Swalinting: Kepul Asap Keberpihakan

Oleh: Dara Nuzzul Ramadhan

Seorang calon pembeli tengah melinting tembakau di salah satu kios tembakau curah di Pasar Wage (11/2). Foto: Yenny Fitri Kumalasari.

Seorang calon pembeli tengah melinting tembakau di salah satu kios tembakau curah di Pasar Wage (11/2). Foto: Yenny Fitri Kumalasari.

Masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, telah mengenal akrab istilah linting dhewe. Linting dhewe adalah bahasa Jawa yang artinya melinting sendiri. Biasanya, frasa ini digunakan untuk menyebut proses pembuatan rokok yang mereka isap. Jika dialihbahasakan ke bahasa nasional, kata yang tepat mungkin swalinting, layaknya swasembada, swafoto, swakarya, dan istilah lain yang menggunakan awalan ‘swa’. Cara pembuatan rokok swalinting adalah dengan melinting tembakau curah menggunakan tangan atau alat pelinting. Kebanyakan, rokok swalinting dinikmati oleh orang tua di desa yang masih mempertahankan cara tradisional di kehidupan. Namun, rokok swalinting kini mulai populer di komunitas pemuda-pemuda, seperti di kalangan mahasiswa Unsoed.

“Tidak merokok itu baik,” tutur Nashir Aosa Zaeni, seorang penikmat tembakau kelas berat. “Tetapi, jika ingin merokok, cerdaslah dalam merokok!” lanjutnya ketika ditanya untuk memilih rokok swalinting atau tidak merokok sama sekali pada Minggu malam, 27 November 2016. Mengapa tidak mengonsumsi rokok pabrik? Alasan keberpihakan kepada petani tembakau, katanya.

Rokok, Tembakau, dan Alasan Keberpihakan

Jika pabrik rokok berskala kecil dan menengah terpaksa gulung tikar karena kenaikan cukai, lain halnya dengan pabrik rokok besar. Dilansir dari situs berita ekonomi bisnis.com (28 April 2016), perusahaan rokok terbesar di Indonesia, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. atau yang lebih dikenal dengan nama Sampoerna Group, 92,5% kepemilikan sahamnya telah dikuasai oleh perusahaan rokok Amerika terbesar di dunia, Philip Morris International Inc.

Larangan bagi petani tembakau untuk menanam tembakau tidak disebutkan dalam PP No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Akan tetapi, jika industri rokok nasional dimatikan perlahan—lewat kebijakan cukai, kelangsungan hidup petani tembakau yang memproduksi bahan utama rokok, akan terancam. Hal itu menjadi alasan Aosa untuk beralih dari rokok pabrik­—yang sahamnya sudah dikuasai pihak asing—ke tembakau curah, demi kelangsungan hidup petani tembakau.

Rokok Swalinting Harus Dibudayakan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed ini biasa mengonsumsi tembakau asal Banyuwangi atau Wonosobo. Tembakau kelas berat yang gemar Osa nikmati berbeda dengan rokok yang diisap kebanyakan sebayanya. Tembakau yang biasa dikonsumsi Osa memiliki aroma yang luar biasa menyengat. Akan tetapi, pemuda yang pernah tinggal di Bekasi ini sudah siap dengan segala konsekuensi atas pilihannya. Ia sangat menghormati orang lain yang tidak merokok dengan membuat jarak ketika merokok. Paling tidak itulah yang ia lakukan pada saat wawancara.

Grup Line berawal dari keisengan Adhi Bangkit Saputra, salah seorang fanatis tembakau. Dia mengumpulkan teman-temannya yang juga mencintai tembakau curah dalam sebuah grup daring untuk saling berkomunikasi. Konon, ia juga “guru” Aosa dalam hal linting-melinting tembakau.

Kebanyakan anggota grup tersebut adalah kawan-kawan di lingkaran pertemanan mereka juga. Satu per satu kawan yang memiliki minat pada tembakau curah diundang dan kemudian mengundang kawan yang lain untuk bergabung dalam komunitas dunia maya ini. Kini, grup tersebut sudah terisi lebih dari tiga puluh orang. Rencananya, mereka akan segera berkopi darat untuk saling cicip masing-masing tembakau. Namun, sekali lagi, ini masih dalam rencana yang belum bisa dikonfirmasi kepastian waktunya. “Kan asik, ya, ngelinting santai, bertukar tembakau sambil minum teh poci atau tumbukan kopi, sembari ngobrolngobrol,” ujarnya santai sambil membayangkan hangatnya suasana kopi darat (15/1).

Alasan keberpihakan itu memang ada. Namun, Bangkit tidak mau menjadikannya sebagai alasan utama atau sebagai pembenaran ilmiah bagi dia untuk mengonsumsi tembakau curah. “Kalau ada orang yang bilang merokok itu nggak baik untuk kesehatan, ya, silahkan. Aku pun kalau pernyataan itu bener, ya aku terima kebenaran itu. Sebenernya, penasaran aja, sih. Kok bisa ada melinting, kok bisa ada tembakau, kok bisa ada pabrik rokok, sampai ada sponsor rokok masuk kampus, pemberian beasiswa buat mahasiswa, iklan rokok bisa ada dimana-mana, sebegitu masifnya. Sebegitu diminati orang banyak, penasaran aja,” kata Bangkit memperjelas alasan ia menggunakan rokok swalinting.

Awalnya, ia hanya sekadar iseng. Ia tertarik melihat budaya melinting yang dilakukan oleh bapak-bapak di daerah Purwokerto. Bahkan, ia mengatakan ketika ia mendaki gunung, di kaki Gunung Sumbing banyak anak SD melinting tetapi tidak ditegur oleh guru atau orang tua. Hal itu terjadi karena di sana, melinting adalah budaya dan berguna untuk menghangatkan badan. Akan tetapi, ia tidak memungkiri bahwa pilihan dia menggunakan rokok swalinting juga untuk membantu menyelamatkan kesejahteraan petani tembakau.

Ia pernah menemukan sebuah buku berjudul “Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup” karya Iman Budhi Santosa. Meski Bangkit belum membaca buku tersebut secara utuh, ia mengaku sudah membaca beberapa artikel bersangkutan. Buku itu semakin membuat Bangkit tertarik dengan rokok swalinting karena buku itu membahas keunikan dari ngudud.

Seiring dengan rasa iseng dan penasarannya terhadap budaya swalinting di pedesaan, Bangkit memahami ada ironi dalam kehidupan petani tembakau Indonesia. Meski masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris yang mayoritas terdiri dari kaum tani, kondisi petani belum dapat dikatakan sejahtera.

Mahasiswa Fakultas Hukum ini mengaku sudah menggunakan rokok swalinting sejak lima tahun yang lalu. Saat pertama kali mencoba, ia asal saja dalam memilih tembakau curah karena tidak tahu-menahu tentang rasa tembakau yang enak itu seperti apa. Oleh penjual, ia diberi tembakau kelas berat pada masa-masa perdana ia mencoba rokok swalinting, tembakau Wonosobo. Efek “garang” tembakau Wonosobo membuat Bangkit semakin mantap untuk mengonsumsi tembakau curah.

Perihal rokok swalinting yang dinyatakan lebih murah, ia tidak mengatakan itu 100% benar. Banyak juga tembakau yang harganya lebih mahal daripada rokok pabrik, sebab rasanya yang lebih enak bagi perokok. Ia berpesan kepada mahasiswa yang masih menggunakan rokok pabrikan untuk sekali-kali mencoba swalinting. Menurut pengalamannya, sensasi nikmat tembakau curah sangat perlu untuk dicoba.

Tren dari Mulut ke Mulut

Obrolan dari mulut ke mulut sampai saat ini merupakan salah satu cara yang manjur dalam memopulerkan suatu hal. Koh Cucung, seorang penjual tembakau curah di Pasar Wage, saat ditemui di kiosnya pada Jumat (13/01) mengatakan hal senada mengenai populernya budaya melinting di komunitas mahasiswa.

“Dari temen, trus mulut ke mulut, (akhirnya-red) banyak yang dateng. Awalnya satu orang, terus (dia-red) ngajak temennya, nyoba, terus jadi booming. Jadi, pas nyoba di sini, pembeli-pembeli baru itu kayak semacam wisata kuliner aja gitu, kuliner tembakau,” ujar lelaki setengah baya yang mewarisi usaha tembakau keluarganya itu.

Kemudian, ia melanjutkan bicaranya dengan nada sedikit kecewa, “Tapi, terakhir-terakhir (ini-red) memang berkurang. Mungkin waktu baru banyak yang suka, (disebar-red) dari mulut ke mulut (dan akhirnya banyak dari-red) mereka coba. Tapi, lama-kelamaan, ada yang mungkin bosen, (atau-red) ada yang nggak cocok. Nah, mungkin mereka balik lagi ke rokok pabrik,” tutur laki-laki yang bertubuh tambun itu.

Lapak Koh Cucung, penjual tembakau curah di Pasar Wage, Sabtu (11/2). Foto: Yenny Fitri Kumalasari.

Lapak Koh Cucung, penjual tembakau curah di Pasar Wage, Sabtu (11/2). Foto: Yenny Fitri Kumalasari.

Tidak Berpengaruh

Ujaran Koh Cucung juga diamini oleh sesama pengecer tembakau curah di Pasar Wage, salah satunya Ani. “Tidak ada yang berbeda dengan munculnya isu kenaikan rokok, setelah isu itu beredar orang tidak berpikir untuk membeli tembakau asli, tetapi orang-orang lebih memilih untuk menyetok rokok pabrikan lebih banyak lagi. Mungkin karena masih terjangkau, Mbak. Naiknya (harga-red) hanya sedikit-sedikit saja.”

Tembakaunya Mahasiswa

Tembakau yang dibesarkan oleh tangan petani ini tidak dianggap istimewa ketika belum panen. Bahkan, orang-orang yang merawat emas hijau ini tidak terjamin hidupnya. Akan tetapi, ketika datang masa panen, entah sedikit entah banyak, rezeki mengalir dari kelihaian tangan-tangan pengolahnya. Mulai dari pemanen, perajang, grader (penyortir), pengecer tembakau curah, sampai perempuan-perempuan pabrik yang melinting rokok, mendapat pemasukan dari tembakau. Jangan lupa juga dengan kas negara yang terisi penuh. KNPK (Koalisi Nasional Penyelamat Kretek) memperkirakan, dari hulu hingga hilir, sekitar 30-35 juta orang yang bekerja dalam rangkaian produksi tembakau, cengkeh, industri rokok, serta dalam perdagangan tembakau dan rokok, termasuk efek ganda (multiplier effect) dari keberadaan produk-produknya. Bayangkan jika produksi tembakau ini diberhentikan, masalah apa yang akan terjadi?

Perdebatan Berbagai Kalangan

Menurut data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS), pada tahun 2014, setidaknya ada 190.260 orang Indonesia meninggal dunia karena rokok. Akan tetapi, di balik itu semua, industri rokok adalah sumber pemasukan kas yang lumayan besar untuk negara. Pada 2013, setoran cukai yang diberikan industri rokok adalah sebesar Rp101,2 triliun. Jauh lebih besar daripada setoran pajak dari PT. Freeport Indonesia yang hanya sebesar Rp5,6 triliun.

Melihat fenomena yang ada, tembakau mempunyai sisi baik dan buruk yang luar biasa. Pemerintah pun terkesan bingung dengan situasi ini. Kemudian dari berbagai kalangan, mulai dari budayawan, sastrawan, sampai seniman versus dokter dan Kementerian Kesehatan berdebat. Bangkit sebagai konsumen sejati berusaha menanggapi fenomena ini, “Kalau negara belum menjamin kesejahteraan kaum tani, dari mulai penguasaan lahan pertanian, pengelolaan lahan pertanian, dan distribusi hasil produksi pertanian, kalau itu belum dijamin oleh negara, dan hari ini, kaum tani di pedesaan nggak punya tanah, mau apapun komoditasnya, kaum tani nggak bakal sejahtera. Jadi, yang debateable (sebenarnya) bukan masalah tembakau bikin sakit dan oleh karenanya harus diganti, bukan itu! Kita negara agraris, ada 60% lebih penduduk adalah petani, tapi mereka tidak sejahtera. Kalau ada mahasiswa yang bilang ‘nggak juga’ itu karena (mereka) kurang main ke desa mungkin,”

“Coba aja kita gelar tikar bareng di desa, ngopi bareng, cari tau kehidupan mereka sehari-hari, cari tau bagaimana mereka membiayai kuliah anak-anaknya dan ngasih makan keluarganya. Adakah kesengsaraan yang dialami sehari-hari? Bagaimana hasil produksi pertaniannya?” lanjut Bangkit mengutarakan sarannya. Menurutnya, jika petani disuruh menanam komoditas selain tembakau, misalnya beras, belum tentu mereka bisa sejahtera, bahkan belum tentu bisa menanamnya.

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Majalah Sketsa Edisi 34 Tahun XXVIII April 2017 pada Rubrik Tulisan Anak Baru.