Keniscayaan dan Delusi dalam Matanya Najwa

Oleh: Emerald Magma Audha

Mata Najwa Meet And Greet Purwokerto

Meet and Greet Mata Najwa Unsoed. 

 

“Saya tidak takut sama Surya Paloh. Saya tidak takut sama Nasdem…”

Genggam kanannya mengepal mic hitam, duduk dengan memangku kaki, wanita dengan dres merah juga jeans panjang yang melekat sebagai bawahan, dengan mantap membalas pertanyaan dari salah satu partisipan yang beruntung. Muhammad Yamin, si penanya yang dipilihnya, dikiranya mahasiswa, nyatanya seorang dosen di jurusan Hubungan Internasional (HI), Fisip. Tawa renyah riuh memenuhi Aula Fisip, kala wanita berlabel Wakil Pemred (Pemimpin Redaksi) Metro TV, memanggil Yamin yang juga menjabat sebagai Kepala Jurusan HI dengan seruan “dek”.

Dialah Najwa Shihab, si empunya program TV “Mata Najwa”, menyambangi kampus Unsoed, Kamis (12/5) lalu. Sekitar sejam menuju duhur, aplaus dari 350-an lebih pasang tangan terdengar ramai, mengiringi Nana-begitu sapaannya-dengan sepatu merah melangkah menaiki podium aula. Kehadirannya pun telah dinanti para penghuni aula yang hampir semuanya mahasiswa. Di hadapan para hadirin, di muka aula telah tersedia tiga kursi lengkap dengan sebuah meja, kemudian wanita berdarah Shihab itu duduk, kanan kirinya dihimpit penulis buku “Mantra Layar Kaca” dan dosen HI yang jadi moderator, Ayu Sabhita Kusuma, nama dosen itu.

Semua orang bisa jadi wartawan, semuanya merasa jadi wartawan. Mudah sekali orang menyebar berita, mudah pula macam informasi ber-sliweran, dengan cara apapun dan oleh siapapun. Berjubel orang menyampaikan informasi, saking melimpahnya sampai berserakan, kadang bimbang mana yang benar, mana yang fakta, mana yang bukan. Begitulah iklim di era yang serba online, apalagi di media sosial macam Facebook dan lainnya. Inilah yang harus dihadapi profesi jurnalis/wartawan, bukan belaka menyampaikan informasi. Penting menjaga kredibilitas, dengan memilah dan memilih informasi, memastikan informasi yang sampai adalah akurat. Menyinggung soal jurnalistik, Nana meyakinkan terutama pada mahasiswa yang menggeluti ilmu komunikasi. Ajaknya, “Mari sama-sama jadi wartawan.””

Apapun yang akan disajikan dalam Mata Najwa, ini tanggung jawab besar. Kenapa? Lantaran pengaruh, iya, suguhan apapun kepada jutaan penonton bisa membuat orang untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Makanya menentukan topik apapun akan melalui riset yang panjang, karena tanggung jawab barusan. Jelas Nana, hanya 1 dari 1000 orang yang suka membaca, di negara kita ini. Jika rata-rata orang Eropa melahap 25 buku per tahun, lalu sekitar belasan buku sanggup dihabiskan oleh orang Jepang dan Singapura, maka orang Indonesia lebih hebat lagi, 0 buku per tahun. Kehebatan Indonesia dalam hal minat baca yang rendah, diakui saat tayangan Mata Najwa bertopik “Tak Sekedar Membaca”, Rabu (11/5) malam di Metro. Ujar Nana, kita ingin menumbuhkan minat baca di tanah air. Dengan durasi lebih sejam, topik yang selalu berganti, apalagi rutin tayang seminggu hanya sekali, bisa saja ada pengaruh seperti yang diangankan, jika Rabu itu banyak orang yang tak minat baca setidaknya ikut lirik acaranya. Sama seperti topik-topik lainnya, sungguh, tanggung jawab seperti itu beban bagi “Mata Najwa”.

Kala Yamin, salah satu dari keempat penanya yang dipilih Nana, maju mendekati tempat Nana berdiri, soal kemudian dia lontarkan, “… Beranikah Najwa, menayangkan kasus korupsi di Nasdem, soalnya belum pernah menayangkan, yang lain dibongkar.” Tak langsung menjawab, sembari menunggu, disajikan cuplikan video yang pernah tayang 2 Maret lalu, ketika Najwa dan timnya meliput salah satu penjara di Labuhan Deli, Medan, dengan judul “Wajah Penjara” di program Najwa. Kondisi penjara di wilayah Sumatera Utara itu digambarkan oleh Najwa, mulai dari over jumlah penghuni yang melebihi kapasitas, lingkaran kejahatan yang terjadi di dalamnya, apa penyebabnya, mengapa hal tersebut bisa terjadi, dan sebagainya. Begitu dalam bahasan pada ulasan topik tersebut, seperti laku Najwa Shihab yang biasanya tayang, yang cerdas saat mengorek keterangan dari narasumbernya, bahkan “menelanjanginya”.

Di saat banyak yang meragukan independensi yang dipunyai perusahaan pers, yang mana bisa jadi dalam penyajian konten berita tercampuri kepentingan pemilik media pers, terlebih media siaran TV yang banyak dikonsumsi publik seperti Metro TV. Salut, saat Najwa menjawab, “… Saya tidak takut dengan Nasdem,” begitu idealis ucapan Najwa, menunjukkan bagaimana seharusnya keberpihakan wartawan yang memang ditujukan kepada kebenaran dan kepentingan publik. Sambungnya, dia berkilah lebih takut pada pemirsa yang punya remote TV -bukan remotivi (website)-, katanya pemirsa yang memiliki kekuasaan sangat besar, pemirsa menonton, tinggal “klik” untuk ganti channel lain ketika acara tak disukanya.

Menilik topik yang suah tayang, kala pertengahan akhir Oktober 2015, sosok Presiden Jokowi pun dihidangkan ke layar kaca, di program Najwa yang biasa hadir pada Rabu. Bukan tanggap respon soal kasus suap petinggi Nasdem, Patrice Rio Capella dengan Gubernur Sumatera Utara, yang sedang hangat diperbincangkan Oktober lalu. Memang tak seperti biasanya, menampilkan wajah Mata Najwa yang “beda” saat itu. Suguhan Mata Najwa, dengan Nana sebagai pemandu, juga selama 16 tahun menjadi wartawan Metro, biasanya tak lepas dari isu yang sedang gaduh, terlebih Mata Najwa merupakan talkshow bernuansa politik, meski tak melulu soal politik.

Sosok Najwa yang tak hanya ayu rupanya, namun intelek lagi cerdas, tak ayal banyak orang yang menggemarinya. Buktinya, saat acara “Meet & Greet” Mata Najwa bersama Fenty Effendy penulis buku Mantra Layar Kaca” berakhir pukul 12.15 WIB, bergumulah hadirin, terutama mahasiswa meminta foto bareng Mbak Nana.