Suara Dalam Pemira

Oleh: Emerald Magma Audha

Ryan Hasna Presbem Unsoed

Ryan-Hasna melakukan orasi saat Jajak Pendapat (3/12) di Aula Gedung Rektorat (GR) Unsoed. Foto: Intan Rifiwanti.

“Bagi saya, BEM merupakan sebuah alat…”

Berjejak di alas podium, dengan baju abu-abu cenderung terang dipadukan jeans berwarna malam, lelaki itu memukai pengunjung Aula Gedung Rektorat (GR) lantai satu, yang hampir semuanya mahasiswa. Kala sekitar seperenam hari menuju tengah malam, ia tidak sendirian berceloteh demi meyakinkan hadirin. Disandingnya ada puan, anggun terbungkus gamis lebar.

Wanita berkerudung abu-abu itu pun turut bersuara meski kadang masih nampak malu-malu. Kemudian, lelaki itu melanjutkan, “… alat untuk perjuangan, alat untuk bagaimana organisasi ini bisa mengakomodir semua kepentingan mahasiswa agar kita bisa mencapai kondisi (Unsoed-red) yang ideal, yang kita impikan,” lelaki itu berseru di penghujung acara “Jajak Pendapat Capres & Cawapres BEM Unsoed 2017,” Sabtu (3/12). Hal itu dilakoni demi rangkaian kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) menjelang hari pencoblosan, 7-8 Desember 2016.

Calon Tunggal

Adhyatma Riyanto menjadi calon presiden, berpasang dengan Athifah Hasna Safiyah, menjadi wakilnya. Mereka berdua menjadi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden BEM Unsoed Pemira tahun ini.  Hanya mereka satu-satunya pasangan. Keadaan mengenai hanya terdapat satu calon pasangan saja, baru kali pertama terjadi dalam riwayat Pemira tingkat Unsoed. Pemira fakultas mungkin sudah terjadi, seperti di Fakultas Biologi, Ilmu Sosial dan Politik, juga Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Mulanya, Komisi Pemilihan Raya (KPR) menjadwalkan masa pendaftaran bakal pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM Unsoed pada 11 sampai dengan 14 November. Namun, dalam jangka masa itu, belum satu pun bakal pasangan yang mendaftar. Ryan-Hasna sebetulnya telah ancang-ancang, melakukan pendaftaran, namun sepertinya menunggu saingan muncul. Kemudian, KPR merperpanjang masa pendaftaran calon selama dua hari, dari 15 November yang usai pada 16 November.

Gerak Ryan-Hasna akhirnya terlihat, pada 16 November malam, di beberapa puluh menit menuju batas waktu penutupan pendaftaran, pukul sembilan, mereka mendaftar. Meski begitu, berkas pendaftaran Ryan tidak lengkap saat KPR melakukan verifikasi pada 17 November, mengakibatkan tidak lolosnya verifikasi berkas. Akibatnya, maka dibuka kembali pendaftaran bakal pasangan capres dan cawapres pada 18 November. Ryan-Hasna telah melengkapi berkas di 18 November malam. Namun, lagi-lagi tak ada bakal calon pasangan lain yang mendaftar, kendati masa pendaftaran telah diperpanjang satu hari. Ryan-Hasna pun jadi pasangan teramung di Pemira tahun ini.

Ihwal calon tunggal, tak kontan melantarkan Ryan langsung ditetapkan sebagai presiden BEM Unsoed. Masih dengan mekanisme pemilihan, “kotak kosong” dijadikan solusi sebagai lawan Ryan-Hasna bila dirasa mereka tidak layak menduduki kursi terala di BEM Unsoed. Kala ditemui menjelang berakhirnya agenda Jajak Pendapat, Imam Gumay, Ketua Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) Unsoed, berujar bila calon tunggal tak akan menyurutkan perhelatan Pemira tahun ini. “Pesta demokrasi ini tetap akan berjalan walau hanya dengan satu pasangan,” ucap ketua badan legislatif itu. Bilamana kotak kosong unggul dalam pemilihan, Musyawarah Mahasiswa (Musma) KBMU (Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed) menjadi penanggung jawab dalam menyelesaikan permasalahan Pemira.

Tertaut masalah calon tunggal, Ayon Elwan Retno Khasanah selaku ketua KPR menuturkan, bila KPR telah melakukan publikasi serta sosialisasi ke seluruh fakultas, bahkan ke organisasi ekstra kampus. Meskipun, pada masa pendaftaran capres, ada isu bila Mulkan Putra Sahada, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2013, bakal mencalonkan diri sebagai lawan tanding Ryan, berjoli dengan Rizky Maulidar, mahasiswa Fakultas Hukum 2013. Kala ditanya soal isu tersebut, Mulkan, nan juga berlatar ormas IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tak mengapkir isu itu, “Ada rencana begitu,” katanya. “Ada beberapa kesepakatan yang belum mufakat dan agaknya sensitif jika disampaikan khalayak umum,” jelasnya saat disinggung alasannya batal mencalonkan. Ryan, mahasiswa FISIP  2013 yang jadi calon semengga di Pemira tahun ini, menyayangkan tidak jadinya Mulkan maju dalam Pemira, “Secara pribadi pengin ada lawannya (dalam Pemira-red) juga”. Setala, pun Hasna menginginkan adanya rival, “Sebenarnya, kalau saya merasa jauh lebih berat jadi calon tunggal, memang saya berharap ada (pasangan lain-red) yang mencalonkan diri.”

FMN dan KAMMI Bermesraan

Ryan terlihat tengah bercokol di warung burjo, kala senja di hari Rabu (30/11) berangsur hampir luruh. Saat dijumpai di Goban—nama burjo itu, Ryan sedang bersama Abdullah M. Ihsan, Presiden BEM Unsoed 2016. “Kebanyakan, sebenarnya yang dukung saya itu secara pribadi, nggak bawa nama lembaga,” tutur Ryan ketika disinggung soal dukungan FMN dan KAMMI terhadap dirinya. Dukungan kawan-kawan komunitas burjo Goban lebih banyak, termasuk yang menjadi tim sukses (timses). Ujarnya, sebelum menjadi capres, belum ada obrolan dengan KAMMI. “Dengan Ihsan pun bukan mengatasnamakan KAMMI,” tambah Ryan, pula menjabat Menteri Sosial dan Politik di kepengurusan BEM Unsoed-nya Ihsan. Tak lupa, ormas lain seperti Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Unsoed yang diketuai Muflih Fuadi turut menyumbang dukungan untuk Ryan.

Masih di Goban, bedanya malam telah menyeluruh. Thomy Adam bilang FMN mendukung Ryan, pasca-Ryan-Hasna terpilih menjadi pasangan resmi. Meski secara kelembagaan menyatakan dukungan, Ketua FMN Ranting Unsoed itu berkata tidak memaksakan para anggota FMN untuk ikut mendukung Ryan. Soal visi misi, jadi alasan dukungan FMN, “Sebenernya yang kami dukung prinsipnya (Ryan-red), meski organisasinya berseberangan. Kalau misal nggak sesuai dengan FMN, kami nggak bakal terlibat.”

Begitu dimintai konfirmasi, KAMMI pun turut mendukung Ryan-Hasna pada Pemira kali ini. “Insya Allah secara kelembagaan mendukung pasangan nomor urut satu yakni Ryan-Hasna,” jelas Azzimatusy Syahidah selaku Ketua KAMMI Komisariat Sosial Unsoed.

Banyak kalangan mahasiswa Unsoed menilai hubungan dua ormas tersebut tidak terlalu akur dari tahun ke tahun. Namun, langkah politik yang diambil FMN dalam Pemira tahun ini malah memberi dukungan terhadap Ryan, mengingat Ryan yang berlatar KAMMI, dengan catatan asal masih sesuai dengan visi misinya di kepengurusan BEM nanti. Acong, begitu sapaan Thomy Adam, mengaku bila hubungan FMN dengan KAMMI saat ini baik-baik saja. “Ya harapannya bisa semakin baik (hubungan kedua ormas-red), terlepas mereka (KAMMI-red) mempunyai prinsip yang berbeda dengan FMN, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu bagaimana memperjuangkan kepentingan mahasiswa.” Ke depannya, Acong melanjutkan, agar BEM Unsoed yang nanti diimami Ryan bisa meminimalkan konflik horizontal sekaligus merangkul semua elemen mahasiswa.

Sahabat Kotak Beraksi

“Apakah satu calon dapat mewakili mahasiswa se-Unsoed?”

Begitulah yang tersurat dalam banyak selebaran kertas, tergeletak begitu saja walakin tertumpuk rapi, ditemukan oleh awak Sketsa dilobi kampus Hukum pada masa kampanye berlangsung. Di beberapa fakultas pun juga didapati selebaran serupa. Dilihat lebih jeli, “Sahabat Kotak” tercetak kecil di selebaran, selain logo bergambar sebuah kotak terbuka, tak ada keterangan lebih.

Terkait selebaran tersebut, Imam Gumay menanggapi bila DLM telah mencari orang yang menyebarkan selebaran tersebut. “Yang saya takutkan orang yang propaganda selebaran ini, nggak punya solusi apa-apa, hanya gerakan iseng doang, nggak tahu karena kesal politik kampus hanya ada satu calon atau apa,” tukasnya saat disodori selebaran tersebut. KPR juga telah mengamankan selebaran-selebaran yang tersebar, jelas Ayon.

Sahutan dari salah satu anggota timses Ryan-Hasna, tidak menganggap selebaran tersebut sebagai hal yang harus ditanggapi serius, “Ya kalau ngurusin masalah konyol kayak gitu cuma ngabisin waktu doang,” begitu imbuh Aosa. Pun komentar Ryan, hal tersebut merupakan bentuk aspirasi mahasiswa, sah-sah saja dalam kehidupan demokrasi. Namun orang-orang yang melakukan ini tidak bertanggung jawab juga dengan alasan yang tidak jelas. Pengecut, bilangnya, tak berani melakukan secara terang-terangan. “Sebenarnya alasan mereka itu apa, ini ilmiah atau apa, atas dasar sentimen pribadi kah? Ini bukan tradisi mahasiswa banget.”

Namun, jika dilihat dari hasil perolehan suara Kotak Kosong, mungkin kampanye Sahabat Kotak jadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam destinasi pilihan mahasiswa. Meski tak menutup mata, bisa jadi ada kemungkinan hal lain turut berpengaruh, memenuhi pundi suara kotak kosong. Hal itu Sketsa sampaikan di akhir kisah ini.

ilustrasi berita pemira BEM Unsoed 2016

Ilustrasi: Yenny Fitri Kumalasari

Persoalan Gender di Unsoed

“Memangnya ada apa di Unsoed, sampai mengangkat persoalan terkait gender?”

***

Pada Kamis (1/12) nang sedang pagi, Hasna menjawab motivasinya menjadi Cawapres, berpasang dengan Ryan. “Mungkin saya ingin membuktikan wanita menjadi pemimpin,” ucap mahasiswa Fakultas Pertanian 2013 tersebut kepada Sketsa, berleseh di teras Pendopo PKM.

***

Sececah sesudah menyimak sebuah pertanyaan, Hasna kemudian membalas, “Mungkin ini bisa jadi rahasia umum, bahwa ada kejadian pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu anggota sivitas akademika di salah satu fakultas di Unsoed,” menurutnya begitu. Sesekali membetulkan letak kacamata, pegiat Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) itu lalu melengkapi, ingin membangun ketokohan perempuan di Unsoed. “Makanya salah satunya saya berdiri di sini…,” tegasnya masa menjawab pertanyaan dari Rizki Maulidar terkait alasan mengangkat soal kesetaraan gender, salah satu dari ketiga panelis dalam jadwal Jajak Pendapat (3/12), lalu dibarengi aplaus lebih dari delapan puluh pasang tangan, membisingi Aula GR.

Lanjut, si Capres menyenggol kondisi kebijakan-kebijakan kampus yang dirasanya belum mewadahi kebutuhan perempuan. Dia mencontohkan salah satunya, keringanan untuk tidak mengikuti ujian bagi mahasiswa yang sedang sakit haid parah, kampus belum bisa memberi itu, katanya. “Makanya hari ini kita bawa isu gender.” Pembentukan biro khusus wanita jadi gagasan baru dalam rencana struktur kelembagaan BEM nanti, menjadi wadah pengaduan mahasiswi.

Ikhtiar Menegakkan Transparansi di Unsoed

Singgung Maulidar tentang ketiadaan konsistensi dari para mahasiswa terhadap tuntutannya. Ujarnya, ketika ada permasalahan baru, fokus mahasiswa cenderung beralih, sibuk pada masalah baru lalu melupakan tuntutan sebelumnya. Tak lupa pula menyinggung persoalan UKT yang selalu saja hadir setiap tahun.

Ada beberapa hal yang selalu muncul ketika membahas UKT, yaitu soal transparansi, jelas Ryan. Sambungnya, akan diadakan banyak penelitian tentang masalah UKT juga lainnya, penelitian yang sistematis serta ilmiah yang ditinjau dari berbagai aspek, akan menjadi obat penawar untuk menjawab sekaligus menyelesaikan macam permasalahan yang terjadi di Unsoed.

Bertalian, sebelum awal gagasan Ryan maju dalam Pemira, telah terbangun komitmen jika transparansi adalah salah satu hal utama yang harus diperjuangkan oleh BEM Unsoed, mendorong Unsoed melakukan perubahan untuk mencapai tata kelola pemerintahan kampus yang baik (good university government). Dengan transparansi pula, bahkan bisa mencegah perbuatan-perbuatan birokrat yang nakal. Demi tranparansi, meski hal tranparansi ini bakal menjadi sandungan yang paling susah untuk dilampaui, Ryan siap, apapun risikonya, bahkan bila kontra dengan birokrat Unsoed sekalipun.

Kekonyolan Dalam Perhitungan Suara

Diwaktukan pada hari yang sama dengan hari pencoblosan kedua, pascamasa pencoblosan. Nampak mahasiswa mulai mengisi Kamis (8/12) malam Aula GR. Dua puluh kotak suara terjejer, siap dirobek segelnya.Para relawan yang jadi saksi hitung suara suah berdatangan, juga beberapa mahasiswa mampir, meski yang sekadar menonton. Alfian Kasmyir Hi Hasyim, Koordinator Teknis PPR (Panitia Pemilihan Raya), mulai menjelaskan tata cara menentukan suara yang sah, hadirin mencerap dengan seksama. Sempat ada protes saat penjelasan syarat kertas suara lolos menjadi suara sah. Akhirnya, dengan lubang mentok sepuluh pada kertas suara asalkan masih di dalam gambar kotak yang memuat nomor urut, identitas serta foto pasangan, jadi kesepakatan suara sah. Kertas suara terdiri dua gambar kotak, Ryan-Hasna di kotak kiri, sedang “Kotak Kosong” di gambar kotak kanan. Lebih dari sepuluh lubang dalam satu kotak, tidak sah. Melubangi dua kotak, tidak sah pula. Kertas suara tanpa lubang, dihitung abstain. Pukul 20.45, perhitungan suara dimulai.

Kala perhitungan suara, didapati hal-hal konyol, bahkan ada yang menggelikan. Ada yang melubangi kertas suara dengan sundut rokok (lubang pada kertas gosong seperti bekas sundutan rokok) di salah satu gambar kotak. Kendatipun bukan dengan paku, tetapi suara dihitung sah sebab letaknya di dalam kotak. Lalu, ada yang lebih nyeleneh lagi, foto pasangan nomor satu dipotong rapi, menyisakan kertas suara berlubang kotak terletak persis di foto. Bisa jadi “pencoblos” merupakan pendukung Ryan garis keras, namun tetap dihitung sah, sebab tidak keluar dari batas kotak. Bahkan, konyolnya, di salah satu kertas suara, ada dua pas foto- entah siapa dua sosok dalam foto itu, kabarnya mahasiswa FISIP, direkatkan menyesaki ruang “kotak kosong”, walau akhirnya yang dicoblos pun tetap kotak sebelah kiri. Lagi-lagi suara sah.

Suah dini hari, sekitar setengah dua perhitungan kelar. Berikut rincian suara yang diperoleh: 4.351 suara untuk nomor urut satu; 1.110 suara untuk nomor urut dua atau Kotak Kosong; 68 suara tidak sah; dan 35 suara abstain. Keseluruhan suara menjadi 5.564 suara dari 8 ribu kertas suara yang dicetak KPR, sisanya tak terpakai. Bisa ditelaah, sekitar 5.564 mahasiswa yang berpartisipasi dalam pemilihan. Di sarwa fakultas Unsoed, pasangan nomor satu unggul. Meski unggul, jumlah suara untuk kotak kosong seperempat dari total suara Ryan-Hasna. Bahkan, di FEB pun kotak kosong “mampu” mendulang suara hampir setengah dari perolehan suara Ryan-Hasna, yakni 253 suara, berbanding dengan 529 suara untuk Ryan-Hasna. FEB pun merupakan fakultas yang paling banyak suara kotak kosong-nya. Sedangkan perolehan suara terbanyak Ryan-Hasna di FIKES, sebanyak 647 suara.

Meraba Tubuh Kabinet

Ryan-Hasna telah ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM Unsoed 2017 saat Kamis, 15 Desember. Ketika ditanya soal pembentukan struktur kabinet, Ryan hanya bilang akan dirumuskan bersama. “Sebenernya ketika saya udah jadi Presbem nanti, saya bukan hanya milik yang dukung saya saja, tapi semua mahasiswa Unsoed,” selorohnya.

Konon, nama-nama seperti Abdurrahman Wahid A., Muflih Fuadi, Rizky B. Aritonang, Sujada Abdul Malik, digadang-gadang akan mengisi nama-nama dalam kabinet. Hingga berita ini selesai ditulis, belum ada pengumuman resmi perihal nama kabinet dan siapa-siapa menteri yang akan menjadi pengisi kabinet tersebut.

 

Reporter: Emerald Magma Audha, Intan Rifiwanti, dan Mustiyani Dewi Kurniasih.

Editor: Nurhidayat.

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa edisi Desember 2016.