Nama-nama Itu Belum Muncul

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad dan Emerald Magma Audha
Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Maret 2018 adalah bulan terakhir Achmad Iqbal menjabat sebagai Rektor Unsoed. Dalam waktu dekat ini pemilihan rektor Unsoed periode 2018-2022 bakal digelar. Menjelang itu, banyak kabar beredar terkait nama-nama yang boleh jadi berpotensi meramaikan kontestasi ini. Nama-nama kandidat pada pilrek sebelumnya seperti Achmad Iqbal dan para pesaingnya dikabarkan bakal nyalon lagi. Ada pula nama-nama potensial selain mereka, misalnya saja para mantan dekan. Bahkan, nama Ketua Senat ikut dibicarakan dalam isu, juga nama Direktur Pascasarjana Unsoed.

Ketika diwawancarai, Achmad Iqbal bilang bahwa ia tak akan maju lagi, kendati masih ada kemungkinan maju. Menambah ketidakpastian, nama-nama yang mencuat pun masih enggan berbagi lebih jauh ihwal rencana ikut berkompetisi dalam ajang pilrek nanti. Skëtsa pula mewawancarai salah satu mantan Rektor Unsoed, ialah Prof. Rubiyanto Misman. Ia membagikan welingnya untuk rektor baru kelak berdasarkan pengalamannya sebagai rektor dua periode. Selain itu, tentu ada tanggapan dari para narasumber lain yang memenuhi tulisan ini.

***

Tidak sembarang dosen bisa mencalonkan diri menja­di rektor. Setidaknya, ada beberapa persyaratan administratif yang mesti dipenuhi sebelum bisa bergelut dalam kontestasi menuju jabatan struktural tertinggi di universitas itu. Secara  umum, yang dipersyaratkan di antaranya ialah: memiliki ja­batan fungsional paling rendah sebagai lektor kepala, berusia paling tua 60 tahun saat rektor petahana habis masa jabatan­nya, memiliki pengalaman manajerial sekurang-kurangnya 2 tahun, dan minimal berpendidikan doktor. Sejumlah persyaratan tambahan yang lain sedianya mengikuti sebagaimana yang dituangkan dalam Peraturan Menristekdikti Nomor 19 Ta­hun 2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri.

Dari peraturan tadi, terdapat rangkaian mekanisme pilrek yang meliputi tahap awal penjaringan bakal calon, lalu penya­ringan calon, pemilihan calon, dan terakhir tahap penetapan dan pelantikan. Pada tahapan awal itu mesti sudah dilak­sanakan paling lambat 5 bulan sebelum masa jabatan Rektor Petahana berakhir.

Jika mendasarkan pada aturan tadi, maka tahapan awal pilrek nanti paling lambat akan mulai digelar pada Oktober ta­hun ini. Rangkaian pilrek tadi diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh senat universitas. Untuk mengetahui sejauh mana persiapan yang telah dilakukan senat menjelang pilrek, Skëtsa pun menemui Ketua Senat Unsoed.

Menunggu Oktober

Rabu, 12 Juli 2017, reporter Skëtsa bergegas menuju Ge­dung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsoed. Gedung itu terletak di Karangwangkal, berdampingan dengan kompleks Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsoed. PKM dan Gedung LPPM cuma dipisahkan sebaris pagar yang tingginya tidak lebih dari dua meter.

Gedung LPPM bercatkan putih pada dinding luarnya. Ber­beda dari eksteriornya, warna hijau lebih mendominasi wilayah interior gedung. Setelah bertanya pada resepsionis, pewarta Skëtsa pun diarahkan ke lantai dua. “Ruang Ketua ada di lantai dua,” kata lelaki penerima tamu. Sepanjang langkah menuju lantai dua, tampak beberapa foto yang dipajang berderet pada dinding yang bersikuan dengan tangga. Beberapa dari foto tersebut mengabadikan temuan penelitian yang dihasilkan oleh Unsoed.

Prof. Suwarto, Ketua Senat Unsoed, menyambut pewarta Skëtsa begitu pintu kantornya diketuk. Ia mempersilakan ma­suk. Sekilas, ruangan kerjanya terlihat cukup besar. Orang yang datang harus melewati dua lapis pintu untuk sampai di ruang kerjanya. Selain sebagai Ketua Senat, Suwarto juga menjabat sebagai Ketua LPPM Unsoed sejak 2015.

Skëtsa mendapati beberapa informasi yang berkaitan dengan persiapan pilrek dari Suwarto. Soal pilrek belum mendapat tempat untuk dibahas dalam rapat senat univer­sitas. Diujarkan oleh Suwarto, bahasan terkait dengan pilrek baru akan dibahas pada bulan Oktober tahun ini. Meski de­mikian, ia tidak sungkan memberikan gambaran lebih jauh mengenai persiapan pilrek mendatang.

Persiapan pilrek dimulai dengan pembentukan pani­tia pemilihan. Kepanitiaan ini disusun oleh senat universitas. Panitia tadi yang membuat peraturan terkait tata tertib pemi­lihan—yang setelah jadi nanti, kelak disahkan sebagai pera­turan senat. Peraturan ini merupakan petunjuk teknis serta prosedur pelaksanaan pemilihan yang melandaskan pada Per­menristekdikti Nomor 19 Tahun 2017. “Jadi, Peraturan Menteri adalah induknya, sedangkan peraturan teknisnya adalah pera­turan senat,” jelas Suwarto.

Menyoal teknis pelaksanaan yang lebih rinci, Suwarto mengatakan masih perlu mengoordinasikannya dengan Ke­menterian Ristekdikti serta anggota senat yang lain.

“Apakah penyaringan calon rektor dengan (melibat­kan-red) Menteri, nanti langsung pemilihan. Atau penyaringan dulu, setelah beberapa hari baru pemilihan, ini yang belum jelas. Perlu dikomunikasikan dengan Sekretariat Jenderal Ke­menterian (Ristekdikti),” ujar Suwarto. Ia pun merinci pen­jelasan sebelumnya, bahwa tata tertib mengenai kampanye calon juga akan diatur dalam peraturan senat.

Suwarto kemudian sedikit bercerita soal pilrek pada tahun 2009 silam. Dikisahkannya, pilrek waktu itu terbilang ramai, se­bab adanya kampanye yang dilakukan oleh para bakal calon rektor. Ini terjadi pada tahap penyaringan. Kala itu, bentuk kampanye yang paling umum, hadir dalam wujud penyebaran foto kandidat. Tidak tanggung-tanggung, bahkan foto-foto para kandidat yang dipasang tergolong berukuran besar. Ra­mai. Hampir mirip seperti masa menjelang pemilu.

Foto-foto tersebut banyak dijumpai di fakultas yang men­jadi tempat asal para bakal calon rektor waktu itu. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Pada masa tersebut, di tahap penyaringan, dosen mempunyai suara untuk memilih. Suara dosen merupakan penentu agar para bakal calon bisa lolos ke tahap pemilihan sebagai calon rektor. Buntutnya, para bakal calon berlomba menggalang dukungan dari dosen-dosen di fakultasnya.

Hal demikian sontak membuat suasana beberapa fakultas jadi “menghangat”. Masing-masing fakultas sibuk mendukung calon rektor yang diusungnya. Akan tetapi, tidak semua dosen di fakultas kala itu memiliki hak suara, terdapat kriteria-kriteria khusus untuk itu. Adapun kriterianya ditentukan oleh panitia pemilihan.

Tidak sampai di situ, keramaian rangkaian pilrek 2009 ber­tambah tatkala terjadi perbedaan antara suara senat dan suara dosen. Setelah diusut, ternyata hasil pemeringkatan delapan bakal calon terbagi menjadi dua versi: versi suara dosen dan versi suara senat. Kedua versi punya pemeringkatan yang ber­beda.

Kemudian, Suwarto pun bersedia membagikan perkiraan jadwal untuk pilrek Unsoed mendatang. Awal Oktober 2017 akan dibentuk panitia pemilihan. Sepanjang bulan Oktober hingga November rencananya akan dilangsungkan penyusunan tata tertib pemilihan. Kemudian sosialisasi pada November, setelah aturan tata tertib tadi rampung digarap. Selepas itu, pendaftaran bakal calon baru bisa dilakukan. Hal-hal tersebut tadi merupakan rangkaian kegiatan dalam tahap penjaringan. Dan terakhir, sebelum masa kepemimpinan Achmad Iqbal usai, harus sudah ada rektor baru terpilih. Maka dari itu, pemilihan calon rektor ditargetkan bisa dilaksanakan paling lambat pada Februari 2018.

Suwarto pernah menjadi tim penyusun tata tertib pemi­lihan pada pilrek sebelumnya. Ia bilang hanya ada sedikit ken­dala terkait perencanaan pilrek 2018. Menurutnya, kesulitan terbesar adalah menyesuaikan jadwal pemilihan di universitas dengan kesanggupan Menteri Ristekdikti. Menteri dikenal se­bagai orang yang sibuk, sehingga senat universitas lah yang ha­rus menyesuaikan waktu dengan jadwal menteri.

Lalu, perihal persyaratan administratif untuk calon rek­tor tetap mendasarkan pada Peraturan Menteri. Menurut Suwarto, calon rektor dimungkinkan bisa berasal dari PTN lain. Ini merupakan celah, kata Suwar­to. Kendati demikian, menurutnya yang jelas calon rektor harus mempunyai pengalaman mana­jerial.

Soal calon rektor dari luar kampus pernah terjadi pada pemilihan rektor Universitas Indonesia periode 2014-2019. Kala itu, dari 27 nama yang mendaftar, ada nama-nama yang berasal dari kampus lain seperti dosen dari Institut Pertanian Bogor, juga dari Universitas Diponegoro dan Universitas Katolik Parahyangan. Bahkan, ada juga nama dari International Islamic University Malaysia yang ikut mendaftar bursa pilrek UI. Sam­pai kini, untuk pemilihan rektor di Unsoed sendiri, menurut data yang dihimpun, belum pernah ada calon yang berasal dari luar Unsoed. Istilah “perbaikan harus dilakukan oleh orang luar” tidak pernah mewacana.

Suasana Patung kuda Universitas Jenderal Soedirman, Selasa (25/7). Foto: Marita Dwi Asriyani.

Suasana Patung kuda Universitas Jenderal Soedirman, Selasa (25/7). Foto: Marita Dwi Asriyani.

Menebak Nama-nama Potensial

Kira-kira, siapa saja nama-nama yang bakal maju pada ajang pilrek nanti? Soal itu sempat Skëtsa tanyakan pada Ketua Senat. Namun, Suwarto bilang, belum ada calon potensial yang muncul. “Yang berminat mungkin ada, cuma mungkin be­lum declare. Pendaftaran (bakal calon) saja belum,” katanya.

Anggota senat dibolehkan nyalon dalam ajang pilrek. Dari situ, pewarta Skëtsa menceletuk pada Suwarto, “Bapak mau nyalon enggak?” Suwarto tampak mesem. Tunggu saja nanti saat pengumuman dan sosialisasi pilrek, kata Suwarto menanggapi. “Sekarang kerja dulu.”

Suwarto pun melanjutkan, sebelum ia berniat men­calonkan diri, ia perlu mempertimbangkan banyak hal. Misal­nya, ia pun menguraikan, “Satu, saya mampu enggak. Dua, ada yang dukung enggak. Tiga, apakah prestasi saya dinilai memenuhi.” “Ya realistis deh, saya pun dulu waktu jadi dekan juga gitu kok,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian itu.

Kali ini, Adhi Iman Sulaiman (salah satu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik—FISIP) Skëtsa jadikan narasumber. Ia seorang pengajar Komunikasi Politik di Jurusan Ilmu Politik. Sekarang, ia dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Ditemui di Ruang Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada Kamis (14/7) sore, Adhi Iman tampak siap untuk Skëtsa mintakan pendapatnya. Wawancara pun berlangsung lempeng menuju inti pembicaraan. Ia menuturkan, di kalangan dosen, belum ada nama-nama potensial yang secara terang-terangan menyatakan bakal maju pada pilrek mendatang. Belum ada nama yang mengumumkan secara konkret akan mencalonkan diri.

Meski begitu, Adhi Iman mengaku sudah memiliki prediksi daftar nama yang akan muncul. Hanya saja, ia enggan mem­bagikannya. “Cuma, nanti kalau saya ungkap, nanti menjadi rumor,” ujarnya.

Sebelumnya, Skëtsa telah menemui narasumber lain un­tuk dimintakan pendapatnya. Namanya Bambang Widodo. Ia seringkali berperan dalam berbagai acara yang diseleng­garakan Unsoed. Ia juga seo­rang dosen dari Jurusan Ilmu Komunikasi.

Skëtsa menyambangi ru­mahnya di Teluk, kecamatan Purwokerto Selatan pada Rabu (12/7) malam. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari tepian Jalan Sultan Agung.

Dari cukup jauh, tampilan rumah Dodit—begitu ia kerap disapa—tampak cukup berbeda dari rumah-rumah di seki­tarnya. Gaya arsitektur Jawa cukup kental menghiasi bagian depan rumahnya. Ia sepertinya penikmat seni. Terlihat di ba­gian ruang tamu di rumahnya, berjejalan benda-benda seni. Ada patung, lukisan, guci, hingga kain bermotif batik.

Menurut Dodit, kabar yang bertebaran terkait nama-na­ma yang akan mencalonkan diri masih sebatas isu saja. Isu tersebut beredar beriringan dengan beberapa nama calon potensial yang mulai banyak disebut. Ada beberapa nama yang digadang-gadang akan mencalonkan diri pada pilrek mendatang. Rektor Petahana Achmad Iqbal dan Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Mas Yedi Sumaryadi menjadi nama po­tensial. Ada pula nama-nama dari para mantan dekan seperti Angkasa (Fakultas Hukum—FH), Pramono Hari Adi (Fakultas Ekonomi dan Bisnis—FEB) dan Prof. Imam Santosa (FISIP). Bah­kan nama Ketua Senat Prof. Suwarto ikut disebut, juga Direktur Pascasarjana Prof. Totok Agung Dwi Haryanto dikabarkan bakal ikut meramaikan pilrek 2018.

Ingin mendapat penjelasan yang lebih terang dari kabar yang beredar, Skëtsa kemudian mencoba menemui nama-na­ma yang diisukan akan maju guna meminta konfirmasi dari yang bersangkutan. Respons yang Skëtsa peroleh pun beragam. Ada yang langsung menampik, ada pula yang menanggapi dengan santai.

Prof. Imam Santosa misalnya. Dulu, ia pernah bersaing dengan tiga bakal calon lain dalam ajang pilrek 2014. Namun, ia tak lolos pada tahap penyaringan. Ia pun pernah menjabat Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan pada masa Rektor Edy Yuwono.

Saat Skëtsa menghubungi Guru Besar FISIP ini, ia menangkis sangkaan terkait pencalonan dirinya pada pil­rek mendatang. Melalui aplikasi berbagi pesan Whatsapp, ia langsung menampik kabar tadi. “Saya enggak maju,” balas dia manakala dimintai konfirmasi pada Kamis (13/7) malam.

Hari esoknya, Jumat, 14 Juli 2017, Skëtsa menemui Prof. Totok Agung Dwi Haryanto. Direktur Pascasarjana merupakan posisi yang sedang ia jabat saat ini. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Ketua LPPM Unsoed. Pada pilrek 2014 lalu, mulanya Totok berencana ikut mencalonkan diri. Tetapi, niat itu ia urungkan lantaran ada koleganya yang maju nyalon, ialah Achmad Iqbal, Dekan Fakultas Pertanian kala itu. Alasannya, Totok ingin memberikan kesempatan pada Achmad Iqbal juga agar situasi di Fakultasnya tetap kondusif.

Ketika ditanya, adakah rencana untuk maju pada pilrek nanti, Totok tersenyum. Ia malah balik bertanya kepada war­tawan Skëtsa, “Menurut Anda bagaimana?” Ia sendiri masih menimbang-nimbang soal ia bakal maju atau tidak pada pilrek nanti. Menurut dia, jabatan sebagai rektor adalah tugas yang berat. “Rektor itu harus bersedia mewakafkan diri untuk ja­batan yang diembannya,” begitu ungkapnya.

Masa jabatan rektor PTN adalah 4 tahun, dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Achmad Iqbal terpilih menjadi Rektor Unsoed periode 2014-2018 setelah menyisihkan dua calon rektor lainnya pada pilrek 2014. Kala itu, Prof. Mas Yedi Sumaryadi dan Haryadi menjadi pesaing Iqbal. Dari total 72 suara (47 suara senat dan 25 suara Ke­menterian), Iqbal mendapat 35 suara, sementara Mas Yedi mengantongi 27 suara, dan sisa 10 suara bagi Haryadi. Iqbal tengah menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian ketika ia terpilih menjadi rektor.

Ketiga nama tadi—yang menjadi kandidat pada pilrek se­belumnya, kerap disebut sebagai nama potensial. Maka dari itu, Skëtsa mencoba meminta konfirmasi pada mereka.

Suatu petang di hari Senin (17/7). Skëtsa menyambangi kediaman Prof. Mas Yedi Sumaryadi di Perumahan Griya Limas Permai di Jalan Dr. Soeparno. Jaraknya cukup dekat dari Fakul­tas Peternakan, tempat ia mengajar.

Di akhir 2013, semula Mas Yedi sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademik, kemudian ia diangkat menjadi Rektor ke-9 Unsoed menggantikan Edy Yuwono yang tersandung kasus korupsi. Pada pilrek 2014, sebenarnya ia berpeluang besar men­jadi rektor lagi. Sebagian besar senat menginginkannya menja­di rektor. Tetapi, ia kalah perolehan suara dengan Achmad Iqbal yang memperoleh suara Kementerian. Dan, saat ini ia masih menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik.

Adakah kemungkinan untuk mencalonkan diri lagi? Mas Yedi belum mau angkat bicara soal itu. Ia pun enggan berko­mentar terkait pilrek nanti. Alasannya, ia orang birokrat, ada etika birokrasi. “Enggak etis kalau ngomong komentar pilrek, tapi belum ada diskusi dengan atasan,” begitu katanya.

Rektor Achmad Iqbal turut pula Skëtsa mintakan konfir­masinya, akankah ia mencalonkan diri untuk yang kedua ka­linya. Pasalnya, banyak kabar yang berembus terkait hal tadi. Meskipun dalam berbagai acara, ia kerap menyatakan tidak akan maju lagi pada pilrek mendatang.

Disambangi di rumah dinasnya pada Kamis (13/7), Iqbal mengaku tidak akan maju pada ajang pilrek 2018. Kendatipun secara administrasi masih memenuhi kriteria, ia ingin memberi kesempatan kepada calon-calon lain yang lebih muda. “Secara pribadi, saya itu rencananya sudah tidak akan mencalonkan diri lagi,” tutur Iqbal kepada pewarta Skëtsa. Ia pun berterus terang sebenarnya dirinya sudah tidak berminat untuk nyalon lagi. Apalagi keluarganya pun mendukung ia tidak maju.

Walaupun begitu, masih ada kemungkinan Iqbal maju lagi. Jika memang ternyata masih banyak dukungan terha­dap dirinya untuk maju, ia tidak bisa langsung menyanggupi.

Ia mengaku tetap perlu istikharah terlebih dahulu. Hasil is­tikharahnya nanti yang akan menentukan maju tidaknya Iqbal pada pemilihan nanti.

Baca juga: Achmad Iqbal: Saya Eng­gak Maju Lagi

Niat untuk menemui Haryadi akhirnya Skëtsa urungkan. Pasalnya, setelah ditelusuri, usia mantan Dekan FEB (sebelum Pramono Hari Adi) itu telah melampaui 60 tahun. Ia kelahiran tahun 1954. Sedangkan persyaratan administatif seperti batas usia maksimal 60 tahun. Sehingga hampir bisa dipastikan ia ti­dak bisa maju pada pilrek 2018.

Sebenarnya masih ada dua nama lagi yang diperkirakan akan maju di pilrek nanti. Keduanya adalah mantan Dekan FH Angkasa dan mantan Dekan FEB Pramono Hari Adi. Sayangnya, kedua nama tersebut tidak berhasil Skëtsa mintakan konfirma­sinya.

Selain kedua nama mantan dekan tadi, ada lagi mantan dekan lain yang namanya ikut disinggung dalam isu. Ialah Prof. Akhmad Sodiq, mantan Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed. Skëtsa sudah beberapa kali menyambangi kampus Fa­pet untuk menemui Akhmad Sodiq, namun ia selalu tak ada di tempat. Salah satu dosen di situ bilang bahwa Akhmad Sodiq memang sudah jarang sekali terlihat di kampus Fapet sejak ia sibuk sebagai Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pur­wokerto. Ternyata, Akhmad Sodiq pun merupakan salah satu pendiri perguruan tinggi baru itu. UNU Purwokerto memang belum lama ini berdiri. Ia resmi berdiri sejak Menristekdikti Mohamad Nasir menyerahkan SK Pendirian UNU Purwokerto kepada Rektor Akhmad Sodiq saat pertengahan Februari lalu.

Pekerjaan Rumah Buat Rektor

Suatu kali, Skëtsa mendatangi kediaman Prof. Rubiyanto Misman di Jalan Kampus, sebelah barat lapangan Grendeng. Kamis (12/7) sore itu, Prof. Rubi banyak berbicara tentang Unsoed. Dulu, alumnus pertama Fakultas Biologi Unsoed itu per­nah memimpin almamaternya: menjadi Rektor ke-6 selama dua periode (1997-2005). Berdasarkan pengalamannya itu, ia membagikan perspektifnya tentang hal-hal yang perlu diperha­tikan bagi rektor Unsoed, juga rektor baru kelak.

Menurut pengalaman Rubi, sebagai rektor harus bisa adaptif, cepat menyesuaikan diri. Responsif terhadap peru­bahan merupakan sikap yang mesti dipunyai rektor, juga bertanggungjawab terhadap perubahan tadi. “Selalu ada gejolak pada mahasiswa untuk menuntut perubahan setiap waktu,” sambung Rubi, “baik pelayanan, fasilitas, dan segala macam.”

Rubi mengingatkan tugas rektor masa ini tidaklah mudah. Persaingan antarperguruan tinggi begitu luar biasa, apalagi sudah ada ribuan perguruan tinggi di Indonesia, baik bersta­tus negeri ataupun swasta. Harus berhati-hati dalam menjaga kredibilitas agar Unsoed bisa berkembang.

Lalu, bagaimana dengan perkembangan Unsoed saat ini? “Saya melihat biasa-biasa saja Unsoed sekarang. Datar-datar saja, belum ada sesuatu.” “Walaupun saya tahu ada beberapa dosen punya reputasi bagus,” kata Rubi, “cuma ya, belum bisa mengangkat citra Perguruan Tinggi Negeri menjadi melam­bung.”

Rubi pun menyayangkan terkait peringkat Unsoed yang merosot. Berdasarkan “List Peringkat 100 Besar Perguruan Tinggi Indonesia Non-Politeknik Tahun 2017” yang dirilis oleh Kemenristekdikti, Unsoed menempati peringkat ke-25, satu peringkat di bawah Universitas Sriwijaya dan satu peringkat di atas Universitas Negeri Jakarta.

Ia pun melanjutkan, ada hal yang menurutnya perlu jadi sorotan: semangat dalam hal penelitian dan publikasi terbilang lesu. Ia menggarisbawahi bahwa ada penurunan semangat sivitas akademika Unsoed untuk membuat penelitian yang ber­gengsi guna diterbitkan sebagai jurnal ilmiah. “Jurnal interna­sionalnya kurang, guru besar banyak yang pensiun, tapi re­generasi guru besarnya susah,” paparnya.

Rubi pula menyebutkan ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk menakar kualitas sebuah universitas. Indika­tor yang dimaksud antara lain, performa kampus, output dari lulusan, pekerjaan lulusan, durasi waktu mahasiswa dalam me­nempuh studi, kualitas sumber daya manusia, hasil riset, dan publikasi jurnal internasional. Juga menurut penuturan Rubi, ada pula indikator tambahan, semisal berapa banyak lulusan yang jadi tokoh hebat. Mengangkat citra universitas dengan berpedoman pada indikator-indikator tersebut, seperti diujar­kan oleh Rubi, adalah tugas rektor periode berikutnya.

Rubi juga berpandangan bahwa visi Unsoed harus fokus pada cikal bakalnya di bidang pertanian. Terutama persoalan pangan mesti jadi perhatian Unsoed dalam perkembangannya sebagai “pabrik pengetahuan”. “Supaya kita tidak bergantung lagi pada impor.” Rubi pun melanjutkan, “Ini yang menjadi tan­tangan Unsoed sebagai knowledge factory. Kita harus mandiri, berdikari,” imbuhnya lagi, “apalagi kita sebagai negara agraris terbesar.”

Itulah pekerjaan rumah serta tugas untuk rektor baru kelak. Ia harus bisa mengangkat citra Universitas dengan ber­pedoman pada indikator tadi. Dan, terkait visi tadi, tidak bisa hanya ditumpukan pada rektor semata, melainkan juga pada seluruh pimpinan Universitas. “Banyak sekali yang mesti diang­kat. Dan itu yang menjadi tantangan seorang rektor ke depan­nya,” tutur Rubi.

Siluet Patung Kuda Unsoed, Selasa (25/7). Foto: Marita Dwi Asriyani.

Siluet Patung Kuda Unsoed, Selasa (25/7). Foto: Marita Dwi Asriyani.

Saat Skëtsa mewawancarai Prof. Totok, ia juga sempat menyinggung tentang sejumlah hal yang perlu segera dibenahi Unsoed. Selaras dengan Prof. Rubi, Direktur Pascasarjana ini pun memandang publikasi jurnal internasional masih terbilang lemah. Selain itu, ia pun menguraikan sejumlah persoalan lain yang perlu jadi perhatian Unsoed. Contohnya seperti kemam­puan untuk menghasilkan paten dalam hak kekayaan intelek­tual, pembuatan buku yang berkaliber (nasional maupun in­ternasional), serta penambahan jumlah mahasiswa asing.

Syahdan, pewarta Skëtsa juga mewawancarai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed 2017 untuk dimintai pandangannya. Ialah Adhyatma Riyanto, mahasiswa FISIP ang­katan 2013. Kamis malam, 13 Juli 2017, pewarta Skëtsa me­nemuinya di depan sekretariat BEM Unsoed di PKM Unsoed. Wawancara berlangsung santai sembari duduk bersila.

Riyan, begitu ia kerap disapa, menegaskan bahwa rektor Unsoed nanti mempunyai sejumlah pekerjaan rumah yang mesti segera dituntaskan. Pekerjaan rumah tersebut khusus­nya menyoal transparansi hingga penciptaan iklim kampus yang demokratis dan transparan. Transparansi menyangkut keterbukaan anggaran dan permasalahan lainnya harus men­jadi perhatian.

Kampus menurut Riyan harus bisa memberikan banyak kontribusi kepada masyarakat, setidaknya kontribusi pemikiran. Berikutnya, rektor diminta menghidupkan kembali semangat akademik di Unsoed. Menyoal pembangkitan semangat akade­mik di Unsoed yang mesti digiatkan oleh rektor, Riyan mem­beri permisalan, “Contoh, diskusi yang bermanfaat dan ilmiah yang mampu memberi usulan bagi pemerintah.” Rektor yang terpilih nantinya harus bisa menciptakan iklim kampus yang demokratis dan transparan.

Sosok Rektor Idaman

Kepada Skëtsa, Prof. Totok menyampaikan harapan­nya untuk rektor yang terpilih di Pilrek 2018. Ia meng­harapkan, rektor yang terpilih nantinya adalah orang yang paham benar keadaan Unsoed saat ini. Rektor yang baru juga harus bisa membina komunikasi dengan man­tan-mantan rektor periode sebelumnya, dalam hal ini menjadikannya sebagai penasihat.

“Rektor yang terpilih harus bisa mengidentifikasi kelebihan-kelebihan apa yang sudah dilakukan rektor (periode sebelumnya-red). Kemudian dia akan meli­hat kelemahan mana yang harus diatasi,” begitu terang Totok.

Riyan juga menyampaikan pandangannya tentang kriteria rektor yang ideal baginya, ialah sebagai represen­tasi dari mahasiswa. Menurut Riyan, seorang rektor mesti memiliki komitmen yang tinggi terhadap ilmu. Komitmen yang tinggi itu akan tampak dari tindakan-tindakannya, demikian kata dia. Pada intinya, sikap-sikap yang ditun­jukkan oleh rektor haruslah didasari oleh kaidah ilmu.

Seorang rektor, menurut Riyan juga harus menggan­drungi hal-hal yang berbau keterbukaan. Riyan menuntut sikap pemimpin universitas yang lebih demokratis. Rektor ada­lah figur yang mesti punya pandangan visioner, sehingga dia selalu punya perspektif terhadap kampus yang dipimpinnya. “Bukan melulu semata soal pendidikan, tetapi mendidik anak-anak bangsa,” kata Riyan.

Kendati Adhi Iman enggan membagikan daftar perkiraan nama calon rektor potensial, Dosen Komunikasi Politik itu mau menyampaikan pandangannya soal kriteria rektor yang bisa dijadikan sebagai acuan bagi Unsoed ke depannya. Kriteria menurutnya yaitu rektor menyandang status pendidikan paling tinggi, mampu membuka media komunikasi dengan pihak sivi­tas akademika, serta punya kredibilitas akademik.

Sementara Prof. Rubiyanto Misman berpandangan bah­wa seorang rektor harus memiliki jiwa kepemimpinan, mana­jerial, dan juga berani mengambil suatu terobosan. Seorang rektor baginya tidak cukup hanya duduk dan tinggal diam. Lebih penting, rektor harus bisa berkolaborasi, menjalin kerja sama dengan pihak luar seperti pemerintah daerah setempat, pihak-pihak luar negeri, industri-industri dan tokoh masyarakat.

Terakhir, Rubi mengingatkan tantangan rektor masa ini begitu luar biasa. Masalah keuangan, manajemen, suasana kampus yang tidak kondusif, gejolak ekstrem anti-Pancasila, intoleransi, dan segala persoalan lainnya, jelas Rubi, semua penyelesaian itu kuncinya ada di tangan rektor. “Rektor harus hati-hati. Enggak bisa santai-santai, dan harus rajin turun ke fakultas-fakultas, mengamati, komunikasi dengan mahasiswa,” pesannya.

 

Reporter: Yoga Iswara Rudita Muhammad, Intan Rifiwanti, Aziz Dwi Apriyanto, Rachmad Ganta Semendawai dan Dara Nuzzul Ramadhan.

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Majalah Sketsa Edisi 35 Tahun XXIX Oktober 2017 bertema “Meraba Pemilihan Rektor” pada Rubrik Laporan Utama.