Rusunawa Punya Cerita

Oleh: Faida Nasiroturrohmah

Suasana Rumah Susun Sederhana Sewa Universitas Jenderal Soedirman (07/05).

Suasana Rumah Susun Sederhana Sewa Universitas Jenderal Soedirman (07/05). Foto: Marita Dwi Asriyani.

Azan zuhur tengah berkumandang ketika saya tiba di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Kamis (4/5). Di lantai satu, beberapa mahasiswa duduk bercengkerama, ada pula yang duduk sambil bermain game online di laptop. Lainnya sedang menonton televisi. Satu lantai di atasnya, suasana lebih lengang, terlihat ada mahasiswa yang lewat di lorong-lorong kamar. Ketenangan Rusunawa terasa pada siang itu. Sesekali riuh gelak tawa memecah ketenangan. Saling senyum dan saling sapa antarpenghuni menggambarkan seolah tidak ada masalah di lingkungannya. Namun, bila ditelisik lebih lanjut, Rusunawa menyimpan sejumlah masalah.

***

Rusunawa merupakan salah satu dari tiga asrama mahasiswa Unsoed, terletak di sebelah utara GOR Soesilo Soedarman, Karangwangkal, Purwokerto Utara. Berdasarkan keterangan di laman unsoed.ac.id, Rusunawa mulai difungsikan Juli 2010. Gedung asrama tersebut terdiri atas 5 lantai, tiap lantai memiliki 2 lobi, 24 kamar, dan 8 WC dan kamar mandi. Tiap kamar disediakan 4 buah tempat tidur, 4 lemari, meja belajar dan kursi.

Awalnya, Rusunawa dimanajemeni oleh beberapa dosen yang berstatus pengelola kontrak. Pengelola tersebut terdiri dari enam orang, masing-masing memiliki tupoksi yang berbeda. Struktur pengelola kontrak Rusunawa terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, bagian komunikasi dan pengembangan keputrian, bagian pembinaan karakter mahasiswa, dan bagian pengembangan dan perbaikan infrastruktur. Kemudian, sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang, pengelolaan Rusunawa dipegang oleh Badan Pengelola Usaha (BPU) Unsoed.

Saat Rusunawa mulai difungsikan, Dwi Susilowati, penghuni lama Rusunawa yang Skëtsa wawancarai pada Kamis (4/5) menjelaskan bahwa saat itu keadaan bangunan Rusunawa masih baik, termasuk perabot di dalamnya. Namun, akses jalan untuk keluar dan masuk asrama masih sulit. Ilalang di sekitar Rusunawa masih tinggi, suasananya pun sepi dengan penerangan yang masih minim. Fasilitas seperti kantin dan wifi belum ada. Pun ketersediaan air bersih untuk MCK (mandi, cuci, kakus) masih sulit. Waktu itu, kondisi air berwarna kecokelatan serta terdapat cacing di dalamnya.

Beberapa bulan setelah difungsikan, ada penambahan fasilitas kantin, disusul pembuatan jalan sebagai akses keluar dan masuk. Selang setahun kemudian, di periode kepemimpinan Eddy Tri Sucianto, Rusunawa mengalami penambahan fasilitas lain seperti pemasangan wifi, pembuatan portal di pintu masuk, pemasangan pagar besi di tempat parkir penghuni, dan lain-lain. “Tapi untuk renovasi, perbaikan, pemeliharaan lah istilahnya itu nggak ada,” ujar Susi—sapaan Dwi Susilowati—saat ditanya perihal pemeliharaan oleh pengelola lama.

Pada Jumat (12/5), Skëtsa menemui Endro Yuwono yang mengemban posisi sekretaris  Rusunawa pada masa Eddy menjadi ketua. Endro menjelaskan, pada masa Eddy, telah mengupayakan pembenahan seperti perbaikan pompa air, pengecatan tandon air, hingga pembuatan sumur baru. Hal tersebut dilakukan untuk menyelesaikan masalah ketersediaan air bersih di Rusunawa. Namun, ternyata tidak membawa perubahan secara signifikan.

Tujuan awal pengelolaan diberikan kepada para dosen menurut Endro karena Edy Yuwono—Rektor kala itu, menginginkan Rusunawa bukan hanya sebagai tempat tinggal saja, melainkan juga sebagai tempat untuk membangun karakter penghuninya. “Jadi, kita konsepnya sebagai sarana menginap sekaligus pembinaan, makanya dosen (dijadikan sebagai pengelola). Sehingga sebenarnya konsep kita ada acara-acara pembinaan sikap mental mahasiswa,” ungkap Endro. Beberapa bentuk kegiatannya adalah kegiatan kerohanian dan pelatihan keterampilan bagi penghuni Rusunawa.

Untuk membantu tugas pengelola Rusunawa, pengelola mengangkat empat penghuni di tiap lantai Rusunawa menjadi Senior Resident (SR). Keberadaan SR sudah ada sejak pengelolaan Rusunawa diketuai oleh Eddy. SR bertugas sebagai kepanjangan tangan pengelola dalam mengurus penghuni Rusunawa. “Membantu pengelola agar kepentingan-kepentingan mahasiswa (penghuni Rusunawa-red) bisa terjembatani,” ujar Endro. Lebih lanjut, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Peternakan itu menjelaskan bahwa pengelola tidak selalu berada di Rusunawa, sehingga apabila ada hal-hal yang ingin dikeluhkan atau disampaikan pada pengelola, bisa melalui SR. Selain itu, SR juga bertugas menyebarkan informasi mengenai peraturan atau kebijakan baru dari pengelola. Meski pengelolaan telah diambil alih oleh BPU, keberadaan SR masih ada hingga kini.

Mulai tahun 2012, tugas SR bertambah. Selain membantu penyebaran informasi antara penghuni dengan pengelola, mereka juga mengoordinasi kegiatan bersihbersih setiap Sabtu. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh penghuni, lantaran kondisi kebersihan Rusunawa semakin memprihatinkan. Menurut cerita Susi, mulanya lobi dan teras Rusunawa dibersihkan oleh petugas kebersihan, lalu entah mengapa sudah tak ada lagi petugas yang membersihkan. Berdasarkan penuturan Toro, salah seorang Pramu Kantor Rusunawa yang ditemui Skëtsa pada Kamis (4/5), hal ini terjadi karena petugas kebersihan Rusunawa hanya berjumlah tiga orang. Mereka kerepotan apabila harus membersihkan semua bagian Rusunawa. Oleh karena itu, Toro menginginkan penghuni ikut membantu petugas kebersihan dengan mengadakan kerja bakti rutin setiap Sabtu. Hingga kini, kegiatan tersebut masih rutin dilaksanakan dan wajib diikuti oleh penghuni Rusunawa. Apabila penghuni ada yang tidak mengikuti, maka mereka akan mendapat denda sebesar Rp5.000,- dari SR.

***

Pada tahun 2014, pengelolaan Rusunawa diambil alih oleh BPU. Masa itu belum ada koordinator pengelola Rusunawa. Kepala BPU, Kuat Puji Prayitno menyatakan bahwa pengelolaan Rusunawa kala itu dipegang langsung olehnya. Tetapi, Toro mengatakan pada masa itu, para pegawai Rusunawa tidak mengetahui siapa yang bertanggungjawab terkait pengelolaan Rusunawa. Mereka hanya mengetahui bahwa pengelolaan Rusunawa telah diambil alih BPU.

Kemudian, saat dikonfirmasi via telepon (12/5), Kuat mengakui bahwa dirinya membutuhkan koordinator pengelola Rusunawa. “Prinsipnya, selama kepemimpinan saya di BPU, baik manajemen dan layanan, maka perlu ada pengurus yang fokus (untuk mengelola Rusunawa),” terang Kuat.  Dia merasa tidak efektif bila hanya satu orang yang mengelola semua aset Unsoed. Maka, pada awal 2016 lalu, Siti Kunarti diberi amanah menjadi Koordinator Pengelola Rusunawa.

Sebagai koordinator pengelola baru, Kunarti mengakui saat pertama kali meninjau langsung keadaan Rusunawa, kondisinya kurang terurus. Rusunawa terlihat kotor. Padahal berdasar ujaran Susi, sebelum kedatangan Kunarti, SR dan seluruh penghuni sudah berusaha membersihkan.

***

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani.

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani.

Sejak pengelolaan Rusunawa diambil alih oleh BPU, terdapat kebijakan baru mengenai mekanisme pembayaran. Awalnya, pembayaran sewa Rusunawa dilakukan secara tunai. Kini, pembayaran harus melalui Bank Mandiri yang sebelumnya melalui Bank BNI. Sayangnya, kebijakan ini tidak diikuti dengan ketentuan pembayaran yang jelas. Banyak penghuni yang tak tahu menahu tentang jangka waktu pembayaran. Perihal itu menyebabkan banyak penghuni yang memanfaatkan ketidaktahuannya dengan membayar sewa semaunya sendiri, baik nominal maupun waktu pembayarannya. Pun mahasiswa dapat menjadi penghuni baru kapan saja selama masih tersedia kamar untuk dihuninya.

Mengenai biaya sewa, kenaikan tarif sewa telah terjadi dua kali. Pada tahun 2010, tarif Rusunawa untuk per orang Rp1.200.000/tahun dengan ketentuan satu kamar berisi empat orang penghuni. Lalu, tahun 2013, tarifnya naik menjadi Rp1.500.000/tahun dengan ketentuan satu kamar berisi tiga orang penghuni. Terakhir, tahun 2017, tarif sewa menjadi Rp1.000.000/semester untuk penghuni penerima Bidikmisi dan Rp1.250.000/semester untuk penghuni non-Bidikmisi.

Penaikan tarif untuk tahun 2017 didasarkan pada Keputusan Rektor Universitas Jenderal Soedirman Nomor: KEPT.275/UN23/RT.00/2017 tentang Tarif Layanan Penggunaan Lahan, Gedung, dan Ruangan Universitas Jenderal Soedirman. Menurut keterangan Kunarti, pembedaan tarif terjadi karena Kunarti ingin mengembalikan fungsi awal pendirian Rusunawa sebagai tempat tinggal yang harganya terjangkau serta nyaman bagi mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi. Penaikan tarif ini akan diberlakukan pada semester ganjil besok bersamaan dengan perubahan ketentuan jumlah penghuni dalam satu kamar menjadi dua orang. Menurutnya, lebih baik penghuni sedikit, namun administrasi tertib, ketimbang banyak namun runyam.

***

Matahari tingginya baru sepenggalah. Ketika saya menemui Kunarti pada Selasa (5/5), dia menyatakan dari sebelum kepengurusannya hingga awal tahun 2017, banyak mahasiswa yang belum membayar sewa Rusunawa. Tidak sedikit pula yang telah meninggalkan Rusunawa tanpa melunasi pembayaran. Sebenarnya SR sudah melaporkan hal ini kepada pengelola, tetapi tidak ada tindak lanjut dari pengelola seperti pemberian sanksi atau lainnya. SR pun tak bisa berbuat banyak.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, Dwi Imam Subarkah, pegawai bagian administrasi Rusunawa itu menjelaskan bahwa pengelola Rusunawa tidak memiliki data mahasiswa yang belum dan yang sudah lunas terkait pembayaran sewa, baik dari pihak bank maupun pengelola lama. Oleh karena itu, pada Kamis (4/5) Imam mengatakan bahwa pengelola meminta bantuan SR untuk mengumpulkan fotokopi slip pembayaran mahasiswa. Pihak SR awalnya cukup keberatan karena mendapat tugas yang mendadak serta cukup sulit. Padahal, selama ini mereka belum pernah berurusan dengan administrasi Rusunawa.

Perihal lis penagihan sewa Rusunawa, ditemukan ketidaksesuaian data yang ada di lis. Terdapat beberapa penghuni sudah membayar sewa, namun masih tercantum dalam lis penagihan. Ketika ditelusuri, berdasarkan penjelasan Dwi Imam Subarkah, lis penagihan hanya berdasarkan dari fotokopi slip pembayaran yang dikumpulkan oleh SR. Sehingga apabila terdapat ketidaksesuaian data, dia meminta bukti fotokopi slip pembayarannya untuk memastikan keakuratan data. Sementara, menurut penuturan Kunarti, lis penagihan tersebut memang berasal dari SR, tetapi belum dicek dengan data dari pihak bank. Karena tidak adanya protes dari mahasiswa, maka Kunarti menganggap bahwa lis tersebut memang sudah benar datanya.

Eddy menyatakan hal tersebut tidak terjadi pada masa kepengelolaannya. Eddy mengaku, kala dia menjadi pengelola, administrasi keuangan berjalan dengan tertib. Mahasiswa membayar sewa secara kontan kepada resepsionis Rusunawa. Kemudian, resepsionis menyetorkan kepada bendahara yang saat itu dijabat oleh Krisnoe Maya Woelandari. Eddy merasa bahwa sistem pembayaran seperti itu lebih rapi karena dapat memeriksa data pembayaran dengan mudah. Saat Skëtsa mengonfirmasi hal ini kepada Endro, dia menjelaskan lebih lanjut bahwa bendahara akan menyetorkannya ke rekening rektor, karenanya ihwal pendanaan menjadi kewenangan rektorat.

Pada masa peralihan pengelola, pengelola lama sudah menyerahkan laporan kinerja dan data-data administrasi ke BPU. Endro dan beberapa pengelola lama yang lain sudah menyerahkan semua berkas yang berkaitan dengan Rusunawa. Sehingga semua data yang diperlukan mengenai pengelolaan sebelum BPU, semuanya sudah dipegang oleh BPU yang saat itu secara simbolik diterima oleh Kuat.

Kondisi WC di lantai empat Rusunawa Universitas Jenderal Soedirman (07/05).

Kondisi WC di lantai empat Rusunawa Universitas Jenderal Soedirman (07/05). Foto: Marita Dwi Asriyani.

***

Sehabis UTS semester genap ini, SR lantai lima, Siti Khikbayani, sempat bingung ketika mengetahui dua penghuni baru melakukan pembayaran sewa Rusunawa secara kontan sebesar Rp900.000 per orang, bukan transfer lewat bank. Padahal tarif tersebut tidak masuk ke dalam kategori tarif lama maupun baru. Saat ditanya alasannya, Eka Nurhayati, salah seorang penghuni baru tersebut mengatakan bahwa mereka memang diminta membayar biaya sebesar itu. Lantaran mereka tidak memiliki rekening, akhirnya pembayaran dilakukan secara kontan. Kemudian wartawan Skëtsa mengonfirmasi ihwal ini kepada Kunarti. Dia membenarkan telah terjadi transaksi tersebut, namun hal tersebut dilakukan dengan persetujuan kedua calon penghuni saat itu. Alasannya, masa itu, keputusan rektor tentang tarif Rusunawa telah turun, meskipun dia belum menerapkannya untuk seluruh penghuni. Sehingga saat ada penghuni baru, dia menawarkan pilihan, apakah ingin mengikuti tarif “tengah-tengah” atau tarif baru.

Kunarti bercerita bagaimana dia merasa geram dengan mantan penghuni yang belum melunasi hutang pembayaran. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang mahasiswa tidak memiliki beban moral ketika meninggalkan Rusunawa tanpa melunasinya. Padahal, tarif sewa yang dipatok di bawah tarif sewa asrama mahasiswa di universitas lain. Kunarti menginginkan seharusnya mahasiswa tidak hanya menuntut haknya untuk peningkatan fasilitas, namun kewajiban membayar sewa malah dilalaikan. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran mahasiswa yang telah menggunakan fasilitas Rusunawa, namun tidak mau membayar sewa. Untuk mengakali agar kejadian tersebut tidak terulang di masa pengelolaannya, sekarang, Kunarti memberlakukan sistem wawancara kepada mahasiswa calon penghuni Rusunawa. Tujuannya untuk mengetahui keseriusan dan mengenal lebih jauh calon penghuninya.

***

Ketika sosialisasi tentang Tarif Baru Rusunawa pada Sabtu (25/3 dan 1/4), banyak keluhan dari para penghuni Rusunawa terkait buruknya fasilitas seperti permasalahan kondisi air yang kotor dan terdapat cacing, lantai yang retak-retak, televisi yang mati, sinyal wifi yang tidak sampai kamar-kamar penghuni, dan lainnya. Salah satu penghuni, Septi Nurwarasati menyatakan bahwa pengelola telah berjanji akan menindaklanjuti segala kerusakan fasilitas Rusunawa. Tetapi, menurut Septi, pengelola terlalu lama merealisasikan janjinya. Salah satu contohnya seperti pengadaan air bersih yang menurut Septi adalah janji yang sudah sangat lama. “Menurutku air (bersih-red) itu udah janji yang udah lama banget…” ungkapnya saat ditemui oleh Skëtsa pada Rabu (3/5). Komentar penghuni lain, Siti Khikbayani, juga mengeluhkan hal yang sama. Yani menginginkan buruknya fasilitas untuk diprioritaskan perbaikannya karena kerusakan cukup mengganggu kenyamanan penghuni.

Realisasi janji perbaikan fasilitas Rusunawa dari Kunarti memang sedang dilakukan, terlihat dari pengurasan bak penampungan air dengan kaporit yang diintensifkan tiap dua bulan sekali. Hasilnya, air semakin bersih dan cacing mulai berkurang. Kunarti pun saat ini telah mengajukan rencana perbaikan lantai keramik yang pecah-pecah, pengecatan bangunan Rusunawa, dan pemasangan wifi tambahan di tiap lantai. Kunarti mengetahui bahwa banyak orang dari luar yang bukan penghuni juga ikut memanfaatkan wifi di Rusunawa. Penghuni pun merasa cukup terganggu lantaran seringkali koneksi wifi menjadi lambat. Makanya, Kunarti juga akan mengatur hal ini dalam kebijakan barunya nanti.

Berkaitan dengan lamanya tindak lanjut perbaikan fasilitas dari pengelola, Kunarti menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh mekanisme sistem yang ada, membuat penghuni harus bersabar. Permintaan penghuni untuk perbaikan fasilitas Rusunawa akan ditampung oleh pengelola, lalu diajukan kepada BPU setiap tahunnya. Dari BPU akan mengusulkannya ke pihak rektorat. Lalu, pihak rektorat lah yang akan menentukan besarnya dana yang diterima Rusunawa. Setelah besaran dana sudah ditentukan, rektorat lantas memberikan dana kepada BPU. Kemudian BPU menyalurkan dana tersebut kepada Rusunawa sesuai dengan prioritas kebutuhan Rusunawa.

Kini, Kunarti berencana mengubah kebijakan Rusunawa secara menyeluruh. Dia sedang menggarap rancangan kebijakan yang akan diajukan kepada Rektor. Targetnya, kebijakan tersebut bisa diterapkan pada semester ganjil di tahun ini. Ketika dimintai keterangan lebih mengenai kebijakan apa saja yang diubah, dia hanya memberi gambaran secara umum, yaitu kebijakan mengenai hak dan kewajiban penghuni, termasuk SR, mekanisme dan ketentuan menjadi penghuni Rusunawa, serta sanksi bagi yang melanggarnya.

Reporter: Faida Nasiroturrohmah, Intan Rifiwanti, Yoga Iswara R. M., Rachmad Ganta S., dan Dara Nuzzul R.

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa Edisi XXXIV/Juni 2017.