengan menertawakan pemilik balak enam, dilanjutkan saling tebak dan saling mematikan, dan biasanya yang kalah divonis tidak boleh duduk, mesti jongkok sampai dia menang, barulah digantikan pecundang yang kalah sesudahnya. Iya, aku rindu belajar gaple, permainan yang hanya kutahu dari kawanku Supri, pengangguran dan pemain gaple sejati. Saking ahlinya hingga mampu membawa pulang motor taruhan warga desa seberang Sungai Serayu, beberapa pasaran[10] lalu.

Sebenarnya aku sedang bebas. Aku sedang sendiri di rumah joglo[11] besar ini. rama Biyung[12]ku sedang hijrah ke Tanah Suci, mengadakan prosedur untuk menggapai status sebagai muslim yang sempurna, dihormati juga tentunya. Ah tapi nasib ini mengekangku.

Sekarang pun aku sebenarnya ingin keluar dan ikut menikmati hingar bingar pesta pernikahan Bahrun, pemuda sial tapi beruntung itu. Akan tetapi, untuk mengintip lewat celah gorden saja aku tak berani. Rumahku kukunci rapat-rapat. Sedikit saja lubang pintu terbuka, mataku silau dan serasa telanjang. Sampai kapan aku seperti ini? Mengutuk kebahagiaan−atau kenaasan−orang lain, yang menikah karena tak sengaja membuahi sel telur teman tidurnya, atau lupa cara mencegah kecelakaan itu. Ah! Mungkin waktu dia sedang mabuk. Tapi, semuanya terlihat bahagia, menurut intuisiku. Pesta pora, musik dari shalawat sampai dangdut, sembelih tiga kerbau. Apa alasan untuk menyatakan mereka tidak bahagia? Itu mutlak nyata, kenyataan mutlak!. Aku mengutuk mereka sampai aku tertidur. Ternyata belum sah, belum lunas. Aku terus mengutuk mereka dalam mimpi tidur yang tak nyenyak.

**********

Pagi waktu Duha pintu bergetar dengan ritme khas sentuhan ujung tekukan jari tengah seorang petani, Makmur namanya. Aku paham benar nada, irama, dan sensasi ketukan itu.

“Asalamualaikum!” pekiknya.

Aku diam.

Kulo numun[13], assalamualaikum,” ulangnya.

Aku tetap diam.

Lalu aku diam dan tetap diam bahkan lebih diam dari sebelumnya, meski makin lama Makmur semakin penasaran dengan isi rumah. Dia mulai mengetuk pintu sektor kanan. Lebih dekat ke titik koordinat tempatku berdiam.

Aku melanjutkan kediamanku. Aku berharap dia segera sadar kalau aku sedang tidak menerima tamu, atau paling tidak dia mulai putus asa untuk mengetuk-ketuk pintu. Andai saja pintu diketuk sampai berlubang sekalipun, aku akan tetap berkeras hati menahan ringkukanku di antara meja dan kasur, tempatku bersembunyi saat ini.

Berhasil. Beberapa belas menit kemudian sudah tidak ada teriakan dan ketukan itu. Makmur menyerah. Manusia yang nasibnya tidak sesuai namanya itu mungkin sudah sadar bahwa aku tak ada niat untuk menemui tamu. Dia, petani kurang sukses itu, seperti tahu persis kalau aku memang ada di rumah−bersembunyi−sehingga dia berpesan keras-keras bahwa dia mencantelkan carikan[14] di bawah meteran listrik dekat pintu.

Aku memberanikan diri untuk keluar dan mengamankan carikan. Kubuka plastik dan kulihat pithi[15] penuh isi nasi, sayur kulit melinjo-yang biasanya favoritku tapi sekarang tidak-berwarna merah menyala, kluban[16], dan tidak lupa semur daging kerbau yang berbumbu. Aku sama sekali tak tertarik untuk memakannya, baunya saja menyengat hidung seolah daging babi busuk yang haram dan tentu tidak menyehatkan. Segera saja aku taruh di pawon[17] agar aku tak memikirkan makanan itu, siapa pengirimnya, dan pesta yang melatarbelakangi makanan itu. Aku muak! makin lama muakku makin mengerucut−memusat. Aku pikir pasal macam inilah yang membuat banyak orang menjadi pejalan kaki tanpa baju di jalan raya.

*****

Salah besar jika aku tak laku. Hanya saja hakku untuk memilih telah dikebiri kaum feodal. Jodohku dipegang rama dan biyung. Mereka menginginkan jodoh yang sepantar secara tahta dan harta. Minimal orang tuanya masih biru darahnya, atau mungkin sekelas priayi tersukses−makmur­−di dukuh[18]-nya. Aku sebenarnya tak masalah dengan siapa aku berkawin, yang penting segera, cinta bukan hal yang harus ditemukan di awal, menurutku. Cinta itu akan tumbuh karena sering bertegur sapa, kata orang tua zaman dahulu. Masalah yang aku masalahkan adalah selektivitas rama dan biyung yang tinggi. Membuatku gila! Sudah cocok orang tuanya katanya kulitnya kurang cerah, sudah bagus paras bukan satu ras, dan banyak lagi alasan-alasan gila yang aku tak pahami. Akalku tak sanggup memaklumi maklumat mereka.

Tentu saja, keluargaku memegang teguh hitung-hitungan weton[19] yang aku sendiri-bukan tidak bisa-malas untuk mempelajari, apalagi meyakini. Begitu konyol menurutku untuk mengikuti angka-angka ganjil. Memotong pring[20] ada harinya, bertamasya ada arahnya, bekerja harus jam sekian hari sekian dan lain-lain. Apalagi untuk perjodohan, mereka lebih gila lagi, sudah kuhitung sampai jariku tak sanggup mewakili jumlah gadis yang gagal aku pelaminankan karena mereka lahir pada saat kurang tepat, bukan di hari yang pas untuk hitung-hitungan weton.

Rama, sebenarnya jodohku yang pas itu yang weton-nya apa?” tanyaku kemarin, ketika rama baru saja resmi bertitel haji.

Le[21], kamu itu kan Rabu Pon, kamu harus punya istri Kamis Wage atau Minggu Kliwon, itu yang baik, dan itu harus,” jawab Haji baru itu.

“Tak masalah jika memang kita harus memilih yang baik, Ma. Tapi bukannya jika hari tidak sesuai dan kita potong ayam kan tak masalah, Rama?” protesku, sesuai yang aku tahu. Konon, efek samping dari pernikahan salah weton dapat diatasi dengan nyembeleh ayam khusus, sebagai ritual tambahan.

“Tidak bisa, rama ga mau kamu dapat jodoh yang seperti itu, kamu itu anak lanang[22], satu-satunya juga. Rama ga mau kamu punya istri yang tidak tepat weton-nya! Nanti bagaimana nasib trah[23]-mu kalau asal pilih?” jawabnya sambil bertanya-retorika, seolah peduli dengan nasibku.

“Apa hubungannya dengan hari lahir, Rama?”

“Sudah Rama bilang berulang Le, kalau kamu dapat istri dan weton kalian tiba lara atau tiba tuna? Mau dikasih makan apa anak-anakmu? Mau dikasih makan apa cucu-cucuku? Apalagi kalau misal kalian jatuhnya tiba pati? Kamu mau memutus keturunan Trah keluarga Prawiro?”

“Rama mungkin berlebihan dalam menyikapi…”

“Aku ga sedang kuliah, Le!” potongnya cepat yang membuatku berbeda. Aku tidak lagi memandang lantai jika bicara padanya. Aku mulai muak dengan kerendahan ini. Kutatap mata rama dan aku mempertebal sisi lingkar bulat bola mata yang terlihat dari luar. Jika aku bisa menatap mata sendiri pasti kan kulihat penuh hitam-hitam mataku, kelopak mata yang berjumlah dua itu menyamakutubkan tekanan hingga berseberangan, ke genting dan ke lantai, menelanjangi bola mata. Rama terkejut. Terlihat takut. Kemudian menuju risban[24]. Duduk, dengan sedikit tergesa hingga risban dari bambu kuning itu berbunyi ‘kreket’ saling bersentuhan antar anyaman.

Aku tak kasihan, kulanjutkan intimidasi, yang seingatku sejak bayi sekalipun tak pernah aku lakukan.

“Kalau rama ingin aku dan istriku bahagia kelak, rama jangan menahanku untuk mengawininya! Justru dengan begini rama bisa membuatku mati sebelum aku dan istriku kelak beranak-pinak!” bentakku sambil meninggalkan Rama di mbale[25]. Mungkin dia mrekabak[26]. Lagi-lagi aku tak peduli.

Itu temu cakap terakhirku dengan rama selama beberapa lapan[27] hingga suatu hari aku sudah sedikit muak dan aku membawa gadis tuan tanah dari Semprong, putri haji Prabojo, namanya cukup moderat, Ariane. Gadis berpikiran liberal yang membuatku iri dan begitu besar hasratku untuk bermalam pengantin penuh keterbukaan. Gayanya yang gamblang dan serba tahu merubah mainset-ku terhadap gadis. Atau, memang karena aku tak pernah mengenal gadis secara universal, mungkin. Yang aku tahu hanya gadis priayi yang nurut pada tingkatan atas generasinya.

Nekat, aku bawa saja dia ke rumah dan kuketemukan pada orang tuaku, berargumen panjang padat kepada rama dan biyung. Syukurlah, mereka mengerti dan akhirnya mengijinkanku untuk menjadikannya mitra biologis untuk bereproduksi secara resmi, menuruti naluri yang juga anjuran kitab suci. Kata-kataku mengantarkan mereka kepada kepasrahan untuk menerima. Meski dengan sedikit konflik pada awal bicara.

****

Aku sudah genap 30 tahun saat persiapan pesta itu, tujuh kerbau tak berdaya siap diiris daging, hasil panen melimpah siap ditanak, tarub lebar sampai menyabotase fungsi jalan raya depan rumah. Ini pesta berkali-kali lipat lebih yang si Bahrun jalani. Aku sendiri yang kiter[28] membagi  undangan sampai ke seberang bulak, untuk menunjukkan bahwasannya aku ini sudah siap dan berhak untuk pamer kemapananku. Apalagi, di undangan berwarna merah mencolok itu tertera fotoku dan Ariane yang tidak bisa diragukan kecantikannya, sesuai lah dengan ketampananku. Yang paling khas, gambar itu diambil dengan latar belakang nyamplung[29], nyamplung yang paling rimbun daunnya, dengan percabangan sempurna. Sudah kurencanakan memang, aku ingin bergambar bersama nyamplung satu ini. “Keren,” kata teman-teman calon hadirin.

“Wah, udah kayak artis aja, sekarang kan sering fotografer yang ngambil gambar di situ, kemarin masuk berita ada lomba fotografi di segara[30], pada pake nyamplung,” angkat puji alem[31] salah satu kawanku di perbatasan utara kota, wong gunung yang sedikit gumunan[32], selepas melihat gambar dalam undangan. Akhirnya, senyum kesombongan yang aku tahan dari urat-urat bibirku tak bisa kutahan lagi. Aku berhasil untuk sombong.

Detik-detik bergulir lambat dan kian melambat mengutusku menjadi suami sah secara hukum dan agama. Seperti layaknya pernikahan, penghulu, yang memang kerjanya mengawinkan pasangan, menanyakan kesadaran akan pernikahan kepada kedua belah mempelai. Semua siap, semua terlihat bahagia. Ingin rasaku menempelkan selop dengan sedikit tenaga di pipi penghulu yang menurutku bertele-tele. Aku sudah tak sabar, aku sudah berlatih semalaman untuk berijab-qabul. Aku siap. Sepertinya lebih siap dari pada pak penghulu.

Hingga sampai suatu waktu semua hadirin, yang jumlahnya 1.300 kepala, tiba-tiba gaduh-saluh karena biyung tiba-tiba menggelepar-gelepar tepat di depan pelaminan. Aku lupa, saat penghulu meninjau ulang tanggal lahir dan wetonku, aku lupa berpesan agar penghulu melewatkan pertanyaan itu. Ah! Ketahuan sudah kebohonganku akan weton. Kiamat dua belas!

Untung saja, aku mempelajari apa yang dilakukan si Bahrun dahulu kala, benihku yang tumbuh dalam rahim Ariane tak bisa dibantah. Tak ada lagi dari kedua orang tua kolotku paksakan, kecuali sembelih ayam tolak bala. Aku harap meski aku tiba pati dengannya, ialah cinta sampai mati. Penentu batas nafas kaum nas hanyalah Dia yang memberi warna khas pada nanas. Penentu jodoh hanyalah Dia Sang Pemberi Roh. Terima kasih Bahrun, atas kesialanmu.

[1] Jatuh Maut: istilah hitungan perjodohan berdasar hari dan pasaran yang bertanda buruk, banyak masyarakat kejawen yang meyakini jika dilaksanakan pernikahan akan menyebabkan kematian. Kematian yang dimaksud sangat luas artinya, bisa istri, suami, anak, atau bahkan rejekinya yang mati.

[2] Penulis Cerpen, Pemimpin Redaksi LPM Sketsa 2014

[3] Menyembelih.

[4] Paman:kakak dari ayah atau ibu.

[5] Sebutan masyarakat jawa untuk menyebut anggota DPR, terutama DPRD DATI II.

[6] Ayah.

[7] Sawah luas yang memisahkan desa satu dengan yang lain.

[8] Sambil.

[9] Salah satu cabang permainan kartu domino.

[10] Ketentuan hari dibagi menjadi lima yaitu (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon). Masih dipakai untuk menentukan hari pasaran di Jawa, misalkan Pasar Wage, maka pasar akan ramai pada hari pasaran Wage.

[11] Rumah khas Jawa Tengah, lengkap dengan pendopo yang biasanya untuk menerima tamu.

[12] Ibu.

[13] Salam yang berarti permisi, spada.

[14] Berkat: bungkusan makanan pesta hajatan yang diantarkan ke rumah jika alamat tidak hadir dalam pesta.

[15] Keranjang kecil wadah carikan, biasanya terbuat dari bambu.

[16] Sayuran yang hanya direbus, kemudian dicampur dengan urab (parutan kelapa) dan sambal khusus.

[17] dapur

[18] Semacam wilayah subdesa, layaknya grumbul di daerah Banyumasan.

[19] hari lahir seseorang dengan pasarannya

[20] Bambu.

[21] Tole, panggilan untuk anak laki-laki.

[22] Laki-laki.

[23] Garis keturunan keluarga: silsilah.

[24] Kursi malas dari anyaman bambu dengan kerangka bambu kuning.

[25] Balai:pendopo untuk menerima tamu.

[26] Mata merah berair, hingga hampir menangis.

[27] Masih berhubungan dengan pasaran, jarak antara suatu hari pasaran ke hari pasaran selanjutnya. Misalnya dari Jumat Kliwon kini hingga Jumat Kliwon depan. 35 hari lamanya.

[28] Keliling.

[29] Pohon yang banyak tumbuh di Kebumen sebelah selatan, misalnya di pantai Setrojenar.

[30] Laut atau pantai.

[31] Memuji.

[32] Udik, suka heran jika melihat sesuatu yang baru.

 

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.