Calon Reporter dan Amplop

Oleh: Sucipto*

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Kenyataan yang ia terima di bulan Agustus yang muram, membuatnya membayangkan empat puluh tahun kemudian: duduk bersama anak-cucu dan menceritakan bagaimana seorang jurnalis harian lokal bertahan hidup tanpa menerima amplop atau pemberian uang dari narasumber. Jika semesta berkehendak lain, ia berharap arsip tulisan ini sampai kepada mereka, bukan sebagai kesenduan tapi agar mereka bisa menentukan sikap, apapun profesinya.

Ingatannya kembali pada sebuah pagi, dua puluh satu hari sebelum gelar sarjana disandangnya. Ia–yang sering dipanggil Gondrong–sumringah. Gondrong teringat perkataan Gabriel García Márquez tentang profesi jurnalis. Gabo, demikian orang mengenal penulis Amerika Latin itu, menganggap jurnalis adalah pekerjaan paling bagus sedunia. Dan, Gondrong akan melakoni profesi tersebut sejak pagi itu, di awal Mei.

Gondrong resmi jadi calon reporter harian lokal di sebuah kabupaten di bagian selatan kaki Gunung Slamet. Sebelum bertugas, ia beberapa kali diberi pelatihan singkat soal bagaimana politik redaksi tempatnya bekerja. Tidak ada praktik mewawancarai narasumber atau menulis reportase di dalamnya. Hanya obrolan dan tulisan singkat “multi angle micro people” di papan tulis dari Wakil Pemimpin Redaksi. Setelah itu, ia langsung liputan lapangan. Redaktur Pelaksana waktu itu bilang, “Pengalamanmu sebagai pers mahasiswa sudah cukup. Langsung liputan saja.” Meski merasa bekal yang diberikan sangat minim, Gondrong menurut saja.

Lantaran bingung mau meliput apa, sementara ia berkewajiban kirim tiga berita setiap harinya, Gondrong putuskan untuk meliput hal yang dekat dengannya semasa kuliah: literasi, seni, dan budaya. Ia rasa itu menarik dan relatif mudah.

Hari pertama menjadi calon reporter, ia hanya bisa mengirim satu berita tentang persiapan Festival Film Purbalingga, sebuah festival film yang menyajikan tontonan alternatif dengan berkeliling ke desa-desa. Kebetulan Gondrong pernah berhubungan dengan beberapa anggota komunitas itu. Meski berita yang dikirim jauh dari kewajibannya sebagai calon reporter, tidak ada teguran dan arahan dari redakturnya.

Bulan Juni, Gondrong ditugaskan untuk meliput berita hanya di Purbalingga sampai batas waktu yang belum ditentukan. Waktu itu ia sudah terbiasa mengirim tiga sampai empat berita dalam sehari lantaran jaringan sumber informasi sudah mulai ia dapat.

Benar kata Putu Wijaya soal bagaimana wartawan diperlakukan di masyarakat. Dalam wawancara Putu dengan panajournal.com, ia bilang bahwa menjadi wartawan banyak dapat perlakuan khusus. “Memotret segala macam, dimaafkan. Wartawan juga selalu dikasih jalan. Apa-apa didahulukan, sementara orang lain mengantre,” katanya.

Gondrong menyaksikannya. Dan ia malu akan hal itu. Gondrong dengar cerita dari kawannya. Mereka buat SIM cepat tanpa harus antre. Bahkan, mereka selalu aman dari operasi penilangan. Hal yang tidak bisa dialami penyapu jalan, tukang becak, atau ibu rumah tangga yang suaminya tidak punya kedudukan.

Adakah kebenaran dari sekian banyak kemudahan yang Gondrong hadapi?

Ia teringat kata Goenawan Mohamad, bahwa kerja jurnalistik adalah merajut serpihan sejarah. Tulisan jurnalis atawa wartawan alias reporter bisa jadi rujukan siapa saja yang memerlukan. Meresapinya, Gondrong pikir menyajikan fakta melalui berita bukan hanya soal memberi informasi. Selain presisi terhadap fakta, sebagai calon reporter ia ingin belajar jadi pewarta yang baik dan pantas: mesti berusaha mengolah dan menyajikan fakta dengan menarik supaya pembaca bisa menentukan sikap terhadap sesuatu yang terjadi. Bukan hanya soal kebaikan, tapi juga kesedihan, penderitaan, dan sesuatu yang tidak beres.

Menjalani tugas profesi yang wajar macam itu bukan perkara mudah. Gondrong tidak boleh sembarangan percaya informasi. Ia harus penuh keragu-raguan. Ia mesti mengumpulkan ingatan-ingatan orang yang sudah terbawa oleh waktu, kemudian menenunnya menjadi cerita yang akurat, gamblang, dan utuh. Mewawancarai satu narasumber saja tidak cukup. Butuh ketelatenan untuk mengecek kebenaran ingatan yang ia dapat.

Untuk membebaskan diri dari segala yang mengganggu kerja tersebut, laku Gondrong mesti beriringan dengan kode etik profesinya. Masih terngiang di dalam ingatannya soal wartawan yang tidak boleh menyalahgunakan profesi dan menerima suap. Bagaimana wartawan menerima suap? Gondrong menemukan jawabannya saat liputan.

Suatu kali, setelah siaran pers sebuah instansi, ia dan wartawan yang hadir diundang masuk ke sebuah ruangan kepala bagian. Udara di dalam ruangan terasa dingin. Kursi kepala bagian terlihat empuk dengan sandaran sampai kepala. Kursinya bisa dinaik-turunkan, bisa berputar. Wartawan–termasuk Gondrong– duduk berjejer di depannya.

Setelah berterima kasih kepada para jurnalis karena sudi meliput, sang kepala bagian mengambil tumpukan amplop putih kecil di mejanya. Ia berkeliling membagikannya kepada wartawan seraya tersenyum dan menyalami satu persatu. Si gondrong ada di jajaran kedelapan. Pikirannya berkecamuk. Kepalanya memanas sedangkan suhu ruangan dingin. Kakinya bergetar. Jika menolak terang-terangan, pikir Gondrong, ia bisa dicibir sebagai wartawan baru yang sok suci, sok idealis.

Jika kenyataan seperti yang gondrong pikirkan, ia akan kehilangan dua hal: teman wartawan dan narasumber. Kemungkinan terburuk yang ada di pikirannya adalah kehilangan narasumber dan akses informasi. Bagi calon reporter itu menyakitkan.

Ia intip amplop. Selembar seratus ribu rupiah. Uang di saku gondrong untuk biaya hidup sampai akhir bulan tinggal lima puluh ribu rupiah. Gondrong menelan ludah. Getir. Ia hubungi redakturnya. “Kembalikan kepada yang memberi,” kata redaktur.
“Posisinya sulit tadi,”
“Ya sudah, temui orang di bagian keuangan kantor.”
Bagian keuangan mengarahkan ke bagian iklan. Direktur iklan menawarkan amplop itu sebagai biaya iklan. Jadi, berita yang ia tulis akan diberi keterangan advertorial. “Kantor tidak bisa mengembalikan kepada narasumber?” Namun Gondrong hanya berteriak di dalam hati.

Kawan Gondrong mendengar cerita ‘amplop pertama itu’. Si kawan juga punya sikap tidak terima amplop. Kawannya bilang, tak apa mula-mula terima amplop seperti itu. “Lain kali, menghindar,” kata sang kawan. Kawan yang lain bilang, pada titik tertentu nanti, Gondrong mesti punya sikap yang tegas. Ia mesti menolak, dengan cara apapun.

Kawan yang lain memberi alternatif. Jika narasumber memberi uang, kawannya menyarankan, liputan yang sudah diniatkan mesti ia tulis, bukan sebagai advertorial. “Itu liputanmu, Bung. Kalau dia memberi uang, tawarkan saja uang itu untuk advertorial, tapi dengan informasi lain, bukan liputanmu,” katanya.

Si Gondrong baru mengerti, selain menerima amplop, wartawan di tingkatan lokal ternyata sangat mungkin mencari iklan sebagai tambahan penghasilan, karena upah wartawan media lokal kecil. Rata-rata senilai upah minimum kabupaten. Bagi Gondrong yang masih membujang, mungkin cukup. Namun bagi wartawan lain yang sudah berumah tangga, sangat sulit hidup dengan uang segitu.

Sikap tidak menerima amplop mereka lakukan dengan alasan: untuk menjaga independensi wartawan dari sumber berita demi kepentingan publik, menjaga kode etik.

Ada yang bertanya, “Lantas bagaimana bila amplop diterima sedangkan berita tetap terbit sesuai fakta?” Yang lain menimpali, “Hidup dari mana jika tidak terima amplop? Gaji wartawan kecil!”

Seorang wartawan yang esais, Abdul Aziz Rasjid, dalam sebuah perbincangan santai punya jawaban sendiri. Ia menjabat sebagai sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Purwokerto. Ia diundang ke Ubud Writers and Readers Festival pada Oktober 2017 mendatang sebagai salah satu emerging writers. Menurutnya, pada titik tertentu nanti, bila wartawan yang menerima amplop dari narasumber tahu bahwa narasumbernya itu berkasus, atau ia mengetahui ada yang tidak beres dengannya, ada rasa sungkan untuk menuliskan fakta itu.

Jika begitu, korbannya adalah publik. Informasi yang diterima publik bisa jadi fakta dengan framing yang aman bagi pemberi amplop, atau bisa saja kasus itu tidak menjadi berita. Akibatnya, masyarakat tidak bisa menentukan sikap dengan baik untuk menanggapi sebuah kasus yang berdampak bagi mereka.

***

Upah wartawan di Indonesia banyak yang belum layak, apalagi media lokal dan regional. Kerja intelektual wartawan dengan berbagai risiko di lapangan dihargai murah. Perusahaan media lokal memilih aman untuk memberi upah minimum bagi wartawan baru. Tidak ada tunjangan transportasi dan pulsa.

Tahun 2011, AJI pernah melakukan survei upah layak jurnalis di 16 kota. Kota Semarang menjadi salah satu kota yang disurvei di Jawa Tengah. Upah riil jurnalis di Semarang saat itu berkisar antara Rp700 ribu sampai Rp1,8 juta.

Sementara, berdasarkan survei mereka, kebutuhan hidup layak jurnalis kota Semarang tahun 2011 adalah Rp3.240.081. Rincian kebutuhannya sebagai berikut: makanan dan minuman Rp1.260.800, perumahan dan fasilitas Rp250.000, sandang Rp186.528, aneka kebutuhan lain Rp1.248.200, dan tabungan (10% dari total upah) Rp294.553. Pada poin aneka kebutuhan lain mencakup dana sosial–seperti sumbangan untuk kerabat atau rekan yang sakit atau menikah, rekreasi, transportasi, dan komunikasi.

Persoalan upah layak berkelindan dengan profesionalisme dan kebebasan pers. Bagaimana seorang jurnalis bisa profesional jika ia masih harus menahan lapar dan terpaksa menerima pemberian uang dari penguasa? Sedangkan, kita tahu bahwa salah satu tugas jurnalis adalah “memantau kekuasaan”.

Gondrong, selama menjadi calon reporter sampai bulan Juli 2017, banyak menulis feature tentang sosok yang menurutnya inspiratif. Ia senang melakukannya karena jauh dari kemungkinan berhadapan dengan amplop dari narasumber. Feature yang ia tulis sering terbit di halaman pertama. Liputan yang ia kerjakan dengan serius selama jadi calon reporter hanya dua berita panjang. Keduanya soal sampah dan menjadi headline di laman Purbalingga. Beberapa kejadian besar yang ia liput juga menjadi headline di halaman pertama.

Tanggal 31 Juli 2017 adalah masa akhir Gondrong sebagai calon reporter. Hari itu ada rapat redaksi pukul empat sore di kantor. Gondrong hadir terlambat setengah jam. Setelah rapat, Gondrong menemui bagian personalia.
“Ini hari terakhir saya bertugas sebagai calon reporter. Selanjutnya bagaimana, Pak?”
“Kami belum dapat rekomendasi dari redaksi. Tunggu sebentar ya.”

Gondrong menghampiri Pemimpin Redaksi. “Nanti ya,” Pemred bilang

Sesaat kemudian, Gondrong dipanggil bagian Personalia. Pemred menghampiri bagian Personalia dan membisikkan sesuatu. Pemred langsung pergi. Bagian Personalia bilang bahwa Gondrong belum bisa bergabung di perusahaan media itu. “Bisa minta rapor saya beserta alasan saya tidak bisa diterima?” kata Gondrong. “Rapor tidak ada. Untuk alasan, itu sudah keputusan atasan.”

Dahi Gondrong mengernyit tapi Gondrong tidak mau ambil pusing. Setelah itu, ia mengambil upah beserta uang pesangon. Gondrong pulang dan menghubungi redakturnya.

“Apa iya? Belum diputuskan kok apakah kamu diterima atau tidak. Personalia masih harus menunggu keputusan redaksi, dan redaksi belum memberikan rekomendasi apa-apa. Kalau belum ada kejelasan, kamu jangan kirim berita dulu,” kata redaktur.

“Nanti kalau ada kejelasan, tolong kabari, Mas. Aku juga mau tahu rekomendasi dan evaluasi buatku,” kata Gondrong.

Sampai keesokan hari, Gondrong belum dapat kabar. Ia bertanya kepada Pemimpin Redaksi melalui pesan singkat, sekadar ingin mengetahui evaluasi dan rekomendasi bagian Redaksi untuknya. Nahas, ia tidak mendapat jawaban apa-apa.

Ia tanya kepada Wakil Pemimpin Redaksi. “Ok, nanti saya sampaikan,” jawab Wapemred. Dan, setelah itu Gondrong tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

Rasa penasaran Gondrong belum terobati karena belum mendapat alasan kenapa dirinya tidak diterima sebagai wartawan tetap.

“Aku belum juga dapat penjelasan. Karena kalau dari penilaianku, tulisanmu bagus. Aku gak tau pertimbangan manajemen apa. Aku cukup kecewa. Maksudku, kenapa aku tidak dimintai pertimbangan. Kan aku editornya,” kata Redakturnya.

Gondrong bisa terima jawaban itu. Namun Gondrong belum menerima keterangan resmi dari media tempatnya bekerja. Gondrong berasumsi bahwa keuangan media tempatnya bekerja sedang guncang. Mungkin bisnis di luar target. Solusinya, pikir Gondrong, kantor mesti memangkas karyawan. Yang sangat mungkin dipangkas adalah calon reporter yang hanya berjumlah satu orang. Media tempatnya bekerja, pikirnya, butuh wartawan yang bisa menghasilkan uang untuk kantor. Gondrong bukan wartawan macam itu.

Gondrong teringat kisah The Daring Young Man on the Flying Trapeze yang ditulis William Saroyan, tentang perjuangan seorang penulis untuk menorehkan imajinasinya kala musim dingin menyelimuti San Fransisco. Setiap kali tokoh dalam cerita mencoba menuliskan kisah yang ada di dunia imajinasinya, dingin selalu merusak suasana. Ia mandek menulis. Giginya gemelutuk dan ia nyaris beku. Ia siasati untuk merokok tanpa putus hingga persediaan rokok yang ia punya habis. Malang, usahanya menghangatkan tubuh gagal. Ia tetap menggigil.

Tidak ada yang bisa ia gunakan untuk menghangatkan tubuh. Tiba-tiba, ia teringat buku-buku yang menurutnya buruk. Buku-buku tidak berguna itu ingin dibakarnya demi mendapat kehangatan. Ketika hendak membakar buku Inez: A Tale of the Alamo–yang baginya adalah buku buruk–ia iseng membuka dan membacanya. Beberapa paragraf awal yang ia baca, merubah pikirannya. Ia menyimpulkan bahwa deretan kata itu adalah ‘tulisan buruk yang baik’, dan ia memutuskan untuk membacanya hingga selesai.

“Banyak sekali yang bisa dipelajari penulis muda dari para penulis buruk. Sungguh destruktif jika membakar buku buruk, nyaris lebih destruktif ketimbang membakar buku bagus,” katanya.

Gondrong pikir, cerita itu bisa ia kaitkan dengan pengalaman yang mengguncang batinnya. Jikapun menjadi calon reporter adalah pengalaman buruk, ia tidak ingin melenyapkan dari ingatan, sebab ia punya pilihan untuk memaafkan keadaan, tapi tidak untuk melupakannya.

Kenyataan semakin terlihat jelas di matanya, bahwa berusaha untuk menjadi wajar selaiknya menoleh ketika leher memar. Sulit. Sakit. Betapapun sakitnya itu, ia tidak membunuh, pikir Gondrong. Ia tetap bisa melihat ke kanan kiri meski harus memutar pinggangnya. Atau tetap menoleh meski sakit. Kita tahu, sakit yang berulang-ulang akan menjadi hal biasa, bukan?

Pembaca yang baik…
Kisah Si Gondrong adalah kisah seorang lulusan Jurusan Sastra, menamatkan kuliahnya selama enam tahun delapan bulan. Si Gondrong adalah saya. Sebagian kisah ini boleh jadi dialami reporter muda lain yang mulai meniti karir jurnalistiknya.

 

*Penulis adalah alumnus LPM Skëtsa, mantan calon reporter media lokal di kaki Gunung Slamet.

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Majalah Sketsa Edisi 35 Tahun XXIX Oktober 2017 bertema “Meraba Pemilihan Rektor” pada Rubrik Kolom Alumni.