Lemah dan Lengah

Bencana alam terus menerus menyapa berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari banjir, tanah longsor hingga angin puting beliung. Menyalahkan alam sebagai penyebab semua bencana yang terjadi adalah pemikiran pendek yang menyesatkan. Harus ada perbaikan dan perubahan.

Faktor manusia adalah faktor yang mutlak harus dibenahi guna mencegah dan menekan tingginya bencana alam yang kian akrab menyambangi bangsa ini. Bukan sekadar mengganti personel belaka, tapi memperbaiki dan bahkan merubah mentalnya. Nampaknya manusia Indonesia lemah dan lengah, sehingga alam menjadi murka dan aktivitasnyacenderung menjadi destruktif.

Merujuk pada kata “lemah”, manusia Indonesia, dalam hal ini adalah pemerintah, tidak mampuuntuk bertindak tegas terhadap berbagai tindakan maupun kebiasaan yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terhadap kelangsungan alam Indonesia. Pembalakan liar, membuang sampah sembarangan, pemanfaatan lahan yang berlebihan untuk konsumsi komersial tanpa ada reboisasi, adalah beberapa tindakan masyarakat Indonesia yang menjadi pemicu ketidakseimbangan alam. Lambat laun, masyarakat kita akan semakinmenderita karena fenomena seperti ini tidak kunjung dihentikan.

Pemerintah kita cenderung tidak tegas dalam menindaklanjuti berbagai kasus yang terindikasi sebagai pelanggaran terhadap pemanfaatan alam. Kasus Adelin Lis, misalnya, adalah satu dari sebagian kasus yang berujung buntu. Padahal, efek domino dari pembalakan liar terhadap keseimbangan alam dan terhadap manusia sangatlah fatal. Pun, dari sektorfinansial sangatlah merugikan negara yang sedang terseok-seok ini.

Sepatutnya, pemerintah menyadari perlunya tindakan tegas, tidak hanya karena lingkungan hidup adalah hak asasi manusia, negara ini membutuhkansuntikan finansial yang besar guna mewujudkan berbagai program yang direncanakan. Dan, pemenuhan dahaga hati nurani terhadap keadilan di negeri ini yang kabarnya telah lama mati suri.

Manusia Indonesia juga lengah, tidak konsisten dalam bersahabat dan berdampingandengan alam. Hal ini merujuk pada pemerintah dan masyarakat kita. Kenapa? Karena dengan hutan terluas kedua di dunia, Indonesia sering disapa bencana alam yang disebabkan dari hutan yang gundul, tanpa reboisasi. Lalu bangsa lain mampu merampok kayu hasil penggundulan hutanIndonesia dengan mengklaim sebagai hasil hutan negaranya (Kasus Malaysia, yang mengganti dokumen kayu gelondongan ilegal dari Kalimantan). Fenomena ini jelas mengindikasikan kelengahan dari pemerintah (lagi).

Senada dengan pemerintah, masyarakatIndonesia juga lengah dalam berperilaku terhadap alam. Contoh yang kecil namun lazim adalah membuang sampah sembarangan. Bahkan, di IbukotaJakarta, tidak sedikit penduduknya yang membuang sampah ke aliran sungai. Sebuah ironi, manakala masyarakat modern seperti kita sepatutnyamenyadari pentingnya “berbaik-baik” dengan alam.

Terlepasdari takdir dan fenomena alam yang lazim terjadi, manusia Indonesia harus membayar mahal sikap lemah dan lengah terhadap alam yang telah dantengah mereka lakukan. Manusia Indonesia harus secepatnya menyadari, para korban (mayoritas adalah yang tidak berdosa) dari kemarahan alam harus menanggung dosa mereka. Jangan biarkan para korban terus menderitadengan berbagai dampak buruk yang dihasilkan oleh ketidakpedulian dan keserakahan manusia terhadap alam. Marilah kita sebagai manusia Indonesia merubah perilaku terhadap alam dimulai dari diri kita sendiri,jangan bersikap lemah dan lengah!

Manusia Indonesia, bahkan Lambat laun, masyarakat kita akan semakin menderita karena fenomena seperti ini tidak kunjung dihentikan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.