Kontroversi Hasil Survei Pilkada

PURWOKERTO-Hasil survei Laboratorium Ilmu Politik Jurusan Ilmu Politik (LIP-JIP) FISIP Unsoed yang dipublikasikan pada Rabu, (16/1) di ruang LIP-JIP menuai kontroversi. Pasalnya, launching temuan mereka yang bertajuk “Survei Pilkada Banyumas 2008 Tahap III” dinilai mempunyai hasil yang kurang relevan dengan kenyataan di lapangan.

Penilaian tersebut diberikan oleh stake holder Pilkada yang hadir, antara lain perwakilan Panwas, DPP PAN, DPC PPP, Bakesbang, KPU, media massa seperti Suara Merdeka dan pers mahasiswa.

Berdasarkandata yang diperoleh Sketsa, survei menunjukan bahwa tingkat popularitascalon bupati secara keseluruhan meningkat terutama untuk Mardjoko yang meningkat secara signifikan (sampai 100%), dari survei sebelumnya 40,8% menjadi 85%.

Menanggapi hasil tersebut, salah satu peserta menanyakan bahwa mengapa calon yang terkenal justru hanya mendapatkan sedikit suara. Menurutnya hasil ini kurang relevan dengan kenyataan. Pun demikian dengan partai politik pengusung calon bupati, yang kurang begitu menerima. Dalam hasil survei, partai atau kader partainya tidak mendukung pasangan calon yang di usung . Ada juga yang mengkritisi dari sisi korelasi metodologi dan hasil. Dipandang bahwa hasilnya kurang eksplanatif. Hasil survei tidak menjelaskan hubungan kausalitas, misalnya alasan dalam pemilihan calon.

Tentang jalannya launching tersebut, Ahmad Sabiq, MA., selaku ketua Tim Survei,berkomentar bahwa peserta cukup apresiatif dalam menanggapi hasil survei. “Kita boleh saja tidak sepakat dengan hasil penelitian, namun jika mengomentari sebuah penelitian diharapkan tidak hanya dari hasil melainkan metodologinya,” tuturnya ketika ditemui di ruang kerjanya.

Lebih dari sekedar mempermasalahkan hasil, “Tujuan survei untuk pendidikan politik rakyat,” tambahnya. Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu dengan melibatkan media massa lokal. Melalui media massa ini hasil survei dipublikasikan ke masyarakat luas. “Peran media tidak hanya dalamadvertorial tapi sebagai pencerahan,” jelasnya lagi.

Selain itu manfaat yang diperoleh adalah untuk stakeholder pilkada. “Dengan survei ini bisa menjadi masukan, misalnya bagi KPU untuk lebih memasifkan sosialisasi.”

Manfaat lain adalah pelaksanaan survei yang melibatkan 20 mahasiswa sebagai surveior. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa belajar secara langsung praktek penelitian. Mulai dari transformasi metodologi hingga sharing content instrumen penelitian dan teknis lapangan.

“Meskipun tidak bisa memberikan kompensasi finansial untuk mahasiswa, ketika mahasiswa terlibat maka ada gambaran penelitian,” papar dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan yang terkenal supel ini. Pasalnya, survei tidak bersifat profit, biaya survei adalah independen dari LIP-JIP. (Fijri Rahmawati)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.