Buruh Bukan Objek Hari Buruh

Aksi Aliansi Cipayung di Hari Buruh (1/5), Foto: Bernadeta Valentina.

Aksi Aliansi Cipayung di Hari Buruh (1/5), Foto: Bernadeta Valentina.

Oleh: Bernadeta Valentina

Gerobak pengangkut kerikil menemani para pekerja yang dengan ulet menambal aspal dipinggir jalan. Permukaan aspal jalan di sekitar mereka masih basah. Sambil sesekali membasuh peluh, sejenak mereka berhenti dan dengan seksama menatap deretan mahasiswa dengan riuh penuh bendera dan papan tuntutan lewat dekat sekali dengan mereka sambil meneriakan seruan keadilan. Setelah rombongan itu lewat, mereka kembali fokus pada adonan aspal. Mungkin tanpa paham, apa gerangan yang membuat rombongan mahasiswa tadi melakukan aksi. Pemandangan sederhana tersebut menyimpan ironi yang dalam. Selagi meliput para mahasiswa yang melakukan aksi dari depan IAIN sampai alun-alun Jumat (1/5) lalu, saya beberapa kali alih fokus dari aksi mahasiswa itu sendiri. Lensa kamera tidak lagi hanya mengarah ke pemeran utama jalanan hari itu. Ada yang lebih menarik.

Hari penuh euforia itu dikenal sebagai Hari Buruh. Sudah tak asing lagi rasanya, bahwa hari yang dikhususkan untuk mengapresiasi kaum buruh itu biasanya akan diwarnai berbagai aksi dan demonstrasi, takter kecuali dari kaum mahasiswa. Semarak yang katanya menuntut hak hak buruh itu sudah layaknya tradisi tahunan yang anti absen. Targetnya, pastilah kebijakan pemerintah ditambah para pemodal yang belum memenuhi hak buruh. Tiap tahun, hal ini pun jadi fokus utama. Lalu, yang menarik adalah apa yang buruh dapatkan di Hari Buruh?

Seperti halnya para pekerja penambal aspal, ratusan buruh masih bekerja di kota kecil ini. Tidak seperti kota-kota industri yang golongan buruhnya telah memiliki paguyuban dan aktif memperjuangkan nasibnya di hari buruh, mereka belum sekuat itu. Seperti tahun tahun sebelumnya, mereka layaknya menjadi objek aksi yang tak pernah dapat apa-apa. Sekadar menonton para mahasiswa lewat dengan seruan hari buruh, lalu tetap bekerja sebagai buruh di hari buruh. Kadang tumbuh kecurigaan bahwa belum ada yang benar-benar fokus untuk mau bergerak dari persoalan mikro. Sedangkan, yang mengurusi permasalahan makro, pun belum matang ke arah mana, dan bagaimana. Aksi lanjutan dari Aliansi Cipayung, rencananya akan digelar tanggal 5 mendatang. Rencananya, pertemuan itu akan membahas follow up aksinya yang lalu dan agenda selanjutnya yang terkait pemenuhan hak buruh. Entah masih bahasan makro, atau bahasan aksi nyata pemberdayaan masyarakat bagi kaum buruh yang tak kalah penting.

Penegasan dari para pelaku aksi bahwa pemerintah belum serius mengurusi permasalahan buruh memang benar. Untuk hal ini, saya pun sepakat. Namun, keseriusan mahasiswa juga perlu ditegaskan. Mungkin saja, menjadikan kebijakan pemerintah sebagai objek dan menjadikan buruh sebagai objek ada di jalur yang berbeda bagi para aktivis. Keduanya perlu, namun sayang sekali jika proporsinya belum tepat. Dan sampai saat ini, belum ada ketegasan bahwa buruh itu sendiri pun adalah objek yangsedang diperjuangkan hak-haknya. Belum ada agenda khusus yang diperuntukan bagi para buruh dalam upaya membantu dan mengawal mereka menuju kondisi yang lebih baik.

Aksi yang menurut Aang (partisipan Aliansi Cipayung) hanya bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dengan orasi yang sebagian besar mengkritisi pemerintah dan aksi tetrikal mengenai berjayanya para pemodal asing di Indonesia, rasanya masih sarat esensi bagi para buruh sendiri. Hari Buruh masih hanya berupa angka merah di kalender masing-masing, yang ntah apa fungsi sesungguhnya. Sebuah euforia yang berisi apresiasi dimana buruh menjadi pemeran utama, masih tabu untuk saat ini, baik dari pemodal yang tak memihak mereka maupun pelaku asing yang berpihak pada mereka. Pada intinya, cita-cita kita pun sama. Kita menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi para buruh, memperjuangkan keadilan jam kerja, jaminan kesehatan, maupun upah yang layak. Kini tinggal bagaimana dan seberapa cerdas kita mencari jalan untuk mempertemukan para buruh dengan cita-cita itu.

 

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.