alterntif text

Artikel dalam Kategori " SAJAK "

  • Pantun Rumah Sawah

    Oleh: Aziz Dwi Apriyanto* Sengaja ke Bali memburu turis Minum bir, makannya tahu kupat Kita hidup di negeri agraris Kebun dan sawah di setiap tempat Jidat profesor sangatlah terang Di tempat gelap bisa menyala Tapi miris kondisi sekarang Impor pangan merajalela Ke kondangan membuat ulah Atasan rapi, tapi tak bercelana Tambah penduduk, tambah masalah Permukiman […]


  • Pintu Besi

    Oleh: Nurhidayat* Pintu besi baru saja terinstal pada sudut presisi Penuh kalkulasi, semua dikerjakan tukang las terakreditasi Pak tua yang sudah seharusnya dikremasi justru mencaci hasil produksi Kala menyiapkan lidah untuk mengkritisi Dadanya sesak terisi frustasi   Pergulatan sengit dalam isi pangkal uban, meski tak ada serapah tumpah Si Bangka protes perihal warna terlalu cerah […]


  • Ikat Kepala Merah

    Oleh: Nurhidayat* Sambil berorasi meruntuhkan kursi Sambil beronani mengejakulasikan makna Mengencangkan ikat kepala yang hendak jatuh Berkaca agar kain itu tepat menutupi jidat Meraba agar ikatan tepat di kuncir belakang kepala   Kebenaran dan keadilan menumpuk punggungnya Seberat teriakan petani membeli sepatu anaknya Setinggi cita-cita pendiri negaranya Setebal rindu seorang aktivis kepada kelulusannya   Idealisme […]


  • Pantun Hari Kemerdekaan

    Oleh: Emerald Magma Audha* Ada udang di dalam bakwan Tersaji di setiap dukan Wahai Saudara, hai Kawan Ini Hari Kemerdekaan Culika melarat mendapat celaka Kakinya gempor dihantam popor Katanya ini negeri merdeka Pangan impor, tenaga kerja impor Bausuku bertelut pada tuanku Syahdan, ia bersujud serupa sayak Isu SARA masih saja laku Kebinekaan terancam koyak Ada […]


  • Belalang Bersayap Elang

    Oleh: Nurhidayat* burung camar menggambar peta bergegas pergi ke utara apa kabar sidang pembaca pantun datang moga gembira   bergegas pergi ke utara sepuluh burung terbang beruntun pantun datang moga gembira sudah lama tidak berpantun   sepuluh burung terbang beruntun terkena angin berayun-ayun sudah lama tidak berpantun pantun receh asal berpantun   terkena angin berayun-ayun […]


  • Pantun Hari Pers Nasional

    Oleh: Nurhidayat Anak kuliah menulis jurnal Anak persma bikin majalah Ini Hari Pers Nasional Momentum wartawan untuk berbenah Koran sobek di bagian tengah Koran bekas dijual ke loak Wahai masyarakat kelas menengah Janganlah mudah termakan hoax Nenek-nenek suka membaca Beli buku dua eksemplar Jangan mudah menyinggung SARA Baca yang banyak supaya pintar Anak kasmaran menulis […]


  • Kartu As yang Ganas

    Kartu As yang Ganas

    Oleh: Nurhidayat   Bisa mengatap meski sanggup memondasi Sanggup memayung tangguh menyangga Sanggup berdiplomasi namun sanggup membumi, jika kau politisi Di meja, pun kau yang paling mendominasi   Menjadi kunci kau punya lawan Menjadi janji kau punya kasih Menjadi ancaman kau punya lawan Menjadi hiburan kau punya kawan   Tapi menggerutu jika tak punya kawan […]


  • Kemajuan yang Mundur

      Oleh: Emerald Magma Audha Seribu teman punya Saling berbicara Kenal pun tak Kemajuan yang katanya segalanya Celotehnya terbaik Perasaan tak nyata Sosial katanya Padahal terasing Keheningan angkutan jejal sesak Sekadar obrol,  takut aneh ujarnya Layaknya robot, normal ujarnya iPad hibur anak Orang tua hebat katanya Sepatu tak pernah sobek Ayunan tak pernah bergerak Semua […]


  • Alam-Malam

    Oleh: Ari Mai Masturoh   Renyah riuh tawa segerombol anak muda Bersenjata dawai bernada hingga beraroma Berserah, pasrah Menjemput asa tebungkus ruang angkasa memagutkan diri, mencari jati diri Meski hanya duri yang didapati Tapi, tawa tak mungkin rela berhenti Tanah mengintip, tak lupa merintih Mencoba memadu kasih dengan kerikil mungil Menahan aspal panas yang menindih […]


  • Kirana Candra II – Si Ibu Jingga

    Oleh: Ari Mai Masturoh* Sambut kalbu lembut angin petang menghadang Menghantam peluh penat sepanjang terang Mengais indah panorama selayang pandang Seruput secangkir serbuk hitam berkawin toya hangat. Menepis dingin berlari mengejar, mendekat. Beradu, mengadu, memandu candraMu. “Kirana?” sambutmu lugu penuh ragu, Malu. Sayang, kirana tetap semu Sendu asa di balik keruh kirana candra Terpendar panorama […]