Karya Seni Instalasi, Kado Istimewa FIB Unsoed

Raut Seni Instalasi saat Pameran dan Diskusi Seni Instalasi. Foto: Rachma Amalia

Raut Seni Instalasi saat Pameran dan Diskusi Seni Instalasi. Foto: Rachma Amalia

Oleh: Ari Mai Masturoh

Terpasang di muka Kampus Fakultas Ilmu Budaya, bentuk uniknya mampu menawan pemilik pandang. Sesekali ada yang berhenti, mencoba mengamati, beberapa berfoto kolektif guna diunggah ke dunia virtual. Setelah ditelisik, itulah ‘kado’ istimewa untuk Fakultas Ilmu Budaya. Berbahan utama bambu, kado ini tampak memesona.

Usut punya usut, Lin Mursalin-atau yang akrab disapa kang Mursal-lah pelakunya. Pria asal Kemranjen itu menyulap bambu menjadi karya seni abstrak tingkat tinggi. Seni Instalasi, begitu ia menyebutnya, pada Sabtu (10/10) saat Pameran dan Diskusi Seni Instalasi di Halaman FIB Unsoed. Seni instalasi pada hakikatnya adalah karya seni tiga dimensi, karena bentuknya bisa diraba, apalagi bisa dinikmati lebih dari satu sudut pandang.

Karya seni ini sengaja dirancang agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Namun, keberadaannya memang masih jarang dijumpai di Purwokerto, bahkan di Banyumas. Usaha sang seniman adalah menabrak anggapan bahwa seni itu adalah milik kolektor.

Memandang Karya Seni

Bentuknya abstrak. Lebih dari 100 batang bambu dikaitkan satu sama lain, itu pun baru untuk membuat bagian dasarnya. Menggunakan kawat, bambu disusun sejajar secara vertikal, beberapa horisontal. Menurut pengakuan kang Mursal, awalnya ia berencana tidak menggunakan kawat sebagai pengait, ia berencana menggunakan tali yang terbuat dari bambu pula, sehingga semua bahan penyusun karya ini murni berasal dari bambu. Namun, hal tersebut belum memungkinkan. Akhirnya, dia sedikit menyelingkuhi bambu dengan tali besi.

Di bagian tengah sisi bawah, bentuk dasar ini dibentuk lubang. Lubang itu bukan lingkaran penuh, namun tidak pula setengah, di antara keduanya. Di sisi lainnya, di ujung atas lubang, terdapat beberapa bambu yang disusun berlawanan arah, mengarah ke kanan dan kiri. Ada yang berimajinasi, ini mirip kumis, tentu saja.

Layaknya kanvas dalam desain grafis, bentuk dasar ini kemudian dihiasi dengan bilah anyaman bambu berbentuk persegi, sebutlah persegi ini titik tinta yang-tentu saja-membentuk titik dan garis. Dalam satu bilah anyaman bambu, terdapat empat hingga 25 persegi kecil, sebutlah persegi kecil itu sebagai piksel.

Anyaman bambu  ini membentuk efek visual. Di atas lubang, terdapat satu baris anyaman bambu melingkar mengikuti pola lubang. Pola itu seolah menggambarkan mulut sedang menganga, dan barisan anyaman bambu itu adalah pembatas antara mulut dan hidung. Di atasnya diberi satu bilah anyaman, posisinya seakan mengisyaratkan bahwa bilah itu adalah hidungnya.  Di bagian atas ada pula bagian yang tidak terisi anyaman bambu, seperti lubang berbentuk persegi, tampak seolah bagian ini adalah mata. Tapi, bila dilihat lebih teliti, lubang yang menyerupai mata itu ada tiga lubang, di sebelah kanan atas, di sebelah kiri atas dan di sebelah kiri atas, namun lebih ke atas lagi.

Sebagai efek visual, rangkaian anyaman bambu itu mampu mengelabui mata pengunjung. Sekali lagi, bentuk abstraknya membuat peserta diskusi menerbangkan imajinasi masing-masing. Ada yang memprediksi karya itu menyerupai wajah singa, ada pula seperti reog ponorogo, menyerupai burung merak, maupun meihatnya seperti katak, dan masih banyak lagi.

Masing-masing berusaha mencari bentuk dan pesan di balik anyaman bambu yang saling terkait satu sama lain itu. Perakitnya sendiri membebaskan pandangan orang lain terhadap karyanya itu. “Bebas yang lain memaknai apa,” ungkapnya.

Sebagai Bahasa visual, kang Mursal membagi seni menjadi dua kategori. Pertama, seni adalah cerminan dari karya. Kedua, seni dibuat karena ada yang menginginkan karya seni itu ada. “Seni ini (yang kedua-red) lebih ke seni terapan,” terangnya. Sedangkan kang Mursal sendiri lebih memilih seni sebagai cerminan dari karya. “Menciptakan karya seni sebagai bentuk ekspresi diri,” tuturnya.

Inklusif namun Eksklusif

Prinsip dari karya seni ini dibuat untuk dapat dinikmati oleh masyarakat. Kang Mursal berpandangan bahwa, karya seni bukan hanya milik orang-orang yang memiliki cukup waktu dan cukup uang untuk memandangi berbagai hasil pekerjaan tangan dalam galeri. “Seni rupa milik masyarakat, bukan milik kolektor,” tutur kang Mursal.

Itulah sisi inklusif dari karya ini, di mana suatu karya tercipta untuk dapat dinikmati oeh semua orang. Sedangkan sisi eksklusif dari seni instalasi ini terletak pada waktu. Meski dapat dinikmati oleh semua orang, seni instalasi ini tidak bisa selamanya dinikmati. Karya ini memiliki masa di mana pemasangannya harus dicopot.

Meski hanya dipasang hingga Sabtu (17/10), kang Mursal berharap, munculnya karya seni instalasi pada ulang tahun pertama FIB Unsoed ini bisa menjadi awal yang baik, bagi FIB maupun bagi eksistensi karya seni instalasi.

Konsep Dasar

Kang Mursal bercerita bahwa ide adalah sebuah konsep dasar yang harus ada setiap membuat karya. Ide direalisasikan dalam bahasa visual sehingga dapat diterima masyarakat. Sebagai dasar pijakan, Ide yang dituangkan juga mempertimbangkan tempat, tempat di mana karya seni itu akan dibuat, dengan tetap berpaku pada pesan yang ingin disampaikan, menurut kang Mursal, kesan sesaat.

Dalam membuat karya seni instalasi, kang Mursal juga selalu melihat sisi orisinal dari budaya, karena seni rupa merupakan bagian dari budaya. Selain itu, terdapat sisi fungsional yang tidak bisa dikesampingkan, di mana suatu karya seni dibentuk selain sebagai ekspresi diri, juga dapat diambil utilitasnya oleh masyarakat. Ada satu lagi yang diperhatikan, skala. Besar kecilnya ukuran suatu karya seni tidak mempengaruhi keindahannya, ia tetap mampu menarik perhatian masyarakat.